Arsip

Posts Tagged ‘#yoochun #eunhyuk #cbf’

Dark Story from South Korea: The Beginning

Januari 28, 2011 Tinggalkan komentar

 

Title: Dark Story from South Korea: The Beginning
Rate: All ages
Genre: Action Romance
Length: One Shot
Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri
Cast:
-Eun Hyuk Super Junior
-Park Yoochun JYJ
-Shim Changmin TVXQ
-Choi Sun Li
-Park Seung Hee
-Song Hyun Ri
***

“Aku tak mengerti,” kata Eun Hyuk saat dirinya dan Hyun Ri sedang makan siang disebuah restoran kecil. “Mengapa kau lebih memilih bersamaku dibanding Yoochun? Yoochun sosok yang sempurna untukmu. Dia tampan, kaya, dan semua yang kau inginkan pasti akan dipenuhinya,” kata Eun Hyuk sambil menyeruput sisa asparagusnya.
“Aku lebih nyaman bersamamu. Lagipula aku berhubungan dengan Yoochun karena itu wasiat yang ditinggalkan umma. Kau tahu keluargaku punya utang yang banyak terhadap keluarga Park. Hanya ini yang bisa kulakukan agar umma senang,” jelas Hyun Ri.
“Entahlah. Aku tetap sulit mengerti,” kata Eun Hyuk dengan suara rendah.
“Apa yang tidak kau mengerti?”
“Mengapa kau merasa nyaman denganku?” tanya Eun Hyuk. Hyun Ri menyunggingkan senyum lembut.
“Pertama, aku terlanjur mencintaimu. Kau lebih dulu merebut hatiku. Kedua, aku mendapatkan sesuatu yang sangat berharga darimu dan Yoochun tidak bisa memberikan itu untukku,” kata Hyun Ri penuh keyakinan.
“Mollayo. Tapi aku merasa Yoochun sangat mencintaimu. Aku merasa bersalah jika seperti ini caranya,” kata Eun Hyuk dengan suara rendah.
Hyun Ri menghela napasnya. Ia mengatupkan sendok dan garpunya. Ia tidak berselera untuk menghabiskan makanannya. Itulah yang menjadi dasar rasa bersalah pada diri Min Ji. Yoochun sangat mencintainya, tapi ia tidak pernah mampu membalas perasaan itu. Dan yang lebih parah, ia tetap menjalin hubungan dengan Eun Hyuk ketika ia memutuskan untuk menjadi yeojachingu Yoochun.
“Ne, aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak mempunyai rasa apapun terhadapnya,” kata Hyun Ri lesu.
“Sudahlah. Kita lupakan saja,” kata Eun Hyuk sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Ia menggenggam lembut kedua tangan Hyun Ri sebagai tanda empatinya.
“Itu lebih baik,” kata Hyun Ri. “Kurasa kita harus pulang sekarang. Aku takut Yoochun mendapatiku tidak dirumah.”
Lalu kedua pasangan itu keluar dari restoran tersebut. Eun Hyuk memutuskan untuk mengantar Hyun Ri dengan mobil sedan tuanya agar Hyun Ri lebih cepat tiba dirumahnya.

***

Yoochun menatap penasaran. Siapa namja yang bersama Hyun Ri? Dan, mereka mau kemana? Hati Yoochun resah melihat Hyun Ri bersama namja asing itu.
Saat itu, Yoochun memang ingin makan siang. Kebetulan restoran yang dipilih Yoochun adalah restoran yang sama dengan restoran yang dipilih Eun Hyuk dan Hyun Ri. Ketika Yoochun ingin turun dari limosinnya, ia melihat Hyun Ri keluar dari restoran itu bersama seorang namja yang tidak dikenalnya.
“Aniyo. Aku tidak boleh berpikiran negative dulu. Akan kutanyakan nanti pada Hyun Ri,” kata Yoochun yang berusaha menenangkan pikirannya.
Setelah Eun Hyuk dan Hyun Ri menjauh, barulah Yoochun turun dari limosinnya. Ia masuk ke restoran itu dan langsung memesan makan siangnya.
Ia melahap makan siangnya dengan terburu-buru. Setelah itu ia langsung meletakkan uang dan keluar dari restoran itu.
“Kerumah Hyun Ri sekarang,” kata Yoochun kepada supirnya. Segera saja limosin hitam itu meluncur dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Beberapa saat kemudian, limosin itu berhenti didepan sebuah rumah yang bisa dikatakan sederhana. Bangunan luarnya berlapis cat putih yang sudah terlihat kusam. Beberapa tanaman liar menghiasi halaman rumah itu.
Yoochun menghela napas. Hatinya merasa tidak enak terhadap Hyun Ri tapi ia harus mendapatkan penjelasan dari Hyun Ri tentang namja yang bersamanya. “Jeongmal mianhae, Song Hyun Ri. Aku tidak bermaksud mencurigaimu,” kata Yoochun lesu.
Ia melangkahkan kakinya menuju rumah itu. Mengetuk pintunya beberapa kali. Tak lama setelah itu, seorang yeoja dengan pakaian rumah santai keluar menyambutnya.
“Annyeong, Hyunie. Mian aku baru mengunjungimu sekarang,” sapa Yoochun sambil mengecup sekilas pipi Hyun Ri.
“Gwenchanhayo. Kau mau berkunjung saja sudah membuatku senang,” kata Hyun Ri sambil tersenyum.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yoochun basa basi.
“Membuat beberapa cemilan kecil. Masuklah dulu,” ajak Hyun Ri. Mereka pun masuk dan langsung menuju dapur karena Hyun Ri harus menyelesaikan pekerjaannya.
“Kau sudah makan siang?” tanya Yoochun.
“Ne, tadi aku makan diluar,” jawab Hyun Ri.
“Sendirian?” Yoochun berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar seperti polisi yang sedang menginterogasi tahanannya.
Raut wajah Hyun Ri hampir berubah panik. Ia mendapat feeling bahwa Yoochun melihatnya bersama Eun Hyuk saat direstoran. Dan rasanya akan lebih baik jika ia mengatakan sedikit kebenaran kepada Yoochun. Ia sadar bahwa ia tidak bisa berbohong pada Yoochun.
“Aku…aku..bersama Eun Hyuk,” kata Hyun Ri gugup. “Ia teman lamaku sewaktu SMA dulu,” Tentu saja yang terakhir tadi kebohongan kecilnya. Ia tidak terlalu bodoh untuk mengatakan yang sejujurnya.
“Tadi aku melihatmu bersama seorang namja keluar dari restoran,” jelas Yoochun, lega. Ia berpikir bahwa Hyun Ri telah mengatakan yang sebenarnya.
“Mian aku tidak memberitahumu,” kata Hyun Ri.
“Gwechanayo.”
Keduanya sama-sama merasa lega. Yoochun lega karena telah mengetahui namja yang bersama Hyun Ri. Dan Hyun Ri lega bisa mengelabui Yoochun walaupun ia tahu ia sudah dalam masalah besar karena memberitahu soal Eun Hyuk.

A few days later….
“Aku rasa ada yang salah dengan Yoochun,” kata Hyun Ri ketika Eun Hyuk menjemputnya.
“Dia sudah tidak peduli denganmu?” tanya Eun Hyuk asal.
“Ya kira-kira seperti itu.”
“Bukannya itu bagus? Bisa saja ia jatuh cinta kepada yeoja lain.”
“Ani. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku takut kalau Yoochun mengawasi kita.”
“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?”
“Ia melihat ketika berdua ketika direstoran.”
Air muka Eun Hyuk berubah kaku. Saat itu juga Eun Hyuk kalau mereka sedang dalam masalah besar.
“Lalu?” tanya Eun Hyuk khawatir.
“Aku bilang kau temanku sewaktu SMA dulu. Saat itu kurasa ia tidak mencurigaiku. Beberapa hari setelah itu barulah sikapnya berubah,” jelas Hyun Ri.
“Hyun Ri -ya, perasaanku tidak enak. Yoochun bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh kita jika ia tahu hubungan kita.”
“Apa yang harus kita lakukan?” Rasa takut itu menyelinap secepat kilat kedalam otak Hyun Ri. Yoochun bisa saja dengan mudah mengetahui hubungannya dengan Eun Hyuk. Ia bisa menyewa sepasukan mata-mata untuk mengawasi mereka. Dan jikapun mereka kabur, Yoochun bisa dengan mudah menemukan mereka.
“Kita kembali kerumahmu lagi. Kita akan kabur jadi kau perlu menyiapkan barang-barang yang kau perlukan,” kata Eun Hyuk tegas. Walaupun suranya tegas, tapi hatinya takut luar biasa. Sejak pertama kali mendengan nama Yoochun, ia tahu bahwa namja tajir itu psikopat.

***

Ruangan itu gelap. Hanya disinari cahaya dari monitor-monitor yang luar biasa lebarnya sampai monitor berukuran super kecil. Tombol dalam berbagai bentuk berkelap-kelip dalam irama yang tidak teratur. Beberapa tuas aneh juga menghiasi ruangan tersebut.
Seorang pria separuh baya sibuk menekan tombol-tombol itu. Jas putih, tubuh yang setengah bungkuk, kacamata tebal. Jelas pria separuh baya itu adalah orang jenius. Diruangan itu ada namja lain. Tapi namja ini terlihat jauh lebih muda dan berwibawa. Ia mengenakan jas hitam, sepatu mengkilat, rambut hitam yang tertata rapi, kulit putih yang terlihat agak pucat, bibir merah. Umurnya mungkin baru sekitar 24 tahun. Yeoja manapun tak akan bisa melepaskan pandangannya jika telah melihat namja yang satu ini.
Perhatian namja itu terfokus pada LCD yang sangat besar. Kedua tangannya terkepal erat menahan emosi. Monitor yang dilihatnya sedari tadi hanya menampilkan percakapan seorang namja dan seorang yeoja dalam perjalanan entah kemana. Raut muka kedua orang dalam layar tersebut menyiratkan ketakutan, seakan nyawa mereka dalam bahaya.
“Apa yang harus kulakuan?” tanya yeoja itu.
“Kita kembali kerumahmu….”
Namja yang berada dalam ruangan itu menghela napasnya. Hatinya panas. Tentu saja! Yeoja yang selama ini ia cintai ternyata…..
“Terus awasi kemanapun mereka pergi. Jangan sampai kehilangan jejak mereka,” kata namja itu kepada namja separuh baya berperawakan jenius.
“Ne,” jawab namja paruh baya itu.

Yoochun langsung naik kemobilnya. Ia tidak tahu lagi apakah Hyun Ri akan benar-benar meninggalkannya. Ia hanya menginginkan Hyun Ri, bahkan ia mungkin akan membunuh Eun Hyuk jika itu benar-benar diperlukan.
“Kita mau kemana, Tuan?” tanya supir Yoochun.
“Pulang saja,” jawab Yoochun lesu.
Mobil Yoochun langsung bergerak dengan kecepatan tinggi. Supirnya tahu bahwa tuannya sedang terburu-buru, ada hal penting yang harus dilakukannya. Setiap kali Yoochun berkunjung ke rumah profesor itu, pasti ada suatu hal yang penting yang harus dilakukannya.
Begitu sampai dirumah, Yoochun langsung mengumpulkan seluruh anak buahnya. Yoochun menyuruh mereka semua untuk mengikuti kemanapun Hyun Ri dan Eun Hyuk pergi.
“….tetap melapor apapun keadaannya. Jika mereka sudah menetap disuatu tempat, langsung beritahu aku,” perintah Yoochun. “Jangan sampai kalian dicurigai!” tambahnya. Setelah itu, anak buah Yoochun mulai berpencar menyiapkan segala sesuatu yang mereka perlukan. Yoochun yakin saat ini Hyun Ri pastilah belum keluar dari Seoul.
Setelah ruangan itu benar-benar kosong, ia berjalan menuju ruang kerjanya. Ia benar-benar frustasi. Tak disangkanya bahwa Hyun Ri tak pernah mencintainya. Ia terpaksa melakukan semua ini. Ia tak bisa melihat Hyun Ri bersama namja lain.
“Jeongmal mianhae, Hyun Ri -ya.”

***
“Kita akan kemana?” tanya Hyun Ri sambil memasukkan barang-barangnya kedalam ransel.
“Kemana saja. Yang jelas kita harus jauh dari Yoochun sesegera mungkin. Kkaja!” kata Eun Hyuk sambil menarik tangan Hyun Ri. Tapi Hyun Ri tidak bergerak. Ia tetap berdiri ditempatnya dan memandang Eun Hyuk dengan tatapan penuh tanya.
“Waeyo?” tanya Eun Hyuk heran.
“Yang diinginkan Yoochun adalah aku. Jika aku terus bersamamu, maka hidupmu terancam. Lebih baik aku kembali kepada Yoochun dan kau larilah ke tempat yang jauh agar Yoochun tidak bisa menemukanmu,” kata Hyun Ri tanpa ekspresi apapun.
Eun Hyuk kaget mendengar apa yang barusan dikatakan Hyun Ri. “Aniyo. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri.”
“Tapi kau akan mendapat bahaya besar jika kau terus bersamaku,” kata Hyun Ri. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia sadar bahwa ia akan membawa Eun Hyuk kedalam masalah besar jika terus bersamanya.
“Aku tidak mau hidup tanpamu. Kita harus menghadapi semua ini bersama. Araseo?” kata Eun Hyuk. Lalu ia menarik Hyun Ri dalam pelukannya.
Ketika ia meraba leher Hyun Ri, ia menemukan benda kecil aneh pada pengait kalung yang dikenakan Hyun Ri. Ia segera melepaskan benda aneh yang kecilnya seperti semut.
“Lihat!” kata Eun Hyuk sambil menunjukkan benda itu pada Hyun Ri.
“Apa ini?” tanya Hyun Ri sambil mengamati benda aneh itu.
“GPS atau mungkin kamera pengawas atau apalah, menurutku. Dan aku yakin Yoochun lah yang memasangnya,” kata Eun Hyuk. Perut Hyun Ri serasa melilit. Ini berarti Yoochun telah mengetahui rencana mereka untuk kabur.
“Kkaja! Kita sudah ketahuan,” kata Hyun Ri yang langsung berlari keluar rumah. Eun Hyuk mengikutinya dari belakang.
Benda aneh kecil itu ditinggalkannya ditempat tidur Hyun Ri. Mereka kabur menggunakan mobil milik Jun Hyung. Mereka sangat berharap Yoochun tidak tahu kemana mereka pergi.

***

“Mereka telah meninggalkan rumah, Tuan,” kata seseorang melalui ponselnya.
“Terus ikuti mereka. Jangan sampai kehilanganjejak,” perintah suara yang diseberang ponsel itu.
Sekelompok orang yang sedari tadi mengamati rumah Hyun Ri mulai bergerak dan siap membuntuti kemanapun Eun Hyuk dan Hyun Ri pergi.

***

Mobil Eun Hyuk melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Seoul. Suasana hening menyelimuti mobil itu. Baik Eun Hyuk maupun Hyun Ri sibuk memikirkan masalah masing-masing. Mereka tidak menyangka kalau masalah mereka mampu serumit ini. Dan mereka tak pernah tahu bagaimana akhir dari semua ini.
Beberapa kali Eun Hyuk menatap kaca spionnya. Ia takut jika anak buah Yoochung mengikuti mereka. Sayangnya, terlalu banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Eun Hyuk tidak dapat memastikan bahwa diantara sekian banyak mobil, salah satunya ada yang mengikuti mereka.
“Kita mau kemana?” tanya Hyun Ri tiba-tiba.
“Mollasaeyo. Aku belum tahu tempat yang cukup aman,” jawab Eun Hyuk tanpa sekalipun menatap Hyun Ri.
“Kalaupun kita belum sampai, kita tetap harus beristirahat,” saran Hyun Ri.
“Ne, naneun aldayo,” kata Eun Hyuk sambil menghela napasnya, sedikit merasa putus asa.
Hari semakin malam. Eun Hyuk memutuskan menginap semalam disebuah wisma di daerah yang entah apa namanya. Setelah memesan kamar mereka langsung menuju kamar mereka. Untuk menghemat, Eun Hyuk memutuskan untuk memesan satu kamar.
“Lebih baik kau mandi sekarang. Aku yakin kau sangat lelah,” kata Eun Hyuk ketika tiba dikamar mereka. Hyun Ri menurutinya.
Sementara menunggu Hyun Ri mandi, Eun Hyuk memikirkan tempat yang aman untuk mereka. Haruskah ia keluar dari Korea? Tapi kemana? Lagipula ia kasihan terhadap Hyun Ri jika harus terus melarikan diri seperti ini.
Tidak lama kemudian Hyun Ri keluar dari kamar mandi. “Eun Hyuk -ah, lebih baik kau juga mandi,” kata Hyun Ri.
“Ne,” jawab Eun Hyuk sambil mengambil pakaian gantinya dan bergegas mandi.

***

Dua orang dari beberapa orang yang mengikuti Eun Hyuk dan Hyun Ri mengawasi tidak jauh dari kamar mereka. Kedua orang itu terus berbicara melalui walkie talkie, memberi laporan kepada temannya yang lain, lalu menyampaikan laporan itu kepada bos mereka, Yoochun.
“Aniyo. Aku tahu mereka tidak akan menetap disana. Lebih baik kalian terus ikuti mereka. Jangan sampai kehilangan jejak,” kata Yoochun begitu menerima laporan dari anak buahnya.
Yoochun harusnya beruntung mempunyai anak buah yang menurut padanya. Mereka langsung melaksanakan apa yang Yoochun perintahkan kepada mereka.
Malam itu juga tidak ada satupun anak buah Yoochun yang tidur. Mereka khawati bahwa Eun Hyuk dan Hyun Ri dapat pergi kapanpun. Tentu saja nyawa mereka taruhannya jika mereka kehilangan Eun Hyuk dan Hyun Ri.
Ternyata apa yang mereka khawatirkan benar terjadi. Pukul 3 pagi, Eun Hyuk dan Hyun Ri check out dari wisma itu. Segera anak buah Yoochun memberi laporannya kepada Yoochun lalu mengikuti Eun Hyuk dan Hyun Ri.

***

“Mianhae mengganggumu tidur. Tapi lebih baik jika kita berangkat cepat sebelum tertangkap anak buah Yoochun,” kata Eun Hyuk sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Gwenchanhayo. Aku setuju-setuju saja jika itu berarti kita selamat,” kata Hyun Ri sambil menguap. Sebenarnya ia masih mengantuk karena kemarin ia mengalami hal yang sangat melelahkan.
“Tidur lagi saja kalau masih mengantuk,” kata Eun Hyuk sambil menyunggingkan senyumnya. Hyun Ri menurut. Ia memejamkan matanya dan kembali terlelap.
Sementara itu Jun Hyung kembali memikirkan kemana mereka harus pergi. Begitu banya tempat yang singgah di otaknya sehingga ia sulit berkonsentrasi pada satu tempat.
“Aku tak tahu kemana kita harus bersembunyi,” kata Eun Hyuk pelan. Ia menatap sekilas kearah Hyun Ri yang sedang tidur.
Tak peduli arah, ia terus mengendarai mobilnya kemanapun otaknya menyuruh. Melewati desa-desa kecil, hutan, ladang, sawah, dan ke kota lagi. Hingga matahari terbit sempurna pun ia tidak memberhentikan mobilnya.
“Kita belum sampaikah?” tanya Hyun Ri begitu ia terbangun. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
“Bersabarlah,” kata Eun Hyuk sambil tersenyum lembut. “Kau lapar?”
Hyun Ri menggelengkan kepalanya. “Lebih baik kita gantian menyetir saja. Kau terlihat sangat lelah,” kata Hyun Ri prihatin. Memang sekarang wajah Eun Hyuk terlihat lebih lusuh. Kantung dikedua matanya pun semakin tebal. Bibirnya juga terlihat pucat. Persis orang yang tidak tidur berhari-hari.
“Aniyo. Naneun gwenchanhayo. Lagipula kau tidak tahu kemana kita akan pergi, kan?” kata Eun Hyuk.
“Kau juga tidak tahu kemana kita pergi, kan?” tanya Hyun Ri dengan ketus.
Eun Hyuk hanya tersenyum kecil. Seharusnya ia tahu Hyun Ri akan mengeluarkan asumsi seperti itu. Lagipula ia memang sangat lelah. Ia ingin sekali istirahat.
“Ne, aku memang tidak tahu,” jawab Eun Hyuk sambil tersenyum.
“Kenapa aku harus punya namjachingu sepertimu,” kata Hyun Ri sambil menggeleng-geleng kepalanya. Eun Hyuk tetap tersenyum.
“Jebal, kau sudah sangat lelah. Aku tidak ingin kau sakit,” bujuk Hyun Ri.
“Aniyo. Kemungkinan kita tersesat lebih besar jika kau yang mengemudikannya,” kata Eun Hyuk sambil menahan tawa atas asumsinya sendiri.
“Tak perlu aku yang mengemudikan pun kita sudah tersesat,” Hyun Ri mengerucutkan bibirnya.
“Gwenchanhayo kalau kita tersesat. Kita tidak akan kembali sebelum Yoochun mati. Dan kau tahu sendiri membunuh Yoochun merupakan hal yang sangat sulit dilakukan,” kata Eun Hyuk.
“Aniyo. Kita tidak bisa terus kabur. Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Hyun Ri yang merasa bersalah.
“Mereka akan baik-baik saja. Ada atau tidaknya aku tidak akan berdampak apapun,” jawab Eun Hyuk dengan suara pelan. Hyun Ri terdiam. Eun Hyuk memang tidak dekat dengan keluarganya. Bahkan bisa dikatakan dia tidak dianggap.
“Ya sudahlah. Aku yakin kau pasti lelah. Biar aku saja yang mengemudi,” bujuk Hyun Ri lagi. Kali ini Eun Hyuk menurut. Kemudian ia bertukar posisi dengan Hyun Ri.
“Kuharap kita tidak semakin tersesat,” kata Eun Hyuk yang menyunggingkan senyum jahilnya Hyun Ri mengerucutkan bibirnya. Ia mulai mengemudikan mobil Eun Hyuk tanpa sekalipun menggubris kata-kata Eun Hyuk. Beberapa saat kemudian Eun Hyuk tertidur. Dia sadar bahwa dirinya sangatlah kelelahan.

***

Yoochun duduk diam dibelakang meja kerjanya. Hanya satu masalah yang terus mengganggu pikirannya. Song Hyun Ri. Mengapa yeoja itu tega meninggalkannya demi namja gembel seperti Eun Hyuk? Tidak tahukah Hyun Ri hidupnya jauh lebih terjamin jika bersama dirinya? Apa kelebihan Eun Hyuk hingga Hyun Ri bisa berpaling darinya.
“Aku tidak bisa membiarkan Hyun Ri bersama namja lain,” kata Yoochun. Ia bergeser sedikit untuk mengubah posisi duduknya.
Seharusnya ia tahu Hyun Ri mengkhianatinya! Sejak awal Hyun Ri tidak pernah memperhatikannya dengan baik. Ia selalu bersikap biasa saja setiap kali mereka bertemu.
“Apa kelebihan Eun Hyuk yang tidak kumiliki?” tanya Yoochun dalam kegalauannya. Ia mengepalkan kedua tangannya diatas meja.
“Jeongmal mianhae,Song Hyun Ri. Aku memang harus membunuh Eun Hyuk jika caramu memperlakukan aku seperti ini terus. Kau tidak bisa selamanya kabur dariku,” kata Yoochun lembut.

***

Eun Hyuk menguap dan menggeliatkan tubuhnya untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Matanya perlahan terbuka. Sinar matahari senja langsung menusuk matanya ketika selaput matanya terbuka sedikit.
“Sudah bangun, Eun Hyuk -ah?” tanya Hyun Ri sambil tersenyum kecil.
“Berapa lama aku tidur?” tanya Eun Hyuk yang menguap.
“Seharian, mungkin.”
“Mian aku merepotkanmu.”
“Gwenchanhayo memang seharusnya seperti ini, kan?”
“Ne. Kita sudah dimana?” Kali ini Hyun Ri hanya diam. Dia sendiri tidak tahu dimana ia sekarang. Kiri kanannya hanya ada pohon. Ia tersadar bahwa ia tidak melihat satupun rumah penduduk didaerah itu.
“Molla. Aku hanya sembarang memilih arah,” jawab Hyun Ri.
“Kan kubilang tadi juga apa,” kata Eun Hyuk.
“Neomu mianhae, Eun Hyuk -ah,” kata Hyun Ri penuh penyesalan.
“Sudahlah. Tapi kupikir kita sudah cukup aman dari Yoochun. Tidak ada tanda-tanda kehadiran anak buahnya,” kata Eun Hyuk.
“Aku pikir juga begitu.”
“Lebih baik aku mengemudi lagi. Kita harus segera menemukan tempat untuk beristirahat.”
Hyun Ri menepikan mobilnya dan bergantian posisi dengan Eun Hyuk. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

***

Eun Hyuk salah jika berpikir anak buah Yoochun tidak mengikuti mereka; bahwa mereka sudah aman dari Yoochun. Anak buah Yoochun masih terus mengikuti mereka tanpa Eun Hyuk dan Hyun Ri mencurigai.
“Kurasa mereka akan menetap di daerah sekitar sini,” kata salah satu dari anak buah Yoochun.
“Mungkin saja. Daerah ini sudah sangat jauh dari kota,” kata seseorang yang lain.
“Tapi kita harus tetap menunggu. Kita harus memastikan mereka benar-benar menetap,” kata salah seorang yang lain.
“Ne. Tapi kurasa lebih baik jika kita tetap melapor.”
“Maka salah satu dari merekapun menghubungi Yoochun dan memberitahu tentang keberadaan Eun Hyuk dan Hyun Ri saat ini. Yoochun memberikan tugas yang sama, tetap ikuti mereka.

***

Hari sudah menjelang senja. Eun Hyuk memberhentikan mobilnya didepan sebuah kastil tua. Warna kastil itu hitam kusam dan banyak ditumbuhi lumut. Walaupun terlihat tua, kastil itu terlihat megah dan kokoh dengan aksen Eropa yang sangat mendominasi.
“Kurasa ini bisa jadi tempat tinggal kita sementara,” saran Eun Hyuk.
“Mollasaeyo. Tempat ini menyeramkan,” kata Hyun Ri.
“Gwechanayo. Aku rasa tempat ini tidak ada penghuninya,” kata Eun Hyuk sambil memerhatikan sekeliling kastil itu.
“Aku tidak begitu yakin,” kata Hyun Ri ragu.
“Lebih baik kita memeriksanya dulu,” usul Eun Hyuk sambil keluar dari mobilnya. Hyun Ri mau tidak maupun harus mengikuti Eun Hyuk masuk ke kastil tua itu.
Ruangan dalam kastil itu sangat luas. Terdiri dari dua lantai, satu menara, dan beberapa lorong-lorong aneh. Lukisan-lukisan aneh digantung sepanjang dinding menuju lantai dua. Peralatan-peralatan diruangan itupun tua-tua, mungkin sama tua dengan kastil ini. Tapi barang-barangnya tertata rapi dan bersih. Seperti ada orang yang selalu membereskannya.
“Aku rasa kastil ini baru saja ditinggalkan pemiliknya,” kata Eun Hyuk sambil memandang piano tua yang masih mengkilat disudut ruang tamu.
“Mungkin. Tidak seharusnya kita masuk kerumah orang tanpa ijin, Eun Hyuk -ah,” kata Hyun Ri yang masih memandang sekeliling ruangan. Takut jika pemilik kastil ini muncul dan mengira mereka pencuri.
“Kau tunggu disini. Aku akan memeriksa ruangan yang lain,” kata Eun Hyuk. Hyun Ri mengangguk satu kali lalu duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu.
Eun Hyukmelangkahkan kakunya keruangan terdekat. Ruangan itu mungkin ruang keluarga; dan ruangan itu kosong. Tak ada satupun benda diruangan itu. Kemudian ia memeriksa dapur, beberapa kamar dan kamar mandi yang bisa mereka gunakan, dan beberapa ruangan lain yang tidak diketahui fungsinya; dan semuanya kosong. Beberapa kamar lainnya terkunci. Kemudian ia memeriksa lantai dua. Disini jumlah kamarnya lebih sedikit. Beberapa kamar juga terkunci. Dan beberapa kamar yang lain sepertinya bisa mereka gunakan untuk tidur malam ini.
“Gomapta,kastil ini memang tidak berpenghuni,” kata Eun Hyuk pelan lalu kembali menemui Hyun Ri.
“Eottokhae?” tanya Hyun Ri begitu melihat Eun Hyuk.
“Kastil ini memang kosong. Tapi beberapa kamar terkunci,” kata Eun Hyuk.
“Bagaimana jika pemilik kastil ini ternyata sedang pergi lalu tiba-tiba saja mereka datang?” tanya Hyun Ri yang masih ragu.
“Kita akan mengatakan yang sejujurnya. Setidaknya kita akan tinggal disini untuk sementara waktu,” kata Eun Hyuk.
“Terserah. Aku nurut saja,”

***

“Tuan, Eun Hyuk dan Hyun Ri sepertinya akan menetap dalam waktu yang lama,” lapor anak buah Yoochun.
“Terus awasi mereka. Kita akan ‘menyerang’ mereka saat tengah malam,” kata Yoochun.
Segera setelah itu, anak buah yang menelepon Yoochun memberi tahu teman-temannya yang lain tentang rencana Yoochun. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yoochun, mereka semakin ketat mengawasi gerak-gerik Eun Hyuk dan Hyun Ri.
Sementara itu Yoochun langsung pergi menuju tempat yang telah diberitahukan anak buahnya. Hatinya seakan mati rasa. Ia hanya bisa merasakan perasaan menggebu-gebu untuk sampai ditempat Eun Hyuk dan Hyun Ri. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bayangan mengerikan tentang Eun Hyuk dan Hyun Ri membayangi otaknya. Ia membayangkan Eun Hyuk dan Hyun Ri sedang berciuman ketika ia datang; atau bayangan yang lebih mengerikan daripada sekedar berciuman.
Membayangkan hal itu membuatnya semakin menambah kelajuan mobilnya. Ia ingin sekali bertemu Eun Hyuk dan menghajar namja itu habis-habisan karena berani membawa lari yeoja kesayangannya.

***

“Kau yakin akan tinggal disini? Tempat ini menyeramkan?” kata Hyun Ri. Ia masih meragukan keputusan Eun Hyuk untuk tinggal dikastil ini. Sejak Eun Hyuk memutuskan untuk berhenti melarikan diri, perasaannya menjadi tidak beres. Seolah-olah bukan ini tempat yang tempat untuk akhir dari pelarian mereka.
“Gwechanayo, Hyun Ri -ah. Kalau kau masih takut, kita akan tidur bersama malam ini. Eottokhae?” usul Eun Hyuk .
“Bagaimana kalau kita tidur disofa saja?” pinta Hyun Ri tanpa alasan yang jelas.
“Ne, terserah kau saja.”
Hari semakin gelap. Mereka hanya merapikan sedikit kastil itu. Masuk ke kamar-kamar yang tidak terkunci untuk mengambil selimut. Beruntung di kastil itu masih ada beberapa makanan kaleng yang belum kadaluarsa. Mereka hanya memakan itu sebagai makan malam mereka karena mereka tidak membawa bekal apapun.
Pukul sepuluh lewat beberapa menit. Eun Hyuk memutuskan untuk tidur duluan. Mungkin ia merasa sangat lelah. Hyun Ri masih tidak bisa tidur. Ia hanya membolak-bolik badannya diatas sofa panjang. Perasaannya semakin tidak enak saja. Ia merasa sesuatu yang buruk akan menimpa mereka, terutama Eun Hyuk . Apa ini ada hubungannya dengan Yoochun? Apa ia telah mengikuti mereka sejak awal mereka memutuskan untuk kabur? Apa ia tahu tentang kastil ini? Hal-hal itu terus mengganggu pikirannya. Sulit bagi Hyun Ri untuk memusatkan perhatiannya pada hal lain. Hingga akhirnya ia pun terjaga dengan sendirinya.

Pukul 12.10, mobil Yoochun tiba tidak jauh dari kastil tempat Eun Hyuk dan Hyun Ri menginap. Anak buahnya telah siap menyambut kedatangannya. Anak buahnya berbaris secara horizontal membentuk line yang terlihat rapi. Dan pikiran mereka semua teralihkan ketika hummer hitam mengkilau berhenti tepat satu meter didepan mereka.
“Dimana tempatnya?” tanya Yoochun begitu turun dari hummernya.
“Tidak jauh dari sini,” jawab salah seorang dari anak buahnya.
“Kita berangkat sekarang,” perintah Yoochun.
Salah satu anak buahnya menunjukkan arah ke kastil tempat Eun Hyuk dan Hyun Ri berada. Yoochun dan anak buahnya yang lain mengikutinya. Tangan kanan Yoochun sudah siap dengan pistol. Ia sudah sangat siap membunuh Eun Hyuk dan Hyun Ri jika ia menemukan mereka dalam keadaan yang tidak seharusnya. Ia berpikir untuk apa mempertahankan orang yang telah mengkhianatinya.
Yoochun berdiri tepat didepan pintu masuk kastil itu. Ia berhenti sejenak dan berpikir apa yang harus dilakukannya. Setelah itu, ia melangkah masuk kedalam kastil dan anak buahnya disuruhnya untuk menunggu diluar saja. Begitu masuk, ia melihat Hyun Ri tidur dipangkuan Eun Hyuk, mesra. Tangan kanannya yang memegang pistol mengacung tepat ke jantung Eun Hyuk.
DOR!! Suara letusan itu membangunkan Hyun Ri. Yoochun menembak Eun Hyuk tepat dimana jantungnya berdetak, ia tersenyum puas.
“PARK YOOCHUN!!” teriak Hyun Ri histeris begitu melihat Yoochun diambang pintu dengan pistol masih teracung ke arah Eun Hyuk.
“Ia harus menerima hukumannya, Song Hyun Ri. Ia telah menculikmu dariku,” kata Yoochun sambil menyunggingkan senyum liciknya.
“Tapi tidak harus seperti itu!” teriak Hyun Ri sambil menangis histeris dan memeluk tubuh Eun Hyuk yang bersimbah darah.
“Kau mencoba membela namja itu?” tanya Yoochun yang masih tersenyum dan berjalan beberapa langkah kedepan.
“Tentu saja…”
DOR!! Satu peluru lagi lepas dari pistol Yoochun dan kali ini mengenai dada Hyun Ri. Seketika itu juga Hyun Ri tak sadarkan diri dan jatuh diatas tubuh Eun Hyuk .
“Mian, Song Hyun Ri,” kata Yoochun lalu keluar dari kastil itu dengan rasa puas. Setelah itu, ia menyuruh anak buahnya pulang. Ia memerintahkan mereka agar tak mengungkit-ungkit kejadian ini lagi.

***
Hari hampir pagi. Tapi Eun Hyuk maupun Hyun Ri masih bertahan dengan rasa sakit mereka. Tak ada yang tahu bagaimana mereka bisa bertahan selama itu. Mungkinkah mereka menunggu sesuatu yang bisa dilakukan untuk membalas dendam?
Ditengah keheningan subuh, pintu kastil itu mendadak terbuka. Tiga orang berjubah panjang kaget melihat dua sosok manusia yang bersimbah darah tidur disofa mereka.
“Aku rasa telah terjadi sesuatu selama kita berburu,” kata seorang wanita yang terlihat paling berwibawa. Ia menurunkan tudung jubahnya sehingga paras wajahnya yang sempurna terlihat jelas. Rambut pendek seleher dipangkas dengan gaya emo yang khas. Bola matanya berwarna coklat cerah. Tak ada satupun bercak hitam disekitar wajahnya. Kulitnya putih, seputih mayat. Umurnya mungkin sekitar 19 tahun.
Kedua orang temannya juga menurunkan tudung mereka. Salah satu dari mereka laki-laki berperawakan lembut. Umurnya sekitar 22 tahun. Tubuhnya tinggi tegap. Yang satu lagi adalah seorang yeoja dan dapat dipastikan ia adalah yang paling muda. Umurnya sekitar 16 tahun. Mereka semua memiliki ciri-ciri yang sama dengan wanita berambut emo itu. Kulit pucat, keindahan,kesempurnaan, dan mata coklat mereka yang bersinar; kecuali yeoja yang terlihat paling muda, matanya berwarna merah cerah.
“Kau benar, Sun Li-ya. Lebih baik kita memeriksa dua orang asing itu dulu,” usul namja itu.
“Ne. Siapa tahu mereka masih hidup. Onnie bisa mengubah mereka untuk menjadi temanku,” kata yeoja yang paling muda dengan gaya manjanya yang unik.
“Tidak semudah itu mengubah mereka, Seung Hee-ya,” kata yeoja berambut emo itu.
Mereka pun memeriksa keadaan Eun Hyuk dan Hyun Ri. Mereka masih hidup. Segera ketiga orang asing itu membersihkan peluru yang bersarang pada Eun Hyuk dan Hyun Ri. Kemudian mereka mengobati lukanya dan mengganti pakaian mereka karena pakaian mereka berlumuran darah, dan orang asing itu tidak bisa berkonsentrasi jika bau darah mereka terus mengganggu otak mereka. Lalu Eun Hyuk dan Hyun Ri dipindahkan disalah satu kamar yang ada dilantai dasar.
“Menurutmu apa yang harus kita lakukan, Changmin-ah?” tanya Sun Li, yeoja berambut emo itu.
“Mollasaeyo, Sun Li-ya. Mereka sekarat dan mungkin akan meninggal,” jawab Changmin.
“Andwae! Jangan biarkan mereka mati. Ubah saja mereka untuk jadi temanku,” rengek Seung Hee, yeoja yang paling muda.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Sun Li kepada Changmin.
“Terserah. Tapi aku tidak mau merubah mereka,” jawab Changmin.
“Mwo? Aku juga tidak mau. Aku telah merubahmu menjadi vampir dan aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Sun Li.
“Nado! Aku juga tidak mau. Aku kan sudah merubah Seung Hee,” kata Changmin.
Seung Hee mendengus kesal. “Chungbunhaeyo. Biar aku sja kalau kalian tidak mau,” kata Seung Hee. Ia kesal melihat kedua kakaknya yang tidak mau mengubah Eun Hyuk maupun Hyun Ri.
“Kau tahu kan kalau menciptakan vampir baru resikonya besar?” tanya Changmin ragu.
“Ne. Aku tahu,” kata Seung Hee dengan pasti dan tanpa keraguan sedikitpun. Sun Li dan Changmin pasrah. Seung Hee merasa senang bukan main. Ia langsung memeluk Sun Li dan Changmin.
“Jeongmal gomawo. Saranghae,” kata Seung Hee.
“Cheongmanaeyo, saengie,” kata Sun Li.
Seung Hee menggigit pergelangan tangan Min Ji dan memasukkan bisa dari kedua taringnya kedalam pembuluh darah Hyun Ri, begitu pula dengan Eun Hyuk. Setelah itu ia tersenyum puas. Akhirnya apa yang selama ini ia inginkan, mengubah manusia menjadi vampir, dapat tercapai.
“Apakah bisa mereka menjadi vampir yang baik?” kata Seung Hee sambil tersenyum. Sun Li dan Changmin tersentak mendengar pertanyaan selugu itu.

Three days later…

“Oppa, kau yakin mereka akan sadar?” tanya Seung Hee. Ini sudah hari ketiga. Baik Eun Hyuk maupun Min Ji belum juga sadar. Tentu saja Seung Hee khawatir karena dialah yang merubah mereka.
“Tentu saja. Bersabarlah sedikit lagi,” kata Changmin. Seung Hee hanya menurut. Ia selalu percaya pada kata-kata Changmin karena apa yang dikatakan Changmin tentu akan terjadi.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Sepuluh jam. Empat belas jam. BaikEun Hyuk dan Hyun Ri juga belum bangun. Seung Hee pun semakin panik. Dia takut jika Eun Hyuk dan Hyun Ri malah mati. Ia takut dicap sebagai vampir pembunuh.
“Sudahlah. Mereka pasti bangun. Tunggu beberapa menit lagi,” kata Changmin. Seung Hee pun menurut lagi.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit.
“Oppa! Mereka bangun!” kata Seung Hee yang melompat-lompat kegirangan.
“Kan sudah kubilang,” kata Changmin yang juga tersenyum.
Eun Hyuk dan Hyun Ri mulai menggerakkan tubuh mereka. Perlahan mereka membuka mata lalu mencoba duduk. Keduanya saling berpandangan, bingung. Apa yang mereka lihat, sentuh, dengar, seakan begitu jelas. Bahkan mereka bisa mendengar suara desiran angin diruangan itu, walaupun tidak benar-benar yakin itu adalah suara angin.
“Hyun Ri-ya, kau tidak apa-apa?” tanya Eun Hyuk khawatir begitu melihat Hyun Ri disebelahnya.
“Gwenchanhayo,” jawab Hyun Ri yang masih terlihat bingung.
“Aku rasa mereka sepasang kekasih,” kata Seung Hee yang berbisik kepada Changmin. Changmin hanya mengangkat bahunya.
“Ehem.” Seung Hee berdeham supaya Eun Hyuk dan Hyun Ri menyadari kehadirannya.
“Kenapa kalian bisa sampai dirumah kami?” tanya Changmin.
“Terlalu panjang ceritanya,” jawab Hyun Ri lesu mengingat kejadian bersama Yoochun.
“Kalian lapar?” tanya Seung Hee.
Eun Hyuk dan Hyun Ri saling berpandangan. Mereka tidak merasa lapar. Mereka sadar bahwa mereka sangat haus. Kerongkongan mereka terasa sangat kering dan panas.
“Haus,” jawab Eun Hyuk singkat.
“Ah ya itu yang aku maksud,” kata Seung Hee sambil tertawa kecil.
“Sebentar lagi Sun Li pulang. Dia akan membawa ‘makanan’ untuk kalian,” kata Changmin.
“Bisa kah kami bicara berdua dulu?” tanya Hyun Ri sesopan mungkin.
“Ne. Akan kutinggalkan kalian berdua,” jawab Changmin.
Setelah Changmin dan Seung Hee pergi, Hyun Ri menatap Eun Hyuk dalam-dalam. Ia merasakan ada yang aneh pada dirinya.
“Eun Hyuk-ah, matamu merah,” kata Hyun Ri.
“Matamu juga,” kata Eun Hyuk.
“Apa yang telah mereka lakukan pada kita?” kata Hyun Ri. Ia merasa berbeda dengan keadaannya yang sekarang. Ia terasa begitu kaku. Seperti mati.
“Apapun yang telah mereka lakukan kita tetap harus berterima kasih,” kata Eun Hyuk. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama. Saling mengagumi kesempurnaan masing-masing.
“Masih lamakah kalian ingin bicara?” teriak Seung Hee dari luar.
“Aniyo. Kami sudah selesai,” balas Eun Hyuk. Changmin dan Seung Hee pun masuk lagi kekamar itu.
“Boleh aku tahu nama kalian?” tanya Seung Hee.
“Aku Lee Hyuk Jae, kalian bisa memanggilku Eun Hyuk. Ini Song Hyun Ri.” Eun Hyuk menunjuk ke Hyun Ri.
“Kami dari Seoul, melarikan diri. Dan kami hampir saja mati,” kata Hyun Ri.
“Ne. Aku yang menyelamatkan kalian,” kata Seung Hee dengan senyum kebanggaannya.
“Ini pertama kalinya ia merubah seorang manusia. Jadi maklumi saja jika ia sedikit berbangga diri,” kata Changmin sambil tersenyum jahil. Seung Hee langsung menjambak rambut Changmin.
“Mengubah? Maksud kalian?” tanya Eun Hyuk.
“Kalian belum sadar? Kalian vampir!” kata Seung Hee tidak percaya.
“Mwo?”
“Sudahlah kalian terima saja. Aku juga vampir baru. Kita setidaknya bisa belajar bersama,” kata Seung Hee.
Eun Hyuk maupun Hyun Ri tidak tahu apa yang harus dikatakan. Mereka bukan lagi manusia? Bagaimana bisa? Haruskah mereka menghisap darah orang-orang yang tidak bersalah untuk tetap hidup? Tapi itu adalah apa yang dipikirkan Eun Hyuk. Hyun Ri justru bersyukur dengan hidup barunya. Ia punya kekuatan yang lebih dari cukup untuk melampiaskan dendamnya kepada Park Yoochun, orang yang hampir membunuhnya.
“Ne. Aku rasa tidak masalah apapun aku sekarang,” kata Hyun Ri sambil tersenyum. Eun Hyuk memandangnya dengan heran.
“Annyeong. Mian membuat kalian menunggu lama,” kata Sun Li yang tiba dikamar itu. Ia membawa dua buah tubuh manusia yang kelihatannya sedang pingsan. “Cukup sulit untuk mendapatkan yang benar-benar murni. Beruntung kedua manusia ini korban bunuh diri gagal. Darah mereka juga bersih. Sepertinya mereka tidak mengkonsumsi obat-obatan.”
“Itu untuk kalian. Aku yakin tenggorokan kalian sudah sangat panas kan?” kata Changmin.
Memang benar yang dikatakan Changmin. Tenggorokan Eun Hyuk dan Hyun Ri sudah tidak dapat bertoleransi melihat dua onggok tubuh yang tidak sadarkan diri. Mereka dapat merasakan aliran darah yang hangat yang mengalir dari pembuluh darah dua orang itu. Tanpa pikir panjang pun mereka langsung menyantap hidangan pertama mereka sebagai vampir baru.

===THE END===

Iklan
%d blogger menyukai ini: