Arsip

Posts Tagged ‘#sol #bigbang’

Please Be Mine

Januari 10, 2011 3 komentar

Title: Please Be Mine
Rate: +13
Genre: AU, Fluff, Family
Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri
Cast:
-Dong Young Bae a.k.a Taeyang Big Bang
-Choi Sun Li a.k.a Sasha
-Choi Seung Hyun a.k.a TOP Big Bang
-Choi Seung Hee a.k.a Lanita
-Other cast

***

Jaman dahulu kala, di dataran tinggi Korea terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Choi Seung Hyun, dan istrinya bernama Park Seung Hee. Mereke mempunyai dua orang anak bernama Choi Seung Ri dan Choi Sun Li. Seung Ri sudah mempunyai istri bernama Song Hyun Ri sementara Sun Li masih berumur 17 tahun. Menurut aturan kerajaan, Sun Li sudah diharuskan menikah ketika ia berumur 17 tahun dengan seorang pangeran. Sun Li memang telah siap untuk menikah, tapi namja yang dicintainya bukanlah seorang pangeran, melainkan panglima angkatan perang dikerajaan tersebut. Namja itu bernama Dong Young Bae. Mungkin saja Seung Hyun tidak menyetujui namja pilihan Sun Li.
Young Bae mengenal Sun Li ketika Sun Li berumur 14 tahun. Saat itu kerajaan mereka masih porak-poranda akibat perang. Sun Li yang saat itu sedang mengeksplorasi daerah perang menemukan tubuh Young Bae yang penuh luka dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kemudian ia menggotong tubuh Young Bae menuju rumah sakit kerajaan dan jarak yang ditempuhnya bukanlah dekat. Ia membersihkan dan mengobati luka-luka Young Bae hingga pulih kembali. Mulai saat itulah hubungan mereka menjadi dekat hingga perasaan cinta diantara mereka tumbuh. Tapi cinta mereka sangatlah sulit untuk dipersatukan karena status mereka yang berbeda.

“Bagaimana kelanjutan hubungan kita, Jagi?” tanya Young Bae ketika mereka sedang istirahat saat latihan berkuda.
“Mollasaeyo. Aku tidak tahu bagaimana cara menyakinkan appa,” kata Sun Li sambil menatap kosong langit biru diatasnya.
“Harusnya hubungan kita tidak terjadi. Ini semua salah,” kata Young Bae putus asa.
“Jangan katakan itu lagi! Kenapa kau mudah sekali putus asa? Kau harus mencoba bicara pada appa ku sekali lagi,” kata Sun Li. Young Bae memang mudah putus asa jika memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Sun Li.

Young Bae menuruti saran yang diajukan Sun Li. Setidaknya ia harus berusaha dulu, hasilnya kan bisa menyusul.
Young Bae melangkah kearah ruang keluarga Choi. Disana Seung Hyun dan istrinya serta putra mereka, Seung Ri beserta istrinya sedang minum teh bersama. Young Bae Young Bae merasa sangat gugup. Ia pernah mengajukan lamaran itu sekali sebelumnya, tapi ditolak oleh Seung Hyun. Alasannya karena umur Sun Li belum mencukupi, tapi menurut Young Bae alasan sebenarnya bukanlah itu. Ia berpikir Seung Hyun menolaknya karena statusnya hanyalah seorang panglima angkatan perang sedangkan Sun Li adalah seorang putri raja. Sebenarnya, jika bukan Sun Li yang meminta, ia tidak akan mengajukan lamaran ini lagi. Bukan ia tidak mencintai Sun Li, tapi ia tahu siapa dirinya.

“Annyeong hasseyo,” sapa Young Bae sambil membungkukkan badannya kepada keluarga Choi.
“Oh.. Young Bae-ssi. Ada perlu apa?” tanya Seung Hee.
“Ah umma. Biarkan Young Bae duduk dulu,” kata Seung Ri.
Young Bae tersenyum kepada Seung Ri lalu ia duduk disebelah Hyun Ri. Keluarga Choi sangatlah baik kepada Young Bae karena kesetiaannya kepada kerajaan. Bahkan Seung Ri sudah menganggapnya sebagai hyung nya. Tapi Young Bae tetap merasa enggan. Ia selalu memikirkan statusnya dikerajaan itu.
“Apa yang ingin kau bicarakan, Young Bae-ssi?” tanya Seung Hyun.
“Saya…ingin melamar Sun Li,” kata Young Bae. Rasanya ingin sekali ia segera lari dari tempat itu.
Air muka Seung Hyun langsung berubah kaku. Ia meletakkan cangkir tehnya dan menghela napas. “Aku berpikir kau sudah memahami aturannya?” kata Seung Hyun dengan nada kecewa.
“Ne. aku tahu. Iya mianhaeyo, aku mencintai Sun Li, Tuan,” kata Young Bae dengan rasa bersalah.
“Aku tak tahu harus berbuat apa,” kata Seung Hyun.
“Jebal, beri aku satu kesempatan. Aku akan melakukan apapun untuk Sun Li,” kata Young Bae. Seung Hee menatap Young Bae dengan wajah memelas. Ia mengerti apa yang Young Bae rasakan. Ia teringat bagaimana Seung Hyun rela mempertaruhkan nyawanya agar bisa menikahi Seung Hee.
“Berilah kami sedikit waktu dulu,” kata Seung Hee.
“Aku harus memikirkannya dulu. Tapi aku akan memberitahumu secepat mungkin,” kata Seung Hyun.
“Gamsahamnida, Tuan. Aku sangat berharap hasilnya tidak mengecewakan siapapun,” kata Young Bae lalu pamit dari tempat itu. Perasaannya sedikit lega karena apa yang selama ini dirisaukannya sudah ia ungkapkan walaupun hasilnya belum diketahui.

@Park

“Aku sudah memberitahu appamu,” kata Young Bae sambil menemani Sun Li jalan-jalan.
“Eottokahaeyo?” tanya Sun Li.
“Molla. Appa mu belum menjawabnya. Ia mengatakan bahwa ia akan memikirkan hal itu,” jawab Young Bae.
“Aku takut, Chagi,” kata Sun Li.
“Kau tak perlu takut. Kau harus yakin bahwa kita akan bersama selamanya. Neoui saranghae, Sun Li-ya,” kata Young Bae sambil memeluk Sun Li.
“Nado saranghae, Young Bae-ya,” kata Sun Li yang membalas pelukan Young Bae. Ia tak tahu apa yang akan terjadi pada Young Bae. Mungkin saja appanya akan memecat Young Bae, atau ia akan memenjarakan Young Bae, bahkan bisa saja Young Bae dihukum mati. Tapi Sun LI tahu appanya bukanlah orang yang seperti itu.

At the same time….

Seung Hyun berkutat dengan pikirannya. Ia bingung harus melakukan apa. Sebenarnya, jika bukan karena atura kerajaan, tentu saja Seung Hyun sudah merestui anaknya dan Young Bae. Lagipula Young Bae adalah orang yang pantas untuk Sun Li, dan mereka juga saling mencintai.
“Yeobo, bisakah kau berhenti mondar-mandir seperti itu?” kata Seung Hee yang kesal melihat Seung Hyun yang daritadi hanya mondar-mandir.
“Nareul mollasaeyo, yeobo. Kalau bukan karena aturan itu, tentu Sun Li sudah aku nikahkan dengan Young Bae,” kata Seung Hyun frustasi. Seung Hee merangkul Seung Hyun dan mengajaknya duduk. Seung Hyun menatap wajah Seung Hee seakan meminta belas kasihan.
“Kau ingat saat kau ingin menikahiku dulu?” tanya Seung Hee.
“Tentu saja aku ingat. Mustahil aku dapat melupakannya, yeobo,” kata Seung Hyun.
“Kalau begitu kau tinggal melakukan hal yang sama,” kata Seung Hee sambil tersenyum lembut.
“Tapi itu tidak mungkin. Akibatnya akan sangat fatal jika Young Bae melakukannya,” kata Seung Hyun.
“Buktinya kau berhasil, kan? Kenapa Young Bae tidak berhasil jika kau saja berhasil?” tanya Seung Hee yang masih tersenyum.
“Aku berhasil karena aku mencintaimu, Seung Hee-ya,” kata Seung Hyun.
“Dan kau berpikir bahwa Young Bae tidak mencintai putri kita?” tanya Seung Hee lagi.
“Kau benar, yeobo. Kalau Young Bae memang mencintai Sun Li, ia pasti bisa melakukannya,” kata Seung Hyun. Ia merasa sangat lega karena telah menemukan jalan keluarnya, tetapi tetap saja ia merasa khawatir.

@Dinner’s Room CBF

Suasana sangat hening. Malam itu keluarga Choi saling berdiam diri. Entah mengapa sejak Young Bae mengajukan lamaran itu, keluarga Choi jadi sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hal itu terlihat sangat jelas saat ini. Biasanya Seung Hyun selalu menanyakan kepada keluarganya tentang hari-hari mereka, tapi saat ini ia hanya diam. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain.
Setelah selesai makan, Seung Hyun memutuskan bahwa inilah saat yang tepat untuk memberitahu Sun Li tentang keputusannya terhadap lamaran Young Bae. Ia berpikir lebih baik Sun Li yang memberitahu Young Bae apa yang harus dilakukannya.
“Sunnie, appa dan umma sudah membicarakan tentang hubunganmu dengan Young Bae,” kata Seung Hyun. Sun Li merasa sangat gugup, apa yang akan dilakukan appanya terhadap Young Bae?
“Kalau appa dan umma tidak menyetujuinya, aku bisa mengerti,” kata Sun Li.
“Aku tahu kau tidak akan mengecewakan keluarga kita,” kata Seung Hyun sambil tersenyum lembut. Tubuh Sun Li menjadi lemas. Ia berpikir bahwa appanya benar-benar tidak menyetujui hubungannya dengan Young Bae.
“Sunnie, kami inginkau bahagia,” kata Seung Hee lembut.
“Maksud umma?” tanya Sun Li.
“Kami akan merestui hubunganmu dengan Young Bae. Tapi ia harus melakukan sesuatu,” kata Seung Hee. Untuk sesaat Sun Li merasa sangat senang, tapi perasaan khawatir mulai menghantuinya.
“Apa yang harus Young Bae lakukan?” tanya Sun Li cemas. Seung Hyun dan Seung Hee salingn bertatapan. Mereka bingung bagaimana cara memberitahu Sun Li karena apa yang akan Young Bae hadapi nanti sangat membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, tak terkecuali nyawa.
Seung Hyun menghele napasnya. “Saat appa ingin menikahi umma-mu, kakekmu menyuruh appa untuk meletakkan sebuah Kristal yang merupakan lambang dari keluarga Choi di atas puncak Tebing Naga. Young Bae akan melakukan hal yang sama. Bedanya, ia harus mengambil kembali Kristal itu karena itu akan menjadi modal kalian setelah menikah,” jelas Seung Hyun.
“Tapi tebing Naga sangat berbahaya, appa! Apa lagi disana ada naga yang sangat jahat. Bagaimana kalau Young Bae tidak selamat?” protes Sun Li. Di Tebing Naga memang ada seekor naga yang menghuninya. Namanya Ji Yong *d gantung vips**bows*. Menurut mitos penduduk sekitar, Ji Yong sangat membenci jika ada manusia yang mendaki tebingnya. Tidak ada yang berani memanjat itu kecuali ksatria hebat yang sudah berpengalaman dan tidak mempunyai niat yang jahat untuk memanjat tebing itu. Banyak cerita juga bahwa mereka yang berhasil keluar dari tebing itu sebagian besar menjadi cacat fisik maupun mental dan dalam waktu yang tidak lama mereka akan kehilangan nyawa. Tentu saja Sun Li tidak ingin hal itu terjadi pada Young Bae.
“Kau tak perlu khawatir, Sun Li-ah. Appa mu saja selamat dan tak bercacat saat keluar dari tebing itu, kan? Kau harus yakin kalau Young Bae juga akan berhasil,” kata Seung Hee lembut. Tapi kata-kata Seung Hee tidak membuat keadaan Sun Li membaik. Baginya, Young Bae tidaklah sama dengan appa nya.
“Saengie, jika Young Bae benar-benar mencintaimu, ia pasti akan berhasil melakukannya. Aku sudah mengenal Young Bae lebih lama, dan ia orang yang cerdas. Ia pasti akan menemukan jalan keluar untuk menghadapi Young Bae,” kata Seung Ri.
Sun Li berpikir apa yang dikatakan oppa nya itu ada benarnya juga. Ia harus yakin bahwa Young Bae akan berhasil. Tapi tak dapat dipungkiri kalau Sun Li tetap merasa khawatir.
“Apa Young Bae sudah mengetahui tentang hal ini?” tanya Sun Li.
“Ani. Kau lah yang harus memberitahunya. Katakan juga pada Young Bae, appa ingin menemuinya malam ini,” kata Seung Hyun. Sun Li mengangguk pelan.

Sepanjang malam itu Sun Li tidak bisa tidur. Ia masih terus memikirkan tentang Young Bae, Tebing Naga, dan Ji Yong. Bagaiamana cara Young Bae akan menghadapai Ji Yong? Bagaimana appa nya dulu bisa berhasil? Apa yang dilakukan appa nya terhadap Ji Yong? Bagaimana jika Young Bae gagal dan tidak pernah kembali lagi? Sun Li sangat mencintai Young Bae. Tentu saja ia bisa gila jika Young Bae gagal dan tidak akan pernah kembali padanya lagi. Ia ingin sekali memprotes tantangan yang diajukan appa nya, tapi ia tidak berani. Ia sangat menghargai setiap keputusan yang diucapkan appa nya walaupun itu menyakitkan. Ia tahu appa nya selalu memberi yang terbaik bagi keluarganya.

Matahari bersinar dari ufuk timur. Berkas-berkas sinarnya masuk melalui ventilasi kamar Sun Li. Sejak malam, Sun Li tidak bisa memejamkan matanya. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Young Bae yang penuh luka dan darah memenuhi benak Sun Li. Ia sangat takut jika apa yang dibayangkannya benar-benar terjadi.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan lesu. Ia membasuh mukanya dengan air segar agar tidak terlihat lelah. Ia memandangi dirinya didepan cermin. Selama ini ia hidup bergelimangan harta yang tidak akan pernah habis. Semua kebutuhannya tercukupi dan apa yang ia inginkan selalu terpenuhi. Tapi ia tidak pernah merasa puas. Lalu Young Bae hadir dikehidupannya dengan memberikan rasa puas yang selama ini dicarinya. Dan karena itu, ia tidak akan pernah rela untuk kehilangan Young Bae.
“Berpikirlah positif, Sunnie,” kata Sun Li pada dirinya sendiri. Ia selalu berusaha untuk menyingkarkan hal-hal negative dari otaknya.
Sun Li berjalan-jalan disekitar taman istana sambil menikmati udara pagi. Perasaannya masih kalut. Ia tidak memperhatikan arah yang dilaluinya. Ia hanya ingin melihat Young Bae dan memastikan namjachingunya itu masih baik-baik saja.
Ia berjalan kearah timur istana. Disana ada Young Bae yang sedang berlatih pedang. Sun Li merasa teriris melihat Young Bae. Sekarang lawan Young Bae hanyalah seorang manusia dan ini hanyalah sebuah latihan. Bagaimana jika ia berhadapan dengan Ji Yong?
“Bagaimana mungkin aku bisa kehilangan orang yang sempurana seperti Young Bae?” kata Sun Li. Ia memutuskan duduk dibawah pohon sambil menunggu Young Bae selesai latihan.

“Annyeong,Chagi,” sapa Young Bae setelah menyelesaikan latihannya. Lalu ia duduk disamping Hyun Ri.
“Annyeong. Bagaimana keadaanmu?” tanya Sun Li.
“Gwechana. Mworago? Kau terlihat tidak sehat,” kata Young Bae gelisah.
“Nado gwechana. Hanya saja, semalam appa membicarakan soal hubungan kita,” kata Sun Li.
“Lalu?” tanya Young Bae cemas. Ia berpikir keputusan Seung Hyun pastilah buruk hingga bisa membuat Sun Li seperti ini.
“Appa meminta agar kau menemuinya malam ini,”
“Apakah Seung Hyun tidak menyetujui hubungan kita?”
“Ani. Appa menyetujuinya, tapi sebelumnya kau harus melakukan sesuatu,”
Young Bae kini menyadari apa yang telah membuat Sun Li terlihat kacau. Apapun yang akan disuruh Seung Hyun nantinya, pastilah menyangkut dengan nyawanya dan hanya itulah yang bisa membuat Sun Li seperti ini.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Mollasaeyo. Hanya appa yang tahu,”
Sun Li berbohong. Ia harusnya memberitahu Young Bae apa yang harus dilakukannya. Tapi ia tidak kuat. Ia sangat mencintai Young Bae dan tidak siap jika harus kehilangan dirinya hanya karena syarat untuk menikah yang sangat berbahaya. Bagi Young Bae, apapun yang dihadapinya nanti, ia akan berhasil. Ia akan melakukan apapun agar bisa memiliki Sun Li selamanya dan itu atas persetujuan orang tua Sun Li. Young Bae berpikir bahwa apa yang akan dihadapinya inilah sangat penting. Karena ia dapat membuktikan bahwa cintanya terhadap Sun Li sangatlah dalam.

Setelah pertemuan yang singkat dengan Young Bae, Sun Li menghabiskan sisa harinya mengurung diri didalam kamar. Ia ingin waktu berjalan dengan lambat, tapi semakin lama pula ia bisa bersama Young Bae. Tapi jika waktu terassa cepat, ia takut Young Bae pergi ke tebing Naga dan mungkin tak kembali. Semua menjadi serba salah bagi Sun Li.
Hari semakin malam. Hati Sun Li semakin tidak tenang, walaupun malam ini hanyalah pemberitahuan tentang syarat yang diajukan Seung Hyun agar Young Bae bisa menikahi Sun Li. Rasanya Sun Li tidak ingin ikut makan malam bersama keluarganya walaupun Young Bae ada.
“Sun Li-ya!” panggil Seung Hee dari depan kamar Sun Li.
“Ne, umma. Masuk saja,” kata Sun Li. Seung Hee membuka pintu kamar Sun Li. Dilihatnya Sun Li masih belum mengganti pakaiannya.
“Kenapa belum ganti baju, Sun Li-ya?” tanya Seung Hee.
“Umma, aku tidak usah ikut makan malam ya?” pinta Sun Li. Seung Hee merasa bingung. Tidak biasanya Sun Li tidak ingin makan malam bersama, apalagi saat ini Young Bae hadir.
“Waeyo?” tanya Seung Hee sambil mengelus lembut rambut Sun Li.
“Aku hanya takut, umma . Menurutku keputusan appa masihlah sangat berat,” kata Sun Li dengan perasaan kecewa.
Seung Hee tersenyum lembut. “Nak, tidak ada yang perlu kau takutkan. Dulu appa mu juga melakukan hal yang sama, dan appa mu berhasil. Young Bae pasti bisa. Appa mu dan Young Bae adalah orang yang kuat dan cerdas *jelas !*. kau harus bisa mempercayai Young Bae, Sun Li-ah,” kata Seung Hee.
“Tapi tetap saja aku takut, umma,” kata Sun Li yang terus-terusan ngeyel. Tapi kali ini disertai dengan air matanya. Seung Hee menghapus air mata Sun Li. Ia hanya bisa tersenyum dan bersabar menghadapi kelakuan anaknya.
“Kau percaya pada umma?” Sun Li mengangguk pelan. “Umma percaya Young Bae pasti berhasil. Kau percaya?” Sun Li hanya diam.
Seung Hee memeluk putri kesayangannya itu. Ia sangat memahami dilema yang sedang dihadapi putrinya.
“Kalau kau percaya pada umma, berarti kau juga harus percaya bahwa Young Bae bisa dan ia pasti berhasil,” kata Seung Hee lembut.
“Ne, umma. Aku percaya pada umma,” kata Sun Li walaupun sebenarnya hatinya masih ragu.
“Ya sudah. Sekarang ganti bajumu,” kata Seung Hee lalu keluar dari kamar Sun Li.
Sebenarnya, kalau bukan karena disuruh umma nya, ia tetap tidak akan ikut makan malam itu. Tapi karena bujukan Seung Hee dan adanya Young Bae, mau tidak mau ia harus menurutinya.

Sun Li mengganti gaunnya dan berias sesederhana yang ia bisa. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan mengelilingi istana hanya untuk memperlambat waktu. Lama kelamaan pun ia merasa letih. Dengan pasrah, ia berjalan menuju ruang makan.
“Ya! Kenapa kau lama sekali?” kata Seung Ri ketika Sun Li memasuki ruang makan.
Sun Li tidak menghiraukan ucapan oppa nya. Ia berjalan lesu dan duduk disebelah Young Bae.
“Mworago, Sun Li-ah?” tanya Seung Hyun.
“Gwecaha, appa,” jawab Sun Li. Tapi Young Bae merasakan ada sesuatu yang sedang mengganggu Sun Li saat itu.
“Ya sudahlan. Lebih baik kita makan dulu,” kata Seung Hyun.
Lalu mereka mulai menghabiskan makanan masing-masing, kecuali Sun Li yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Wajahnya dengan raut yang masam menatap makanan lezat dihadapannya.
“Chagi, kenapa tidak makan?” tanya Young Bae.
“ Ne. daritadi kau hanya mengaduk-aduk makananmu. Mworago?” tanya Hyun Ri.
“Gwechana. Aku hanya tidak napsu makan,” jawab Sun Li.
“Gurae? Atau kau mencoba diet?” kata Seung Ri yang mencoba melucu. Sayangnya, lelucon itu malah dibalas Sun Li dengan tatapan ganas terhadap Seung Ri.
“Tak usah kau hiraukan oppa mu, Sun Li-ah. Lebih baik kau menghabiskan makananmu,” kata Hyun Ri yang juga menatap Seung Ri dengan ganas.
“Aniyo. Aku sudah kenyang, Hyun Ri-ya. Lebih baik kau saja yang makan banyak buat kesehatan anak kau,” kata Sun Li.
“Tapi anakku nanti juga tidak mau mempunyai ahjumma yang kurus kering karena tidak makan malam. Haha,” kata Seung Ri sambil tertawa. Kali ini Sun Li sudah siap ingin melemparkan sendoknya ke Seung Ri. Tapi Young Bae segera menenangkan Sun Li.
“Sudahlah, Sun Li-ah. Kau kayak tidak tahu sifat Seung Ri saja,” kata Young Bae sambil mengambil sendok yang sudah siap untuk dilemparkan Sun Li.
“Untung kau oppa kandungku. Kalau bukan, sudah aku iris-iris kau kayak daging ini,” kata Sun Li sambil menunjuk daging steak dihadapannya.
Seluruh penghuni meja makan itu tertawa melihat kelakuan Sun Li. Memang inilah kelebihan yang dimiliki Seung Ri. Ia bisa mengubah suasana yang tadinya tegang menjadi cair seperti ini. *ehh kek Jasper yang di twilight dong :p*
Setelah makan malam itu selesai, para pelayan segera menyingkarkan piring-piring kotor dari meja makan dan membersihkan meja itu hingga bersih. Mereka semua diam. Seung Ri sendiri telah kehabisan lelucon untuk mencairkan suasana. Hati Sun Li yang tadinya sudah lebih baik, kini kembali penuh ketakutan. Tentu saja, waktunya untuk memberitahu Young Bae tentang tantangannya semakin dekat.
“Young Bae-ssi,” kata Seung Hyun yang memulai pembicaraan. “Aku mengundangmu malam ini karena ada hal yang harus dibicarakan.”
“Ne, aku tahu,” kata Young Bae dengan hormat.
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya Seung Hyun.
“Aniyo. Aku belum mengetahui apa-apa,” jawab Young Bae.
“Sun Li belum memberitahumu?” tanya Seung Hyun lagi.
Young Bae menatap Sun Li dengan pandangan bertanya. Tapi Sun Li malah menundukkan kepalanya, seolah-olah ia tidak ingin dirinya diikutsertakan dalam pembicaraan itu.
“Ani. Sun Li tidak memberitahu apapun,” jawab Young Bae.
“Hah.. aku pikir Sun Li telah memberitahumu,” kata Seung Hyun.
“Apa yang harus aku lakukan agar bisa menikahi Sun Li yang mulia?” tanya Young Bae dengan menggunakan keberaniannya yang masih tersisa.
“Kau tahu kalau keluarga kerajaan mempunyai sebuah liontin yang sangat berharga dan itu diwariskan secara turun temurun kepada anak perempuan pertama dalam silsilah kerajaan. Dulu liontin itu akan diwariskan kepada Seung Hee, tapi appa nya Seung Hee lebih menginginkan kalau liontin disimpan ditempat yang tidak bisa diambil orang lain selain keluarga kerajaan. Saat itu, aku ingin menikahi Seung Hee. Appa nya Seung Hee langsung mengambil kesempatan itu dengan menyuruhku untuk mencarikan tempat yang cocok untuk menyimpan liontin tersebut.
“Aku berpikir cukup lama untuk menemukan tempat yang tepat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya di Tebing Naga, dimana di tebing itu hidup seekor naga. Aku menghabiskan banyak tenaga, waktu, pikiran, untuk menaklukan naga itu agar ia mau menjaga liontin itu. Dan aku berhasil. Aku berpesan pada naga itu bahwa hanyalah orang yang mempunyai hati yang lembut seperti kapas, pikiran setajam pedang, fisik sekuat baja, dan otak setinggi langitlah yang bisa mengambil liontin itu. Saat itu juga aku langsung pulang dan appa nya Seung Hee sangat puas dengan hasil kerjaku. Tidak lama setelah itu, aku menikah dengan Seung Hee dan masih hidup hingga sekarang.
“Aku hanya ingin kau mengambil lagi liontin itu. Karena liontin itu harus kuwariskan kepada Sun Li. Itu juga sebagai jaminan untuk pernikahan kalian. Aku percaya Sun Li dapat memanfaatkan kekuatan yang ada pada liontin itu dengan baik,” kata Seung Hyun yang mengakhiri cerita tentang pengalamannya.
Raut wajah Young Bae tanpa ekspresi, begitu juga Sun Li. Ia tidak terlalu kaget dengan tantangan yang harus dihadapinya. Ia tahu ia akan menghadapai tantangan seberat ini. Tapi ia akan melakukan apapun demi Sun Li.
“Kapan aku harus melakukannya?” tanya Young Bae.
“Saat kau siap,” jawab Seung Hyun penuh keyakinan. Ia sangat yakin bahwa Young Bae akan berhasil bagaimanapun cara yang akan dipakai Young Bae nantinya.
“Beri aku waktu 2 hari,” pinta Young Bae.
Seung Hyun menyetujuinya. Ia bahkan akan memberikan waktu lebih kepada Young Bae jika perlu. Ia sadar bahwa Young Bae adalah bagian dari kebahagiaan Sun Li, dan ia akan melakukan apapun demi membahagiakan putri kesayangannya.

Setelah selesai makan malam, Young Bae mengajak Sun Li jalan-jalan untuk menghirup udara malam. Ia ingin tahu apa yang dirasakan Sun Li tentang apa yang harus dijalaninya.
“Chagiya, kau ikhlas aku melakukannya?” tanya Young Bae.
“Ani. Aku terlalu takut untuk kehilangan mu,” jawab Sun Li. Young Bae kaget dan menghentikan langkahnya.
“Kau tak akan pernah kehilangan aku,” kata Young Bae sambil menggenggam erat tangan Sun Li.
“Tapi aku takut. Bagaimana jika…” Sun Li sudah tidak mampu membendung air matanya lagi. Ia terlalu membayangkan bahwa Young Bae tidak akan kembali.
Young Bae memeluk Sun Li dengan lembut. “Itu tidak akan terjadi. Kau harus yakin aku akan berhasil. Aku sangat membutuhkan dukunganmu, Chagi,” kata Young Bae.
“Aku selalu mendukungmu. Aku hanya takut,” kata Sun Li yang mulai menangis.
“Kau harus percaya. Kalau kau takut bagaimana mungkin aku bisa menghadapi semua tantanganku?”
“Aku tahu. Aku akan berusaha apapun untukmu,”
“Gomawo, Chagi. Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Saranghae.”
Young Bae memeluk Sun Li semakin erat. Ia tahu bahwa Sun Li masih tidak yakin dengan perasaanya. Tapi sebagai namjachingu yang baik, ia harus bisa meyakinkan Sun Li bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Dua hari telah berlalu. Young Bae telah siap untuk melakukan tantangannya. Ia sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukannya. Dalam perjalanannya nanti, ia hanyalah berbekal cinta yang masih dengan setia diberikan Sun Li untuknya, dan sebuah pedang yang diberikan Seung Hyun ketika ia dilantik sebagai panglima kerajaan. Ia yakin ia bisa pulang tanpa cacat sedikitpun. Dan ia yakin pula bahwa pada akhirnya ia akan menikah dengan Sun Li dan hidup bahagia selamanya.
Keluarga Choi memutuskan untuk menginap di penginapan dilereng tebing Naga. Sayangnya, Seung Ri dan Hyun Ri tidak dapat ikut karena Hyun Ri yang sedang dalam kondisi hamil tua. Hati Sun Li tidak tenang. Ia masih belum bisa untuk merelakan Young Bae. Seung Hyun sudah berusaha untuk meyakinkan Sun Li tapi Sun Li adalah orang yang keras kepala.

Pagi hari itu seluruh keluarga Choi berkumpul di lereng Tebing Naga. Young Bae sudah siap untuk memulai perjalanannya, walaupun saat itu matahari belum sepenuhnya terbit dan udaranya masihlah sangat dingin.
“Kau yakin siap melakukannya?” tanya Seun Hyun dengan nada ragu yang dibuat-buat.
“Aku yakin,” jawab Young Bae dengan mantap.
Sun Li berjalan menghampiri Young Bae. Matanya yang sudahberkaca-kaca, menatap mata Young Bae penuh harap. “Berjanjilah kau akan segara pulang, Chagi. Aku selalu setia menunggumu,” kata Sun Li. Suaranya bergetar berusaha untuk menahan tangisnya.
Young Bae memeluk tubuh Sun Li. “Jangan menangis, Chagi. Aku pasti akan pulang. Aku tak akan membiarkanmu pulang keistana tanpa aku,” kata Young Bae sungguh-sungguh. Ia mengerti apa yang dirasakan Sun Li. Tapi setidaknya ia sudah berusaha untuk meyakinkan Sun Li.
“Aku tak akan pulang tanpa dirimu,” kata Sun Li. Ia menangis dalam pelukan Young Bae. Ia semakin memperat pelukan itu, seolah-olah masih ada harapan bahwa Young Bae tidaklah harus pergi.
“Aku harus pergi, Chagi. Aku pasti merindukanmu,” kata Young Bae lalu memberi kecupan manis di dahi Sun Li dan melepas pelukannya.
“Aku berangkat,” kata Young Bae sambil membungkukkan badannya dihadapan keluarga Choi.
“Pulanglah kapanpun kau siap. Aku tidak akan memberikan batasan waktu. Tapi aku harap hasil yang aku dapatkan pun memuaskan,” kata Seung Hyun sambil menempelkan telapak tangannya diatas bahu Young Bae.
“Gamsahamnida, Yang Mulia,” kata Young Bae.
Dan perjalanan Young Bae untuk mendapatkan cinta abadinya pun dimulai. Disinilah semua kebijakan, kebaikan, kesetiaan, pengorabanan Young Bae diuji.

Young Bae terus berjalan kearah hutan menjauhi keluarga Choi. Ia memasuki rimbunan pohon-pohon pinus. Ia terus bertanya-tanya dalam hati dimana sebenarnya liontin itu. Young Bae sama sekali tidak mempunyai gambaran seperti apa liontin itu dan tempat seperti apa yang dipilih Seung Hyun sebagai tempat yang paling aman.
“Ahh pabo nya aku! Kenapa aku tidak bertanya dulu pada Seung Hyun,” kata Young Bae yang kesal pada dirinya sendiri. Ia hanya memikirkan bahwa ia harus berhasil, dan ia tidak memikirkan bagaimana ia harus menghadapinya. Ia terlalu banyak memikirkan Sun Li karena cintanya terhadap yeoja itu terlalu besar.
Ia terus menyusuri hutan itu hingga matahari tepat diatas kepalanya. Ia sudah merasa letih terus berjalan sepanjang hari. Ia terus berkeliling hutan mencari mata air. Dan blazz! Seperti sebuah fatamorgana, ternyata mata air itu hanyalah 15 meter jaraknya. Langsung saja ia menghampiri mata air itu dan meminum airnya. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon.

***

Tiba-tiba saja ia berada disebuah ruangan yang sangat aneh. Ruangan itu dipenuhi lender. Dinding dan lantainya sangatlah lembek, seperti berada didalam tumpukan daging yang membentuk suatu ruangan. Di ujung ruangan itu terdapat sebuah kotak kaca dan didalamnya berisi sebuah liontin yang bertahtahkan banyak berlian. Mungkin itu adalah liontin milik keluarga Choi, pikir Young Bae.
Young Bae segera berlari untuk mengambil liontin itu, tapi ia tak kunjung sampai. Secepat apapun ia berlari, liontin itu terasa semakin menjauh. Young Bae tidak menyerah. Ia terus berlari menuju liontin itu. Sayangnya, semakin cepat ia berlari, liontin itu malah semakin jauh.
Akhirnya, ia pun merasa kelelahan. Ia memutuskan untuk beristirahat sekaligus memikirkan cara untuk mendapatkan liontin itu. Ketika ia sedang beristirahat, ada suara gemuruh yang datang dari ujung lain ruangan itu dan disusul gempa yang besar. Young Bae mencoba untuk berlari menjauh, tapi guncangan diruangan itu sangat kuat. Lalu gulungan ombak besar datang dari ujung ruangan. Ombak itu dengan mudah menenggelamkan liontinnya, tapi liontin itu tidak lah hanyut dan tetap dalam posisi diam. Young Bae berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya. Tapi kecepatan ombak itu lebih besar. Byarrrr!! Tubuhnya hanyut dibawa ombak besar itu. Dan ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya setelah itu.

***

Young Bae langsung terbangun dari tidurnya. Ternyata itu hanyalah mimpi. Tapi ia yakin bahwa mimpinya itu adalah petunjuk untuk mendapatkan liontin. Satu hal yang membuat Young Bae heran adalah ruangannya. Apa ada tempat seperti itu dipuncak tebing ini? Lagipula, kenapa ia tidak bisa mendapatkan liontin itu meskipun sudah berlari secepat mungkin?
Young Bae menegakkan tubuhnya dan melanjutkan perjalanannya. Ia terus berjalan kearah utara dan tidak berniat untuk beristirahat lagi. Dalam perjalanannya, ia masih memikirkan tentang tempat itu. Bagaimana cara agar ia bisa sampai kesana? Tiba-tiba ia teringat akan ombak besar dimimpinya. Apa mungkin diatas tebing itu ada laut? Dimana tempat itu sebenarnya?
Saat hari sudah gelap, Young Bae telah sampai tepat dibawa Tebing Naga. Ia memutuskan untuk bermalam disitu. Ia memutuskan untuk berburu dahulu karena perutnya sudah tidak bisa diajak untuk kompromi lagi. Dengan keuletannya dalam berburu, ia berhasil mendapatkan seekor rusa yang sangat gemuk. Ia langsung mencari kayu bakar dan menyalakan api untuk membakar buruannya. Setelah selesai makan, Young Bae segera tidur.

Keesokan paginya, Young Bae mulai mendaki tebing itu. Ternyata memanjat tebing itu tidaklah sesulit yang dibayangkannya. Selain itu, jika ia teringat Sun Li, ia akan semakin bersemangat. Walaupun teriknya matahari menyengat kulitnya, tapi Young Bae tidak merasa letih. Sun Li lah yang menjadi kekuatannya selama ini.
Saking bersemangatnya, ia tidak berpikir untuk beristirahat sejenak. Ia terus memanjat tebing itu. Ia tidak peduli dengan rintangan yang ada. Saat menjelang sore, langit menjadi mendung tanda akan hujan. Sempat terbersit di benak Young Bae untuk berteduh, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia ingin segera smapai dipuncak. Tapi itu sangatlah tidak mungkin dengan cuaca yang seperti ini. Orang yang sudah ahli sekalipun akan segera mencari tempat berteduh dengan cuaca seperti itu.
Ketika hujan mulai turun, Young Bae bingung untuk mencari tempat berteduh. Di kiri dan kanannya hanya ada batu yang hanya muat untuk diduduki. Ia memutuskan untuk terus memanjat tebing itu walaupun dinginnya hujan mampu menembus tulangnya.

At the same time…

Sun Li termenung sambil menatap keluar jendela. Di luar hujan turun sangat deras. Suhu pun menurun drastic. Bagaimana keadaan Young Bae disana? Sun Li hanya memikirkan Young Bae. Hatinya gelisah semenjak kepergian Young Bae.
Seung Hee merasa iba melihat kondisi putrinya. Ia tahu apa yang dirasakan Sun Li. Bahkan situasi yang dihadapi Sun Li saat ini lebih berat daripada yang ia hadapi dulu. Sun Li sampai ia napsu untuk makan saking khawatirnya terhadap keadaan Young Bae.
“Sunnie, kau belum makan dari tadi pagi. Sekarang makan dulu, ya?” bujuk Seung Hee. Tapi Sun Li tidak memberikan respon apapun.
Seung Hee menghela napasnya. “Sun Li-ya, dengarkan umma,” kata Seung Hee lembut.
“Mworago, umma?” kata Sun Li akhirnya.
“Apakah kau mau Young Bae pulang dengan melihat kondisimu dalam keadaan sakit?” tanya Seung Hee. Sun Li menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kau harus makan. Baru sehari kau ditiinggal Young Bae, tpi kau sudah terlihat kacau. Bagaimana kalau sebulan lagi Young Bae baru pulang?” kata Seung Hee, seakan-akan memarahi Sun Li.
“Tapi sekarang lagi hujan umma. Di luar sana jugan sangat dingin. Aku sangat mengkhawatirkan Young Bae. Aku ingin sekali menemaninya melewati semua ini,” kata Sun Li putus asa.
“Dengan cara tidak makan seharian? Atau merenung seperti ini? Kau tahu itu salah. Young Bae tidak sama denganmu. Ia mungkin bisa tidak makan berhari-hari, tapi kau tidak. Young Bae adalah namja yang kuat. Kau mau Young Bae pulang dan melihatmu dalam kondisi kacau? Lalu rasa cintanya terhadapmu hilang begitu saja,” kata Seung Hee. Ia berusaha untuk menyadarkan Sun Li walaupun kata-kata yang diucapkannya terdengar meyakitkan.
“Sirheo, umma! Aku yakin Young Bae tidak akan seperti itu,” kata Sun Li kesal. Ia menganggap apa yang dikatakan Seung Hee keterlaluan.
“Makanya, kau harus merawat dirimu sendiri, Sunnie. Kasihan Young Bae nya kalau kau terus seperti ini,” kata Seung Hee.
Sun Li terdiam. Ia kembali menatap keluar jendela. Seung Hee menyerah menghadapi sifat keras kepala anaknya itu.
Sun Li kembali memikirkan keadaan Young Bae. Benarkah Young Bae akan baik-baik saja? Ia berkutat dengan pikirannya sendiri. Berusaha menghilangkan prasangka-prasangka buruk dan mencoba untuk tetap berpikir positif.
Sun Li dikagetkan oleh suara gemuruh pelan. Ternyata itu adalah suara perutnya. Ia merasa lapar karena tidak makan seharian. Mungkin apa yang dikatakan ummanya memang benar. Ia memang tidak sekuat yang dipikirkannya. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk makan.

>>back to Young Bae<<

Satu jam penuh Young Bae memanjat. Akhirnya ia menemukan sebuah gua dan memutuskan untuk berteduh didalam gua itu. Sayangnya, tidak ada apapun didalam gua itu. Tidak ada ranting yang bisa dibuat api, atau sesuatu yang bisa membuatnya merasa hangat. Akhirnya ia memeluk tubuhnya sendiri walaupun itu tidak berguna.
Hari semakin gelap, tapi hujan tak kunjung reda. Young Bae khawatir ia akan semakin lama untuk pulang. Lagipula, mungkin saja setelah hujan jalannya akan menjadi sangat licin. Ia menyesal tidak membawa perlengkapan mendaki. Tapi apapun yang terjadi, ia harus tetap bertahan.
Keesokan paginya, Young Bae melanjutkan perjalanannya. Walaupun badannya terasa sakit, tapi ia tetap berusaha. Ia bertekad untuk sampai dipuncak Tebing Naga secepat mungkin. Ia tidak ingin Sun Li bosan menunggunya lalu memutuskan untuk pergi dan meninggalkannya. *keknya ga mungkin banget ya? :3*

2 days later…

“Sedikit lagi,” kata Young Bae. Tangannya meraih pinggiran tepi tebing itu, lalu dengan sekali lonjakan ia berhasil sampai dipuncak itu dengan mulus.
Ia kagum dan kaget dengan pandangan dihadapannya. “Ini tidak terlihat seperti sebuah tebing. Ini….lebih seperti taman bermain untuk anak balita. Bunga mekar dimana-mana. Masa Ji Young tinggal ditempat seperti ini?” kata Young Bae dengan perasaan yang sulit untuk dipercayai. Young Bae mulai berpikir keras. Dimana Ji Yong berada? Apa mungkin seekor naga yang kejam tinggal ditempat seindah ini? Baginya semua itu masihlah terlalu mustahil. Ia berpikir bahwa tempat tinggal Ji Yong adalah sebuag tempat yang mengerikan, gelap, bahkan mungkin saja angker.
Young Bae menghentikan langkahnya. “Kenapa aku harus memikirkan Ji Yong? Aku seharusnya memikirkan tentang liontin itu,” kata Young Bae pada dirinya sendiri.
Dalam perjalanan, ia semakin bingung pada dirinya sendiri. Lagipula, ia tidak pernah ingat tempat seperti ini dimimpinya yang dulu.
Setelah sekian lama ia mengeksplorasi tempat itu, ia menemukan Ji Yong. Ji Yong adalah seekor naga putih! *yaiyalah.. made in korea gitu :p* Kulitnya sangat bersih. Sisik ditubuhnya berkilau seperti berlian, tubuhnya sangat besar, panjangnya mungkin sekitar 8 meter *whoaaaa O.O*. Menurut Young Bae, Ji Yong tidaklah terlihat seperti naga yang jahat. Entah kenapa ia menjadi ragu tentang apa yang dikatakan penduduk tentang Ji Yong.

TINGG !! sebuah alasan gila keluar dari otak Young Bae. Mungkin saja liontin itu ada didalam tubuh Ji Yong. Tempat mana lagi yang sesuai seperti dimimpinya selain didalam tubuh. Ia menjadi bingung bagaimana cara mengambil liontin itu. Ia tidak mungkin membunuh Ji Yong karena ia hanyalah berbekal sebuah pedang. Masa ia harus meminta liontin secara langsung kepada Ji Yong?

Meanwhile with Sun Li…

“Umma, ini sudah hari ketiga. Aku khawatir sama Young Bae,” kata Sun Li lesu. Seung Hee hanya bisa tersenyum melihat ketidaksabaran putrinya.
“Ini baru 3 hari, Sun Li-ya. Kau pikir memanjat Tebing naga itu mudah? Belum lagi jika Young Bae harus berhadapan dengan Ji Yong,” kata Seung Hee lembut.
“Seandainya saja appa tidak menyuruh Young Bae melakukan hal ini,’’ kata Sun Li.
“Appa mu punya tujuan yang baik dibalik semua ini,” kata Seung Hee lembut.
Sun Li hanya bisa menghela napasnya. Percuma saja kalau ada orang yang berusaha menghiburnya, ia tidak akan merasa terhibur. Hanya Young Bae lah yang bsia menghiburnya saat ini.
Tak lama setelah itu, Seung Hyun memasuki kamar Sun Li. Ia tidak heran melihat keadaan Sun Li yang begitu kacau. Sehari setelah keberangkatan Young Bae, Seung Hyun langsung kembali kekerajaannya karena ada yang harus diselesaikannya.
“Sunnie, yeojum eottosaeyo?” tanya Seung Hyun.
“Mollayo, appa,” jawab Sun Li lesu.
Seung Hyun menatap istrinya untuk meminta penjelasan. Tapi Seung Hee hanya bisa menghela napasnya. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa.
“Wae? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Seung Hyun lembut.
“Aku sedang memikirkan Young Bae , appa. Ini sudah hari ketiga tapi ia belum juga kembali,” kata Sun Li.
Sama seperti Seung Hee, Seung Hyun hanya bisa tersenyum pasrah melihat sikap putrinya itu.
“Ini baru 3 hari, Sunnie. Mungkin saja ia baru sampai dipuncak atau bisa saja ia belum sampai, kan?” kata Seung Hyun lembut.
“Ne appa. Aku hanya rindu padanya,” kata Sun Li.

Back to Young Bae…

Saat itu Ji Yong sedang tidur. Young Bae tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Haruskah ia membangunkan Ji Yong? Dan tentu saja setelah itu ia akan menjadi makan malam yang terlezat untuk Ji Yong. Maka dari itu, ia memutuskan bahwa menunggu Ji Yong jauh lebih baik daripada harus membangunkannya dan memberitahu bahwa makan malamnya telah didepan mata.
Menjelang malam, Ji Yong baru menunjukkan tanda-tanda bangun tidur. Ia menguap selebar-lebarnya, membuat pohon-pohon dan beberapa tanaman disekitarnya bergoyang seakan terkena badai.
“Uhhh.. bau sekali napas naga itu,” kata Young Bae dengan suara rendah. Ia mngernyitkan dahinya dan menutup hidungnya. Ia mengutuki dirinya karena telah mengambil tempat terlalu dekat dengan naga itu.
“Aku bertaruh ia tidak pernah sikat gigi seumur hidupnya,” kata Young Bae lai dengan nada kesal. Lalu ia mulai mendekati Ji Yong dengan langkah pasti dan berhati-hati. Rasa takutnya begitu saja lenyap ketika napas Ji Yong yang seperti bangkai tikus itu menyergap indra penciumannya. (mian istri” bang gd -____- ini kan cuma fiksi ^3^)
“Annyeong hassaeyo,” kata Young Bae dengan nada seorang ksatria. Tiba-tiba ia menyadari fakta aneh yang terjadi sekali seumur hidupnya; mengapa ia perlu memberi salam kepada seekor naga yang bau mulutnya mampu membunuh segerombol gajah? (mian lagi istri” bang gd -_____-)
Ji Yong langsung merubah air mukanya menjadi was-was. “Nugusaeyo?” tanya Ji Yong dingin.
“Joreul Young Bae imnida,” jawab Young Bae.
“Wae neoreul docwahaeyo?” tanya Ji Yong.
“Aku ingin men…”
“Aku tahu apa yang kau inginkan,” kata Ji Yong, memotong kata-kata Young Bae. Dasar naga yang tak tahu sopan santun, gerutu Young Bae dalam hati. “Kau kemari ingin mencari liontin, kan” tanya Ji Yong dengan tampang memaksa.
“Ne,” jawab Young Bae tanpa pikir panjang. Ia tahu tidak ada gunanya jika harus mencari alas an lain.
“Aha! Kau sama saja seperti ksatria brengsek lainnya!” kata Ji Yong dengan penuh kebencian.
“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Young Bae yang tidak terima dibilang brengsek padahal ia adalah ksatria terhormat di kerajaan tempatnya mengabdi untuk seumur hidup.
“Sejak liontin keluarga Choi berpindah ke tebing ini, banyak sekali ksatria-ksatria gila yang berusaha mencurinya. Dan satupun dari mereka selamat. Kupikir setelah kejadian terakhir, kurasa kau tahu kejadiannya,”
“Ya, seorang perwira panglima perang pulang dari tebingmu dengan hanya memiliki satu kaki dan satu tangan,” jawab Young Bae cepat.
“Joeun jika kau sudah tahu. Mereka hanya ingin mencuri liontin itu untuk memperkaya diri sendiri. Benar-benar ksatria brengsek. Mereka tidak pernah berpikir bahwa lontin itu sangatlah penting untuk masa depan kerajaan dan keluarga Choi,” kata Ji Yong dengan amarah yang meluap-luap.
“Ji Yong baboya,” kata Young Bae dengan nada rendah.
“Mian, kau mengatakan aku apa?” tanya Ji Yong sambil mengernyitkan dahinya.
“Neomu ji yongie baboyo,” kata Young Bae tanpa rasa takut.
“Dasar kau!” teriak Ji Yong. Ia mengibaskan ekornya yang sangat besar kearah Young Bae. Young Bae dengan sigap melompat menjauhi hantaman ekor Ji Yong.
“Jangan asal menuduh jika kau tidak tahu alasanku menginginkan liontin itu!” teriak Young Bae yang amarahnya mulai mencapai permukaan.
“Kau pikir aku peduli dengan semua alasan bodohmu?” tanya Ji Yong dengan nada amengejek sambil terus berusaha mencelakai Young Bae. Young Bae sangat kewalahan menghadapi Ji Yong. Ia juga tidak mempunya cukup tenaga untuk melawan Ji Yong.
“Aku diperintahkan Seung Hyun untuk mengambilnya!” teriak Young Bae saking lelah dirinya.
Ji Yong langsung berhenti menyerang ketika Young Bae menyebut nama Seung Hyun. “Apa maksudmu?” tanya Ji Yong dengan pandangan heran. Segera saja ia berhenti menyerang Young Bae.
“Aku mencintai Sun Li dan aku ingin menikahinya. Lalu Seung Hyun menyuruhku untuk mengambil liontin itu sebagai syarat agar aku bisa menikahi Sun Li,” jelas Young Bae dengan napas terengah-engah. Ji Yong terdiam. Selama beberapa saat, naga galak itu tidak memberikan reaksi apapun. Tak ada yang tahu apakah ia sedang berpikir atau tertidur lagi mendengar alasan Young Bae. Kenapa tidak langsung berikan aku liontin itu. Jadi aku bisa pulang segera, gerutu young bae dalam hati.
BRAAKK!!! Ji Yong mengayunkan ekornya lagi kearah Young Bae. “Huaahahahah… Alibi yang sangat mengagumkan, ksatria penipu. Menggunakan putri Sun Li sebagai dasar alibimu,” kata Ji yong sambil tertawa mengejek. Ji Yong terus memecahkan segela bebatuan dan merobohkan semua pohon besar yang berada disekitar Young Bae sementara Young Bae sendiri hanya bisa menghindar. Ia terlalu bingung bagaimana cara meyakinkan naga tua itu bahwa apa yang dikatakannya benar.
“Berhenti menyerangku, naga tua!’ teriak Young Bae yang sudah tidak mampu lagi menghindar napasnya sudah sangat sesak karena terus beralri dan meloncat untuk menghindari serangan Ji Yong.
“Mengapa aku harus berhenti untuk ksatria licik sepertimu,” kata Ji Yong yang masih melancarkan serangannya.
“Chongbunhae,” kata Young Bae dengan nada yang benar-benar telah pasrah.
Ji Yong berhenti menyerang. Ia tidak mengerti mengapa Young Bae tidak juga beranjak kabur seperti ksatria lainnya yang akhirnya pun mereka mati atau selamat dengan keadaan mengenaskan. Tapi Young Bae berbeda. Ia tetap berjuang meskipun keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk menyerang. Mungkinkah apa yang dikatakan Young Bae benar?tanya Ji Yong dalam hati.
“Bagaimana lagi aku meyakinkanmu?” tanya Young Bae dengan napasnya yang hanya tinggal satu-satu.
Ji Yong memicingkan kedua matanya, masih menatap curiga Young Bae walaupun telah berhenti untuk menyerang namja yang hampir sekarat kehabisan napas itu.
“Bagaimana kau bisa mengenal Sun Li?” tanya Ji Yong dingin.
“Aku panglima perang dikerajaan. Sejak kecil aku tinggal di istana itu. Aku dibesarkan bersama Sun Li hingga berumur 17 tahun saat itu Sun Li berumur 13 tahun. Aku harus mengikuti latihan militer dan lain-lain. Kenyataannya aku dan Sun Li mempunyai perasaan yang sama. Kami saling mencintai. Beberapa kali aku melamar Sun Li tetapi Seung Hyun selalu menolak dengan alasan umur Sun Li yang masih terlalu muda.
“Beberapa hari yang lalu aku mencoba melamarnya kembali. Dan ternyata Seung Hyun memberiku tantangan ini. Lagipula liontin itu harus diturunkan kepada anak perempuan sulung, bukan?” jelas Young Bae.
Ji Yong kaget mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Young Bae. Hanya orang tertentu di kerajaan yang mengetahui aturan tersebut. Ia tidak menyangka Young Bae juga mengetahuinya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Ji Yong yang penasaran.
“Aku sudah dibekali semua hal yang perlu kuketahui untuk mendapatkan liontin itu. Sekarang aku hanya minta liontin itu dan aku akan segera pergi,”
“Aniyo. Kau masih harus menjelaskan beberaa hal kepadku,” kata Ji Yong.
“Apa lagi yang ingin kau ketahui?” tanya Young Bae.
“Apa Seung Hyun menjelaskan kepadamu mengapa ia menyuruhmu mengambil liontin itu?” tanya Ji Yong yang masih tidak yakin.
“Mollasaeyo. Aku hanya ingin liontin itu agar bisa menikahi Sun Li. Aku tidak peduli berapa jumlah kekayaan yang bisa kudapatkan dari liontin itu,” jawab Young Bae singkat.
Mau tak mau perasaan Ji Yong pun terenyuh mendengar kata-kata Young Bae. Ia mulai merasa yakin dengan apa yang dikatakan Young Bae. Bahwa ia menginginkan liontin itu bukan sebagai alasan material. Lagipula, Young Bae tidak pernah sekalipun berniat untuk mencelakainya semenjak pertama kali ia menginjakkan kaki diatas tebing ini.
“Aku masih meragukanmu. Bagaimana mungkin Sun Li bisa mencintaimu?” kata Ji Yong dengan nada yang sengaja dibuat ragu-ragu. Ia masih ingin mengetahui niat Young Bae lebih lanjut.
“Aku tak pernah tau. Kenapa tidak kau saja yang menanyakannya?” kata Young Bae yang mulai kesal ditanya-tanya terus.
“Karena aku akan dibunuh warga kerajaanmu jika aku datang kesana untuk menanyakan hal tidak penting seperti itu,”
“Kalau itu tidak penting, mengapa kau menanyakan hal itu padaku?”
“Itu hakku untuk menanyakan apapun yang kumau,”
“Dan hakku juga untuk menjawab pertanyaanmu sesuka hatiku,”
Ji Yong merasa sedikit terkesan dengan pemuda didepannya itu. Entah apa makanan apa yang diberikan ibunya sehingga mempunyai anak yang seperti ini.

BLAARRR!!! Kilatan cahaya merah menghantam kedua makhluk yang sedang asik berdebat itu. Ji Yong hanya sedikit memiring tubuhnya tetapi Young Bae langsung terlempar kebelakang. Mereka melihat kearah sumber kilatan cahaya tersebut. Seorang laki-laki berjubah ‘terbang’ tanpa menggunakan alat bantu apapun. Young Bae terbelalak. Baru kali ini ia melihat manusia yang bisa terbang tanpa menggunakan apapun.
“Young Bae-ya! Gwechana?” tanya Ji Yong panic.
“Gwechanayo,” jawab Young Bae dengan napas tersengal-sengal, “Itu siapa?” Belum sempat Ji Yong menjawabnya, lelaki berjubah itu memotong pembicaraannya.
“Aku kemari ingin mengambil liontin itu,” jawab lelaki berjubah itu dengan nada garang.
“Tidak kapok kah kau dengan yang kemarin?” tanya Ji Yong sama garangnya.
“Tentu saja tidak! Penyihir seperti aku tidak akan pernah kapok dengan perlakuan seperti itu,” jawab lelaki berjubah itu, mengejek. “Kau punya anak buah rupanya,” kata lelaki berjubah itu sambil menatap kearah Young Bae.
“Aku bukan anak buahnya!” kata Young Bae lantang. Baginya, selama lawan bicaranya manusia, ia tidak akan takut. “Aku panglima raja Seung Hyun,” kata Young Bae.
“Ahh aku tidak peduli siapapun dirimu,” jawab laki-laki berjubah itu dengan nada sombong.
“Aku menginginkan liontin itu,”
“Aku tak akan pernah menyerahkan liontin itu padamau. Lagipula sudah ada orang yang lebih pantas untuk mendapatkan liontin itu,” kata Ji Yong dingin.
“Gurae? Siapa orang itu? Budak baru inikah?” tanya lelaki berjubah itu dengan senyum jail diwajahnya.
“Aku bukan budaknya!” teriak Young Bae. Pedang miliknya sudah dicabutnya dari sarung dan siap untuk membunuh lelaki berjubah yang ingin mendapatkan liontin itu. “Dan aku tak akan membiarkanmu mengambil liontin itu karena aku lah yang akan mengambil liontin itu,”
“Hahaha… Manusia lemah sepertimu tak akan sanggup melawanku,” kata lelaki berjubah itu. Ia turun ke permukaan daratan dan menurunkan tudung jubahnya dari kepala. “Kau ingin melawanku? Coba saja kalau bisa,” kata lelaki berjubah itu.
Young Bae langsung berlari kearah lelaki berjubah itu dengan posisi pedang siap menghunus jantung lelaki itu kapanpun. Tapi lelaki berjubah itu berhasil menghindar dengan gesit. Dan begitu seterusnya.
“Kau hanya menghabiskan tenagamu,” kata lelaki itu sambil tersenyum. Ia terus menghindar, melompat-lompat kecil untuk menghindari hunusan pedang Young Bae. “Namaku Kurei, penyihir dari Jepang,” kata lelaki berjubah itu sambil terus menghindar tanpa merasa lelah.
“Aku tak perlu tahu siapapun dirimu,” kata Young Bae dengan napas tersengal-sengal.
“Aku membutuhkan liontin itu untuk ramuanku. Jika ramuan itu berhasil, kau bisa langsung menjadi raja dikerajaanmu,” kata Kurei yang masih tetap tersenyum.
Young Bae menghiraukannya. Ia tetap focus untuk tetap membunuh Kurei. Ia tidak bisa membiarkan siapapun menghalangi niatnya untuk menikahi Sun Li.
Tiba-tiba saja Young Bae jatuh tanpa sebab. Napasnya hanya tinggal satu-satu. Ia tahu tidak ada gunanya menyerang Kurei dengan cara yang sama. Ia harus memikirkan cara baru untuk mengalahkannya.
“Sudah lelah rupanya,” kata Kurei sambil tersenyum. “Sekarang waktunya aku yang membunuhmu.” Kurei melayangkan tangannya keatas, saat itu juga tubuh Young Bae terangkat begitu tinggi, lemas.
“Aku tak pernah pilih-pilih untuk membunuh orang,” kata Kurei. Young Bae berteriak sangat keras. Ia merasa sakit seakan tubuhnya diremas oleh tangan seorang raksasa. Tapi ia tidak bisa melawan.
“Dan belum ada yang berhasil melawanku saat ini. Bahkan penyihir-penyihir terhebat pun sudah kumusnahkan,” kata Kurei yang masih tersenyum. Tubuh Young Bae terhempas ke pohon terdekat. Terdengar bunyi dentum yang sangat keras, menandakan betapa kuatnya ia menghantam pohon itu.
“Apalagi manusia tidak berguna sepertimu. Yang hanya bermodalkan pedang butut tua,” kata Kurei. Kali ini perut Young Bae terasa seperti dipelintir. Sakit bukan main. Darah keluar dari mulut dan hidungnya. Tubuhnya memar dimana-mana.
“Menyerah?” tanya Kurei lembut.
“Aniyo. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan liontin itu,” jawab Young Bae. Ia tidak ingin mengecewakan Sun Li. Ia tahu Sun Li masih menunggunya. Ia akan terus bertahan dan semampu mungkin menjaga tubuhnya agar terjadi luka yang parah. Ia harus pulang tanpa cacat.
“Aku salut padamu,” kata Kurei. “Apa yang membuatmu bertahan demi liontin ini?” Kurei bertanya dengan gaya ingin tahu yang dibuat-buat.
“Aku bertahan…karena…aku mencintai seseorang…dan aku…akan melakukan apapun untuknya…” jawab Young Bae dengan sisa napasnya.
“Bahkan jika kau mati?”
“Aku…tidak akan mati ditangan orang sepertimu,”
Kurei yang mendengar hal itu merasa terhina. Ia ‘menarik’ Young Bae lebih dekat padanya dan memandang Young Bae dengan tatapan penuh kebencian.
“Sombong sekali kau,” kata Kurei. Young Bae hanya tersenyum. “Kau hanyalah manusia murahan yang besar mulut. Kau tahu? Kau akan mati ditanganku, bersama naga yang tidak berguna itu,” kata Kurei. Ia melayangkan tangannya kearah Ji Yong yang daritadi hanya diam, shok. Kilatan cahaya merah itu kembali muncul dan kali ini tepat mengenai Ji Yong. Ji Yong langsung terjatuh. Tubuhnya langsung lemas, sekarat.
Young Bae marah melihat hal itu, tapi ia tak tahu harus melakukan apa. Ia membutuhkan Ji Yong, dan ia pun juga tidak tega jika Ji Yong harus mati ditangan penyihir gila seperti Kurei.
“Kau ingin bernasib sama dengan naga itu?” tanya Kurei lembut.
“Nasibku sudah sama seperti Ji Yong. Tapi kau akan bernasib lebih buruk,” jawab Young Bae.
Kurei tiba-tiba saja terbelalak. Ia jatuh, begitu pula Young Bae. Cairan berwarna merah pekat keluar dari mulutnya. Dan sebilah pedang menancap sempurna dijantungnya. Dan seketika itu juga Kurei mati.
“Sudah kubilang, aku tidak akan mati ditangan orang sepertimu,” kata Young Bae sambil mengambil pedangnya yang menancap dijantung Kurei.

Young Bae langsung berlari kearah Ji Yong. Dielusnya Ji Yong dengan lembut. Entak kenapa ia sedih melihat nasib naga yang hampir mencelakainya.
“Itu liontinnya,” kata Ji Yong dengan suara pelan. Young Bae melihat sebuah liontin disebelah kepala Ji Yong dan langsung memungutnya.
“Jeongmal gomawo, Ji Yong,” kata Young Bae.
“Ani. Gomawo. Aku sudah terlalu bosan menghindar dari serangan Kurei. Dia tidak bisa membunuhku karena ia tidak tahu dimana liontin itu. Hanya aku yang tahu. Kau pantas menerimanya,” kata Ji Yong. Lalu ia memejamkan matanya dan tidur untuk selamanya.
Tanpa sadar air mata Young Bae menetes. Ia memeluk naga yang baru dikenalnya. Walaupun Ji Yong sudah hampir membunuhnya, tetapi ia tetap menghargai Ji Yong karena terus melindungi liontin itu dan mau memberikan liontin itu kepadanya.
“Kau naga yang hebat, Ji Yong-ah,” kata Young Bae disela tangisnya.

***
“Ini liontinnya, Tuan,” kata Young Bae ketika ia telah kembali ke kerajaannya.
“Gomapta. Aku tahu kau akan berhasil,” kata Seung Hyun dengan nada puas.
“Gomawo, Tuan. Tapi Ji Yong tewas dibunuh oleh seorang penyihir dari Jepang,” kata Young Bae.
“Aku turut berduka. Dia naga yang baik,” kata Seung Hyun empati.
“Appa, kapan aku menikah?” kata Sun Li dengan kemunculan yang tiba-tiba.
“Kapanpun kau mau,” jawab Seung Hyun tertawa sekaligus kaget melihat kehadiran Sun Li yang begitu tiba-tiba.
Young Bae langsung berlari memeluk Sun Li ketika melihat yeoja itu. Ia tidak menyangka rasa rindunya lebih besar daripada semua rasa sakit yang telah dialaminya.
“Jeongmal bogoshippo, Sunnie,” kata Young Bae.
“Nado bogoshippo,” kata Sun Li. “Aku senang kau kembali dengan selamat,”
“Aku sudah berjanji akan kembali dan janji itu telah aku tepati,”
Tak lama kemudian Seung Hee dan Seung Ri beserta istrinya pun tiba. Mereka begitu senang melihat Young Bae kembali dengan selamat. Seung Ri langsung memeluk sahabatnya itu.

5 years later….
“Bagaimana bentuknya?” tanya Young Bae penasaran.
“Entahlah. Yang jelas ia harus jadi anak yang baik,” kata Sun Li sambil menatap bayi kecil yang digendongnya.
“Aku harap juga begitu,” kata Young Bae sambil tersenyum. “Kurasa ia lebih mirip denganku,” kata Young Bae sambil mengelus pipi anaknya. Sun Li tersenyum lembut.
“Aku sudah memilihkan nama untuk anak kita,” kata Sun Li.
“Mwo?”
“Sun Bae, Dong Sun Bae. Sun dari namaku dan Bae dari namamu. Ara?” tanya Sun Li.
“Arasseo,” jawab Young Bae tersenyum melihat keluarga kecilnya

Inilah akhir perjuangan cinta Young Bae. A happy ending. Setelah itu masalah jarang datang kekeluarga kecil Young Bae. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar. Mereka sangat menikmati sisa-sisa hidup mereka dengan bahagia dan tanpa masalah yang berarti.

====FIN====

Kategori:Big Bang, CBF Tag:
%d blogger menyukai ini: