Arsip

Posts Tagged ‘#eunhyuk’

[FF]Oneshoot/My Heartbreaker/PG13

November 10, 2010 Tinggalkan komentar

Title: My Heartbreaker

Ratig: +13

Genre: Sad Romance, AU

Length: One Shot

Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri

Cast: -Eun Hyuk a.k.a Lee Hyuk Jae (Super Junior)

Other Cast: -Song Hyun Ri a.k.a Author *yg selalu eksis xD* *plak*

-Choi Seung Ri a.k.a Seung Ri (Big Bang)

Nb: Annyeong !!!!! siska back again with my own ff gaje <- bhsa apaan?

Kali ni saya pingin promosiin suami baru unyuu~ walaupun ada suami baru tp suami lama tetep

eksis kok.. ceritanya jg agak tragis mungkin.. maklum ud kehabisan ide bkin yg happy ending..

happy reading chingudeul 😀

***

Eun Hyuk POV

Bogoshippeunde nae saranghae Hyun Ri…..

Sudah setahun berlalu sejak kejadian mengerikan itu. Yeoja yang paling aku cintai, yang paling aku sayangi, dan yang paling aku rindukan, pergi dan meninggalkan aku sendiri; dan berpaling kepada namja lain. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Selama aku masih bisa melihatnya, itu sudah sangat cukup bagiku. Tapi kini ia benar-benar pergi dariku! Dan aku sudah tidak bisa melihatnya lagi untuk selamanya.

I love you but I hate you, Hyunnie….

Mulai saat itu aku sangat membencinya. Aku benci karena ia meninggalkan aku dan pergi bersama namja lain. Tapi saat ini aku benar-benar membencinya. Aku sangat benci padanya karena ia meninggalkan aku dimana aku sudah tidak akan bisa melihatnya lagi. Aku sudah tidak bisa mengharapkan dia kembali padaku. Dan sayangnya, aku tidak bisa untuk melupakannya. Semakin aku membencinya, semakin ia menghantui pikiranku.

Eun Hyun POV end

Eun Hyuk berdiri tegak didepan cermin. Sekali lagi ia memandangi penampilannya dari ujung ramut hingga ujung kaki. Ia merapikan rambutnya yang keluar dari barisan (?), merapikan kembali lipatan bajunya untuk kesekian kali, dan tak lupa untuk mengenakan parfum yang diberikan Hyun Ri sebagai hadiah kencan pertama mereka. Ia mengambil sebuah buket bunga lili dan sekotak coklat yang baru saja dibelinya. Ia mengambil kunci mobilnya disebelah laptopnya lalu mengenakan sneakersnya. Lalu ia kembali lagi kedepan cermin dan memandangi dirinya lagi dengan sebuket bunga dan sekotak coklat dikedua tangannya.

“Perfect. Tunggu aku, Hyunnie,” kata Eun Hyuk lalu keluar dari kamarnya dan memastikan semua pintu yang ada dirumahnya sudah terkunci. Kemudian ia masuk kemobilnya, menyalakan mesin, dan pergi dari menjauh dari rumahnya. Ia akan mengunjungi Hyun Ri, mantan yeojachingunya. Ia terus menyunggingkan senyumnya selama diperjalanan. Hatinya terus bersorak riang. Sesekali dipandangnya bunga lili dan sekotak coklat di jok penumpang. Walaupun mereka sudah cukup lama berpisah, tapi Eun Hyuk selalu ingat apa yang menjadi kesukaan Hyun Ri.

Forever you my girl…

Forever be my world…

You’re the only one…

The only one I ever need…

My life is you and me….

Eun Hyuk berdendang pelan sambil mendengarkan lagu dari ipodnya. Ini lagu kesukaan Hyun Ri. Ia teringat masa-masa saat masih bersama Hyun Ri. Mereka selalu menyanyikan lagu itu bersama.

“Ahh… aku menyesal telah memperkenalkan Seung Ri kepadamu, Hyunnie. Gara-gara dia, kau meninggalkan aku,” kata Eun Hyuk yang teringat akan mantan sahabatnya, Seung Ri.

Semua terasa begitu menyakitkan bagi Eun Hyuk ketika Seung Ri kembali dan masuk dikehidupan Eun Hyuk dan Hyun Ri. Sahabat kecil yang sangat dipercayanya, yang sangat dibanggakannya, tega mengambil Hyun Ri dari pelukannya. Memang menyakitkan, tapi itulah kenyataannya. Baginya, selama itu membuat Hyun Ri bahagia, ia ikhlas.

Eun Hyuk memarkir mobilnya ditepi jalan. Sekali lagi ia berkaca dikaca spion mobilnya. Ia tersenyum kecil melihat pantulan dirinya dari kaca mobil itu. Ia keluar dari mobilnya dan menyusuri jalan setapak dihadapannya. Semakin jauh ia menyusuri jalan itu, semakin banyak barisan batu berukir yang ditemuinya. Sesekali ia melewati pohon-pohon kecil diantara barisan batu. Ia berbelok kekiri lalu kekanan, lalu kekiri lagi *kebanyakan kiri mau ke neraka xD**plak*. Walaupun menempuh perjalan yang lumayan jauh, ia tidak merasa lelah sedikit pun. Bibir merahnya terus menyunggingkan senyum yang pernah membuat Hyun Ri jatuh cinta padanya. Kini ia kembali tersenyum seperti dulu; berharap Hyun Ri bisa kembali padanya.

Akhirnya Eun Hyuk menghentikan perjalanannya dan berdiri didepan sebuah batu. Batu itu sudah terlihat kusam karena tak pernah dikunjungi. Batu itu bertuliskan Song Hyun Ri serta tanggal-tanggal istimewa sekaligus menyakitkan yang tak mungkin dilupakan Eun Hyuk.

“Annyeong hasseyo, Hyun Ri-ya. Yeojum eottosaeyo? Bogoshippeunde,” kata Eun Hyuk dihadapan nisan itu. Ia berharap seorang yeoja akan keluar dari bawah batu itu dan membalas salamnya. Tapi tak terjadi apapun. Suasana tetap sunyi. Hanya deru angin dan rerumputan yang melambai seolah membalas salamnya.

“Lihat. Aku membawakanmu bunga lili dan coklat. Aku ingat kau sangat menyukai lili dan coklat,” kata Eun Hyuk yang masih terus tersenyum. Ia meletakkan buket bunga dan coklat itu didepan nisan tersebut.

“Ahh.. aku sangat merindukanmu, Hyunnie. Kau tahu aku sangat kesepian tanpa dirimu?” kata Eun Hyuk lagi. Senyum itu mulai menghilang dari bibir merahnya. Matanya sudah terasa panas.

“Hyun Ri-ya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau, kan?”

“Kita mau kemana, oppa?”

“Ikut saja. Aku yakin kau akan menyukainya,”

Kelebatan-kelebatan masa lalu mulai menghampiri Eun Hyuk. Bayangan akan Hyun Ri perlahan menembus benaknya. Rasanya sangat menyakitkan tapi Eun Hyuk membiarkannya. Ia menikmati setiap sensasi yang diciptakan dari rasa sakit itu. Rasa sakit yang diciptakan Hyun Ri untuk dirinya.

“Oppa, ini tempat yang sangat indah,” kata Hyun Ri sambil tersenyum riang.

“Aku kan sudah bilang kau pasti menyukainya,” kata Eun Hyuk yang juga tersenyum.

“Gomawo,oppa,”

“Sekarang tutup matamu,”

“Wae?”

“Ikut saja,”

Hyun Ri menutup matanya. Kemudian Eun Hyuk mengeluarkan sebuket bunga lili dari balik punggungnya.

“Buka matamu sekarang.” Eun Hyuk menyodorkan buket bunga itu dihadapan Hyun Ri.

“Jeongmal gomawo, Eun Hyuk oppa! Aku sangat-sangat suka bunga lili!” kata Hyun Ri sambil berlocat-loncat kecil. Ia sangat senang akan akan hadiah yang Eun Hyuk berikan.

“Cheonmanneyo, Hyun Ri-ya,” jawab Eun Hyuk yang tersenyum manis. Senyuman yang membuat Hyun Ri jatuh cinta pada Eun Hyuk untuk pertama kalinya.

“Sial kau, Hyunnie. Kenapa kau membuatku merasa seolah kau memberiku kesempatan untuk memilikimu saat itu?” kata Eun Hyuk. Ia menatap pilu nisan dihadapannya. Teringat tawa pertama yang diberikan Hyun Ri untuknya. “Huhh.. I’m hurted.”

Eun Hyuk mengajak Hyun Ri berkeliling tempat itu. Ia hanya bisa tersenyum melihat Hyun Ri bercerita tentang dirinya, tentang teman-temannya, tentang keluarganya.

“Oppa tahu? Aku sangat suka coklat. Hampir semua barang-barangku berwarna coklat,” kata Hyun Ri riang.

“Gurae? Kenapa kau sangat menyukai coklat?”

“Molla, tapi menurutku coklat membuatku lebih tenang. Apapun bentuknya, asalkan coklat bisa membuatku lebih baik.”

Semua jawaban polos Hyun Ri semakin menambah daya tarik Eun Hyuk, dan rasa sayang dalam diri Eun Hyuk semakin dalam.

“Hyun Ri-ya?”

Hyun Ri yang daritadi asik bercerita menghentikan ocehannya. “Wae, oppa?”

“Nan sarang handago, Hyun Ri-ya,” kata Eun Hyuk. Hyun Ri langsung menghentikan langkahnya dan memandang Eun Hyuk dengan pandangan bertanya.

“Gurae,oppa?”

“Ne. jeongmal saranghae, Hyun Ri-ya,”

“Na do saranghae,oppa.” Kedua pipi Hyun Ri merah seperti tomat saat mengatakan hal itu.

“Kau mau menjadi yeojachingu ku?”

“Ne, oppa. Aku mau.”

“Gomawo, Jagiya.”

Eun Hyuk memeluk Hyun Ri untuk pertama kalinya. Pelukan yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka.

“Kenapa kau memperbolehkan aku menjadi namjachingu mu saat itu?” kata Eun Hyuk yang masih memandangi nisan itu dengan pilu. “Aku sakit, Hyun Ri-ya. Dan hanya kau yang bisa menyembuhkan rasa sakit itu,”

Air mata mulai mengalir dari kedua pelupuknya. Kedua tangannya terkepal erat. Kakinya terasa sangat lemas.

“Bisakah kau kembali untuk menyembuhkan aku?”

“Saengil chukkahamnida, oppa,” kata Hyun Ri yang memeluk Eun Hyuk dari belakang.

Eun Hyuk membalikkan tubuhnya dan memeluk balik Hyun Ri.

“Gomawo, Hyunnie. Neoui saranghae,” kata Eun Hyuk. Ia menghirup aroma tubuh Hyun Ri yang lembut. Memeluk yeoja itu dengan erat dan berharap yeoja itu takkan pernah meninggalkannya. Hyun Ri adalah hadiah ulang tahun terindah baginya.

“Na do saranghae, oppa,” kata Hyun Ri.

Eun Hyuk mengecup kening Hyun Ri. Pelan tapi pasti, bibir Eun Hyuk turun ke kelopak mata Hyun Ri, turun mengecup pipi Hyun Ri.

“Jeongmal saranghae, Hyun Ri-ya.” Eun Hyuk melumat bibir Hyun Ri dengan lembut, menggairahkan, penuh sensasi, dan dengan penuh cinta….

“Huhh… kenangan itu.” Eun Hyuk tersenyum sendiri mengingat ciuman pertamanya dengan Hyun Ri. Ciuman yang menimbulkan sejuta sensasi, ciuman yang tak mungkin dilupakannya.

“Kau memberikan hadiah terindah untuk ulang tahunku, Hyunnie. Aku tentu tak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Gomawo.” Eun Hyuk kini tersenyum lagi. “Aku masih ingat rasa manis bibirmu. Dan aku bisa merasakannya sekarang.” Eun Hyuk terdiam. Ia menatap kosong nisan kusam itu. Entah apa yang merasuki otaknya, tapi ia berusaha mencari celah untuk mengangkat tubuh dibawah nisan itu.

“Hyunnie, kenalkan ini temanku.”

Hyun Ri menjabat tangan namja yang dihadapannya. Namja itu tak berhenti tersenyum melihat Hyun Ri.

“Choi Seung Ri imnida,” kata namja itu.

“Song Hyun Ri imnida.”

Seung Ri dan Hyun Ri terus bertatapan dan tersenyum dalam waktu yang cukup lama. Hal itu membuat Eun Hyuk resah. Entah kenapa, ia merasa bahwa Seung Ri sahabatnya, jatuh cinta kepada Hyun Ri.

“Hyunnie, kau ada janji dengan temanmu, kan?” tanya Eun Hyuk.

“Ne, oppa,” jawab Hyun Ri yang sedikit terkejut.

“Kau bisa pergi sendiri, kan?” tanya Eun Hyuk lagi.

“Ne, oppa. Annyeong,” jawab Hyun Ri lalu pergi dari tempat itu.

“Bagaimana menurutmu tentang Hyun Ri?” tanya Eun Hyuk ketika ia tinggal berdua saja dengan Seung Ri.

“Molla, tapi ia yeoja yang manis dan baik,” jawab Seung Ri sambil memandangi Hyun Ri yang semakin menjauh.

Eun Hyuk menatap nisan disamping nisan Hyun Ri.

“Pabo kau, Seung Ri!!” kata Eun Hyuk. “Aku tahu kau menyukai Hyun Ri sejak pertama kali melihatnya. Mulai saat itu aku takut kehilangan Hyun Ri.”

Eun Hyuk terdiam. Ia tersenyum pahit pada nisan mantan sahabatnya itu. Bayangan-bayangan masa lalu itu terus mendatanginya, tak mengenal kenangan indah maupun kenangan pahit. Seakan itu adalah hukuman baginya karena menyimpan rasa benci terhadap Hyun Ri.

“Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Hyun Ri.

“Mwoyo?” tanya Seung Ri.

“Tapi oppa jangan marah ya?”

“Ne.”

“Sebenernya, Seung Ri itu orangnya seperti apa?”

Raut wajah Eun Hyuk langsung berubah muram. Entah apa yang dirasakan Hyun Ri sampai ia berani bertanya tentang Seung Ri. Memang hal itu tidak salah, tapi bagi Eun Hyuk itu masalah besar.

“Kenapa kau menanyakannya?” tanya Eun Hyuk dengan nada curiga.

“Oppa marah” kata Hyun Ri dengan rasa takut.

“Aniyo.”

“Oppa mau memberitahuku kan?”

“Huhh.. kau ingin tahu tentang apa?”

“Apa saja.”

“Baiklah. Seung Ri adalah sahabatku. Kami sudah 7 tahun bersama. Ia adalah orang yang baik, pintar dance, pintar menyanyi, dan tentu saja ia tampan. Ketika aku susah, ia juga selalu ada untuk membantuku.”

“Kau tahu perasaanku saat Hyun Ri menanyakan tentang dirimu?” tanya Eun Hyuk sambil tersenyum pahit pada makan Seung Ri. Ia ingin marah tapi tak bisa. Seung Ri adalah sahabat satu-satunya, dan Hyun Ri mencintai Seung Ri. Ia tidak bisa melukai ataupun marah kepada orang yang dicintai Hyun Ri. Tapi kenyataan berkata lain. Hatinya marah, dendam susah menumpuk, sesak; jika harus mengingat semua tentang mereka bertiga. Seluruh jiwanya terasa sangan sakit.

“Segitu baiknya kah Seung Ri?” tanya Hyun Ri.

“Ne. tapi sebaik-baiknya orang tetap ada buruknya,” jawab Eun Hyuk.

“Maksud oppa?”

“Chagi, sewaktu sekolah Seung Ri terkenal sebagai namja yang sangat playboy. Hampir seluruh yeoja disekolahku ia kencani.”

“Gurae?” Hyun Ri seakan tidak percaya apa yang barusan dikatakan Eun Hyuk. Menurutnya, Seung Ri bukanlah orang yang seperti itu.

“Ne. kau harus menjaga jarak dengannya. Aku tak suka kau terlalu dekat dengannya.”

“Wae, oppa? Apa kau berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu?”

“Molla.”

“Aku tidak akan meninggalkan oppa. Saranghaeyo oppa.” Hyun Ri memeluk Eun Hyuk dengan erat.

“Araseo?”

“Araseo, oppa.” Eun Hyuk membalas pelukan Hyun Ri dengan erat. Ia benar-benar takut jika harus kehilangan Hyun Ri.

Eun Hyuk kembali memandangi nisan Hyun Ri. Hatinya terasa sakit walaupun masih ada sedikit rasa bahagia dihatinya.

“Gomawo, Hyunnie. Kau telah memberiku janji dan aku piker kau akan tetap setia pada janjimu.” Air mata Eun Hyuk berjatuhan membasahi tanah. Rasa penyesalan yang tidak jelas sangat menghantuinya. Sakit…. Bahkan terlalu sakit.

“Ani. Aku tak pernah menyesal denganmu hingga saat ini. Tapi aku tetap tak bisa memaafkanmu, juga orang yang telah mengambil dirimu dariku.”

“Mworago?” tanya Eun Hyuk. Ia bingung melihat kedatangan Seung Ri yang menggandeng tangan Hyun Ri.

“MWORAGO?” Suara Eun Hyuk semakin meninggi. Matanya berkilat-kilat. Emosinya dengan cepat telah mencapai titik maksimumnya.

“Hyun Ri bukan milikmu lagi,” jawab Seung Ri tenang. Tangannya menggandeng tangan Hyun Ri lebih erat dari sebelumnya saat mengatakan hal itu.

“GEOTJIMAL!” teriak Eun Hyuk.

“Ani. Itu benar oppa. Aku sadar bahwa aku lebih mencintai Seung Ri. Jeongmal mianhae oppa,” kata Hyun Ri dingin.

“Wae? Waeyo, chagi?!” tanya Eun Hyuk kepada Hyun Ri dengan nada frustasi.

“Jangan panggil aku ‘chagi’ lagi. Aku bukan yeojachingu mu lagi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi,” jawab Hyun Ri kaku.

“Bagaimana dengan semua janjimu, Hyun Ri-ya?!”

“Lupakan! Aku sudah bukan siapa-siapamu lagi.”

Eun Hyuk tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia berlari kearah Hyun Ri dan mendorong yeoja itu hingga terjatuh. Eun Hyuk tak segan untuk memukuli yeoja yang pernah mengisi hatinya dulu. Seung Ri marah melihat perilaku Eun Hyuk kepada Hyun Ri. Ia langsung menarik kerah baju Eun Hyuk dan memukul Eun Hyuk tanpa ampun. Eun Hyuk yang tidak terima diperlakukan seperti itu memukul Seung Ri balik. Mereka saling berkelut, menghajar satu sama lain, dan berusaha membinasakan lawannya.

“Berhenti!!!” teriak Hyun Ri histeris. Tapi kedua namja itu tidak menggubrisnya. Mereka terlalu asik dalam pergulatan yang sedang mereka lakukan *hiperbola banget ye? Wkwk*

Hyun Ri yang sudah habis kesabarannya ikut masuk dalam pergulatan itu. Ia berusaha untuk melerai kedua namja yang sedang berkelahi. Tanpa disengaja, pukulah Eun Hyuk salah sasaran dan mengenai Hyun Ri. Cipratan darah keluar dari mulut Hyun Ri. Hyun Ri langsung berlutut menahan sakit dari pukulan Eun Hyuk.

Eun Hyuk dan Seung Ri langsung menghentikan perkelahian mereka. Tubuh mereka serasa terpaku ditempat melihat Hyun Ri dalam keadaan yang sangat kesakitan.

“Hyun Ri-ya! Jeongmal mianhae!” teriak Eun Hyuk. Ia segera menghampiri Hyun Ri dan memeluk Hyun Ri.

Seung Ri semakin emosi melihat Eun Hyuk memeluk Hyun Ri. Dengan rasa marah yang luar biasa, ia mendorong tubuh Eun Hyuk hingga ia terjatuh. Lalu ia membopong Hyun Ri dan membawanya pergi dari tempat itu.

Kaki Eun Hyuk terasa sangat lemas. Ia terjatuh diantara nisan Seung Ri dan Hyun Ri. Ia menangis dan berteriak. Hatinya terasa dihantam bola api yang sangat panas saat memori akan kejadian itu dengan senang hati menghampirinya.

“Kalian semua brengsek!” teriak Eun Hyuk. Ia masih terus menangis.

Langit menjadi mendung. Perlahan butiran air hujan turun dari langit yang tidaklah lagi seputih kapas. Eun Hyuk masih disana dan tidak beranjak dari posisinya. Bunga lili dan coklat yang dibawa Eun Hyuk pun mulai basah karena hujan.

“Jeongmal mianhae, Hyunnie. Aku tak bermaksud melukaimu saat itu,” kata Eun Hyuk. Tapi semua sudah terlambat untuk disesali. Kini ia hanya bisa merasakan kesakitan bila memori itu akan dirinya dan Hyun Ri datang menghantuinya lagi.

“Tapi aku harus tetap belajar bersyukur. Setidaknya pukulan itu bisa menjadi pelajaran bagimu agar kau bisa merasakan bagaimana sakitnya aku ketika kau meninggalkan aku.”

Hari semakin larut. Matahari sudah memasuki peraduannya. Hujan turun semakin deras. Dan Eun Hyuk tetap tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya berdiri, berlutut, duduk, lalu berdiri lagi; agar tidak merasa terlalu capek. Masih di tempat yang sama; diantara nisan Seung Ri dan Hyun Ri. Ia bermain-main kecil dengan kelopak bunga lili yang mulai remuk oleh derasnya hujan.

Kepalanya terasa sangat pusing. Badannya sudah kedinginan. Napasnya mulai terasa sesak karena ia tidak tahan dengan cuaca dingin. Tubuhnya sangat lemas. Kedua kakinya terasa tidak kuat untuk menopang berat badannya lagi.

“Yeobosaeyo?”

“Annyeong, Eun Hyuk-ssi. Ini umma nya Hyun Ri.” Eun Hyuk terdiam. Ia merasa ada yang aneh. Untuk apa umma Hyun Ri meneleponnya? Dan suara umma Hyun Ri juga terdengar seperti menahan tangis.

“Mworago, ahjumma?” tanya Eun Hyuk.

“Hyun Ri…dan Seung Ri kecelakaan,” jawab ahjumma.

Eun Hyuk terdiam kembali. Ia berusaha mencerna informasi yang baru diterimanya itu. Sementara ahjumma masih setia menunggu respon Eun Hyuk. Tapi Eun Hyuk hanya diam dan tidak memberikan respon apapun.

“Seung Ri meninggal. Hyun Ri masih koma, tapi kondisinya tak memungkinkan ia mampu bertahan lebih lama,” lanjut ahjumma.

Eun Hyuk masih diam. Tapi ia sudah bisa menangkap maksud dari informasi itu. Artinya, Seung Ri sahabatnya sudah pergi untuk selamanya. Hyun Ri… yeoja yang dicintainya, juga akan pergi untuk selamanya. Ia tak tahu harus merasakan apa. Tapi itu sangat menyakitkan. Hyun Ri….

“Ahjumma harap kau mau menjenguk Hyun Ri. Ahjumma tahu bahwa Hyun Ri masih mencintaimu,” kata ahjumma lalu telepon itu terputus.

Eun Hyuk masih terdiam dan tak merubah posisinya. Tangannya masih tetap menggenggam teleponnya. Ahjumma bilang bahwa Hyun Ri masih mencintainya. Baginya itu hanyalah bullshit. Tapi tetap saja Hyun Ri akan pergi dan tak akan pernah kembali padanya.

Eun Hyuk segera keluar dari rumahnya, dan langsung pergi ke rumah sakit tempat Hyun Ri dirawat. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli berapa banyak klakson yang menyapanya, atau berapa banyak lampu merah yang dilewatinya, dan tak peduli berapa banyak orang yang telah ditabraknya. Baginya yang terpenting saat ini adalah Hyun Ri.

Eun Hyuk segera keluar dari mobilnya dan berlari ke ruang tempat Hyun Ri dirawat. Langkahnya terhenti didepan pintu kamar Hyun Ri. Ia mengintip dari celah kaca pintu itu. Hyun Ri tertidur kaku, tanpa ekspresi, pucat.

Perlahan-lahan, kakinya melangkah memasuki kamar itu. Ia duduk disebelah tempat tidur Hyun Ri sambil menggenggam tangan yeoja itu dan menatapnya penuh kesedihan.

“Ini hukumanmu karena meninggalkan aku,” kata Eun Hyuk lembut. Ia mengelus pipi Hyun Ri yang pucat.

“Luka-luka ditubuhmu adalah luka yang sudah kau ciptakan untukku selama ini.” Tanpa sadar, air mata Eun Hyuk menetes dari kedua pelupuk matanya.

“Aku yakin kau pasti berpikir bahwa aku orang yang jahat. Dan kenyataannya seperti itu. Tapi aku berharap kau tidak akan meninggalkan aku. Saranghae Hyun Ri.”

Kali ini Eun Hyuk benar-benar menangis. Air mata membasahi tempat tidur Hyun Ri. Walaupun ia membenci Hyun Ri, tapi ia tetap mencintainya. Ia tidak rela jika harus kehilangan Hyun Ri lagi.

Eun Hyuk terkejut. Tiba-tiba saja napas Hyun Ri menjadi satu-satu. Tekanan jantungnya tidaklah normal lagi.

“Dokter!!!” teriak Eun Hyuk dalam tangisnya. Tapi tak ada satupun yang menjawab walaupun ia sudah berteriak berulang kali. Mungkin ini memang sudah takdir. Hyun Ri memang harus pergi dan meninggalkan Eun Hyuk.

“Kau tahu sakitnya hatiku saat itu? Saat kau memutuskan untuk meninggalkan aku selamanya?” Tubuh Eun Hyuk sudah sangat lemas. Ia tertidur diantara kedua nisan orang yang membuatnya mengalami kesakitan.

Eun Hyuk POV

Pabo! Aku memang pabo! Untuk apa aku menderita seperti ini demi orang yang sudah meninggal? Lagipula orang itu juga telah menyakitiku. Ini semua tidak adil. Aku benci mereka. Aku benci Hyun Ri. Aku benci Seung Ri. Mereka pembohong besar. Mereka hanya bisa mengucapkan janji palsu. Dasar manusia munafik! Sekarang kalian berdua sudah bersenang-senang, kan? Kini hanya ada aku sendiri, menjalankan sisa-sisa penderitaanku sendiri. Kalian sangat jahat. Kalian pasti menertawakan aku dari tempat yang tidak kuketahui bukan? Aku benci kalian seumur hidupku.

Eun Hyuk POV end

RCL ya ^^

%d blogger menyukai ini: