Arsip

Posts Tagged ‘#cbf’

[SF] I’ll Be Your Man

Februari 3, 2011 Tinggalkan komentar

Title: I’ll be Your Man

Song: DBSK –  Hug

Genre: Romance

Rate: All ages

Cast:

-Moon Jeyeon a.k.a Tisha

-U-Know Yunho DBSK

Nb: request ff dari Tisha onnie udah selesai xD~ mian baru sempet di post sekarang onn. Moga onnie suka ya. Mian kalo karakternya ga sesuai selera onnie. Tapi harapannya onnie suka :p

Happy reading ya /(^3^)/

 

***

Yunho POV

Tahun ajaran baru, artinya setahun lagi statusku menjadi mahasiswa. Yang artinya juga aku semakin tua, tua, tua, dan tua… Nevermind. Baiknya, tahun ajaran baru tentu ada murid baru. Bagian kesukaanku; menjahili mereka semua ketika MOS. Itu untungnya menjadi pengurus OSIS.

Harapanku ya… semoga ada yeoja yang bisa kupacari. Bosan rasanya jika harus menjomblo terus. Aigoo! Aku tak ingat kapan terakhir aku pacaran! Semoga saja ada yang bisa aku jadikan yeojachingu.

Aku melihat jam tanganku, 06.30, aku harus berangkat sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin menyiksa semua bocah itu sekaligus memilih-milih yeoja yang pantas untukku.

 

@school…

Gomapta, tampang mereka semua tidak sejelek yang kukira. Sebagian namjanya berbadan kekar dan tinggi seperti atlet, cukup untuk memperbaiki citra pemain basket disekolahku yang terkenal payah. Yeoja nya pun tidak kalah menarik. Mereka cocok dijadikan pemandu sorak untuk tim basketnya, menurutku. Tapi aku belum menemukan yeoja yang bisa membuatku tersipu-sipu.

“Yunho-ya!” Aku mencari sumber suara itu. Ahh.. Jaejoong rupanya. Dia sahabatku yang paling baik dan paling dekat denganku. Banyak yang mengatakan kami pacaran saking dekatnya, ditambah ia namja yang memiliki paras cantik.

“Bantu aku mengatur barisan. Mereka nakalnya bukan main,” kata Jaejoong dengan tampang muram.

“Kkaja! Kita selesaikan berandal-berandal baru itu,” ajakku. Aku merangkul pundaknya dan segera menuju barisan yang menjadi keluhan Jaejoong.

 

Jaejoong benar. Bukan main mereka nakalnya. Suaraku menjadi serak karena terus berteriak. Aku merasa khawatir terhadap angkatan tahun ini. Apa jadinya sekolahku jika dihuni serombongan monyet-monyet gila?! Dan semua itu bertambah buruk karena aku tidak bisa menjahili mereka! Malah mereka yang menjahiliku. Bahkan Jaejoong sempat digoda oleh beberapa namja baru itu. Mereka mengira Jaejoong seorang yeoja karena parasnya yang cantik. Tentang yeojanya, mereka cantik, seksi, tapi mereka bergerombol membicarakan para sunbae yang cakep atau sejenisnya. Aku tidak suka yang seperti itu. Apalagi beberapa dari mereka sempat menggodaku. Seharusnya aku yang menggoda mereka!

Lupakan! Ini akan segera berakhir. Mungkin memang belum nasibku punya yeojachingu. Yang penting MOS harus selesai secepat mungkin. Aku terlalu stres jika harus bersama monyet-monyet gila ini.

 

 

Once I say I love you

I think you would be gone oh baby

Cause we’re too young to love

So I can say later on

Hold you in my arms

 

Hari keempat masuk sekolah. Aku masih terlalu stres akibat tiga hari sebelumnya. Beberapa namja yang mirip maho, yeoja-yeoja centil yang suka bergerombol seperti sekawanan anjing. Nightmare! Beruntung aku tidak lama lagi keluar dari sekolah ini. Aku bisa mencari yeoja lain ketika aku kuliah nanti.

Brukk! Tiba-tiba saja aku menabrak sesuatu yang berbentuk manusia. Memang dari tadi aku melamun. Bahkan aku tak tahu dimana aku sekarang (yang jelas masih di lingkungan sekolah).

“Sunbae! Neomu mianhamnida. Neoneun gwechaseubnikka?” kata yeoja itu dengan suara yang memprihatinkan.

“Naneun gwechanayo. Kau?” tanyaku. Aku membantunya berdiri dan membereskan bukunya yang berserakan dilantai.

“Gwechanayo. Sunbae, neomu mianhae. Aku…” Aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Aku…terpesona. Yeoja dihadapanku cantik, cantik sekali. Rambut panjangnya yang diekor kuda. Pipi yang sedikit memerah tapi memabukkan. Mata hitamnya yang bersinar. Sempurnya. Mungkin saat ini aku sedang tersenyum-senyum sendiri. Omona~

“Sudahlah. Siapa namamu?” tanyaku senormal mungkin.

“Moon Jeyeon imnida,” jawab Jeyeon, namanya. Kurasa aku harus menulis nama itu disetiap baris buku ku  agar tidak lupa.

“Naneun Jung Yunho imnida,” kataku. Lalu aku menjabat tangannya. Rasanya aku ingin terbang! Bisa-bisa aku tidak mencuci tanganku seminggu.

 

But I will waiting for you to stay

You want me to be with you

I’ll live in your love,

In your dream forever and ever

 

Sejak pertemuan yang singkat itu, aku sering mengunjungi Jeyeon sebelum bel masuk, istirahat, dan terkadang mengobrol setelah pulang sekolah. Aku ingin sekali mengantarnya pulang tapi aku belum cukup berani untuk mengajaknya pulang bersamaku.

“Omo! Kapan kau bisa berani jika tidak pernah mencoba,” kata Jaejoong. Ia bilang aku terlalu pengecut untuk mengantar seorang yeoja pulang.

“Kau tidak mengerti. Aku merasa seolah kehabisan oksigen setiap kali ingin mengajaknya,” kataku.

“Gurae? Kurasa saat ini kau masih mempunya persediaan oksigen yang lebih dari cukup,” kata Jaejoong.

“Aigoo! Kurasa kau harus merasakannya sendiri.”

“Jebal. Kau juga perlu seorang yeoja. Aku bosan dikatakan yeojamu padahal jelas aku seorang namja 100%.”  Benar apa yang dikatakan Jaejoong. Mungkin aku harus mencoba mengajak Jeyeon untuk pulang bersamaku.

Ketika bel pulang berbunyi, aku langsung menuju kelas Jeyeon seperti biasa. Perutku mual, padahal aku hanya ingin mengajaknya pulang. Aigoo! Apa tidak usah saja? Tapi bagaimana jika kesempatan itu hanya datang kali ini?

“Annyeong, oppa,” sapa Jeyeon begitu keluar dari kelasnya.

“Annyeong, Jeyeon-ah. Kau…mau kuantar pulang?” Tamat sudah riwayatku. Apa yang dipikirkan Jeyeon? Bisa saja ia menanggapi ajakanku dengan negatif. Mungkin saja ia berpikir aku akan menculiknya. Andwae!!!

“Hmm… Tentu saja. Gomawo, oppa,” kata Jeyeon. Aku serasa ingin memeluk semua orang disekolah ini. Jeyeon mau pulang bersamaku! Omona~ aku tidak mengerti semalam aku mimpi apa. Untung saja jantungku tidak melompat dari tubuhku saking senangnya.

 

Aku mengantar Jeyeon pulang dengan motor bututku. Beruntungnya aku karena Jeyeon tidak mengomentari apapun tentang motorku. Kami tidak banyak bicara selama diperjalanan. Ia hanya mengatakan arah yang harus aku lalui. Tapi aku senang ia memelukku cukup erat. Rasanya begitu romantis, seperti difilm-film.

“Yang disana itu rumahku,” kata Jeyeon sambil menunjuk rumah bercat krem diujung jalan.

“Kita sampai.” Aku memberhentikan motorku tepat didepan rumahnya.

“Jeongmal gomawo,oppa,”  kata Jeyeon sambil membungkukkan badannya.

“Ne, cheonmannaeyo.” Aku diam. Tak tahu apa yang harus aku katakan. Aku sedikit merasa ia tersipu. Aigoo! Aku harus mengatakan sesuatu. Tak mungkin hanya diam seperti ini terus.

Aku tahu apa yang harus kukatakan; atau ungkapkan.

“Jeyeon-ah, boleh aku bertanya?” tanyaku.

“Ne.”

“Kau sudah punya pacar?” Aku berusaha agar nada suaraku terdengar biasa saja. Dan kurasa aku bisa melakukannya.

“Belum. Waeyo, oppa?”

“Kau mau menjadi yeojachingu ku?” Omo~ sekarang aku benar-benar berharap jantungku mau melompat keluar. Kurasa tadi aku memakan sesuatu yang beracun sehingga bisa mengatakan hal ini.

“Mianhae, oppa. Aku tidak bisa,” jawab Jeyeon dengan senyum yang menyedihkan.

“Wae?”

“Umma ku belum mengijinkan aku pacaran. Katanya aku masih terlalu kecil.” Aku sedikit kecewa mendengarnya. Tapi apa mau dikata, aku tak mungkin memaksanya. Aku hargai apapun keputusannya.

 

Whenever you look in my eyes

There are so many smiles and tears

I was born to love, feel deep inside

If you need me, I’ll be your man

 

“Gwechanayo. Aku bisa mengerti,” kataku. Aku berusaha bersikap biasa saja. Aku harap ia tidak merasakan kekecewaanku.

“Gomawo, oppa. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menolak. Tapi ya, umma ku,” kata Jeyeon. Ia menunduk (mungkin merasa tidak enak) sambil memilin jemari tangannya.

“Aku mengerti. Asal kau tahu, aku akan selalu menunggu. Aku berjanji akan menjadi namjachingu mu ketika umma mu sudah memberi ijin, Jeyeon-ah,” kataku sungguh-sungguh, bukan hanya gombal yang biasa diucapkan namja tanpa moral.

“Gomawo, oppa. Aku merasa bersalah.”

“Sudahlah. Aku mungkin dilahirkan hanya untuk mencintaimu. Oleh karena itu, aku mau menunggu.”

Hening. Aku tahu Jeyeon tidak bisa membalas kata-kataku yang terakhir. Berarti aku tidak harus mengeluarkan semua perasaanku yang lain. Aku tahu aku harus menunggu.

 

In my arms, in my soul

I want to hold you, baby

You don’t know how much I love you,

do you baby?

Like the sun rising up

I can’t stop loving you

Can’t hold back anymore

 

Aku sadar aku harus menunggu. Berapa lamapun itu, aku akan tetap menunggu. Aku yakin dengan perasaanku yang sekarang; bahwa Jeyeon memanglah untukku. Dia memang tidak akan pernah tahu seberapa besar aku mencintainya, tapi aku tahu aku tidak akan bisa berhenti untuk mencintainya.

 

Whenever you look in my eyes

I don’t want to show you my love

I’ll make up my minds

Make your dreams come true

Nobody can stop me to say I love you

“Mollasaeyo, oppa. Aku tidak tahu harus bilang apa.”

“Kurasa kau tidak perlu mengatakan apapun.”

“Kita bisa bertemen dulu.”

“Ne.”

“Oppa marah padaku.”

“Aniyo.” Hening. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Tapi aku bisa merasakan ia ingin sekali menjadi yeojachingu ku, semoga saja. Yang jelas, aku tak akan bisa mengecewakannya dengan cara meninggalkannya dengan semua janji-janji yang telah aku ucapkan.

“Jeyeon-ah.”

“Ne, oppa?”

“Neomu saranghae.”

Aku lega. Setidaknya aku sudah mengucapkan apa yang paling aku rasakan saat ini. Bahwa aku sangat mencintainya.

“Nado saranghae, oppa,” jawab Jeyeon yang sedikit tersipu.

Aku tidak percaya. Ia juga mencintaiku! Kurasa aku ingin terbang. Meloncat dari gedung tinggi dan langsung terbang terbawa angin. Tapi… Moon Jeyeon, naneun neomu saranghae.

“Oppa, kau baik-baik saja? Wajahmu merah,” kata Jeyeon sambil meraba dahiku.

“Gwechanayo. Jeyeon-ah, aku harus pulang. Sampai ketemu besok disekolah,” kataku seperti orang yang kebelet ingin buang air kecil.

Aku menaiki motorku dan menyalakan mesinnya. Ia melambai singkat sebelum aku memasukkan gigi pertama. Aku melajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana bahagianya aku sekarang.

Aku janji, Moon Jeyeon. Aku akan selalu menunggumu sampai kapanpun. Aku janji.

 

====THE END====

 

Iklan
Kategori:CBF, DBSK, Request Tag:,

[FF] One Shot/Tell Me Good Bye vers.1/T

November 12, 2010 Tinggalkan komentar

Title: Tell Me Good Bye

Genre: Au, Stuff

Rating: Teenager

Length: One Shot

Author: Fransiska

Cast:

-Choi Seung Ri a.k.a Seung Ri Big Bang

-Kwon Ji Yong a.k.a G-Dragon Big Bang

-Kim Kyu Jong SS501

-Song Hyun Ri a.k.a Author

***

Choi Seung Ri, namja berumur 19 tahun. Kuliah di Chungang University jurusan psikologi semester 4. Ia mempunyai seorang dongsaeng bernama Choi Kyu Jong dan seorang sahabat bernama Kwon Ji Yong. Setiap hari kerjaannya adalah mengamati seorang yeoja bernama Song Hyun Ri, anak SMA kelas XII IPA, berumur 17 tahun, yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Seung Ri jatuh cinta pada Hyun Ri sejak pertama kali ia melihat yeoja itu. Setiap kali Hyun Ri pulang sekolah, Seung Ri akan pergi ke sekolah Hyun Ri untuk mengamati yeoja itu. Seung Ri juga sering mengambil foto Hyun Ri secara diam-diam.

“Kenapa kau tidak langsung mendekati yeoja itu saja?” tanya Ji Yong ketika Seung Ri akan pergi mengamati Hyun Ri.

“Aku menunggunya tamat SMA. Aku tidak mau jalan bersma yeoja yang masih memakai seragam,” jawab Seung Ri. Menurut Ji Yong, alasan Seung Ri sangatlah tidak masuk akal. Baru kali ini ia mendengar alasan bodoh seperti itu.

Ji Yong juga selalu bersabar kalau Seung Ri mulai menceritakan hasil pengamatannya. Terkada berita yang dibawakan oleh Seung Ri sangatlah tidak penting ataupun sudah pernah diceritakannya. Dan setiap kali Seung Ri menceritakan hal yang sudah ia pernah ceritakan, Ji Yong akan melanjutkan ceritanya karena ia hafal apa yang akan diceritakan Seung Ri selanjutnya. Dan biasanya tinggal Seung Ri yang malu-malu sendiri.

Jika Seung Ri tidak melihat Hyun Ri sehari saja, ia akan langsung kelabakan seperti seorang raja yang kehilangan seluruh harta kerajaannya. Pertanyaan-pertanyaan aneh akan diucapkan Seung Ri. Ji Yong dan Kyu Jong adalah sasaran empuk untuk mendengar setiap curhatan Seung Ri tentang Hyun Ri. Ji Yong dan Kyu Jong selalu memasang dalam ingatannya, jangan pernah membantah apa yang Seung Ri ucapkan karena hal itu akan membuat ceritanya semakin panjang.

Mendekati ujian akhir, tingkah laku Seung Ri semakin tidak manusiawi.Ji Yong dan Kyu Jong hanya bisa bersabar menghadapi semua kelakuan Seung Ri. Ia selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang aneh-aneh, seperti “Apakah Hyun Ri akan lulus?”, “Apa ia sudah belajar?”, “Apakah ia bisa menghadapi soal-soal ujiannya?”, dan berbagai pertanyaan aneh lainnya.

Menjelang kelulusan, sikap Seung Ri semakin keterlaluan. Ia selalu mengamati Hyun Ri dari yeoja itu keluar rumah sampai masuk ke rumahnya lagi. Seung Ri juga menjadi sering bolos kuliah demi mengamati dan memastikan Hyun Ri dalam keadaan selamat. Seung Ri juga menjadi lebih pendiam. Ia bingung mau memberikan hadiah apa ketika Hyun Ri lulus nanti. Ia juga rela menghemat hingga tidak jajan demi membelilkan hadiah untuk Hyun Ri.

Seung Ri sangat gembira saat mengetahui bahwa Hyun Ri lulus dengan nilai yang baik. Ia tidak sabar menanti Hyun Ri didepan kampusnya. Tapi Seung Ri kecewa, ternyata Hyun Ri malah satu kampus dengan Kyu Jong. Kyu Jong selalu bersabar menghadapi setiap omelan Seung Ri.

“Kenapa ia harus satu kampus denganmu?” tanya Seung Ri ketika ia mengetahui bahwa Kyu Jong lah yang satu kampus dengan Hyun Ri.

“Mollasaeyo. Aku kan bukan appanya,” jawab Kyu Jong.

“Tapi aku tidak rela ia dekat denganmu,”

“Itu urusanmu. Aku juga tidak berharap ia bersamaku,”

“Kalau begitu aku memberimu tugas untuk menjaganya. Jangan sampai ia jatuh cinta pada siapapun. Jangan sampai ia punya pacar,”

“Mwo? Andwae! Emang aku siapanya Hyun Ri,” kata Kyu Jong yang kaget mendengar kata-kata Seung Ri.

“Ayolah saeng. Kau kan dongsaengku yang paling baik,” kata Seung Ri dengan nada membujuk.

“Kalau kau bukan hyungku, aku tidak akan mau melakukannya,” kata Kyu Jong.

“Gomawo, saengie. Aku tahu kau adalah dongsaeng terbaik. Hahaha,” kata Seung Ri sambil tertawa.

Tapi seiring berjalannya waktu, Kyu Jong menjaga Hyun Ri bukan didasarkan pada Seung Ri lagi, tapi ada perasaan lain yang ia rasakan terhadap Hyun Ri. Hyun Ri juga merasakan ada perubahan pada sikap Kyu Jong. Kyu Jong menjadi sangat protek terhadap dirinya. Kemanapun ia pergi, Kyu Jong akan selalu ada. Seung Ri menganggap hal itu sebagai rasa sayang Kyu Jong terhadap dirinya. Seung Ri tidak menyadari bahwa Kyu Jong juga mencintai Hyun Ri.

“Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu pada Hyun Ri sampai saat ini?” tanya Ji Yong. Ia sadar bahwa kyu Jong juga jatuh cinta pada Hyun Ri. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Kyu Jong lah yang menjadi namja chingunya Hyun Ri.

“Aku merasa belum siap. Tapi aku akan menyatakan perasaanku jika aku siap,” jawab Seung Ri sambil tersenyum.

“Tapi aku khawatir melihat kedekatan Kyu Jong dan Hyun Ri,”

“Mwo? Jadi kau pikir bahwa Kyu jong juga menyukai Hyun Ri?”

“Molla. Kan itu hanya perasaanku saja,”

“Mana mungkin. Aku yakin perhatian Kyu jong selama ini karena ia sayang padaku. Haha,”

“Ani. Coba kau ingat lagi. Kyu Jong pernah membantumu seperti sekarang? Terus apakah kau pernah ingat Kyu Jong dekat dengan seorang yeoja?”

“Memang tidak pernah. Tapikan mungkin saja ia telah berubah dan mau membantuku dengan tulus,”

“Terserah kau sajalah. Yang harus kau ingat bahwa banyak peluang Kyu Jong jatuh cinta pada Hyun Ri begitu pula sebaliknya,” kata Ji Yong yang mulai kewalahan menghadapi Seung Ri.

Seung Ri kembali merenungkan kata-kata yang diucapkan Ji Yong. Memang ada banyak peluang bahwa Kyu Jong jatuh cinta pada Hyun Ri, begitu pula dengan Hyun Ri. Apalagi Kyu Jong memang sangat dekat dengan Hyun Ri. Terus apa yang harus ia lakukan jika itu benar terjadi?

2 weeks later..

“Ji Yong-ah!” teriak Seung Ri.

“Emang harus teriak gitu ya? Mworago?” kata Ji Yong yang kesal.

“Aku siap,” kata Seung Ri dengan wajah berseri-seri.

“He? Siap apa?”

“Aigo! Aku lupa memberitahumu ya? Hari ini aku akan menyatakan perasaanku pada Hyun Ri,”

“Gurae? Aku ikut ya?”

“Ne. Kau dan Kyu Jong memang wajib ikut,”

“Whoaa..” Ji Yong sangat senang bahwa Seung Ri juga mengajaknya. ” Eh, hadiah apa yang akan kau berikan?” tanya Ji yong.

“Aku sudah membelikannya sebuah liontin. Terus aku juga akan memperlihatkan foto-foto yang selama ini sudah aku kumpulkan,” jawab Seung Ri dengan semangat .

“Jeongmal gomawo, chingu. Aku sudah memberitahu Kyu Jong. Sekarang ia bersama Hyun Ri sedang menunggu di depan cafe,”

“Kalau begitu kita berangkat sekarang!” Ji Yong begitu bersemangat. Bukan karena Seung Ri akan mendapat seorang yeoja chingu baru, tapi ia akan segera bebas dari curhatan Seung Ri yang tidak penting lagi.

“Tunggu dulu!” kata Seung Ri tiba-tiba. Raut mukanya berubah serius.

“Mworago? Kau sakit?”

“Aniyo. Aku cuma mau bilang eee…”

“Mworago?”

“Kalau aku pergi, tolong sampaikan pada Kyu Jong, aku titip Hyun Ri,” kata Seung Ri. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak.

“Kau bicara apa sih? Kayak mau mati saja,”

“Gwechanayo. Perasaanku hanya tidak enak,”

“Sudahlah. Ada yang menunggumu,” kata Ji Yong. Ia berusaha menyingkarkan perasaan Seung Ri itu dari benaknya.

@Cafe’s Area

“Hwaiting, Seung Ri-ah!!” kata Ji Yong saat Seung Ri turun dari mobilnya.

“Kau tidak ikut?”

“Aniyo. Aku lihat dari mobil saja. Hahaha,”

“Dasar.”

Di seberang jalan, di depan cafe tersebut, Hyun Ri berdiri berdampingan dengan Kyu jong. Entah kenapa Kyu Jong merasa sedih karena harus kehilangan Hyun Ri, dan mungkin saja cintanya akan bertepuk sebelah tangan.

Sampai saat ini, Kyu Jong belum memberitahu Hyun Ri tujuannya mengajak Hyun Ri ke cafe itu, Setiap kali Hyun Ri bertanya, ia hanya diam.

“Kyu Jong-ah!” teriak Seung Ri dari ujung jalan. Kyu Jong pun melambaikan tangannnya.

“Dia hyung ku,” kata Kyu Jong kepada Hyun Ri. “Dia ingin mengatakan sesuatu padamu. Atau mungkin melakukan sesuatu. Haha,”

“Mwo? Padaku? Tapi kenapa harus bawa bunga?” tanya Hyun Ri yang melihat Seung Ri membawa buket bunga dan bingkisan dalam pelukannya.

“Sudahlah. Kau lihat saja,” ujar Kyu Jong. Hyun Ri semakin penasaran dengan apa yg akan dilakukan Seung Ri. Apa mungkin namja itu akan menembak dirinya? pikir Hyun Ri.

Seung Ri berjalan menyeberangi jalan dengan perasaan berbunga-bunga. Ia tidak menyangka bahwa penantiannya selama setahun akan segera berakhir. Ia tidak sabar menunggu Hyun Ri mengatakan ‘jeongmal saranghaeyo, oppa’, ia tidak sabar menunggu Hyun Ri memanggilnya ‘jagiya’. Ia tidak sabar membayangkan 5 tahun lagi ia akan menjadi seorang appa dan Hyun Ri menjadi umma. Hyun Ri memanggilnya ‘yeobo’, mereka akan punya banyak cucu.

Seung Ri yang sudah tidak dapat menahan perasaannya lagi berteriak di tengah jalan, “JEONGMAL SARANGHAEYO HYUN RI-SSI!!” Semua orang yang ada disekitarnya bisa mendengar ucapannya dengan jelas, termasuk Hyun Ri.

Tiba-tiba saja kejadian itu terasa begitu cepat. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Seung Ri. Segera setelah itu sesosok tubuh terpental dua meter jauhnya dari tempat ia berdiri. Darah bercucuran dari setiap senti tubuhnya. Bunga dan bingkisan yang dibawanya berserakan ditengah jalan. Kalung yang ia beli dari hasil jerih payahnya hancur berkeping-keping.

Ji Yong dan Kyu Jong segera berlari menghampiri tubuh Seung Ri yang tergeletak sudah tidak bernyawa.

“HYUNGGG!!!!” teriak Kyu Jong. Ia menggunacang-guncang tubuh Seung Ri tapi tetap saja tubuh itu terkulai lemas dan tak bernyawa.

Ji Yong terdiam melihat tubuh sahabatnya bersimbah darah dan tak bernyawa. Baru beberapa saat tubuh itu berjalan penuh senyuman dengan seikat mawar putih dan bingkisan yang penuh arti. Baru beberapa saat lalu tubuh itu berteria ‘jeongmal saranghae Hyun Ri’ dan itu tak akan pernah terdengar lagi.

Hyun Ri masih belum menyadari apa yang baru dialaminya. Baru beberapa saat lalu seorang namja menyatakan cinta padanya, dan sekarang namja itu pergi sebelum ia tahu siapa namja itu. Kenapa hal itu bisa terjadi padanya? *karena authornya pingin gitu. hahha* *PLAK*

Hyun Ri menghampiri tubuh Seung Ri yang terkulai dalam pelukan Kyu Jong. Disekitarnya terdapat foto-fotonya dalam berbagai situasi. Siapa namja ini sebenarnya? Kenapa namja itu seolah tahu semua tentang dirinya?

@The Funeral

Puluhan orang mengelilingi sebuah makam berhiaskan batu pualam putih. Di dalam makam itu terbaring sesosok tubuh yang sangat berarti dan sekarang tubuh itu tidak akan mengisi kehangatan bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Saat upacara pemakaman itu selesai, satu-persatu pelayat meninggalkan makam Seung Ri. Hanya ada Hyun Ri, Kyu Jong, dan Ji Yong yang masih menunggu disana.

“Kau tahu, Hyun Ri-ya?” tanya Ji Yong yang masih menatap pilu makam Seung Ri.

“Mwo?” tanya Hyun Ri balik.

Ji Yong tersenyum pahit. “Seung Ri. Ia mencintaimu melebihi apa yang kau bayangkan. Setiap hari ia selalu ke sekolahmu hanya untuk melihatmu dan mengamatimu. Ia juga selalu melaporkan hasil pengamatannya padaku dan Kyu Jong, dan menurutku tingkah lakunya itu freak,” kata Ji Yong. Ia berusaha membongkar semua kenangan Seung Ri yang bisa ia bagikan kepada Hyun Ri. “Seung Ri rela tidak jajan sebulan demi membelikanmu hadiah ketika ia akan menyatakan cinta padamu. Masih banyak lagi kenangan lagi tentang Seung Ri. Ia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki selama ini. Aku tak menyangka ia akan meninggalkanaku secepat ini.” Tanpa sadar airmata jatuh dari kedua pelupuk matanya.

“Aku masih tidak mengerti,” kata Hyun Ri.

“Mwoyo?” tanya Ji Yong.

” Kalau ia mencintaiku, kenapa ia tidak langsung mendekatiku saja,”

Kyu Jong yang daritadi hanya diam tertawa kecil. “Itu alasan terbodoh yang pernah diucapkan Seung Ri. Ia tidak ingin jalan bersama yeoja yang masih mengenakan seragam. Aku tak akan bisa melupakan hal itu,” kata Kyu Jong.

“Dan ia rela menungguku sampai aku menjadi mahasiswi?” tanya Hyun Ri yang kaget.

“Ne,” kata Kyu Jong. Ia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah liontin. ” Ini adalah satu-satunya barang yang tersisa dari kecelakaan itu. Sebenarnya ini adalah hasil jerih payah nya hingga tidak jajan selama sebulan. Aku harap kau mau menjaganya,” kata Kyu Jong sambil meletakkan liontin itu ditelapak tangan Hyun Ri.

Hyun Ri menerima liontin itu dengan haru. Ia menangis karena kagum akan perjuangan Seung Ri. Ia juga merasa bersalah atas kematian yang dialami Seung Ri.

“Neoui mianhae,” kata Hyun Ri. “Ini semua salahku.”

“Ani. Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Ini semua sudah terlanjur terjadi,” kata Kyu Jong.

“Kyu Jong-ah, Seung Ri menitipkan sebuah pesan padamu sebelum kecelakaan itu,” kata Ji Yong.

“Pesan apa?” tanya Ji Yong.

“Ia ingin kau menjaga Hyun Ri,”

Kyu Jong menatap makam Seung Ri. Benarkah Seung Ri rela melepas Hyun Ri demi dirinya? Atau Seung Ri memang tahu kalau dirinya juga mencintai Hyun Ri dan ia telah mempunyai firasat tentang semua ini?

“Hyung….” Kyu Jong berlutut disamping makam Seung Ri. “Sekalipun aku tidak mencintai Hyun Ri, aku akan tetpa menjaganya. Tapi kenyataannya aku juga mencintai Hyun Ri. Aku harap kau mau merestuinya,” kata Kyu Jong.

Kyu Jong berdiri dan menghampiri Hyun Ri. “Kau dengar apa yang dipesankan hyungku? Aku juga ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu. Dan aku akan mencintaimu lebih besar daripada cinta Seung Ri. Maukah kau menjadi yeoja chinguku?” kata Kyu Jong sambil menggenggam tangan Hyun Ri.

Hyun Ri menatap makam Seung Ri dengan pandangan bersalah, kagum. Ia rela melakukan apapun agar bisa menghilangkan rasa bersalahnya terhadap Seung Ri.

“Karena rasa hormatku pada Seung Ri…dan karena aku mencintaimu.. Aku mau,” jawab Hyun Ri.

Kyu Jong memeluk Hyun Ri. Ji Yong terharu melihat kejadian itu. Pastilah Seung Ri bangga mempunyai dongsaeng seperti Kyu Jong.

Saat itu juga angin berhembus sepoi-sepoi, seakan-akan mewakili kegembiraan Seung Ri; atau mungkin itu memang lah Seung Ri dalam bentuk lain. Walaupun ia tidak bisa bahagia bersama Hyun Ri, tapi Kyu Jong telah mewakili semua kebahagiaannya bersama Hyun Ri.

====FIN====

Kategori:Big Bang, CBF Tag:, ,
%d blogger menyukai ini: