Arsip

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

[FANCAM] BEAST #43 Hyun Seung & Seung Ri @ Idol Championship 2011 Rec 110123

Februari 9, 2011 Tinggalkan komentar
Iklan
Kategori:Uncategorized

FF 2S/Letter Love for You/PG13

November 3, 2010 Tinggalkan komentar

Title: Letter Love For You
Genre: School Romance
Author: Fransiska
Rating: PG13
Cast: Song Hyun Ri a.k.a author
Choi Seung Ri a.k.a Lee Seung Hyun Big Bang
Son Dong Woon a.k.a Son Dong Woon B2ST

Hyun Ri POV

13 June 20.10 06.30

Aku melangkah menuju sekolah baruku. Sekarang aku menjadi murid kelas 10 di salah satu sekolah swasta di Seoul. Yaaa!!! Aku sangat gugup ikut MOS-nya. Aku takut jika OSIS-nya galak.

“SEMUA BARIS!!!” teriak seorang namja.
Aku segera menempati barisan paling belakang. Lalu para peserta MOS dibagi menjadi beberapa kelompok. Aigo! Namja-namja di kelompok ku tidak ada yg menarik *tetep panda yg menarik*

“Kelompok tiga bersama Seung Ri dan Han Jye,” kata salah seorang pengurus OSIS. Seorang namja melankahkan kakinya ke arah kelompok ku. “Omona! Cakepnya,” kata yeoja-yeoja centil yg sekelompok denganku. Tapi emang namja itu terlihat lumayan.

“Annyeong hasseyo,” sapa namja itu. Gilaa!! Suaranya merdu banget. Aku merasa ada yg aneh saat melihat matanya. Aigo! Ada apa denganku?!
“Hey kau hemaprodit!!” Mwo? Aku clingak-clinguk melihat sekelilingku.
“Woy! Malah clingak-clinguk kek orang babo!” kata namja itu sambil menunjuk ke arahku.
“Eh, enak saja hemaprodit! Aku punya kelamin! Lagian aku ga babo kek kau!” sahutku kesal.
“Bocah, panggil yg sopan ga bisa ya? Panggil aku OPPA!”
“Apa Oppa babo?” kataku dengan suara yg dimanis-maniskan. AUWWW! Kepalaku malah di jitak sama namja itu.
“Kau dihukum buat surat cinta untukku,” kata Seung Ri.
“Mwo? Amit-amit buat surat cinta untukmu,”
“Ya! Kau mau push up 100 kali apa buat surat cinta?”
“Aigo! Ya sudah,” akhirnya aku memilih membuat surat cinta untuk namja itu.
“Besok kasih aku ya, yeoja babo,” katanya.

@Hyun Ri’s house 19.00

“Ya! Aigo! Ga ada ide. Gila itu orang ya?! Tampang aja cakep, tapi nyebelin ga ketolongan!” Aku frustasi membuat surat cinta untuk Seung Ri. Kamarku sudah seperti tempat sampah gara-gara naskah surat cinta sialan itu.
“Saeng! Makan dulu,” panggil Soo Eun.
“Ne onn,” kebetulan aku juga kelaparan.

“Onn, bisa bantuin buat surat cinta?” tanyaku saat kami makan.
“Cieee, udah mulai cinta-cintaan ya?” ejek Soo Eun.
“Aniyo. Itu disuruh sama ketua OSIS nya,”
“Mwo? Saengku jatuh cinta sama ketua OSIS. Hahaha,”
“Aniyo! Aku ga mau jatuh cinta sama panda gila. Lagian itu hukuman MOS tadi, Onn,”
“Ohh.. Nama ketua OSIS nya Choi Seung Ri ya? Tulis aja saranghae oppa,”
“Sirheo, onn. Aku cuma bira ngomong gitu ke Dong Woon. Aku ga sudi bilang gitu sama panda gila,” Dong Woon adalah namja chinguku. Aku sudah 4 bulan menjalin hubungan dengannya. Tapi akhir-akhir ini Dong Woon sedikit menjauhi diriku.
“Aigo! Dong woon kan sudah ga pernah menghubungimu. Cari yg baru aja. Seung Ri juga ga kalah cakep sama Dong Woon,”
“Andwae. Aku masih setia sama Dong Woon,”
“Ya sudah. Aku hanya menyarankan,”
Aku pergi meninggalkan Soo Eun. Makan malamku tidak kuhabiskan. “Babo kau Seung Ri!!” Aku mengumpat dalam hati. Tapi aku tahu yg Soo Eun katakan ada benarnya, Dong Woon sudah tidak pernah menyapaku lagi, bahkan di sekolah juga.
Bodoh amat soal surat cinta. Lebih baik push up 100x, lalu tidur.

14 Juli 2010

“Hyun Ri bangun!” teriak Soo Eun. Aku membuka mataku dan melihat jam. Aigo! Aku telat! Aku langsung mandi dan berangkat sekolah.

Di tengah perjalanan, ada seseorang yg mencegat sepedaku dengan mobil flat hitam.
“Woy yeoja babo!” Grr.. Suara itu. Panda gila itu, mau apa dia?! “Woy, dipanggil diam aja. Punya telinga ga?”
“Wae? Kau mau aku mencuci mobilmu?!”
“kalau mau gapapa,” Itu anak ga punya malu ya? “Masuk sini!” katanya. Aku masuk kemana? Masa ke mobil flat nya.
“Punya kuping ga? Masuk sini!” Aku semakin bingung.
“Odiya? Ga mau kalau ke mobilmu,”
“Ne, masuk mobil! Sekarang! Atau push up 100x,”
“Ne, aku masuk,”

“Apa maumu?” tanyaku saat di dalam mobilnya.
“Mana suratmu?”
“Mwo? Itukan urusan disekolah,” Seung Ri terdiam sampai kami tiba disekolah.
Aku langsung menempati barisanku ketika sampai disekolah. Aku jadi kepikiran Dong Woon. Akhir-akhir ini kami jarang bertemu walaupun kami satu sekolah lagi.

“Annyeong hasseyo. Selamat datang di hari kedua MOS kalian. Sebelum memulai kegiatan hari ini, salah satu teman kalian akan membacakan surat cinta untuk salah seorang Oppa kalian. Hyun Ri~ssi!” kata Seung Ri. Aigo! Apaan itu orang. Surat cinta aja belum dibuat. Babo ah!
“Jeongmal mianhaeyo, chingudeul. Tapi aku belum membuat surat cinta nya
,” aku mengakui. Seung Ri menatap ku seolah aku melakukan keselahan.
“Omona! Beri dia hukuman Oppa,” kata Han Jye.
Seung Ri terlihat seperti memikirkan sesuatu. “Sini kau,” panggil seung ri. Aku menuju ke arahnya. “Tutup matamu.”
“Mwo? Aku mau diapakan?!” protesku.
“Diam saja. Tutup matamu atau push up 100x,” Aku pun menutup mataku.
Setelah itu…. Chuu! Semua murid bersuit-suit. Seung Ri mengecup keningku. “Itu hukumanmu,” kata Seung Ri. Dengan wajah bersemu aku kembali ke barisanku, dan sejenak aku melupakan Dong Woon.

Saat istirahat, Dong Woon memanggilku dan mengajakku ke gudang sekolah.
“Apa hubunganmu dengan Seung Ri?” tanyanya.
“Aniyo. Aku hanya disuruh buat surat cinta untuknya tapi aku tak membuatnya,”
“Waeyo? Aku pikir kau menyukainya.”
“He? Kau menuduhku selingkuh?”
“Mollasaeyo.”
Aku menangis lalu segera pergi dari tempat itu. Aku tidak menyangka ia sekejam itu padahal aku sudah mencintainya.

Tanpa sengaja aku melewati kelas kosong. Aku melihat sepasang murid sedang melakukan hubungan intim. Aku langsung melewati kelas itu karena jijik melihatnya. Tapi aku merasa mengenali namja yg ada dalam kelas itu. Aku tidak sempat melihat wajah namja itu karena wajahnya tertutupi oleh tubuh lawan mainnya. Aku kembali lagi ke kelas itu karena penasaran siapa namja itu.

OMONA !!! Tak kusangka namja itu adalah dirinya

TBC~

Kategori:Uncategorized

SF/Good Bye Baby/PG15

Oktober 31, 2010 Tinggalkan komentar

Title: Good Bye Baby
Genre: AU, Roamnce
Author: Fransiska
Rating: PG15
Length: Song Fic
Cast: Song Hyun Ri a.k.a author
Son Dong Woon a.k.a Dong Woon B2ST
Choi Seung Ri a.k.a Seung Ri Big Bang

Dong Woon POV

Hati ku sakit saat melihat yeoja yg aku cintai, Hyun Ri, berjalan dengan namja lain. Aku menatap Hyun Ri dan namja chingunya yg baru, Seung Ri, penuh kesedihan dan kebencian. Hyun Ri terlihat senang-senang saja dengan namja chingunya yg baru tanpa memikirkan aku. Sadarkah ia kemarin ia baru putus denganku?

I was good to her but she still left
I just gaze upon it (you know)
Where are you going after throwing me out so cold heartedly?
How can you smile easly?
Why is this misery?

Aku berbuat baik padanya tapi ia tetap pergi. Aku hanya bisa menatap ‘hal’ itu (kau tahu?) Dimana kau setelah mencampakkan aku dengan menyedihkan? Bagaimana kau bisa tersenyum dengan mudah? kenapa ini terlihat begitu menyedihkan ?

You made me cry right here
You killed me
You even burned away my soul
It’s okay, I’ve thrown out the regrets
You were smiling in the arms of another guy, whoa

Kau membuatku menangis, kau seperti membunuhku. Kau membakar habis jiwaku. Tidak apa-apa, aku buang rasa penyesalam itu. Kau tersenyum dalam pelukan pria lain, whoa

Aku berjalan menghampiri kedua orang itu. Aku merasa tidak rela, tapi apa yg bisa ku lakukan?

She was ma baby, I’m entrusting her with you
The one whom I loved more than my self
She wants you
I’ve let her go, I’ve endured it
I hope the upsetting rumors I hear aren’t true

“Dia milikku,” kataku kepada Seung Ri. “Aku percayakan ia padamu, seorang yg aku cintai melibihi diriku sendiri. Dia menginginkanmu. Aku telah membiarkannya pergi, aku rela. Aku harap semua hal buruk yg kau tahu tentang Hyun Ri tidak lah benar,”

Early morning pass midnight
Awakening by your call
I greet you
I don’t understand
Your lips that are telling me that you’ve missed me
Don’t say things like that anylonger
You know I don’t want you anymore

Saat pagi berganti malam, aku terjaga oleh panggilanmu. Aku mengusap mataku yg masih mengantuk dan menyapamu.

Aku mengajak Hyun Ri ke tempat lain tanpa seizin seung ri.
“Bibirmu mengatakan seolah kau merinduka aku. Gurae?” kataku
“Mollasaeyo,” jawab Hyun Ri. Aku menganggapnya sebagai ‘iya’ dan ‘penyesalan’.
“Jangan katakan hal itu lagi sampai kapanpun. Kau tahu aku tidak menginginkanmu lagi,” jawabku. Kejam ya? Tapi itu sebagai rasa kecewa dan penyesalanku di tinggal Hyun Ri dengan sia-sia.

Good bye good bye baby
Just, just, just, just be happy
Don’t look for me
Good bye good bye baby
you know, you know, you know
you gotta ago
cause i can’t take it no more

Selamat tinggal, Jagi; dan bersenang-senanglah dengan namja chingumu yg baru. Jangan perhatikan aku lagi. Kau tahu, kau pergi karena aku tak bisa membawamu kembali padaku lagi.

She was ma baby, through the tip of my nose
The scent of you that lingered
through out the many nights
With your wet lips, sexy body, hot breaths
Did you look at him that same look in your eyes like when you wanted me, yeah

Dia milikku, buang jauh-jauh kata-kata manismu. Bibirmu yg basah, tubuhmu yg seksi, hembusan napasmu. Apakah kau melihat Seung Ri sama seperti saat kau menginginkan aku ? Yeah.

Aku berjalan, meninggalkan pasangan yg membuatku muak itu. Forget them..

Cause I can’t take it no more
Exactly why are you hanging onto me?
Were are you deseparate to be in another man’s arm again. Uh
I don’t understand that sign you gave me

Karena aku tak bisa membawamu kembali. Memang kenapa kau menggantungku seperti ini? Apakah kau merasa kecewa, putus asa, karena meninggalkan aku dalam pelukan pria lain? Uh.

Hyun Ri menatapku dengan pandangan sedih. Aku tak tahu maksudmu. Jangan membuatku mencintaimu lagi, mencoba hal yg sama setiap saat. Uh!

Ya’ll know my steelo
Letting you go with a smile on my face
was my last conselidaration for you
I won’t hold you back, so leave
Go back to that other guy and beg again

Kau tahu prinsipku. Membiarkanmu pergi dengan senyuman di wajahku, hal yg terbaik yg aku lakukan untukmu. Aku tidak akan menginginkanmu kembali, jadi pergilah. Pergilah ke pria lain dan pintalah padaku kembali.

With the last words
to who turned your back on me
With my burning tears
I’ve washed and thrown you out
After all this time passed
You telling me you want us to go back
Don’t say things like that any longer
You know I don’t want you anymore

Dengan kata-kata terakhir yg mengembalikanmu padaku. Dengan air mataku, aku menghapus dan memauangmu jauh-jauh dari pikiranku. Setelah semua ini terjadi, kau mengatakan bahwa kau ingin aku kembali. Jangan terlalu berharap. Kau tahu aku tak menginginkanmu lagi.

Good bye good bye baby
Just, just, just, just be happy
Don’t look for me
Good bye good bye baby

Selamat tinggal, Hyun Ri. Bersenang-senanglah dengan namja yg baru, lupakan aku.
Selamat tinggal, Hyun Ri.

Dong Woon POV end

Kategori:Uncategorized

SF/No Other/PG13

Oktober 31, 2010 Tinggalkan komentar

Title: No Other

Length: Song Fic

Genre: Romance, AU

Rating: PG13

Author: Fransiska

Cast: Choi Sun Li a.k.a Sasha

Yesung Super Junior

nb: @sasha mian bebh bru sempet ngepost skr.. itu cast ny aye tulis yesung j ye.. gw lupa nma asli yesung

***

Yesung POV

Aku merindukan Sun Li. Satu tahun sudah aku di Jepang, dan selama itupun aku tidak bertemu Sun Li. Ingin rasanya aku pulang dan bisa memeluk Sun Li lagi.

There’s no one like you

even if I look around it’s just like that

Where else to look for ?

A person good like you, a person good like you

A heart good like you

A heart good like you

Tidak ada satu orangpun yg bisa menggantikan Sun Li dalam hidupku. Untuk apa aku harus memperhatikan orang lain jika aku memiliki Sun Li. Ia adalah seseorang yg sempurna. Ia adalah terindah bagiku untuk menghabiskan sisa waktu hidupku.

Tapi aku sadar bahwa aku telah meninggalkannya demi karirku sendiri. Aku menyesal telah melakukan itu.

How lucky the person who will try hard

to protect you is just me

Where elsa to look for?

A guy happy like me, a guy happy like me

A guy who laugh with the greatest

happiness lilke me

Saat pertama aku berhasil mendapatkan hatinya, aku merasa beruntung bahwa akulah namja yang pantas untuk melindunginya. Seluruh duniaku teralihkan hanya kepada Sun Li. Aku bahagia dengan segala sesuatu yang ada pada Sun Li. Aku merasa bangga bahwa aku bisa menjaga Sun Li.

Tapi aku merasa hampa saat aku pergi meninggalkannya.

Your two warm hands get cold when I’m cold

Your heart which used to be strong

get sensitive when I’m hurt to silently

Take my hands to silently hold me

Aku teringat saat masih bersama Sun Li. Saat-saat dimana aku menangis, ia juga menemaniku menangis. Padahal aku tahu Sun Li bukanlah orang yang mudah menangis. Ia rela menemaniku disaat aku sedih dan disaat aku senang. Ia memelukku di setiap saat ketika kami berpisah, seolah-olah ia tak ingin ada yang memisahkan antara aku dan dia.

Tapi mengapa aku begitu tega meninggalkan dirinya?

My heart, say it loud my free soul

The days left are even more

than the time when I came love you with a heart

Which always feit like the first time

Mungkin aku merasa bebas dengan keadaanku sekarang, tapi aku sadar bahwa itu salah. Kenapa hari-hari saat aku bersama Sun Li terasa begitu cepat dibandingkan daripada waktuku tanpa dirinya? Ketika aku mencintainya dengan setulus hatiku dan ketika Sun Li juga mencintaiku, aku malah menghancurkan semuanya. Sekarang aku merasa bahwa aku sangat merindukan kehadirannya lagi.

You know what little much little

even though I’m shy

You don’t know it

But you’re burning like the sun

Please understand my heart

Aku ingin berhubungan dengannya lagi, tapi aku malu. Aku merasa tak pantas untuk bersamanya lagi. Uhh… Setiap kali aku melihat foto dirinya, Sun Li selalu terlihat bersinar seperti matahari. Aku berharap ia mengerti isi hatiku, bahwa aku ingin kembali padanya. Aku ingin memeluknya dan tak akan pernah melepasnya lagi. Dan aku akan membawanya kemanapun aku perg.

I love you.. Oh please know it

that to me there’s only you

thath I foolishly see you as my everything

Aku mencintai Sun Li. Aku harap ia tahu bahwa aku masih mencintainya. Bagiku hanya ada dirinya sebagai pelengkap hidupku. Bodohnya aku menganggap Sun Li adalah segalanya bagiku, tapi itulah kenyataannya.

We came on the same road

We’re just lilke each other

How suprising, how thankful

It’s just love

Aku berjanji aku akan pulang, tapi aku tak ingin Sun Li bersikap seolah aku tak pernah ada dalam hidupnya. Aku akan membawa Sun Li dalam hidupku, dan aku sangat berterima kasih jika itu bisa terjadi. Inilah cintaku untuk Sun Li.

====FIN====

Kategori:Uncategorized

SF/The Named I Loved/T

Oktober 27, 2010 Tinggalkan komentar

Title: The Named I Loved

Genre: Romance

Rate: Teenagers

Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri

Cast:

-Park Hae Mi a.k.a Ezha onn

-Kyu Hyun Super Junior

nb: @ezha onn: mian bru d post skr ya onn.. maap klo gaje

***

Hae Mi POV

Well, sebelum aku memulai cerita, lebih baik flash back dahulu. Aku ingin mengenang Kyu Hyun. Namja yang aku cintai. Mengenang saat-saat ia akan meninggalkan aku.

FLASHBACK”

Jagi, aku rasa hubungan kita tidak dapat berlanjut lagi,” kata Kyu Hyun.

“Waeyo? Neoui sarange oppa,” kataku lesu. Aku tidak menyangka ia mengatakan hal itu. Selama ini aku berpikir bahwa Kyu Hyun sungguh-sungguh mencintaiku.

“Mianhae, Hae Mi-ya. Aku…menemukan yang lebih pantas untukku,” kata Kyu Hyun. Ia terus menundukkan kepalanya. Seakan-akan ia takut untuk melihatku.

“Aku tidak mengeri. Mengapa aku kurang pantas bagimu?” kataku dengan perasaan marah. Kurang apakah aku bagi Kyu Hyun? Apa arti semua perasaanku, perhatianku, kasih sayangku yang selama ini telah aku berikan?

“Aniyo, kau sangat pantas bagiku. Tapi selama kita bersama, aku….tidak merasakan apapun. Aku hanya menganggapmu sebagai dongsaengku,” kata Kyu Hyun. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan setelah Kyu Hyun mengatakan hal itu. Aku ingin marah, tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa diam.

“Mianhae, Hae Mi-ya. Jebal, belajarlah melupakan aku mulai sekarang. Masih banyak namja yang lebih pantas bagimu selain aku,” kata Kyu Hyun. Lalu ia memelukku untuk terakhit kalinya kemudian pergi meninggalkan aku.Benarkah aku akan menemukan yang lebih baik dari Kyu Hyun?

FLASHBACK END

Hingga saat ini aku masih tidak bisa untuk melupakan Kyu Hyun. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan orang yang sangat aku cintai?

Both hands tremble

As I remembered the cold love memories

Now it’s getting weirder

I don’t wish reject you

But I just know that

Hatiku perih, tanganku gemetar saat aku teringat kejadian itu lagi. Sekarang semua nya menjadi serba salah. Aku tidak pernah ingin membiarkan Kyu Hyun pergi dari hidupku. Tapi aku tahu Kyu Hyun bisa melakukannya. Tentu saja! Selama kami bersama ia hanya menganggapku sebagai dongsaengnya. Semua terasa begitu menyakitkan.

No matter how close we are

I know that I can’t love you anymore

I can’t miss you

Waiting for you makes me tired

And I can’t realize this

Bukanlah masalah lagi sedekat apa hubungan kita. Aku tahu aku sudah tidak bisa mencintai Kyu Hyun lagi. Aku sudah tidak bisa merindukannya lagi. Menunggunya untuk kembali malah membuang tenagaku. Dan aku masih tidak bisa menyadari bahwa Kyu Hyun sudah tidak bisa kembali lagi.

Love that can’t be together

Can also be known as love

Kept remembering the first time

I saw you walking towards me

And stolen an edge of my heart

without noticing

Cintaku dan Kyu Hyun tidak bisa dipersatukan, aku hanya menganggap ini sebuah ‘cinta’ bukan seperti kisah cinta sejati yang akhirnya bisa dipersatukan. Hanyalah ‘cintaku’ terhadap Kyu Hyun bukan ‘cinta’ antara Kyu Hyun dan aku. Aku akan selalu menyimpan kenangan saat pertama Kyu Hyun mendekatiku. Saat itu pula ia berhasil mencuri seluruh hatiku.

The named I loved once in this life

Has becoming further and further away from me

I’m writing your name on a paper

And forever kept it in my heart

Even though it isn’t long

But my love for you will never change

Cho Kyu Hyun. Nama yang paling aku cintai seumur hidupku. Kini semakin dan semakin menjauh dari ingatanku. Sanggupkah aku membiarkannya semakin hilang dari hidupku? Mulai dari saat Kyu Hyun menyatakan cinta padaku, hingga saat ia menyuruhku untuk melupakannya (walaupun aku tahu itu mustahil), dan hingga saat ini aku sendirian tanpa Kyu Hyun, aku akan selalu mencintainya untk selamanya. Walaupun suatu saat nanti aku akan mendapat seseorang yang lebih baik dari Kyu Hyun, tapi cintaku tak akan pernah berubah.

====THE END====

gimana ? gaje ya ? hahhha

Kyu Hyun

Kyu Hyun

Kategori:Uncategorized

[FF] One Shot/Your Boy was Loving Me/T

Oktober 27, 2010 Tinggalkan komentar

Title: Your Boy was Loving Me

Genre: Fluff, AU

Rating: Teenagers

Length: One Shot

Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri

Cast: -Seung Ri Big Bang

-Ji Yong Big Bang

-Song Hyun Ri a.k.a author

OCs: -Kim Ae Rin

-Moon Hae Li

-Other cast

nb: ini ff pertama aye dr pengalaman pribadi, walaupun banyak yg aye ngarang sendiri,, hahha

yg penting intinya sama lah.. enjoying ^^

***

“Hyun Ri-ya! Tunggu!” teriak Seung Ri. Ia berlari tergopoh-gopoh menyusul Hyun Ri yang sudah tiba di gerbang sekolah. Hyun Ri menghentikan langkahnya, menunggu Seung Ri.

“Waeyo? Kau terlihat seperti dikejar setan. Hahaha,” kata Hyun Ri sambil tertawa.

“Babo! Aku sudah memanggilmu dari tadi,” ujar Seung Ri sambil tersengal-sengal.

“Oh.. Mianhae aku tidak dengar,” kata Hyun Ri dengan memasang wajah watadosnya.

Hyun ri memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Seung Ri walaupun mereka belum lama berkenalan. Tapi karena adanya kesamaan pada mereka maka hubungan mereka tidak hanya sekedar dekat biasa. Beberapa teman mereka bahkan cemburu pada kedekatan mereka, dan yang paling menonjol adalah Ae Rin dan Hae Li. Mereka menyukai Seung Ri tapi Seung Ri tidak mempunyai perasaan apapun pada mereka.

@Class

“Hyun Ri-ah. Aku mau cerita,” kata Seung Ri.

“Mworago? Kau menyukai seorang yeoja lagi? Atau malah jeruk makan jeruk?” kata Hyun Ri. *keinget appa tahu klo ngemeng jeruk makan jeruk. wkwkwk*

“Aniyo, babo. Ae rin marah padaku,” kata Seung Ri.

Hyun Ri menghela napas.”Harusnya aku tahu. Semua salahku, kan?” Hyun Ri selalu merasa bersalah karena ia terlalu dekat dengan Seung Ri.

“Aniyo. Ini bukan salahmu, hanya mereka saja yang sirik,” kata Seung Ri.

“Tapi semakin banyak yang marah padamu jika aku bersamamu, Seung Ri-ssi,”

“Sudahlah. Aku hanya ingin menunjukkan sms yang dikirim Ae Rin padaku,”

Seung Ri menyodorkan ponselnya.

from: Ae Rin

Aku tidak senang kau dekat dengan Hyun Ri. Ia yeojachingu mu, kan?

Hyun Ri membuka sms yang lainnya.

from: Ae Rin

Aku marah sama kamu

(nb: itu sms nya real. ga ad rekayasa)

“Jeongmal mianhae,” kata Hyun Ri sambil mengembalikan ponsel Seung Ri.

“Gwechanayo. Itu semuakan bukan salahmu,” kata Seung Ri.

Hyun Ri pikir semua itu adalah salahnya. Memang beberapa kesalahan ada pada Ae Rin yang tidak pernah mencoba mendekati Seung Ri. Mungkin juga beberapa salah Seung Ri yang memiliki postur badan yang bagus, wajahnya yang tampan, dan suaranya yang sangat bagus, yang membuat siapa saja bisa menyukainya, tak terkecuali Hyun Ri yang ‘ngefans’ terhadap Seung Ri. Memang banyak yeoja yang menyukai Seung Ri, tapi Seung Ri hanya dekat dengan Hyun Ri. Memang ada teman mereka yang sangat sakit hati melihat kedekatan yang terjalin diantara mereka.

Seiring berjalannya waktu, perasaan Hyun Ri terhadap Seung Ri berubah. Ia merasa nyaman bila bersama Seung Ri. Terkadang ia cemburu kalau Seung Ri dekat dengan yeoja lain. Tapi ia berusaha menampik bahwa ia mulai jatuh cinta pada Seung Ri.

“Hoi! Bengong mulu!” sahut Seung Ri.

“Aigo! Kau itu bikin kaget saja,” sahut Hyun Ri yang kaget.

“Haha. Mianhaeyo, Hyun Ri-ssi. Salah sendiri kau bengong begitu,” kata Seung Ri.

“Seung Ri-ssi, kau harus membantuku,” kata Hyun Ri serius.

“Masalah Ae Rin lagi? Atau Hae Li? Atau yeoja lain? Emang ya susah jadi orang cakep. Hahahha,” kata Seung Ri yang mendadak narsis.

“Aku serius babo! Ae Rin bukan lagi cemburu padaku, tapi ia sudah marah padaku,” kata Hyun Ri.

“Gurae? Harusnya aku tahu itu. Tapi kalau aku harus menjauhimu tentu aku tidak bisa,”

“Kalau Ae Rin menyukaimu, kenapa kau tidak menembaknya saja?”

“Sudah, tapi aku ditolak. Katanya ia tidak diijinkan pacaran. Jadi kalau sekarang ia menyesal itu bukan urusanku,”

“Kau pernah menembak Ae Rin?” tanya Hyun Ri yang masih belum percaya.

“Ne, wae?”

“Gwechanayo,” jawab Hyun Ri lesu. Ia merasa telah kehilangan seluruh semangatnya. Ia merasa cemburu, tapi ia belum mengakui bahwa dirinya menyukai Seung Ri.

“Kau cemburu, kan?” goda Seung Ri.

“Aniyo! Aku cuma kaget,” jawab Hyun Ri dengan watadosnya.

“Terus kenapa kau langsung lesu?”

“Bisakah kau berhenti mencampuri urusan orang lain?” kata Hyun Ri kesal.

“Iya iya. Mianhaeyo, Hyun Ri-ssi,”

“Ne. Sekarang masalah Hae Li,” kata Hyun Ri.

“Ada apa lagi dengan Hae Li?” tanya Seung Ri.

“Dia cemburu padaku,”

“Ohh..”

“Ottokhae?”

“Biarkan saja. Lagian aku tidak menyukai sepertinya,”

“Kenapa kau begitu mudah bicara seperti itu?”

“Karena aku mencintai seseorang.” Sontak kata-kata Seung Ri membuat hati Hyun Ri semakin hancur. Siapa yeoja yg telah mengambil hati Seung Ri?

“Nugusae?” tanya Hyun Ri yang masih penasaran.

“Rahasia babo. hahha,” jawab Seung Ri sambil tertawa.

Hyun Ri menghela napas, “Why life is so unfair?” katanya.

One Day after School

“Hyun Ri-ah, bisa ikut kami sebentar?” ajak Ae Rin yang didampingi Hae Li.

“Eee.. Tapi aku ada jani bersama Seung Ri,” jawab Hyun Ri. Raut wajah kedua orang itu berubah. Mengapa Hyun Ri begitu mudah dekat dengan Seung Ri?, pikir Hae Li.

“Hanya sebentar kok. Seung Ri diajak juga boleh,” kata Ae Rin.

“Ya sudah. Aku panggil Seung Ri dulu, ya,”

“Ne, jangan lama-lama, Hyun Ri-ah,”

Hyun Ri berjalan menuju parkiran. Ia bertanya-tanya kenapa Ae Rin dan Hae Li memanggilnya.

“Seung Ri-ya!” panggil Hyun Ri sambil berlari kearah Seung Ri.

“Mworago, Hyun Ri-ah?” tanya Seung Ri.

“Molla, tapi Ae Rin dan Hae Li mau bicara sesuatu pada kita,” jawab Hyun Ri.

“Sekarang?”

“Aniyo. Tahun depan,”

“Dasar babo,” ejek Seung Ri sambil mengacak-acak rambut Hyun Ri.

Mereka berjalan dalam diam menuju ke tampat Ae Rin dan Hae Li. Saat mereka tiba disana, Seung Ri langsung merasakan tatapan Hae Li kepada Hyun Ri penuh rasa penasaran. Sementara Ae Rin menyambut kedatangan mereka dengan tatapan hampa.

“Aku takut, Seung Ri-ssi,” bisik Hyun Ri.

“Tenanglah,” jawab Seung Ri. Hyun Ri memeluk lengan Seung Ri karena takutnya.

“Annyeong hasseyo, Ae Rin-ssi, Hae Li-ssi,” kata Seung Ri. Tapi kedua yeoja itu hanya bungkam.

Hae Li melangkahkan kakinya kearah Seung Ri. Hyun Ri langsung melepaskan pelukannya dan hendak menjauh, tapi Seung Ri menggenggam tangannya dan membuat Hyun Ri hanya selangkah dibelakang Seung Ri.

“Bolehkah aku melakukannya, Seung Ri-ah?” tanya Hae Li.

“Mwoyo?” tanya Seung Ri dengan nada bingung. Hae Li melingkarkan tangannya di lehar Seung Ri.

#BS: Hertbeat – 2pm

Jarak antara wajah Hae Li dan Seung Ri hanya tinggal beberapa senti lagi. Hyun Ri yang muak dengan adegan itu ingin segera pergi, tapi Seung Ri semakin erat menggenggam tangannya. Ae Rin terpaku ditempatnya. Ia tidak menyangka Hae Li akan melakukan hal itu. Sementara Seung Ri tidak memberi respon apapun. Matanya hanya tertuju pada Hae Li. Tangan kanannya masih menggenggam erat Hyun Ri. Meskipun ia tahu apa yang mungkin akan dilakukan Hae Li, tapi ia tidak mengelak. Ia ingin tahu seberapa jauh Hae Li mampu melakukannya.

Seung Ri terkejut saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Hae Li. Hae Li melumat bibirnya penuh napsu sementara dirinya tidak juga memberi respon apapun.

Ae Rin segera berlari dari tempat itu. Ia muak dengan kelakuan Hae Li. Ini semua diluar dugaan mereka. Hyun Ri hanya terpaku ditempatnya. Ia mulai menangis karena ia tidak tahan melihat adegan itu. Ia ingin lari seperti Ae Rin, tapi tangan Seung Ri menggenggam erat tangannya.

Hae Li melepas rangkulan tangannya. Warna mukanya terlihat begitu puas.

“Gomawo, Seung Ri-ah. Sekarang aku bisa merelakanmu bersama orang lain,” katanya.

“Ne, cheonmannaeyo. Aku tidak menyangka kau berani melakukannya,” jawab Seung Ri.

“Haha. Tapi aku puas sekarang,” kata Ae Rin sambil tertawa. “Hyun Ri-ssi?” Ia memandang Hyun Ri yang terlihat sangat terpukul. Hyun Ri mendongak. Matanya sembap karena menangis. “Kau menyukai Seung Ri, kan? Sekarang kau bisa bersamanya. Aku takkan mengganggu kalian lagi,” tanya Ae Rin dengan senyum kemenangan lalu pergi dari tempat itu.

“Tunggu!” panggil Seung Ri. “Bagaimana kau tahu Hyun Ri menyukaiku?” tanya Seung Ri yang sekarang menjadi bingung dengan kata-kata Hae Li.

“Hanya perasaan sesama yeoja. Urusanmu denganku sudah selesai. Kau tinggal menyelesaikan masalahmu dengan Ae Rin, sepertinya ia sangat marah tadi,” kata Hae Li dengan perasaan tanpa dosa, lalu melanjutkan langkahnya.

Kemudian Seung Ri kemudian menatap Hyun Ri penuh tanda tanya.

“Benarkah kau menyukaiku?” tanyanya. Tapi Hyun Ri tidak menjawab apapun. “Sebenarnya aku menyukaimu, tapi aku tak ingin hubungan kita lebih dari sahabat,” kata Seung Ri.

Hyun Ri menatap Seung Ri. “Aku juga begitu. Mian karena aku menyukaimu,” kata Hyun Ri.

“Ne. Nado mianhae. Aku harap hubungan kita tidak akan renggang setelah kita menyatakan perasaan kita,”

“Anggaplah ini tidak pernah terjadi,” kata Hyun Ri. Kemudian Seung Ri memeluk Hyun Ri sebagai yeoja yang disukainya, bukan sebagai sahabat.

Tomorrow @School

“Seung Ri-ssi,” panggil Ae Rin.

“He? Waeyo, Ae Rin-ssi?” tanya Seung Ri.

“Bisa ikut aku? Aku ingin membicarakan sesuatu,” kata Ae Rin. Ia mengajak Seung Ri ke aula sekolah mereka. Aula itu tertutup dan sangat sepi, hanya ada Seung Ri dan Ae Rin sera beberapa benda mati yang menghiasi sudut aula itu. Seung Ri takut kejadiannya dengan Hae Li akan terulang kembali.

“Kau tak perlu takut. Aku tidak akan seperti Hae Li,” kata Ae Rin.

“Kau mau apa?” tanya Seung Ri dengan nada dingin.

“Kenapa kau bersikap seperti itu padaku? Tidak bisakah kau memperlakukan aku seperti kau memperlakukan Hyun Ri?” kata Ae Rin dengan perasaak kecewa.

“Aniyo. Kau tidak sama dengan Hyun Ri,” kata Seung Ri.

“Tapi aku akan berusaha menyamai Hyun Ri,”

“Kau tidak akan bisa menyamai Hyun Ri. Untuk apa kau berusaha untuk menyamai Hyun Ri,”

“Agar kau memperhatikan aku sama seperti kau memperhatikan Hyun Ri.” Jawaban Ae Rin membuat seolah-olah semua pembuluh darah Seung Ri menjadi kaku.

“Kau masih mengharapkanku?” tanya Seung Ri.

“Ne.” jawab Ae Rin. Seung Ri terdiam. Entah kenapa ia merasa kagum pada Ae Rin. Ae Rin sampai rela menyamai Hyun Ri agar dirinya bisa memperhatikan Ae Rin.

“Mian tapi aku sudah tidak mengharapkanmu lagi,” kata Seung Ri.

“Wae? Kau pernah menyatakan cinta padaku,” kata Ae Rin. Ia tidak bisa menerima apa yang baru diucapkan Seung Ri.

“Itu dulu. Sekarang aku menyukai Hyun Ri, dan ia tidak pernah menuntut apapun seperti kau. Jeongmal mianhae, Ae Rin-ssi,” kata Seung Ri lalu pergi meninggalkan Ae Rin sendiri di aula.

Ae Rin menyesal telah menolak Seung Ri saat itu. Ia pikir Seung Ri akan terus mengejar dirinya. Tapi semua terjadi tidak sesuai yang diharapkan Ae Rin ketika Hyun Ri masuk ke kehidupan mereka. Dengan segala kepolosan dan kepintarannya, Hyun Ri mampu memikat Seung Ri. Seung Ri merasa nyaman dengan apa yang ada pada diri Hyun Ri, dan akhir-akhir ini ia menyadari bahwa ia menyukai Hyun Ri.

“Ada apa?” tanya Hyun Ri saat Seung Ri tiba dikelasnya dengan tampang lesu.

“Gwechanayo. Hanya ada sedikit masalah dengan Ae Rin,” jawa Seung Ri.

“Mwo? Ceritain ya?” kata Hyun Ri semangat.

Seung Ri menghela napasnya. “Tadi Ae Rin ingin aku menembaknya,” kata Seung Ri.

“Terus?” Hyun Ri merasa khawatir dengan apa yang terjadi selanjutnya.

“Wae? Kau cemburu, kan?” goda Seung Ri.

“Sirheo! Aku serius babo,” kata Hyun Ri kesal.

“Haha.. Ya jelas aku tidak mau…”

“Wae?”

“Aku belum selesai bicara babo,” kata Seung Ri kesal. “Aku bilang sama Ae Rin bahwa aku sudah menyukai yeoja lain,”

“Nugusae?” tanya Hyun Ri. Ia lupa akan kejadian setelah Hae Li mencium Seung Ri.

“Masa kau lupa?” kata Seung Ri yang tidak percaya. Kemudian bel masuk berbunyi.

“Aigo! Nanti kau harus memberitahuku,” kata Hyun Ri dengan nada mengancam.

“Ne babo,” kata Seung Ri. Ia bersyukur tidak harus menyatakan perasaannya yang kedua kali kepada Hyun Ri. Ia menyukai Hyun Ri, tapi ia tidak pernah berniat untuk menjadi namja chingunya Hyun Ri.

Selama perlajaran berlangsung Hyun Ri bertanya-tanya siapa yeoja yang disukai Seung Ri. Ia benar-benar lupa saat Seung Ri menyatakan perasaannya.

KRINGGGG…

Bel istirahat berbunyi.

“Seung Ri-ya! Ingat janjimu tadi!” teriak Hyun Ri.

Tiba-tiba sebuah rencana jahil terlintas dibenak Seung Ri. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat Hyun Ri dengan tatapan kosong. Setelah ia berhadap-hadapan dengan Hyun Ri, ia berlutut dihadapan Hyun Ri seolah-olah seorang namja yang ingin menyatakan cinta.

“Hyun Ri-ah…” Seung Ri menggenggam kedua tangan Hyun Ri. “Sebenarnya yeoja yang aku cintai adalah…”

“Ehem! Cieee Seung Ri-ah,” sahut Ji Yong. Tapi Seung Ri tidak menggubrisnya. Ia juga tidak memperdulikan tatapan seluruh kelas tertuju padanya, tak terkecuali Ae Rin yang termakan cemburu.

“Nugusaeyo?” tanya Hyun Ri yang menjadi salah tingkah.

“Yeoja yang aku cintai adalah… ummaku. HAHAHAHAHAHA,” kata Seung Ri lalu tertawa terbahak-bahak yang diikuti seisi kelas.

PLETAK!! Hyun Ri memukul kepala Seung Ri dengan buku kimianya yang super tebal. Ia kesal dengan perlakuan Seung Ri, tapi akhirna ia ikut tertawa juga.

Kemudian Ae Rin membanting mejanya dan berteriak, “Seung Ri bohong!”

“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Seung Ri.

“Kenpa kau tidak mengakui kalau kau sebenarnya menyukai Hyun Ri, hah?” sahut Ae Rin.

“He? Nugu?” tanya Ji yong yang ikut nimbrung sendiri *PLAK*.

“Seung Ri mencintai Hyun Ri,” sahut Ae Rin lagi.

“Sudahlah, Ae Rin-ya!” kata Seung Ri. Ia menganggap apa yang dilakuakan Ae Rin sangatlah keterlaluan.

“Biarkan! Biar semua tahu betapa sakitnya hatiku ketika kau bilang bahwa kau mencintai Hyun Ri!” kata Ae Rin yang sudah hampir menangis.

Hyun Ri masih merasa semua ini seperti mimpi. Bagaimana mungkin Seung Ri bisa mencintai dirinya sementara ia juga merasakan hal yang sama?

“Aku ingat sekarang!” sahut Hyun Ri tiba-tiba. Ia akhirnya ingat akan kejadian setelah Hae Li mencium Seung Ri.

“Mwoyo?” tanya Seung ri.

“Kau pernah menyatakn cinta padaku, kan?” kata Hyun Ri dengan watadosnya.

“Akhirnya kau ingat juga,” kata Seung Ri sambil tersenyum. Walaupun sebenarnya ia sedikit malu saat Hyun Ri mengatakan hal itu.

Ae Rin semakin merasa cemburu. Ia semakin menyesal telah menolak Seung Ri. Sekarang semua terasa telah terlambat. Seung Ri sudah menyukai orang lain. Seung Ri sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa pada dirinya.

“Ya sudah, kalian pacaran saja,” kata Ae Rin dengan nada sewot. Ia menjadi salah tingkah karena cemburu yang sangat menguras hatinya.

“Aku sangat ingin seperti itu,” jawab Seung Ri. “Tapi aku lebih bahagia kalau Hyun Ri menjadi sahabatku,”

“Ne, lebih baik seperti itu,” kata Hyun Ri. Ia sedikit menyesal dengan keputusan Seung Ri. Tapi apa yang dikatakan Seung Ri ada benarnya juga.

Ae Rin merasa dirinya bersalah. Kenapa ia bersikap seperti anak kecil? Ia ingin mengakhiri semuanya secara bail-baik. “Neoui mianhae,” kata Ae Rin .

“Untung kau menyadarinya. Bagiku semua adalah teman,” kata Seung Ri. *uwoooo.. laki gw bijak pisan euy XD*

Akhirnya 15 menit istirahat dihabiskan untuk menyelesaikan masalah mereka. Semua masalah telah selesai, dan semua menjadi teman. Bagi Seung Ri ini adil, tapi beberapa pihak menganggapnya kurang adil. Tapi ini yang terbaik daripada salah satu harus tersakiti.

====FIN====

Yaaa.. Mian buat reader klo ceritanya ga nyambung. Maklum author belum pernah bikin cerita dari pengalaman sendiri. Wkwkwk

Seung Ri

My Sweetheart

Kategori:Uncategorized

[FF] Oneshot/Tell Me Good Bye vers. 2/T

Oktober 27, 2010 Tinggalkan komentar

Title: Tell Me Good Bye vers. 2

Length: Oneshot

Genre: Family, AU

Rate: +13

Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri

Cast: sapa aja bole *plak*

Nb: yapp!! Author gila balik lagi bwa ff yang sangat gaje.. ga ada maksud apa-apa sebenarnya.. Cuma pengen…apa ya ? apa aja bole.. wkwkwk*plak*

 

Ya sudah di baca aja ni ff gaje.. enjoying ^^

 

Des 1st

To: Ryun Ae, Sun Li, Seung Hee

Mungkin saat kalian membaca surat ini, aku sudah berada ditempat yang sangat jauh. Nan jeongmal mianhae karena meninggalkan kalian secepat ini. Aku juga minta maaf karena tidak pernah menceritakan penyebab aku pergi. Iya jeongmal gomawo karena telah menemaniku selama ini. Kalian sangat berarti bagiku.

Jangan menangis setelah aku pergi. Tetaplah tersenyum seperti saat kita bersama.

Salam,

Song Hyun Ri

 

Aku melipat surat itu dan memasukkannya kedalam amplop. Semua sudah beres. Aku hanya membutuhkan persetujuan dari umma. Yah, umma memang tidak pernah menyetejui rencanaku. Tapi aku selalu berusaha untuk meyakinkannya. Aku tahu ini yang terbaik untuk semua.

 

“Hyun Ri-ya?” panggil umma. Aku menoleh kearah pintu kamarku. Umma membawakan aku makan siang serta obat-obatan yang aku benci. “Makan siang dulu. Setelah itu jangan lupa minum obatnya, ya?” kata umma.

“Mian, umma. Aku tidak mau minum obat lagi. Aku sudah bosan umma,” kataku. Jujur, aku muak terus-terusan bergantung pada obat-obatan. Aku tahu seharusnya aku tidak bicara seperti itu kepada umma. Tapi kondisiku saat ini juga tidak akan membaik dengan semua obat-obatan itu.

“Kau tahu? Umma merasa kehilangan semangat seorang Hyun Ri yang selalu berjuang untuk bertahan hidup,” kata umma lesu. Kata-kata umma membuatku semakin sedih.

“Aku tidak bermaksud seperti itu umma. Tapi percuma saja kalau aku mempunyai semangat hidup kalau itu hanya membuatku tambah sakit,” kataku. Umma mulai menangis. Sebenarnya aku tak ingin umma menangis, tapi aku sudah tidak tahu lagi bagaimana membuat umma tetap tersenyum.

“Hyun Ri-ya, umma akan sangat merindukanmu nanti,” kata umma sambil memelukku.

“Aku tahu. Aku juga akan sangat merindukan umma,” kataku. Aku menangis. Aku tidak mampu membayangkan hari-hari tanpa umma.

“Umma, jebal. Ijinkan aku melakukan euthanasia, ya?” pintaku. Sudah lama aku ingin melakukannya tapi umma dan appa tidak pernah mengabulkan permohonanku. “Umma, umurku hanya tiga bulan lagi. Apa bedanya dengan aku euthanasia. Lagipula mumpung sekarang aku siap untuk meninggalkan semua daripada 3 bulan lagi aku harus menyesali semua; bahwa aku tidak bisa meninggalkan siapapun,” kataku lagi.

Umma hanya diam. Aku tahu apa yang dipikirkan umma. Ia tidak bisa melepaskan aku. Sama, aku juga tidak akan pernah bisa meninggalkan umma. Tapi aku harus melakukannya.

“Kau yakin dengan keputusanmu?” tanya umma. Aku mengangguk pelan.

“Umma akan melakukan apapun kalau itu bisa membuatmu bahagia,” kata umma.

“Aku merasa bahagia jika umma memperbolehkannya. Umma kan juga masih punya appa dan Jung Min oppa yang sangat sayang dengan umma,” kataku seraya mencoba menghibur umma.

“Ne. tapi mereka tidak sama denganmu. Apalagi Jung Min oppa sekarang sekolah diluar,kan? Tapi bagaimanapun juga, umma hanya ingin kau bahagia,” kata umma sambil tersenyum. Aku pun juga ikut tersenyum.

“Umma aku boleh minta sesuatu lagi?” tanyaku.

“Mwoyo?”

“Aku ingin makamku nanti disebelah makan Seung Ri, ya?”

Umma terlihat bingung. Aku bingung apa tanggapannya mengenai permintaanku. Tapi aku hanya berharap umma mau mengabulkannya.

“Nanti baru kita bicarakan lagi. Sekarang kau makan dulu, ya? Umma tidak akan memaksa kau minum obat,” kata umma sambil mengelus rambutku.

“Ne, umma,” kataku lalu umma keluar dari kamarku.

Oh ya, aku belum menceritakan soal Seung Ri, kan? Ia adalah namjachinguku. Kami sudah 2 tahun menjalin hubungan. Tapi ia pergi karena kecelakaan 2 bulan yang lalu. Mungkin ia sangat putus asa saat aku memberitahu bahwa umurku tidaklah lama lagi. Aku sangat tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangannya. Itu adalah salah satu penyebeb aku ingin melakukan euthanasia. Aku ingin bertemu dengan Seung Ri  lagi setelah kematianku.

 

Aku menatap makan siangku dengan lesu. Akankah itu berguna bagiku? Aku sudah merasa tidak berguna lagi. Oleh karena itu pula, aku siap untuk pergi. Aku siap untuk meninggalkan sahabat-sahabatku, kehidupanku, keluargaku, semua yang ada dihidupku. Tapi aku tak pernah tahu apakah aku siap untuk meninggalkan umma. Aku bimbang. Bagaimanapun juga aku harus siap. Aku ingin umma melupakan aku.

Aku menghabiskan seluruh makan siangku (hanya sekedar ingin membuat umma senang). Lalu aku meletakkan piring kotor didapur. Saat aku melewati ruang keluarga, aku mendengar umma dan appa sedang membicarakan tentang euthanasia. Mungkin saja mereka sedang membicarakan tentang keputusanku. Appa menoleh kearahku lalu memanggil aku. Lalu aku duduk disebelah appa.

“Hyun Ri-ya, kau yakin dengan keputusanmu?” tanya appa.

“Ne appa. Aku yakin,” jawabaku sambil tersenyum. Aku berusaha membuat appa dan umma yakin bahwa aku sungguh-sungguh ingin pergi. Aku bisa melihat sinar mata appa menyorotkan kekecewaan.

“Hyun Ri-ya, appa dan umma sudah membicarakan keputusanmu. Kami menyetujuinya. Mianhae Hyun Ri-ya karena appa tidak bisa menyembuhkanmu,” kata appa dengan nada kecewa.

“Gwechanayo, appa. Ini kan sudah takdir. Aku menerima keadaanku sekarang apa adanya,” kataku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Haruskah aku merasa senang karena permohonan ku dikabulkan, atau aku harus merasa sedih?

“Kapan kau ingin melakukannya?” tanya appa lagi.

“2 hari lagi, appa. Aku sudah merasa kondisiku saat ini sudah sangat memburuk,” pintaku. Appa dan umma terlihat sangat terkejut dengan keputusanku. Aku yakin ini adalah keputusan yang sangat berat bagi mereka.

“Baiklah. Besok kau sudah harus dirawat. Appa akan mengurus semua keperluanmu. Sekarang kau istirahatlah,” kata appa.

Aku kembali ke kamarku. Dari jauh, aku bisa mendengar tangisan umma. Aku mencoba untuk menghiraukannya. Saat dikamar, aku menangis sepuas-puasnya. Ini terakhir kalinya aku bisa menangis dikamar ini. Mungkin ini terakhir kalinya juga aku bisa menangis. Aku bertekad tidak akan menangis lagi setelah ini.

Kemudian aku mengambil ponselku untuk menghubungi Jung Min 0ppa. Aku ingin memberitahu tentang keputusanku. Aku tidak ingin appa ataupun umma yang memberitahunya. Ia adalah satu-sastunya oppa kesayanganku. Aku sangat berharap ia ada disisiku disaat terakhirku.

“Yeobosaeyo?” kata Jung Min oppa.

“Yeojum eottosaeyo, oppa?” tanyaku.

“Gwecahanayo. Bagaimana denganmu?”

“Sangat buruk,”

“Mworago, saeng?” Suaranya terdengar khawatir.

“Oppa, aku eutahanasia 2 hari lagi. Oppa pulang sekarang ya?” pintaku.

Oppa terdiam sejenak. Aku juga tidak ingin memaksanya untuk pulang.

“Aku pulang hari ini,” katanya kemudian lalu ia buru-buru menutup teleponnya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya, tapi aku senang ia akan pulang.

 

Dua jam kemudian aku mendengar sebuah suara mobil. Itu pasti Jung Min oppa. Aku langsung lari keluar kamar. Aku sangat senang bertemu dengannya lagi. Oppa langsung memelukku ketika ia melihatku. Aku merasakan air matanya menetes diubun-ubun kepalaku. Mau tidak mau aku juga menangis. Aku yakin akan merindukan saat-saat seperti ini.

“Kau ingin melakukan apa, saeng? Oppa akan menemanimu,” kata oppa.

“Aku ingin oppa istirahat. Lagipula ini sudah malam. Oppa juga pasti  capek, kan?” kataku.

“Andwae. Ini terakhir kalinya kita bisa bersenang-senang,” kata oppa. Aku bingung dengan kata-katanya. Mungkinkah ia sudah rela aku pergi?

“Aku ingin oppa mandi dulu,” kataku sambil melepas pelukannya lalu menutup hidungku. “Tak tahukah oppa kalau oppa itu bau? Abis itu aku ingin oppa nemenin aku tidur,” kataku lagi. Appa dan umma hanya bisa tertawa. Aku senang berada dalam situasi seperti ini. Rasanya aku tidak ingin meninggalkan mereka. Andwae! Aku harus meninggalkan mereka! Aku tahu ini sangat menyakitkan.

“Ne. aku akan mandi. Aku tidak ingin bau sepertimu,” kata oppa sambil tertawa. Aku senang oppa masih bisa membuatku tertawa seperti itu. Aku yakin aku sangat merindukan tawa oppa.

“What do you want, lah. Jangan lupa oppa nanti tidurnya pakai hoodie sama topi jerapahnya, ya?” pintaku. Jung Ming oppa mengangkat kedua jempolnya sambil tersenyum. Sementara Jung Min oppa mandi, aku kembali kekamar.

Setelah mandi, Jung Min oppa kekamarku. Ia mengenakan hoodie berwarna hijau dan juga topi jerapahnya. Ia tak bisa tidur jika tidak mengenakan topi itu. Ia juga membawa tutup mata. Penutup mata itu adalah pemberian Seung Ri saat oppa ulang tahun. Jung min oppa duduk disebelahku dan merangkulku.

“Aku pasti akan merindukanmu nanti,” kata Jung Min oppa dengan nada sedih.

“Aku juga, oppa. Tapi oppa jangan sedih, ya? Aku yakin suatu saat kita pasti akan bertemu lagi,” kataku.

“Aku tahu, saeng. Aku hanya belum bisa menerima kenyataan ini,” kata Jung Min oppa. Aku mengerti apa yang dirasakannya.

“Kalau gitu oppa harus bisa. Demi aku oppa. Jebal,” kataku. Tapi hanya diam.

Kemudian aku mengambil surat yang tadi kutulis dan memberikannya kepada oppa. “Oppa, aku titip surat ini untuk teman-temanku, ya?” pintaku. Jung Min oppa hanya mengangguk pelan.

“Oppa, aku boleh minta 1 hal lagi?” tanyaku.

“Mwoyo, saeng?” tanya Jung Min oppa sambil menatapku dengan pandangan bertanya.

“Oppa tolong jaga Ryun Ae, ya? Aku tahu oppa menyukainya. Aku rasa ia juga menyukai oppa,”

“Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia. Sekalipun aku tidak menyukai Ryun Ae, aku akan tetap menjaganya demi dirimu,” kata oppa. Aku terharu dengan kata-kata oppa. Aku tahu ia tidak akan pernah mengecewakan aku. Setelah itu, oppa tidak mengatakan apapun. Aku juga. Aku tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Aku hanya berpikir kenapa semua ini terjadi begitu cepat. Tapi aku tetap tidak boleh menyesali apa yang telah aku putuskan.

Tak lama kemudian oppa tertidur sambil memelukku. Kudekapkan tubuhku dalam pelukannya. Tak lama lagi aku akan tidur sendiri. Tak ada lagi yang akan menemaniku seperti ini. Tak ada lagi yang mengucapkan selamat malam kepadaku. Sebentar lagi semua akan berubah.

 

 

Des 2nd, @hospital

 

Seorang perawat memasang selang-selang aneh pada tubuhku. Aku tidak mengerti untuk apa semua selang ini toh besok aku juga akan mati. Ah, aku teringat akan teman-temanku. Biasanya mereka akan memarahiku jika aku mengatakan bahwa aku ingin mati. Aku rindu dimarahi seperti itu. Apalagi jika Sun Li yang memarahi aku. Aku serasa menjadi anaknya *masak?*. Juga tentang Seung Hee. Ia selalu memberikan aku nasihat-nasihat. Atau kami saling bertukar nasihat. Setelah ini siapa yang akan melakukan semua itu? Dan Ryun Ae, sahabatku yang terbaik. Ia tidak pernah melarangku memikirkan hal-hal bodoh, malah terkadang ia mendukungnya. Ketika aku mengatakan bahwa aku ingin mati, ia pasti mengatakan,  “Mati ya tinggal mati. Gitu aja kok repot. Apa mau dibantuin?” Masih banyak lagi pikiran-pikiran, semua tindakan abnormal yang aku lakukan dengan teman-temanku. Tapi aku harus melupakan itu semua.

 

Perawat itu sudah selesai memasang benda-benda aneh ditubuhku. Kemudian umma datang dan duduk disebalahku. Matanya menyorotkan kesedihan yang sangat mendalam.

“Hyun Ri-ya, kau yakin dengan keputusanmu?” tanya umma.

“Aku yakin umma,” jawabku sambil tersenyum. Umma tersenyum, tapi senyumnya tidak terlihat bahagia. Aku mengerti.

“Umma, besok kan aku ulang tahun. Aku boleh minta sesuatu?” tanyaku. Oh ya, aku lupa memberitahu kalau ulang tahunku 3 desember; yang berarti besok, tepat hari aku euthanasia. Ironi bukan aku mati pada saat aku ulang tahun?

“Kau mau apa, nak?” tanya umma.

“Bolehkah aku disuntik saat tengah malam? Saat aku sudah meniup lilinku. Bolehkan, umma?” tanyaku.

“Tidakkah kau ingin kumpul-kumpul dulu?” Tanya umma.

“Aniyo, umma,” jawabku. Umma mulai menangis lagi. Mungkinkah umma berpikir bahwa itu terlalu cepat? Aku tidak peduli. Sudah tidak ada yang bisa aku lakukan.

“Umma akan melakukan apapun jika itu bisa membuatmu bahagia,” kata umma.

“Gomawo umma,” kataku sambil tersenyum.

 

Lalu perawat yang tadi datang sambil membawa sebuah suntikan lalu ia menyuntikkan cairan itu ketubuhku. Aku tidak tahu itu cairan apa. Beberapa saat kemudian aku merasa sangat mengantuk. Aku rasa sekarang aku dalam kondisi koma.

Dalam kegelapan aku berpikir, seperti inikah rasanya mati? Apakah aku akan sendirian? Mengapa hanya ada kegelapan? Aku mencoba untuk mengalihkan pikiranku. Aku berusaha menginga-ingat masa-masa saat aku bersama teman-temanku. Masa-masa bersama Jung Min oppa. Ia selalu menjaga aku. Tapi sebentar lagi ia tidak perlu menjaga aku. Aku berusaha mengenang saat-saat bersama orangtuaku. Mereka selalu memberiku nasihat-nasihat yang sangat berguna bagiku. Apalagi dengan adanya umma, aku bisa menceritakan seluruh masalahku. Ia tidak pernah menyalahkan aku atas apapun. Ia hanya memberiku dorongan jika aku berbuat salah. Ia tidak pernah menghakimi aku. Berapa banyak lagi kenangan yang harus aku ungkapkan? Aku merasa terlalu sakit jika semua itu harus aku kenang.

Aku ingin semua memoriku terhapus. Agar aku sanggup untuk meninggalkan mereka. Aku mencoba mengambil sisi positif dari semuanya. Aku percaya tentang surga. Aku percaya rumahku setelah aku mati adalah disana. Aku percaya bahwa yang akan menjemputku adalah Seung Ri, namja yang paling aku cintai. Aku yakin itu pasti terjadi.

 

 

Des 3rd, 00.00

 

“Saengil chukkaeyo, Hyun Ri-ya.” Suara itu, suara umma. Tapi dimana umma? Apa aku belum mati? Apakah suara itu hanya khayalanku saja?

“Buka matamu, saeng. Apa kau mau ulang tahun sambil tidur?” Jung min oppa? Benarkah bahwa aku masih hidup? Benarkah ini nyata? Aku berusaha menjadikan ini nyata. Aku tak ingin melewatkan sisa-sisa waktuku berumur 15 tahun.

Aku membuka mataku perlahan. Aku melihat setitik cahaya, kian lama kian membesar. Aku melihat umma dan appa disebelah kananku, dan Jung Min oppa disebelah kiriku. Ia membawakan aku kue ulang tahun dengan lilin angka 15.

“Saengil chukkaeyo, saeng!” kata Jung Min oppa

“Gomawo oppa,” kataku sambil tersenyum. Hari ini hari terakhirku merayakan ulang tahun. Setelah ini aku tidak akan merayakan ulang tahunku.

“Apa yang kau inginkan?” Tanya appa lembut.

“Aniyo appa. Aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan,” jawabku sambil tersenyum.

“Tapi appa berharap kau bisa lebih lama bersama kami,” kata appa dengan suara bergetar. Aku tahu ia mencoba menahan tangisnya. Aku hanya bisa tersenyum kepada appa.

“Aku ingat kau suka blackforestkan? Aku membuatkannya untukmu,” kata Jung Min oppa. Aku tak menyangka ia masih ingat kesukaanku.

“Gomawo oppa.”

“Sekarang kau tiup lilinnya. Jangan lupa buat harapan, ya.”

Kemudian aku berusaha untuk duduk. Setelah itu aku membuat harapan sebelum meniup lilinku. Kalian tahu apa yang aku harapkan? Pertama, aku berharap agar aku bisa bertemu Seung Ri lagi setelah aku melewati kematianku. Aku ingin bersamanya selama-lamanya. Kedua, aku berharap agar keluarga dan teman-temanku merelakan aku pergi. Aku ingin mereka melupakan aku agar mereka tidak bersedih dan bisa tetap tersenyum. Itulah harapanku. Kemudian aku meniup lilin dengan angka 15 itu. Saengil Chukkaeyo Song Hyun Ri imnida.

 

Kemudian seorang dokter serta seorang perawatnya datang membawa perlengkapan suntik. Ah, akhirnya saat ini datang juga. Semua terasa begitu cepat.

“Kau yakin akan melakukannya? Kau kan masih bisa bersenang-senang lebih lama,” bujuk appa.

“Ani, appa. Lagi pula tidak ada bedanya aku pergi sekarang atau 3 bulan lagi,” jawabku ringan.

Appa dan umma sudah terlihat menyerah. Sementara Jung Min oppa hanya berdiam diri. Aku tahu ini yang terbaik.

Aku mengambil posisi tidur lagi sementara dokter menyiapkan alat-alat suntiknya. Kemudian dokter menyuntikkan cairan berwarna kuning ketubuhku. Untuk sesaat, aku masih bisa melihat appa dan umma menangis. Jung Min oppa tetap berdiam tapi ia memandangku dengan tatapan bersalah. Mengapa mereka tidak tersenyum seperti yang aku harapkan?

Aku merasakan nyeri diseluruh tubuhku. Napasku menjadi sangat pendek. Aku merasakan jantung dan paru-paruku seakan menciut. Kini aku bisa menghitung sisa napas yang dapat aku rasakan. Lima… empat… tiga… dua….. satu…. Semua sudah selesai. Aku pergi.

 

 

 

Aku memasuki kehidupan baruku. Aku tidak mengerti apakah aku sekarang ini. Mungkin aku bisa disamakan sebagai hantu? Aku melayang-layang tanpa arah. Aku mengikuti kemana angin membawa ku, hingga angin itu berhenti disebuah rumah yang tak asing bagiku. Aku merasakan hawa kesedihan dalam rumah itu. Rasa sedih karena ditinggal oleh seseorang.

Aku memasuki rumah itu. Orang banyak sedang duduk mengitari sebuah peti yang berukiran sangat indah. Aku melihat kedalam isi peti itu dan menemukan sesosok yeoja yang sedang tersenyum dalam tidurnya. Yeoja itu mengenakan gaun putih. Wajahnya terlihat sangat segar. Ia tidak terlihat seperti orang mati. Ia terlihat seperti orang yang sedang tidur dan sedang bermimpi indah. Yeoja itu adalah aku. Aku senang melihat wajahku tersenyum saat aku pergi. Tapi mengapa orang yang aku tinggalkan menangis?

Umma dan appa duduk disamping petiku. Air mata umma terus berjatuhan diatas gaun putihku. Aku ingin menghiburnya tapi aku tahu itu tidak mungkin. Appa hanya menatap kosong tubuhku yang kaku. Matanya menyorotkan penyesalan yang sangat mendalam. Aku mengerti appa kecewa dengan keputusanku. Aku mencari sosok oppaku dan menemukannya duduk disebelah Ryun Ae sambil menggenggam tangannya. Aku senang oppa mau mengabulkan permohonanku. Semoga dengan adanya Ryun Ae oppa tidak akan merasakan kesepian lagi. Sun Li dan Seung Hee masih tetap bersedih. Aku ikut sedih melihatnya. Aku ingin mereka tersenyum, tapi aku tidak tahu caranya. Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka?

 

Kemudian beberapa orang datang membawa tutup petiku dan memakunya pada petiku. Umma menangis dengan histeris. Appa dan Jung Min oppa serta teman-temanku berusaha menghibur umma. Aku ingin sekali memberitahu umma bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu orang-orang itu mulai membawa petiku kedalam mobil jenazah. Didalam mobil itu ada appa, umma, oppa, serta teman-temanku. Aku mengambil tempat didekat Sun Li walaupun ia tidak bisa melihatku, tapi aku tahu ia bisa merasakan kehadiranku. Aku jadi teringat bahwa Sun Li takut pada hantu. Apa ia juga takut padaku? Hanya iseng, aku menyentuh tangan Sun Li. Tiba-tiba saja ia menjadi tersenyum. Aku tak tahu apa ia sadar aku menyentuhnya. Hanya Sun Li yang tahu. Tapi aku senang ia mau tersenyum.

Aku tak tahu berapa lama perjalanan yang ditempuh. Aku hanya tahu aku sudah sampai ditempat peristirahatan terakhirku. Ketika semua sudah turun dan petiku telah diangkat, Ryun Ae masih tetap tinggal di mobil.

” Kenapa kau tidak cerita soal penyakitmu?” kata Ryun Ae. Aku bingung. Tapi aku yakin Ryun Ae sedang berbicara padaku. Hanya ada aku dan dirinya di mobil.

“Jeongmal mianhae. Aku hanya tidak ingin membuat kalian sedih,” kataku jujur.

“Sekarang kau malah membuatmu semakin sedih,” kata Ryun Ae. Ia menatapku tanpa ekspresi lalu pergi meninggalkan aku.

 

Aku turun dari mobil dan mengikuti Ryun Ae dari belakang. Aku melihat petiku sudah tersimpan rapi dibawah tanah. Diantara kerumunan orang-orang itu, aku melihat seseorang yang menarik perhatianku. Baju yang dipakainya bersinar seperti cahaya matahari. Wajahnya…. wajah yang selama ini aku rindukan. Wajah orang yang paling aku cintai. Seung Ri, ia datang menjemputku.

Seung Ri keluar dari kerumunan orang-orang dan berdiri disamping makamnya. Ia mengulurkan kedua tangannya seolah-olah memintaku kembali padanya. Aku berjalan menuju kearahnya. Bibirku tak bisa berhenti tersenyum. Aku luar biasa bahagia bisa bertemu dengan namja yang aku cintai. Yang selama ini telah mendahuluiku. Aku meraih tangannya tapi ia langsung menarikku dalam pelukannya. Ia mencium lembut bibirku. Aku bisa merasakan keriduannya selama ini.

“Jeongmal bogoshipda, Jagi,” kata Seung Ri. Sungguh aku senang bisa mendengar suara itu.

“Nado jeongmal bogoshipda, Jagi,” jawabku. Ia tersenyum. Akhirnya aku bisa menikkmati senyum malaikat yang selama ini telah menghilang.

 

Tiba-tiba langit seolah membelah. Seberkas sinar turun dari langit tepat diatasku dan Seung Ri. Seung Ri menggenggam erat tanganku dan kami melayang menuju ujung sinar itu. Inikah rasanya mati? Mengapa terasa begitu membahagiakan? Ketika aku sudah sampai diujung cahaya itu, aku kembali melihat orang-orang yang aku tinggalkan untuk terakhir kalinya. Saat itu hanya tinggal appa, umma, jung min oppa, serta teman-temanku. Jung Min oppa memberikan surat yang aku titipkan kepada teman-temanku. Mereka semua menangis saat membaca suratku. Tapi  mereka kembali tersenyum setelah selesai membacanya. Aku sangat bahagia.

“Jeongmal saranghae umma, appa, Jung Min oppa. Jagbyeol chingudeul,” kataku untuk terakhir kalinya.

Lalu aku mengikuti Seung Ri pergi ketempat yang lebih tinggi. Tempat yang lebih indah diantara apapun. Tempat dimana aku dan orang-orang yang aku sayangi akan bersama lagi. Dan saat itu tidak akan ada yang memisahkan kami.

 

====FIN====

 

Yaa! akhirnya selesai juga.. gimana ? ga nyambung kan? wkwkwk

maklum saya memang lg stres akhir” ini ==” *curcol*

Kategori:Uncategorized
%d blogger menyukai ini: