Arsip

Archive for the ‘Request’ Category

[SF] I’ll Be Your Man

Februari 3, 2011 Tinggalkan komentar

Title: I’ll be Your Man

Song: DBSK –  Hug

Genre: Romance

Rate: All ages

Cast:

-Moon Jeyeon a.k.a Tisha

-U-Know Yunho DBSK

Nb: request ff dari Tisha onnie udah selesai xD~ mian baru sempet di post sekarang onn. Moga onnie suka ya. Mian kalo karakternya ga sesuai selera onnie. Tapi harapannya onnie suka :p

Happy reading ya /(^3^)/

 

***

Yunho POV

Tahun ajaran baru, artinya setahun lagi statusku menjadi mahasiswa. Yang artinya juga aku semakin tua, tua, tua, dan tua… Nevermind. Baiknya, tahun ajaran baru tentu ada murid baru. Bagian kesukaanku; menjahili mereka semua ketika MOS. Itu untungnya menjadi pengurus OSIS.

Harapanku ya… semoga ada yeoja yang bisa kupacari. Bosan rasanya jika harus menjomblo terus. Aigoo! Aku tak ingat kapan terakhir aku pacaran! Semoga saja ada yang bisa aku jadikan yeojachingu.

Aku melihat jam tanganku, 06.30, aku harus berangkat sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin menyiksa semua bocah itu sekaligus memilih-milih yeoja yang pantas untukku.

 

@school…

Gomapta, tampang mereka semua tidak sejelek yang kukira. Sebagian namjanya berbadan kekar dan tinggi seperti atlet, cukup untuk memperbaiki citra pemain basket disekolahku yang terkenal payah. Yeoja nya pun tidak kalah menarik. Mereka cocok dijadikan pemandu sorak untuk tim basketnya, menurutku. Tapi aku belum menemukan yeoja yang bisa membuatku tersipu-sipu.

“Yunho-ya!” Aku mencari sumber suara itu. Ahh.. Jaejoong rupanya. Dia sahabatku yang paling baik dan paling dekat denganku. Banyak yang mengatakan kami pacaran saking dekatnya, ditambah ia namja yang memiliki paras cantik.

“Bantu aku mengatur barisan. Mereka nakalnya bukan main,” kata Jaejoong dengan tampang muram.

“Kkaja! Kita selesaikan berandal-berandal baru itu,” ajakku. Aku merangkul pundaknya dan segera menuju barisan yang menjadi keluhan Jaejoong.

 

Jaejoong benar. Bukan main mereka nakalnya. Suaraku menjadi serak karena terus berteriak. Aku merasa khawatir terhadap angkatan tahun ini. Apa jadinya sekolahku jika dihuni serombongan monyet-monyet gila?! Dan semua itu bertambah buruk karena aku tidak bisa menjahili mereka! Malah mereka yang menjahiliku. Bahkan Jaejoong sempat digoda oleh beberapa namja baru itu. Mereka mengira Jaejoong seorang yeoja karena parasnya yang cantik. Tentang yeojanya, mereka cantik, seksi, tapi mereka bergerombol membicarakan para sunbae yang cakep atau sejenisnya. Aku tidak suka yang seperti itu. Apalagi beberapa dari mereka sempat menggodaku. Seharusnya aku yang menggoda mereka!

Lupakan! Ini akan segera berakhir. Mungkin memang belum nasibku punya yeojachingu. Yang penting MOS harus selesai secepat mungkin. Aku terlalu stres jika harus bersama monyet-monyet gila ini.

 

 

Once I say I love you

I think you would be gone oh baby

Cause we’re too young to love

So I can say later on

Hold you in my arms

 

Hari keempat masuk sekolah. Aku masih terlalu stres akibat tiga hari sebelumnya. Beberapa namja yang mirip maho, yeoja-yeoja centil yang suka bergerombol seperti sekawanan anjing. Nightmare! Beruntung aku tidak lama lagi keluar dari sekolah ini. Aku bisa mencari yeoja lain ketika aku kuliah nanti.

Brukk! Tiba-tiba saja aku menabrak sesuatu yang berbentuk manusia. Memang dari tadi aku melamun. Bahkan aku tak tahu dimana aku sekarang (yang jelas masih di lingkungan sekolah).

“Sunbae! Neomu mianhamnida. Neoneun gwechaseubnikka?” kata yeoja itu dengan suara yang memprihatinkan.

“Naneun gwechanayo. Kau?” tanyaku. Aku membantunya berdiri dan membereskan bukunya yang berserakan dilantai.

“Gwechanayo. Sunbae, neomu mianhae. Aku…” Aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Aku…terpesona. Yeoja dihadapanku cantik, cantik sekali. Rambut panjangnya yang diekor kuda. Pipi yang sedikit memerah tapi memabukkan. Mata hitamnya yang bersinar. Sempurnya. Mungkin saat ini aku sedang tersenyum-senyum sendiri. Omona~

“Sudahlah. Siapa namamu?” tanyaku senormal mungkin.

“Moon Jeyeon imnida,” jawab Jeyeon, namanya. Kurasa aku harus menulis nama itu disetiap baris buku ku  agar tidak lupa.

“Naneun Jung Yunho imnida,” kataku. Lalu aku menjabat tangannya. Rasanya aku ingin terbang! Bisa-bisa aku tidak mencuci tanganku seminggu.

 

But I will waiting for you to stay

You want me to be with you

I’ll live in your love,

In your dream forever and ever

 

Sejak pertemuan yang singkat itu, aku sering mengunjungi Jeyeon sebelum bel masuk, istirahat, dan terkadang mengobrol setelah pulang sekolah. Aku ingin sekali mengantarnya pulang tapi aku belum cukup berani untuk mengajaknya pulang bersamaku.

“Omo! Kapan kau bisa berani jika tidak pernah mencoba,” kata Jaejoong. Ia bilang aku terlalu pengecut untuk mengantar seorang yeoja pulang.

“Kau tidak mengerti. Aku merasa seolah kehabisan oksigen setiap kali ingin mengajaknya,” kataku.

“Gurae? Kurasa saat ini kau masih mempunya persediaan oksigen yang lebih dari cukup,” kata Jaejoong.

“Aigoo! Kurasa kau harus merasakannya sendiri.”

“Jebal. Kau juga perlu seorang yeoja. Aku bosan dikatakan yeojamu padahal jelas aku seorang namja 100%.”  Benar apa yang dikatakan Jaejoong. Mungkin aku harus mencoba mengajak Jeyeon untuk pulang bersamaku.

Ketika bel pulang berbunyi, aku langsung menuju kelas Jeyeon seperti biasa. Perutku mual, padahal aku hanya ingin mengajaknya pulang. Aigoo! Apa tidak usah saja? Tapi bagaimana jika kesempatan itu hanya datang kali ini?

“Annyeong, oppa,” sapa Jeyeon begitu keluar dari kelasnya.

“Annyeong, Jeyeon-ah. Kau…mau kuantar pulang?” Tamat sudah riwayatku. Apa yang dipikirkan Jeyeon? Bisa saja ia menanggapi ajakanku dengan negatif. Mungkin saja ia berpikir aku akan menculiknya. Andwae!!!

“Hmm… Tentu saja. Gomawo, oppa,” kata Jeyeon. Aku serasa ingin memeluk semua orang disekolah ini. Jeyeon mau pulang bersamaku! Omona~ aku tidak mengerti semalam aku mimpi apa. Untung saja jantungku tidak melompat dari tubuhku saking senangnya.

 

Aku mengantar Jeyeon pulang dengan motor bututku. Beruntungnya aku karena Jeyeon tidak mengomentari apapun tentang motorku. Kami tidak banyak bicara selama diperjalanan. Ia hanya mengatakan arah yang harus aku lalui. Tapi aku senang ia memelukku cukup erat. Rasanya begitu romantis, seperti difilm-film.

“Yang disana itu rumahku,” kata Jeyeon sambil menunjuk rumah bercat krem diujung jalan.

“Kita sampai.” Aku memberhentikan motorku tepat didepan rumahnya.

“Jeongmal gomawo,oppa,”  kata Jeyeon sambil membungkukkan badannya.

“Ne, cheonmannaeyo.” Aku diam. Tak tahu apa yang harus aku katakan. Aku sedikit merasa ia tersipu. Aigoo! Aku harus mengatakan sesuatu. Tak mungkin hanya diam seperti ini terus.

Aku tahu apa yang harus kukatakan; atau ungkapkan.

“Jeyeon-ah, boleh aku bertanya?” tanyaku.

“Ne.”

“Kau sudah punya pacar?” Aku berusaha agar nada suaraku terdengar biasa saja. Dan kurasa aku bisa melakukannya.

“Belum. Waeyo, oppa?”

“Kau mau menjadi yeojachingu ku?” Omo~ sekarang aku benar-benar berharap jantungku mau melompat keluar. Kurasa tadi aku memakan sesuatu yang beracun sehingga bisa mengatakan hal ini.

“Mianhae, oppa. Aku tidak bisa,” jawab Jeyeon dengan senyum yang menyedihkan.

“Wae?”

“Umma ku belum mengijinkan aku pacaran. Katanya aku masih terlalu kecil.” Aku sedikit kecewa mendengarnya. Tapi apa mau dikata, aku tak mungkin memaksanya. Aku hargai apapun keputusannya.

 

Whenever you look in my eyes

There are so many smiles and tears

I was born to love, feel deep inside

If you need me, I’ll be your man

 

“Gwechanayo. Aku bisa mengerti,” kataku. Aku berusaha bersikap biasa saja. Aku harap ia tidak merasakan kekecewaanku.

“Gomawo, oppa. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menolak. Tapi ya, umma ku,” kata Jeyeon. Ia menunduk (mungkin merasa tidak enak) sambil memilin jemari tangannya.

“Aku mengerti. Asal kau tahu, aku akan selalu menunggu. Aku berjanji akan menjadi namjachingu mu ketika umma mu sudah memberi ijin, Jeyeon-ah,” kataku sungguh-sungguh, bukan hanya gombal yang biasa diucapkan namja tanpa moral.

“Gomawo, oppa. Aku merasa bersalah.”

“Sudahlah. Aku mungkin dilahirkan hanya untuk mencintaimu. Oleh karena itu, aku mau menunggu.”

Hening. Aku tahu Jeyeon tidak bisa membalas kata-kataku yang terakhir. Berarti aku tidak harus mengeluarkan semua perasaanku yang lain. Aku tahu aku harus menunggu.

 

In my arms, in my soul

I want to hold you, baby

You don’t know how much I love you,

do you baby?

Like the sun rising up

I can’t stop loving you

Can’t hold back anymore

 

Aku sadar aku harus menunggu. Berapa lamapun itu, aku akan tetap menunggu. Aku yakin dengan perasaanku yang sekarang; bahwa Jeyeon memanglah untukku. Dia memang tidak akan pernah tahu seberapa besar aku mencintainya, tapi aku tahu aku tidak akan bisa berhenti untuk mencintainya.

 

Whenever you look in my eyes

I don’t want to show you my love

I’ll make up my minds

Make your dreams come true

Nobody can stop me to say I love you

“Mollasaeyo, oppa. Aku tidak tahu harus bilang apa.”

“Kurasa kau tidak perlu mengatakan apapun.”

“Kita bisa bertemen dulu.”

“Ne.”

“Oppa marah padaku.”

“Aniyo.” Hening. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Tapi aku bisa merasakan ia ingin sekali menjadi yeojachingu ku, semoga saja. Yang jelas, aku tak akan bisa mengecewakannya dengan cara meninggalkannya dengan semua janji-janji yang telah aku ucapkan.

“Jeyeon-ah.”

“Ne, oppa?”

“Neomu saranghae.”

Aku lega. Setidaknya aku sudah mengucapkan apa yang paling aku rasakan saat ini. Bahwa aku sangat mencintainya.

“Nado saranghae, oppa,” jawab Jeyeon yang sedikit tersipu.

Aku tidak percaya. Ia juga mencintaiku! Kurasa aku ingin terbang. Meloncat dari gedung tinggi dan langsung terbang terbawa angin. Tapi… Moon Jeyeon, naneun neomu saranghae.

“Oppa, kau baik-baik saja? Wajahmu merah,” kata Jeyeon sambil meraba dahiku.

“Gwechanayo. Jeyeon-ah, aku harus pulang. Sampai ketemu besok disekolah,” kataku seperti orang yang kebelet ingin buang air kecil.

Aku menaiki motorku dan menyalakan mesinnya. Ia melambai singkat sebelum aku memasukkan gigi pertama. Aku melajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana bahagianya aku sekarang.

Aku janji, Moon Jeyeon. Aku akan selalu menunggumu sampai kapanpun. Aku janji.

 

====THE END====

 

Kategori:CBF, DBSK, Request Tag:,
%d blogger menyukai ini: