Arsip

Archive for the ‘Eun Hyuk’ Category

Dark Story from South Korea: The Beginning

Januari 28, 2011 Tinggalkan komentar

 

Title: Dark Story from South Korea: The Beginning
Rate: All ages
Genre: Action Romance
Length: One Shot
Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri
Cast:
-Eun Hyuk Super Junior
-Park Yoochun JYJ
-Shim Changmin TVXQ
-Choi Sun Li
-Park Seung Hee
-Song Hyun Ri
***

“Aku tak mengerti,” kata Eun Hyuk saat dirinya dan Hyun Ri sedang makan siang disebuah restoran kecil. “Mengapa kau lebih memilih bersamaku dibanding Yoochun? Yoochun sosok yang sempurna untukmu. Dia tampan, kaya, dan semua yang kau inginkan pasti akan dipenuhinya,” kata Eun Hyuk sambil menyeruput sisa asparagusnya.
“Aku lebih nyaman bersamamu. Lagipula aku berhubungan dengan Yoochun karena itu wasiat yang ditinggalkan umma. Kau tahu keluargaku punya utang yang banyak terhadap keluarga Park. Hanya ini yang bisa kulakukan agar umma senang,” jelas Hyun Ri.
“Entahlah. Aku tetap sulit mengerti,” kata Eun Hyuk dengan suara rendah.
“Apa yang tidak kau mengerti?”
“Mengapa kau merasa nyaman denganku?” tanya Eun Hyuk. Hyun Ri menyunggingkan senyum lembut.
“Pertama, aku terlanjur mencintaimu. Kau lebih dulu merebut hatiku. Kedua, aku mendapatkan sesuatu yang sangat berharga darimu dan Yoochun tidak bisa memberikan itu untukku,” kata Hyun Ri penuh keyakinan.
“Mollayo. Tapi aku merasa Yoochun sangat mencintaimu. Aku merasa bersalah jika seperti ini caranya,” kata Eun Hyuk dengan suara rendah.
Hyun Ri menghela napasnya. Ia mengatupkan sendok dan garpunya. Ia tidak berselera untuk menghabiskan makanannya. Itulah yang menjadi dasar rasa bersalah pada diri Min Ji. Yoochun sangat mencintainya, tapi ia tidak pernah mampu membalas perasaan itu. Dan yang lebih parah, ia tetap menjalin hubungan dengan Eun Hyuk ketika ia memutuskan untuk menjadi yeojachingu Yoochun.
“Ne, aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak mempunyai rasa apapun terhadapnya,” kata Hyun Ri lesu.
“Sudahlah. Kita lupakan saja,” kata Eun Hyuk sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Ia menggenggam lembut kedua tangan Hyun Ri sebagai tanda empatinya.
“Itu lebih baik,” kata Hyun Ri. “Kurasa kita harus pulang sekarang. Aku takut Yoochun mendapatiku tidak dirumah.”
Lalu kedua pasangan itu keluar dari restoran tersebut. Eun Hyuk memutuskan untuk mengantar Hyun Ri dengan mobil sedan tuanya agar Hyun Ri lebih cepat tiba dirumahnya.

***

Yoochun menatap penasaran. Siapa namja yang bersama Hyun Ri? Dan, mereka mau kemana? Hati Yoochun resah melihat Hyun Ri bersama namja asing itu.
Saat itu, Yoochun memang ingin makan siang. Kebetulan restoran yang dipilih Yoochun adalah restoran yang sama dengan restoran yang dipilih Eun Hyuk dan Hyun Ri. Ketika Yoochun ingin turun dari limosinnya, ia melihat Hyun Ri keluar dari restoran itu bersama seorang namja yang tidak dikenalnya.
“Aniyo. Aku tidak boleh berpikiran negative dulu. Akan kutanyakan nanti pada Hyun Ri,” kata Yoochun yang berusaha menenangkan pikirannya.
Setelah Eun Hyuk dan Hyun Ri menjauh, barulah Yoochun turun dari limosinnya. Ia masuk ke restoran itu dan langsung memesan makan siangnya.
Ia melahap makan siangnya dengan terburu-buru. Setelah itu ia langsung meletakkan uang dan keluar dari restoran itu.
“Kerumah Hyun Ri sekarang,” kata Yoochun kepada supirnya. Segera saja limosin hitam itu meluncur dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Beberapa saat kemudian, limosin itu berhenti didepan sebuah rumah yang bisa dikatakan sederhana. Bangunan luarnya berlapis cat putih yang sudah terlihat kusam. Beberapa tanaman liar menghiasi halaman rumah itu.
Yoochun menghela napas. Hatinya merasa tidak enak terhadap Hyun Ri tapi ia harus mendapatkan penjelasan dari Hyun Ri tentang namja yang bersamanya. “Jeongmal mianhae, Song Hyun Ri. Aku tidak bermaksud mencurigaimu,” kata Yoochun lesu.
Ia melangkahkan kakinya menuju rumah itu. Mengetuk pintunya beberapa kali. Tak lama setelah itu, seorang yeoja dengan pakaian rumah santai keluar menyambutnya.
“Annyeong, Hyunie. Mian aku baru mengunjungimu sekarang,” sapa Yoochun sambil mengecup sekilas pipi Hyun Ri.
“Gwenchanhayo. Kau mau berkunjung saja sudah membuatku senang,” kata Hyun Ri sambil tersenyum.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yoochun basa basi.
“Membuat beberapa cemilan kecil. Masuklah dulu,” ajak Hyun Ri. Mereka pun masuk dan langsung menuju dapur karena Hyun Ri harus menyelesaikan pekerjaannya.
“Kau sudah makan siang?” tanya Yoochun.
“Ne, tadi aku makan diluar,” jawab Hyun Ri.
“Sendirian?” Yoochun berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar seperti polisi yang sedang menginterogasi tahanannya.
Raut wajah Hyun Ri hampir berubah panik. Ia mendapat feeling bahwa Yoochun melihatnya bersama Eun Hyuk saat direstoran. Dan rasanya akan lebih baik jika ia mengatakan sedikit kebenaran kepada Yoochun. Ia sadar bahwa ia tidak bisa berbohong pada Yoochun.
“Aku…aku..bersama Eun Hyuk,” kata Hyun Ri gugup. “Ia teman lamaku sewaktu SMA dulu,” Tentu saja yang terakhir tadi kebohongan kecilnya. Ia tidak terlalu bodoh untuk mengatakan yang sejujurnya.
“Tadi aku melihatmu bersama seorang namja keluar dari restoran,” jelas Yoochun, lega. Ia berpikir bahwa Hyun Ri telah mengatakan yang sebenarnya.
“Mian aku tidak memberitahumu,” kata Hyun Ri.
“Gwechanayo.”
Keduanya sama-sama merasa lega. Yoochun lega karena telah mengetahui namja yang bersama Hyun Ri. Dan Hyun Ri lega bisa mengelabui Yoochun walaupun ia tahu ia sudah dalam masalah besar karena memberitahu soal Eun Hyuk.

A few days later….
“Aku rasa ada yang salah dengan Yoochun,” kata Hyun Ri ketika Eun Hyuk menjemputnya.
“Dia sudah tidak peduli denganmu?” tanya Eun Hyuk asal.
“Ya kira-kira seperti itu.”
“Bukannya itu bagus? Bisa saja ia jatuh cinta kepada yeoja lain.”
“Ani. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku takut kalau Yoochun mengawasi kita.”
“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?”
“Ia melihat ketika berdua ketika direstoran.”
Air muka Eun Hyuk berubah kaku. Saat itu juga Eun Hyuk kalau mereka sedang dalam masalah besar.
“Lalu?” tanya Eun Hyuk khawatir.
“Aku bilang kau temanku sewaktu SMA dulu. Saat itu kurasa ia tidak mencurigaiku. Beberapa hari setelah itu barulah sikapnya berubah,” jelas Hyun Ri.
“Hyun Ri -ya, perasaanku tidak enak. Yoochun bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh kita jika ia tahu hubungan kita.”
“Apa yang harus kita lakukan?” Rasa takut itu menyelinap secepat kilat kedalam otak Hyun Ri. Yoochun bisa saja dengan mudah mengetahui hubungannya dengan Eun Hyuk. Ia bisa menyewa sepasukan mata-mata untuk mengawasi mereka. Dan jikapun mereka kabur, Yoochun bisa dengan mudah menemukan mereka.
“Kita kembali kerumahmu lagi. Kita akan kabur jadi kau perlu menyiapkan barang-barang yang kau perlukan,” kata Eun Hyuk tegas. Walaupun suranya tegas, tapi hatinya takut luar biasa. Sejak pertama kali mendengan nama Yoochun, ia tahu bahwa namja tajir itu psikopat.

***

Ruangan itu gelap. Hanya disinari cahaya dari monitor-monitor yang luar biasa lebarnya sampai monitor berukuran super kecil. Tombol dalam berbagai bentuk berkelap-kelip dalam irama yang tidak teratur. Beberapa tuas aneh juga menghiasi ruangan tersebut.
Seorang pria separuh baya sibuk menekan tombol-tombol itu. Jas putih, tubuh yang setengah bungkuk, kacamata tebal. Jelas pria separuh baya itu adalah orang jenius. Diruangan itu ada namja lain. Tapi namja ini terlihat jauh lebih muda dan berwibawa. Ia mengenakan jas hitam, sepatu mengkilat, rambut hitam yang tertata rapi, kulit putih yang terlihat agak pucat, bibir merah. Umurnya mungkin baru sekitar 24 tahun. Yeoja manapun tak akan bisa melepaskan pandangannya jika telah melihat namja yang satu ini.
Perhatian namja itu terfokus pada LCD yang sangat besar. Kedua tangannya terkepal erat menahan emosi. Monitor yang dilihatnya sedari tadi hanya menampilkan percakapan seorang namja dan seorang yeoja dalam perjalanan entah kemana. Raut muka kedua orang dalam layar tersebut menyiratkan ketakutan, seakan nyawa mereka dalam bahaya.
“Apa yang harus kulakuan?” tanya yeoja itu.
“Kita kembali kerumahmu….”
Namja yang berada dalam ruangan itu menghela napasnya. Hatinya panas. Tentu saja! Yeoja yang selama ini ia cintai ternyata…..
“Terus awasi kemanapun mereka pergi. Jangan sampai kehilangan jejak mereka,” kata namja itu kepada namja separuh baya berperawakan jenius.
“Ne,” jawab namja paruh baya itu.

Yoochun langsung naik kemobilnya. Ia tidak tahu lagi apakah Hyun Ri akan benar-benar meninggalkannya. Ia hanya menginginkan Hyun Ri, bahkan ia mungkin akan membunuh Eun Hyuk jika itu benar-benar diperlukan.
“Kita mau kemana, Tuan?” tanya supir Yoochun.
“Pulang saja,” jawab Yoochun lesu.
Mobil Yoochun langsung bergerak dengan kecepatan tinggi. Supirnya tahu bahwa tuannya sedang terburu-buru, ada hal penting yang harus dilakukannya. Setiap kali Yoochun berkunjung ke rumah profesor itu, pasti ada suatu hal yang penting yang harus dilakukannya.
Begitu sampai dirumah, Yoochun langsung mengumpulkan seluruh anak buahnya. Yoochun menyuruh mereka semua untuk mengikuti kemanapun Hyun Ri dan Eun Hyuk pergi.
“….tetap melapor apapun keadaannya. Jika mereka sudah menetap disuatu tempat, langsung beritahu aku,” perintah Yoochun. “Jangan sampai kalian dicurigai!” tambahnya. Setelah itu, anak buah Yoochun mulai berpencar menyiapkan segala sesuatu yang mereka perlukan. Yoochun yakin saat ini Hyun Ri pastilah belum keluar dari Seoul.
Setelah ruangan itu benar-benar kosong, ia berjalan menuju ruang kerjanya. Ia benar-benar frustasi. Tak disangkanya bahwa Hyun Ri tak pernah mencintainya. Ia terpaksa melakukan semua ini. Ia tak bisa melihat Hyun Ri bersama namja lain.
“Jeongmal mianhae, Hyun Ri -ya.”

***
“Kita akan kemana?” tanya Hyun Ri sambil memasukkan barang-barangnya kedalam ransel.
“Kemana saja. Yang jelas kita harus jauh dari Yoochun sesegera mungkin. Kkaja!” kata Eun Hyuk sambil menarik tangan Hyun Ri. Tapi Hyun Ri tidak bergerak. Ia tetap berdiri ditempatnya dan memandang Eun Hyuk dengan tatapan penuh tanya.
“Waeyo?” tanya Eun Hyuk heran.
“Yang diinginkan Yoochun adalah aku. Jika aku terus bersamamu, maka hidupmu terancam. Lebih baik aku kembali kepada Yoochun dan kau larilah ke tempat yang jauh agar Yoochun tidak bisa menemukanmu,” kata Hyun Ri tanpa ekspresi apapun.
Eun Hyuk kaget mendengar apa yang barusan dikatakan Hyun Ri. “Aniyo. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri.”
“Tapi kau akan mendapat bahaya besar jika kau terus bersamaku,” kata Hyun Ri. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia sadar bahwa ia akan membawa Eun Hyuk kedalam masalah besar jika terus bersamanya.
“Aku tidak mau hidup tanpamu. Kita harus menghadapi semua ini bersama. Araseo?” kata Eun Hyuk. Lalu ia menarik Hyun Ri dalam pelukannya.
Ketika ia meraba leher Hyun Ri, ia menemukan benda kecil aneh pada pengait kalung yang dikenakan Hyun Ri. Ia segera melepaskan benda aneh yang kecilnya seperti semut.
“Lihat!” kata Eun Hyuk sambil menunjukkan benda itu pada Hyun Ri.
“Apa ini?” tanya Hyun Ri sambil mengamati benda aneh itu.
“GPS atau mungkin kamera pengawas atau apalah, menurutku. Dan aku yakin Yoochun lah yang memasangnya,” kata Eun Hyuk. Perut Hyun Ri serasa melilit. Ini berarti Yoochun telah mengetahui rencana mereka untuk kabur.
“Kkaja! Kita sudah ketahuan,” kata Hyun Ri yang langsung berlari keluar rumah. Eun Hyuk mengikutinya dari belakang.
Benda aneh kecil itu ditinggalkannya ditempat tidur Hyun Ri. Mereka kabur menggunakan mobil milik Jun Hyung. Mereka sangat berharap Yoochun tidak tahu kemana mereka pergi.

***

“Mereka telah meninggalkan rumah, Tuan,” kata seseorang melalui ponselnya.
“Terus ikuti mereka. Jangan sampai kehilanganjejak,” perintah suara yang diseberang ponsel itu.
Sekelompok orang yang sedari tadi mengamati rumah Hyun Ri mulai bergerak dan siap membuntuti kemanapun Eun Hyuk dan Hyun Ri pergi.

***

Mobil Eun Hyuk melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Seoul. Suasana hening menyelimuti mobil itu. Baik Eun Hyuk maupun Hyun Ri sibuk memikirkan masalah masing-masing. Mereka tidak menyangka kalau masalah mereka mampu serumit ini. Dan mereka tak pernah tahu bagaimana akhir dari semua ini.
Beberapa kali Eun Hyuk menatap kaca spionnya. Ia takut jika anak buah Yoochung mengikuti mereka. Sayangnya, terlalu banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Eun Hyuk tidak dapat memastikan bahwa diantara sekian banyak mobil, salah satunya ada yang mengikuti mereka.
“Kita mau kemana?” tanya Hyun Ri tiba-tiba.
“Mollasaeyo. Aku belum tahu tempat yang cukup aman,” jawab Eun Hyuk tanpa sekalipun menatap Hyun Ri.
“Kalaupun kita belum sampai, kita tetap harus beristirahat,” saran Hyun Ri.
“Ne, naneun aldayo,” kata Eun Hyuk sambil menghela napasnya, sedikit merasa putus asa.
Hari semakin malam. Eun Hyuk memutuskan menginap semalam disebuah wisma di daerah yang entah apa namanya. Setelah memesan kamar mereka langsung menuju kamar mereka. Untuk menghemat, Eun Hyuk memutuskan untuk memesan satu kamar.
“Lebih baik kau mandi sekarang. Aku yakin kau sangat lelah,” kata Eun Hyuk ketika tiba dikamar mereka. Hyun Ri menurutinya.
Sementara menunggu Hyun Ri mandi, Eun Hyuk memikirkan tempat yang aman untuk mereka. Haruskah ia keluar dari Korea? Tapi kemana? Lagipula ia kasihan terhadap Hyun Ri jika harus terus melarikan diri seperti ini.
Tidak lama kemudian Hyun Ri keluar dari kamar mandi. “Eun Hyuk -ah, lebih baik kau juga mandi,” kata Hyun Ri.
“Ne,” jawab Eun Hyuk sambil mengambil pakaian gantinya dan bergegas mandi.

***

Dua orang dari beberapa orang yang mengikuti Eun Hyuk dan Hyun Ri mengawasi tidak jauh dari kamar mereka. Kedua orang itu terus berbicara melalui walkie talkie, memberi laporan kepada temannya yang lain, lalu menyampaikan laporan itu kepada bos mereka, Yoochun.
“Aniyo. Aku tahu mereka tidak akan menetap disana. Lebih baik kalian terus ikuti mereka. Jangan sampai kehilangan jejak,” kata Yoochun begitu menerima laporan dari anak buahnya.
Yoochun harusnya beruntung mempunyai anak buah yang menurut padanya. Mereka langsung melaksanakan apa yang Yoochun perintahkan kepada mereka.
Malam itu juga tidak ada satupun anak buah Yoochun yang tidur. Mereka khawati bahwa Eun Hyuk dan Hyun Ri dapat pergi kapanpun. Tentu saja nyawa mereka taruhannya jika mereka kehilangan Eun Hyuk dan Hyun Ri.
Ternyata apa yang mereka khawatirkan benar terjadi. Pukul 3 pagi, Eun Hyuk dan Hyun Ri check out dari wisma itu. Segera anak buah Yoochun memberi laporannya kepada Yoochun lalu mengikuti Eun Hyuk dan Hyun Ri.

***

“Mianhae mengganggumu tidur. Tapi lebih baik jika kita berangkat cepat sebelum tertangkap anak buah Yoochun,” kata Eun Hyuk sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Gwenchanhayo. Aku setuju-setuju saja jika itu berarti kita selamat,” kata Hyun Ri sambil menguap. Sebenarnya ia masih mengantuk karena kemarin ia mengalami hal yang sangat melelahkan.
“Tidur lagi saja kalau masih mengantuk,” kata Eun Hyuk sambil menyunggingkan senyumnya. Hyun Ri menurut. Ia memejamkan matanya dan kembali terlelap.
Sementara itu Jun Hyung kembali memikirkan kemana mereka harus pergi. Begitu banya tempat yang singgah di otaknya sehingga ia sulit berkonsentrasi pada satu tempat.
“Aku tak tahu kemana kita harus bersembunyi,” kata Eun Hyuk pelan. Ia menatap sekilas kearah Hyun Ri yang sedang tidur.
Tak peduli arah, ia terus mengendarai mobilnya kemanapun otaknya menyuruh. Melewati desa-desa kecil, hutan, ladang, sawah, dan ke kota lagi. Hingga matahari terbit sempurna pun ia tidak memberhentikan mobilnya.
“Kita belum sampaikah?” tanya Hyun Ri begitu ia terbangun. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
“Bersabarlah,” kata Eun Hyuk sambil tersenyum lembut. “Kau lapar?”
Hyun Ri menggelengkan kepalanya. “Lebih baik kita gantian menyetir saja. Kau terlihat sangat lelah,” kata Hyun Ri prihatin. Memang sekarang wajah Eun Hyuk terlihat lebih lusuh. Kantung dikedua matanya pun semakin tebal. Bibirnya juga terlihat pucat. Persis orang yang tidak tidur berhari-hari.
“Aniyo. Naneun gwenchanhayo. Lagipula kau tidak tahu kemana kita akan pergi, kan?” kata Eun Hyuk.
“Kau juga tidak tahu kemana kita pergi, kan?” tanya Hyun Ri dengan ketus.
Eun Hyuk hanya tersenyum kecil. Seharusnya ia tahu Hyun Ri akan mengeluarkan asumsi seperti itu. Lagipula ia memang sangat lelah. Ia ingin sekali istirahat.
“Ne, aku memang tidak tahu,” jawab Eun Hyuk sambil tersenyum.
“Kenapa aku harus punya namjachingu sepertimu,” kata Hyun Ri sambil menggeleng-geleng kepalanya. Eun Hyuk tetap tersenyum.
“Jebal, kau sudah sangat lelah. Aku tidak ingin kau sakit,” bujuk Hyun Ri.
“Aniyo. Kemungkinan kita tersesat lebih besar jika kau yang mengemudikannya,” kata Eun Hyuk sambil menahan tawa atas asumsinya sendiri.
“Tak perlu aku yang mengemudikan pun kita sudah tersesat,” Hyun Ri mengerucutkan bibirnya.
“Gwenchanhayo kalau kita tersesat. Kita tidak akan kembali sebelum Yoochun mati. Dan kau tahu sendiri membunuh Yoochun merupakan hal yang sangat sulit dilakukan,” kata Eun Hyuk.
“Aniyo. Kita tidak bisa terus kabur. Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Hyun Ri yang merasa bersalah.
“Mereka akan baik-baik saja. Ada atau tidaknya aku tidak akan berdampak apapun,” jawab Eun Hyuk dengan suara pelan. Hyun Ri terdiam. Eun Hyuk memang tidak dekat dengan keluarganya. Bahkan bisa dikatakan dia tidak dianggap.
“Ya sudahlah. Aku yakin kau pasti lelah. Biar aku saja yang mengemudi,” bujuk Hyun Ri lagi. Kali ini Eun Hyuk menurut. Kemudian ia bertukar posisi dengan Hyun Ri.
“Kuharap kita tidak semakin tersesat,” kata Eun Hyuk yang menyunggingkan senyum jahilnya Hyun Ri mengerucutkan bibirnya. Ia mulai mengemudikan mobil Eun Hyuk tanpa sekalipun menggubris kata-kata Eun Hyuk. Beberapa saat kemudian Eun Hyuk tertidur. Dia sadar bahwa dirinya sangatlah kelelahan.

***

Yoochun duduk diam dibelakang meja kerjanya. Hanya satu masalah yang terus mengganggu pikirannya. Song Hyun Ri. Mengapa yeoja itu tega meninggalkannya demi namja gembel seperti Eun Hyuk? Tidak tahukah Hyun Ri hidupnya jauh lebih terjamin jika bersama dirinya? Apa kelebihan Eun Hyuk hingga Hyun Ri bisa berpaling darinya.
“Aku tidak bisa membiarkan Hyun Ri bersama namja lain,” kata Yoochun. Ia bergeser sedikit untuk mengubah posisi duduknya.
Seharusnya ia tahu Hyun Ri mengkhianatinya! Sejak awal Hyun Ri tidak pernah memperhatikannya dengan baik. Ia selalu bersikap biasa saja setiap kali mereka bertemu.
“Apa kelebihan Eun Hyuk yang tidak kumiliki?” tanya Yoochun dalam kegalauannya. Ia mengepalkan kedua tangannya diatas meja.
“Jeongmal mianhae,Song Hyun Ri. Aku memang harus membunuh Eun Hyuk jika caramu memperlakukan aku seperti ini terus. Kau tidak bisa selamanya kabur dariku,” kata Yoochun lembut.

***

Eun Hyuk menguap dan menggeliatkan tubuhnya untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Matanya perlahan terbuka. Sinar matahari senja langsung menusuk matanya ketika selaput matanya terbuka sedikit.
“Sudah bangun, Eun Hyuk -ah?” tanya Hyun Ri sambil tersenyum kecil.
“Berapa lama aku tidur?” tanya Eun Hyuk yang menguap.
“Seharian, mungkin.”
“Mian aku merepotkanmu.”
“Gwenchanhayo memang seharusnya seperti ini, kan?”
“Ne. Kita sudah dimana?” Kali ini Hyun Ri hanya diam. Dia sendiri tidak tahu dimana ia sekarang. Kiri kanannya hanya ada pohon. Ia tersadar bahwa ia tidak melihat satupun rumah penduduk didaerah itu.
“Molla. Aku hanya sembarang memilih arah,” jawab Hyun Ri.
“Kan kubilang tadi juga apa,” kata Eun Hyuk.
“Neomu mianhae, Eun Hyuk -ah,” kata Hyun Ri penuh penyesalan.
“Sudahlah. Tapi kupikir kita sudah cukup aman dari Yoochun. Tidak ada tanda-tanda kehadiran anak buahnya,” kata Eun Hyuk.
“Aku pikir juga begitu.”
“Lebih baik aku mengemudi lagi. Kita harus segera menemukan tempat untuk beristirahat.”
Hyun Ri menepikan mobilnya dan bergantian posisi dengan Eun Hyuk. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

***

Eun Hyuk salah jika berpikir anak buah Yoochun tidak mengikuti mereka; bahwa mereka sudah aman dari Yoochun. Anak buah Yoochun masih terus mengikuti mereka tanpa Eun Hyuk dan Hyun Ri mencurigai.
“Kurasa mereka akan menetap di daerah sekitar sini,” kata salah satu dari anak buah Yoochun.
“Mungkin saja. Daerah ini sudah sangat jauh dari kota,” kata seseorang yang lain.
“Tapi kita harus tetap menunggu. Kita harus memastikan mereka benar-benar menetap,” kata salah seorang yang lain.
“Ne. Tapi kurasa lebih baik jika kita tetap melapor.”
“Maka salah satu dari merekapun menghubungi Yoochun dan memberitahu tentang keberadaan Eun Hyuk dan Hyun Ri saat ini. Yoochun memberikan tugas yang sama, tetap ikuti mereka.

***

Hari sudah menjelang senja. Eun Hyuk memberhentikan mobilnya didepan sebuah kastil tua. Warna kastil itu hitam kusam dan banyak ditumbuhi lumut. Walaupun terlihat tua, kastil itu terlihat megah dan kokoh dengan aksen Eropa yang sangat mendominasi.
“Kurasa ini bisa jadi tempat tinggal kita sementara,” saran Eun Hyuk.
“Mollasaeyo. Tempat ini menyeramkan,” kata Hyun Ri.
“Gwechanayo. Aku rasa tempat ini tidak ada penghuninya,” kata Eun Hyuk sambil memerhatikan sekeliling kastil itu.
“Aku tidak begitu yakin,” kata Hyun Ri ragu.
“Lebih baik kita memeriksanya dulu,” usul Eun Hyuk sambil keluar dari mobilnya. Hyun Ri mau tidak maupun harus mengikuti Eun Hyuk masuk ke kastil tua itu.
Ruangan dalam kastil itu sangat luas. Terdiri dari dua lantai, satu menara, dan beberapa lorong-lorong aneh. Lukisan-lukisan aneh digantung sepanjang dinding menuju lantai dua. Peralatan-peralatan diruangan itupun tua-tua, mungkin sama tua dengan kastil ini. Tapi barang-barangnya tertata rapi dan bersih. Seperti ada orang yang selalu membereskannya.
“Aku rasa kastil ini baru saja ditinggalkan pemiliknya,” kata Eun Hyuk sambil memandang piano tua yang masih mengkilat disudut ruang tamu.
“Mungkin. Tidak seharusnya kita masuk kerumah orang tanpa ijin, Eun Hyuk -ah,” kata Hyun Ri yang masih memandang sekeliling ruangan. Takut jika pemilik kastil ini muncul dan mengira mereka pencuri.
“Kau tunggu disini. Aku akan memeriksa ruangan yang lain,” kata Eun Hyuk. Hyun Ri mengangguk satu kali lalu duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu.
Eun Hyukmelangkahkan kakunya keruangan terdekat. Ruangan itu mungkin ruang keluarga; dan ruangan itu kosong. Tak ada satupun benda diruangan itu. Kemudian ia memeriksa dapur, beberapa kamar dan kamar mandi yang bisa mereka gunakan, dan beberapa ruangan lain yang tidak diketahui fungsinya; dan semuanya kosong. Beberapa kamar lainnya terkunci. Kemudian ia memeriksa lantai dua. Disini jumlah kamarnya lebih sedikit. Beberapa kamar juga terkunci. Dan beberapa kamar yang lain sepertinya bisa mereka gunakan untuk tidur malam ini.
“Gomapta,kastil ini memang tidak berpenghuni,” kata Eun Hyuk pelan lalu kembali menemui Hyun Ri.
“Eottokhae?” tanya Hyun Ri begitu melihat Eun Hyuk.
“Kastil ini memang kosong. Tapi beberapa kamar terkunci,” kata Eun Hyuk.
“Bagaimana jika pemilik kastil ini ternyata sedang pergi lalu tiba-tiba saja mereka datang?” tanya Hyun Ri yang masih ragu.
“Kita akan mengatakan yang sejujurnya. Setidaknya kita akan tinggal disini untuk sementara waktu,” kata Eun Hyuk.
“Terserah. Aku nurut saja,”

***

“Tuan, Eun Hyuk dan Hyun Ri sepertinya akan menetap dalam waktu yang lama,” lapor anak buah Yoochun.
“Terus awasi mereka. Kita akan ‘menyerang’ mereka saat tengah malam,” kata Yoochun.
Segera setelah itu, anak buah yang menelepon Yoochun memberi tahu teman-temannya yang lain tentang rencana Yoochun. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yoochun, mereka semakin ketat mengawasi gerak-gerik Eun Hyuk dan Hyun Ri.
Sementara itu Yoochun langsung pergi menuju tempat yang telah diberitahukan anak buahnya. Hatinya seakan mati rasa. Ia hanya bisa merasakan perasaan menggebu-gebu untuk sampai ditempat Eun Hyuk dan Hyun Ri. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bayangan mengerikan tentang Eun Hyuk dan Hyun Ri membayangi otaknya. Ia membayangkan Eun Hyuk dan Hyun Ri sedang berciuman ketika ia datang; atau bayangan yang lebih mengerikan daripada sekedar berciuman.
Membayangkan hal itu membuatnya semakin menambah kelajuan mobilnya. Ia ingin sekali bertemu Eun Hyuk dan menghajar namja itu habis-habisan karena berani membawa lari yeoja kesayangannya.

***

“Kau yakin akan tinggal disini? Tempat ini menyeramkan?” kata Hyun Ri. Ia masih meragukan keputusan Eun Hyuk untuk tinggal dikastil ini. Sejak Eun Hyuk memutuskan untuk berhenti melarikan diri, perasaannya menjadi tidak beres. Seolah-olah bukan ini tempat yang tempat untuk akhir dari pelarian mereka.
“Gwechanayo, Hyun Ri -ah. Kalau kau masih takut, kita akan tidur bersama malam ini. Eottokhae?” usul Eun Hyuk .
“Bagaimana kalau kita tidur disofa saja?” pinta Hyun Ri tanpa alasan yang jelas.
“Ne, terserah kau saja.”
Hari semakin gelap. Mereka hanya merapikan sedikit kastil itu. Masuk ke kamar-kamar yang tidak terkunci untuk mengambil selimut. Beruntung di kastil itu masih ada beberapa makanan kaleng yang belum kadaluarsa. Mereka hanya memakan itu sebagai makan malam mereka karena mereka tidak membawa bekal apapun.
Pukul sepuluh lewat beberapa menit. Eun Hyuk memutuskan untuk tidur duluan. Mungkin ia merasa sangat lelah. Hyun Ri masih tidak bisa tidur. Ia hanya membolak-bolik badannya diatas sofa panjang. Perasaannya semakin tidak enak saja. Ia merasa sesuatu yang buruk akan menimpa mereka, terutama Eun Hyuk . Apa ini ada hubungannya dengan Yoochun? Apa ia telah mengikuti mereka sejak awal mereka memutuskan untuk kabur? Apa ia tahu tentang kastil ini? Hal-hal itu terus mengganggu pikirannya. Sulit bagi Hyun Ri untuk memusatkan perhatiannya pada hal lain. Hingga akhirnya ia pun terjaga dengan sendirinya.

Pukul 12.10, mobil Yoochun tiba tidak jauh dari kastil tempat Eun Hyuk dan Hyun Ri menginap. Anak buahnya telah siap menyambut kedatangannya. Anak buahnya berbaris secara horizontal membentuk line yang terlihat rapi. Dan pikiran mereka semua teralihkan ketika hummer hitam mengkilau berhenti tepat satu meter didepan mereka.
“Dimana tempatnya?” tanya Yoochun begitu turun dari hummernya.
“Tidak jauh dari sini,” jawab salah seorang dari anak buahnya.
“Kita berangkat sekarang,” perintah Yoochun.
Salah satu anak buahnya menunjukkan arah ke kastil tempat Eun Hyuk dan Hyun Ri berada. Yoochun dan anak buahnya yang lain mengikutinya. Tangan kanan Yoochun sudah siap dengan pistol. Ia sudah sangat siap membunuh Eun Hyuk dan Hyun Ri jika ia menemukan mereka dalam keadaan yang tidak seharusnya. Ia berpikir untuk apa mempertahankan orang yang telah mengkhianatinya.
Yoochun berdiri tepat didepan pintu masuk kastil itu. Ia berhenti sejenak dan berpikir apa yang harus dilakukannya. Setelah itu, ia melangkah masuk kedalam kastil dan anak buahnya disuruhnya untuk menunggu diluar saja. Begitu masuk, ia melihat Hyun Ri tidur dipangkuan Eun Hyuk, mesra. Tangan kanannya yang memegang pistol mengacung tepat ke jantung Eun Hyuk.
DOR!! Suara letusan itu membangunkan Hyun Ri. Yoochun menembak Eun Hyuk tepat dimana jantungnya berdetak, ia tersenyum puas.
“PARK YOOCHUN!!” teriak Hyun Ri histeris begitu melihat Yoochun diambang pintu dengan pistol masih teracung ke arah Eun Hyuk.
“Ia harus menerima hukumannya, Song Hyun Ri. Ia telah menculikmu dariku,” kata Yoochun sambil menyunggingkan senyum liciknya.
“Tapi tidak harus seperti itu!” teriak Hyun Ri sambil menangis histeris dan memeluk tubuh Eun Hyuk yang bersimbah darah.
“Kau mencoba membela namja itu?” tanya Yoochun yang masih tersenyum dan berjalan beberapa langkah kedepan.
“Tentu saja…”
DOR!! Satu peluru lagi lepas dari pistol Yoochun dan kali ini mengenai dada Hyun Ri. Seketika itu juga Hyun Ri tak sadarkan diri dan jatuh diatas tubuh Eun Hyuk .
“Mian, Song Hyun Ri,” kata Yoochun lalu keluar dari kastil itu dengan rasa puas. Setelah itu, ia menyuruh anak buahnya pulang. Ia memerintahkan mereka agar tak mengungkit-ungkit kejadian ini lagi.

***
Hari hampir pagi. Tapi Eun Hyuk maupun Hyun Ri masih bertahan dengan rasa sakit mereka. Tak ada yang tahu bagaimana mereka bisa bertahan selama itu. Mungkinkah mereka menunggu sesuatu yang bisa dilakukan untuk membalas dendam?
Ditengah keheningan subuh, pintu kastil itu mendadak terbuka. Tiga orang berjubah panjang kaget melihat dua sosok manusia yang bersimbah darah tidur disofa mereka.
“Aku rasa telah terjadi sesuatu selama kita berburu,” kata seorang wanita yang terlihat paling berwibawa. Ia menurunkan tudung jubahnya sehingga paras wajahnya yang sempurna terlihat jelas. Rambut pendek seleher dipangkas dengan gaya emo yang khas. Bola matanya berwarna coklat cerah. Tak ada satupun bercak hitam disekitar wajahnya. Kulitnya putih, seputih mayat. Umurnya mungkin sekitar 19 tahun.
Kedua orang temannya juga menurunkan tudung mereka. Salah satu dari mereka laki-laki berperawakan lembut. Umurnya sekitar 22 tahun. Tubuhnya tinggi tegap. Yang satu lagi adalah seorang yeoja dan dapat dipastikan ia adalah yang paling muda. Umurnya sekitar 16 tahun. Mereka semua memiliki ciri-ciri yang sama dengan wanita berambut emo itu. Kulit pucat, keindahan,kesempurnaan, dan mata coklat mereka yang bersinar; kecuali yeoja yang terlihat paling muda, matanya berwarna merah cerah.
“Kau benar, Sun Li-ya. Lebih baik kita memeriksa dua orang asing itu dulu,” usul namja itu.
“Ne. Siapa tahu mereka masih hidup. Onnie bisa mengubah mereka untuk menjadi temanku,” kata yeoja yang paling muda dengan gaya manjanya yang unik.
“Tidak semudah itu mengubah mereka, Seung Hee-ya,” kata yeoja berambut emo itu.
Mereka pun memeriksa keadaan Eun Hyuk dan Hyun Ri. Mereka masih hidup. Segera ketiga orang asing itu membersihkan peluru yang bersarang pada Eun Hyuk dan Hyun Ri. Kemudian mereka mengobati lukanya dan mengganti pakaian mereka karena pakaian mereka berlumuran darah, dan orang asing itu tidak bisa berkonsentrasi jika bau darah mereka terus mengganggu otak mereka. Lalu Eun Hyuk dan Hyun Ri dipindahkan disalah satu kamar yang ada dilantai dasar.
“Menurutmu apa yang harus kita lakukan, Changmin-ah?” tanya Sun Li, yeoja berambut emo itu.
“Mollasaeyo, Sun Li-ya. Mereka sekarat dan mungkin akan meninggal,” jawab Changmin.
“Andwae! Jangan biarkan mereka mati. Ubah saja mereka untuk jadi temanku,” rengek Seung Hee, yeoja yang paling muda.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Sun Li kepada Changmin.
“Terserah. Tapi aku tidak mau merubah mereka,” jawab Changmin.
“Mwo? Aku juga tidak mau. Aku telah merubahmu menjadi vampir dan aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Sun Li.
“Nado! Aku juga tidak mau. Aku kan sudah merubah Seung Hee,” kata Changmin.
Seung Hee mendengus kesal. “Chungbunhaeyo. Biar aku sja kalau kalian tidak mau,” kata Seung Hee. Ia kesal melihat kedua kakaknya yang tidak mau mengubah Eun Hyuk maupun Hyun Ri.
“Kau tahu kan kalau menciptakan vampir baru resikonya besar?” tanya Changmin ragu.
“Ne. Aku tahu,” kata Seung Hee dengan pasti dan tanpa keraguan sedikitpun. Sun Li dan Changmin pasrah. Seung Hee merasa senang bukan main. Ia langsung memeluk Sun Li dan Changmin.
“Jeongmal gomawo. Saranghae,” kata Seung Hee.
“Cheongmanaeyo, saengie,” kata Sun Li.
Seung Hee menggigit pergelangan tangan Min Ji dan memasukkan bisa dari kedua taringnya kedalam pembuluh darah Hyun Ri, begitu pula dengan Eun Hyuk. Setelah itu ia tersenyum puas. Akhirnya apa yang selama ini ia inginkan, mengubah manusia menjadi vampir, dapat tercapai.
“Apakah bisa mereka menjadi vampir yang baik?” kata Seung Hee sambil tersenyum. Sun Li dan Changmin tersentak mendengar pertanyaan selugu itu.

Three days later…

“Oppa, kau yakin mereka akan sadar?” tanya Seung Hee. Ini sudah hari ketiga. Baik Eun Hyuk maupun Min Ji belum juga sadar. Tentu saja Seung Hee khawatir karena dialah yang merubah mereka.
“Tentu saja. Bersabarlah sedikit lagi,” kata Changmin. Seung Hee hanya menurut. Ia selalu percaya pada kata-kata Changmin karena apa yang dikatakan Changmin tentu akan terjadi.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Sepuluh jam. Empat belas jam. BaikEun Hyuk dan Hyun Ri juga belum bangun. Seung Hee pun semakin panik. Dia takut jika Eun Hyuk dan Hyun Ri malah mati. Ia takut dicap sebagai vampir pembunuh.
“Sudahlah. Mereka pasti bangun. Tunggu beberapa menit lagi,” kata Changmin. Seung Hee pun menurut lagi.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit.
“Oppa! Mereka bangun!” kata Seung Hee yang melompat-lompat kegirangan.
“Kan sudah kubilang,” kata Changmin yang juga tersenyum.
Eun Hyuk dan Hyun Ri mulai menggerakkan tubuh mereka. Perlahan mereka membuka mata lalu mencoba duduk. Keduanya saling berpandangan, bingung. Apa yang mereka lihat, sentuh, dengar, seakan begitu jelas. Bahkan mereka bisa mendengar suara desiran angin diruangan itu, walaupun tidak benar-benar yakin itu adalah suara angin.
“Hyun Ri-ya, kau tidak apa-apa?” tanya Eun Hyuk khawatir begitu melihat Hyun Ri disebelahnya.
“Gwenchanhayo,” jawab Hyun Ri yang masih terlihat bingung.
“Aku rasa mereka sepasang kekasih,” kata Seung Hee yang berbisik kepada Changmin. Changmin hanya mengangkat bahunya.
“Ehem.” Seung Hee berdeham supaya Eun Hyuk dan Hyun Ri menyadari kehadirannya.
“Kenapa kalian bisa sampai dirumah kami?” tanya Changmin.
“Terlalu panjang ceritanya,” jawab Hyun Ri lesu mengingat kejadian bersama Yoochun.
“Kalian lapar?” tanya Seung Hee.
Eun Hyuk dan Hyun Ri saling berpandangan. Mereka tidak merasa lapar. Mereka sadar bahwa mereka sangat haus. Kerongkongan mereka terasa sangat kering dan panas.
“Haus,” jawab Eun Hyuk singkat.
“Ah ya itu yang aku maksud,” kata Seung Hee sambil tertawa kecil.
“Sebentar lagi Sun Li pulang. Dia akan membawa ‘makanan’ untuk kalian,” kata Changmin.
“Bisa kah kami bicara berdua dulu?” tanya Hyun Ri sesopan mungkin.
“Ne. Akan kutinggalkan kalian berdua,” jawab Changmin.
Setelah Changmin dan Seung Hee pergi, Hyun Ri menatap Eun Hyuk dalam-dalam. Ia merasakan ada yang aneh pada dirinya.
“Eun Hyuk-ah, matamu merah,” kata Hyun Ri.
“Matamu juga,” kata Eun Hyuk.
“Apa yang telah mereka lakukan pada kita?” kata Hyun Ri. Ia merasa berbeda dengan keadaannya yang sekarang. Ia terasa begitu kaku. Seperti mati.
“Apapun yang telah mereka lakukan kita tetap harus berterima kasih,” kata Eun Hyuk. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama. Saling mengagumi kesempurnaan masing-masing.
“Masih lamakah kalian ingin bicara?” teriak Seung Hee dari luar.
“Aniyo. Kami sudah selesai,” balas Eun Hyuk. Changmin dan Seung Hee pun masuk lagi kekamar itu.
“Boleh aku tahu nama kalian?” tanya Seung Hee.
“Aku Lee Hyuk Jae, kalian bisa memanggilku Eun Hyuk. Ini Song Hyun Ri.” Eun Hyuk menunjuk ke Hyun Ri.
“Kami dari Seoul, melarikan diri. Dan kami hampir saja mati,” kata Hyun Ri.
“Ne. Aku yang menyelamatkan kalian,” kata Seung Hee dengan senyum kebanggaannya.
“Ini pertama kalinya ia merubah seorang manusia. Jadi maklumi saja jika ia sedikit berbangga diri,” kata Changmin sambil tersenyum jahil. Seung Hee langsung menjambak rambut Changmin.
“Mengubah? Maksud kalian?” tanya Eun Hyuk.
“Kalian belum sadar? Kalian vampir!” kata Seung Hee tidak percaya.
“Mwo?”
“Sudahlah kalian terima saja. Aku juga vampir baru. Kita setidaknya bisa belajar bersama,” kata Seung Hee.
Eun Hyuk maupun Hyun Ri tidak tahu apa yang harus dikatakan. Mereka bukan lagi manusia? Bagaimana bisa? Haruskah mereka menghisap darah orang-orang yang tidak bersalah untuk tetap hidup? Tapi itu adalah apa yang dipikirkan Eun Hyuk. Hyun Ri justru bersyukur dengan hidup barunya. Ia punya kekuatan yang lebih dari cukup untuk melampiaskan dendamnya kepada Park Yoochun, orang yang hampir membunuhnya.
“Ne. Aku rasa tidak masalah apapun aku sekarang,” kata Hyun Ri sambil tersenyum. Eun Hyuk memandangnya dengan heran.
“Annyeong. Mian membuat kalian menunggu lama,” kata Sun Li yang tiba dikamar itu. Ia membawa dua buah tubuh manusia yang kelihatannya sedang pingsan. “Cukup sulit untuk mendapatkan yang benar-benar murni. Beruntung kedua manusia ini korban bunuh diri gagal. Darah mereka juga bersih. Sepertinya mereka tidak mengkonsumsi obat-obatan.”
“Itu untuk kalian. Aku yakin tenggorokan kalian sudah sangat panas kan?” kata Changmin.
Memang benar yang dikatakan Changmin. Tenggorokan Eun Hyuk dan Hyun Ri sudah tidak dapat bertoleransi melihat dua onggok tubuh yang tidak sadarkan diri. Mereka dapat merasakan aliran darah yang hangat yang mengalir dari pembuluh darah dua orang itu. Tanpa pikir panjang pun mereka langsung menyantap hidangan pertama mereka sebagai vampir baru.

===THE END===

Iklan

[FF]Oneshoot/My Heartbreaker/PG13

November 10, 2010 Tinggalkan komentar

Title: My Heartbreaker

Ratig: +13

Genre: Sad Romance, AU

Length: One Shot

Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri

Cast: -Eun Hyuk a.k.a Lee Hyuk Jae (Super Junior)

Other Cast: -Song Hyun Ri a.k.a Author *yg selalu eksis xD* *plak*

-Choi Seung Ri a.k.a Seung Ri (Big Bang)

Nb: Annyeong !!!!! siska back again with my own ff gaje <- bhsa apaan?

Kali ni saya pingin promosiin suami baru unyuu~ walaupun ada suami baru tp suami lama tetep

eksis kok.. ceritanya jg agak tragis mungkin.. maklum ud kehabisan ide bkin yg happy ending..

happy reading chingudeul 😀

***

Eun Hyuk POV

Bogoshippeunde nae saranghae Hyun Ri…..

Sudah setahun berlalu sejak kejadian mengerikan itu. Yeoja yang paling aku cintai, yang paling aku sayangi, dan yang paling aku rindukan, pergi dan meninggalkan aku sendiri; dan berpaling kepada namja lain. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Selama aku masih bisa melihatnya, itu sudah sangat cukup bagiku. Tapi kini ia benar-benar pergi dariku! Dan aku sudah tidak bisa melihatnya lagi untuk selamanya.

I love you but I hate you, Hyunnie….

Mulai saat itu aku sangat membencinya. Aku benci karena ia meninggalkan aku dan pergi bersama namja lain. Tapi saat ini aku benar-benar membencinya. Aku sangat benci padanya karena ia meninggalkan aku dimana aku sudah tidak akan bisa melihatnya lagi. Aku sudah tidak bisa mengharapkan dia kembali padaku. Dan sayangnya, aku tidak bisa untuk melupakannya. Semakin aku membencinya, semakin ia menghantui pikiranku.

Eun Hyun POV end

Eun Hyuk berdiri tegak didepan cermin. Sekali lagi ia memandangi penampilannya dari ujung ramut hingga ujung kaki. Ia merapikan rambutnya yang keluar dari barisan (?), merapikan kembali lipatan bajunya untuk kesekian kali, dan tak lupa untuk mengenakan parfum yang diberikan Hyun Ri sebagai hadiah kencan pertama mereka. Ia mengambil sebuah buket bunga lili dan sekotak coklat yang baru saja dibelinya. Ia mengambil kunci mobilnya disebelah laptopnya lalu mengenakan sneakersnya. Lalu ia kembali lagi kedepan cermin dan memandangi dirinya lagi dengan sebuket bunga dan sekotak coklat dikedua tangannya.

“Perfect. Tunggu aku, Hyunnie,” kata Eun Hyuk lalu keluar dari kamarnya dan memastikan semua pintu yang ada dirumahnya sudah terkunci. Kemudian ia masuk kemobilnya, menyalakan mesin, dan pergi dari menjauh dari rumahnya. Ia akan mengunjungi Hyun Ri, mantan yeojachingunya. Ia terus menyunggingkan senyumnya selama diperjalanan. Hatinya terus bersorak riang. Sesekali dipandangnya bunga lili dan sekotak coklat di jok penumpang. Walaupun mereka sudah cukup lama berpisah, tapi Eun Hyuk selalu ingat apa yang menjadi kesukaan Hyun Ri.

Forever you my girl…

Forever be my world…

You’re the only one…

The only one I ever need…

My life is you and me….

Eun Hyuk berdendang pelan sambil mendengarkan lagu dari ipodnya. Ini lagu kesukaan Hyun Ri. Ia teringat masa-masa saat masih bersama Hyun Ri. Mereka selalu menyanyikan lagu itu bersama.

“Ahh… aku menyesal telah memperkenalkan Seung Ri kepadamu, Hyunnie. Gara-gara dia, kau meninggalkan aku,” kata Eun Hyuk yang teringat akan mantan sahabatnya, Seung Ri.

Semua terasa begitu menyakitkan bagi Eun Hyuk ketika Seung Ri kembali dan masuk dikehidupan Eun Hyuk dan Hyun Ri. Sahabat kecil yang sangat dipercayanya, yang sangat dibanggakannya, tega mengambil Hyun Ri dari pelukannya. Memang menyakitkan, tapi itulah kenyataannya. Baginya, selama itu membuat Hyun Ri bahagia, ia ikhlas.

Eun Hyuk memarkir mobilnya ditepi jalan. Sekali lagi ia berkaca dikaca spion mobilnya. Ia tersenyum kecil melihat pantulan dirinya dari kaca mobil itu. Ia keluar dari mobilnya dan menyusuri jalan setapak dihadapannya. Semakin jauh ia menyusuri jalan itu, semakin banyak barisan batu berukir yang ditemuinya. Sesekali ia melewati pohon-pohon kecil diantara barisan batu. Ia berbelok kekiri lalu kekanan, lalu kekiri lagi *kebanyakan kiri mau ke neraka xD**plak*. Walaupun menempuh perjalan yang lumayan jauh, ia tidak merasa lelah sedikit pun. Bibir merahnya terus menyunggingkan senyum yang pernah membuat Hyun Ri jatuh cinta padanya. Kini ia kembali tersenyum seperti dulu; berharap Hyun Ri bisa kembali padanya.

Akhirnya Eun Hyuk menghentikan perjalanannya dan berdiri didepan sebuah batu. Batu itu sudah terlihat kusam karena tak pernah dikunjungi. Batu itu bertuliskan Song Hyun Ri serta tanggal-tanggal istimewa sekaligus menyakitkan yang tak mungkin dilupakan Eun Hyuk.

“Annyeong hasseyo, Hyun Ri-ya. Yeojum eottosaeyo? Bogoshippeunde,” kata Eun Hyuk dihadapan nisan itu. Ia berharap seorang yeoja akan keluar dari bawah batu itu dan membalas salamnya. Tapi tak terjadi apapun. Suasana tetap sunyi. Hanya deru angin dan rerumputan yang melambai seolah membalas salamnya.

“Lihat. Aku membawakanmu bunga lili dan coklat. Aku ingat kau sangat menyukai lili dan coklat,” kata Eun Hyuk yang masih terus tersenyum. Ia meletakkan buket bunga dan coklat itu didepan nisan tersebut.

“Ahh.. aku sangat merindukanmu, Hyunnie. Kau tahu aku sangat kesepian tanpa dirimu?” kata Eun Hyuk lagi. Senyum itu mulai menghilang dari bibir merahnya. Matanya sudah terasa panas.

“Hyun Ri-ya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau, kan?”

“Kita mau kemana, oppa?”

“Ikut saja. Aku yakin kau akan menyukainya,”

Kelebatan-kelebatan masa lalu mulai menghampiri Eun Hyuk. Bayangan akan Hyun Ri perlahan menembus benaknya. Rasanya sangat menyakitkan tapi Eun Hyuk membiarkannya. Ia menikmati setiap sensasi yang diciptakan dari rasa sakit itu. Rasa sakit yang diciptakan Hyun Ri untuk dirinya.

“Oppa, ini tempat yang sangat indah,” kata Hyun Ri sambil tersenyum riang.

“Aku kan sudah bilang kau pasti menyukainya,” kata Eun Hyuk yang juga tersenyum.

“Gomawo,oppa,”

“Sekarang tutup matamu,”

“Wae?”

“Ikut saja,”

Hyun Ri menutup matanya. Kemudian Eun Hyuk mengeluarkan sebuket bunga lili dari balik punggungnya.

“Buka matamu sekarang.” Eun Hyuk menyodorkan buket bunga itu dihadapan Hyun Ri.

“Jeongmal gomawo, Eun Hyuk oppa! Aku sangat-sangat suka bunga lili!” kata Hyun Ri sambil berlocat-loncat kecil. Ia sangat senang akan akan hadiah yang Eun Hyuk berikan.

“Cheonmanneyo, Hyun Ri-ya,” jawab Eun Hyuk yang tersenyum manis. Senyuman yang membuat Hyun Ri jatuh cinta pada Eun Hyuk untuk pertama kalinya.

“Sial kau, Hyunnie. Kenapa kau membuatku merasa seolah kau memberiku kesempatan untuk memilikimu saat itu?” kata Eun Hyuk. Ia menatap pilu nisan dihadapannya. Teringat tawa pertama yang diberikan Hyun Ri untuknya. “Huhh.. I’m hurted.”

Eun Hyuk mengajak Hyun Ri berkeliling tempat itu. Ia hanya bisa tersenyum melihat Hyun Ri bercerita tentang dirinya, tentang teman-temannya, tentang keluarganya.

“Oppa tahu? Aku sangat suka coklat. Hampir semua barang-barangku berwarna coklat,” kata Hyun Ri riang.

“Gurae? Kenapa kau sangat menyukai coklat?”

“Molla, tapi menurutku coklat membuatku lebih tenang. Apapun bentuknya, asalkan coklat bisa membuatku lebih baik.”

Semua jawaban polos Hyun Ri semakin menambah daya tarik Eun Hyuk, dan rasa sayang dalam diri Eun Hyuk semakin dalam.

“Hyun Ri-ya?”

Hyun Ri yang daritadi asik bercerita menghentikan ocehannya. “Wae, oppa?”

“Nan sarang handago, Hyun Ri-ya,” kata Eun Hyuk. Hyun Ri langsung menghentikan langkahnya dan memandang Eun Hyuk dengan pandangan bertanya.

“Gurae,oppa?”

“Ne. jeongmal saranghae, Hyun Ri-ya,”

“Na do saranghae,oppa.” Kedua pipi Hyun Ri merah seperti tomat saat mengatakan hal itu.

“Kau mau menjadi yeojachingu ku?”

“Ne, oppa. Aku mau.”

“Gomawo, Jagiya.”

Eun Hyuk memeluk Hyun Ri untuk pertama kalinya. Pelukan yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka.

“Kenapa kau memperbolehkan aku menjadi namjachingu mu saat itu?” kata Eun Hyuk yang masih memandangi nisan itu dengan pilu. “Aku sakit, Hyun Ri-ya. Dan hanya kau yang bisa menyembuhkan rasa sakit itu,”

Air mata mulai mengalir dari kedua pelupuknya. Kedua tangannya terkepal erat. Kakinya terasa sangat lemas.

“Bisakah kau kembali untuk menyembuhkan aku?”

“Saengil chukkahamnida, oppa,” kata Hyun Ri yang memeluk Eun Hyuk dari belakang.

Eun Hyuk membalikkan tubuhnya dan memeluk balik Hyun Ri.

“Gomawo, Hyunnie. Neoui saranghae,” kata Eun Hyuk. Ia menghirup aroma tubuh Hyun Ri yang lembut. Memeluk yeoja itu dengan erat dan berharap yeoja itu takkan pernah meninggalkannya. Hyun Ri adalah hadiah ulang tahun terindah baginya.

“Na do saranghae, oppa,” kata Hyun Ri.

Eun Hyuk mengecup kening Hyun Ri. Pelan tapi pasti, bibir Eun Hyuk turun ke kelopak mata Hyun Ri, turun mengecup pipi Hyun Ri.

“Jeongmal saranghae, Hyun Ri-ya.” Eun Hyuk melumat bibir Hyun Ri dengan lembut, menggairahkan, penuh sensasi, dan dengan penuh cinta….

“Huhh… kenangan itu.” Eun Hyuk tersenyum sendiri mengingat ciuman pertamanya dengan Hyun Ri. Ciuman yang menimbulkan sejuta sensasi, ciuman yang tak mungkin dilupakannya.

“Kau memberikan hadiah terindah untuk ulang tahunku, Hyunnie. Aku tentu tak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Gomawo.” Eun Hyuk kini tersenyum lagi. “Aku masih ingat rasa manis bibirmu. Dan aku bisa merasakannya sekarang.” Eun Hyuk terdiam. Ia menatap kosong nisan kusam itu. Entah apa yang merasuki otaknya, tapi ia berusaha mencari celah untuk mengangkat tubuh dibawah nisan itu.

“Hyunnie, kenalkan ini temanku.”

Hyun Ri menjabat tangan namja yang dihadapannya. Namja itu tak berhenti tersenyum melihat Hyun Ri.

“Choi Seung Ri imnida,” kata namja itu.

“Song Hyun Ri imnida.”

Seung Ri dan Hyun Ri terus bertatapan dan tersenyum dalam waktu yang cukup lama. Hal itu membuat Eun Hyuk resah. Entah kenapa, ia merasa bahwa Seung Ri sahabatnya, jatuh cinta kepada Hyun Ri.

“Hyunnie, kau ada janji dengan temanmu, kan?” tanya Eun Hyuk.

“Ne, oppa,” jawab Hyun Ri yang sedikit terkejut.

“Kau bisa pergi sendiri, kan?” tanya Eun Hyuk lagi.

“Ne, oppa. Annyeong,” jawab Hyun Ri lalu pergi dari tempat itu.

“Bagaimana menurutmu tentang Hyun Ri?” tanya Eun Hyuk ketika ia tinggal berdua saja dengan Seung Ri.

“Molla, tapi ia yeoja yang manis dan baik,” jawab Seung Ri sambil memandangi Hyun Ri yang semakin menjauh.

Eun Hyuk menatap nisan disamping nisan Hyun Ri.

“Pabo kau, Seung Ri!!” kata Eun Hyuk. “Aku tahu kau menyukai Hyun Ri sejak pertama kali melihatnya. Mulai saat itu aku takut kehilangan Hyun Ri.”

Eun Hyuk terdiam. Ia tersenyum pahit pada nisan mantan sahabatnya itu. Bayangan-bayangan masa lalu itu terus mendatanginya, tak mengenal kenangan indah maupun kenangan pahit. Seakan itu adalah hukuman baginya karena menyimpan rasa benci terhadap Hyun Ri.

“Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Hyun Ri.

“Mwoyo?” tanya Seung Ri.

“Tapi oppa jangan marah ya?”

“Ne.”

“Sebenernya, Seung Ri itu orangnya seperti apa?”

Raut wajah Eun Hyuk langsung berubah muram. Entah apa yang dirasakan Hyun Ri sampai ia berani bertanya tentang Seung Ri. Memang hal itu tidak salah, tapi bagi Eun Hyuk itu masalah besar.

“Kenapa kau menanyakannya?” tanya Eun Hyuk dengan nada curiga.

“Oppa marah” kata Hyun Ri dengan rasa takut.

“Aniyo.”

“Oppa mau memberitahuku kan?”

“Huhh.. kau ingin tahu tentang apa?”

“Apa saja.”

“Baiklah. Seung Ri adalah sahabatku. Kami sudah 7 tahun bersama. Ia adalah orang yang baik, pintar dance, pintar menyanyi, dan tentu saja ia tampan. Ketika aku susah, ia juga selalu ada untuk membantuku.”

“Kau tahu perasaanku saat Hyun Ri menanyakan tentang dirimu?” tanya Eun Hyuk sambil tersenyum pahit pada makan Seung Ri. Ia ingin marah tapi tak bisa. Seung Ri adalah sahabat satu-satunya, dan Hyun Ri mencintai Seung Ri. Ia tidak bisa melukai ataupun marah kepada orang yang dicintai Hyun Ri. Tapi kenyataan berkata lain. Hatinya marah, dendam susah menumpuk, sesak; jika harus mengingat semua tentang mereka bertiga. Seluruh jiwanya terasa sangan sakit.

“Segitu baiknya kah Seung Ri?” tanya Hyun Ri.

“Ne. tapi sebaik-baiknya orang tetap ada buruknya,” jawab Eun Hyuk.

“Maksud oppa?”

“Chagi, sewaktu sekolah Seung Ri terkenal sebagai namja yang sangat playboy. Hampir seluruh yeoja disekolahku ia kencani.”

“Gurae?” Hyun Ri seakan tidak percaya apa yang barusan dikatakan Eun Hyuk. Menurutnya, Seung Ri bukanlah orang yang seperti itu.

“Ne. kau harus menjaga jarak dengannya. Aku tak suka kau terlalu dekat dengannya.”

“Wae, oppa? Apa kau berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu?”

“Molla.”

“Aku tidak akan meninggalkan oppa. Saranghaeyo oppa.” Hyun Ri memeluk Eun Hyuk dengan erat.

“Araseo?”

“Araseo, oppa.” Eun Hyuk membalas pelukan Hyun Ri dengan erat. Ia benar-benar takut jika harus kehilangan Hyun Ri.

Eun Hyuk kembali memandangi nisan Hyun Ri. Hatinya terasa sakit walaupun masih ada sedikit rasa bahagia dihatinya.

“Gomawo, Hyunnie. Kau telah memberiku janji dan aku piker kau akan tetap setia pada janjimu.” Air mata Eun Hyuk berjatuhan membasahi tanah. Rasa penyesalan yang tidak jelas sangat menghantuinya. Sakit…. Bahkan terlalu sakit.

“Ani. Aku tak pernah menyesal denganmu hingga saat ini. Tapi aku tetap tak bisa memaafkanmu, juga orang yang telah mengambil dirimu dariku.”

“Mworago?” tanya Eun Hyuk. Ia bingung melihat kedatangan Seung Ri yang menggandeng tangan Hyun Ri.

“MWORAGO?” Suara Eun Hyuk semakin meninggi. Matanya berkilat-kilat. Emosinya dengan cepat telah mencapai titik maksimumnya.

“Hyun Ri bukan milikmu lagi,” jawab Seung Ri tenang. Tangannya menggandeng tangan Hyun Ri lebih erat dari sebelumnya saat mengatakan hal itu.

“GEOTJIMAL!” teriak Eun Hyuk.

“Ani. Itu benar oppa. Aku sadar bahwa aku lebih mencintai Seung Ri. Jeongmal mianhae oppa,” kata Hyun Ri dingin.

“Wae? Waeyo, chagi?!” tanya Eun Hyuk kepada Hyun Ri dengan nada frustasi.

“Jangan panggil aku ‘chagi’ lagi. Aku bukan yeojachingu mu lagi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi,” jawab Hyun Ri kaku.

“Bagaimana dengan semua janjimu, Hyun Ri-ya?!”

“Lupakan! Aku sudah bukan siapa-siapamu lagi.”

Eun Hyuk tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia berlari kearah Hyun Ri dan mendorong yeoja itu hingga terjatuh. Eun Hyuk tak segan untuk memukuli yeoja yang pernah mengisi hatinya dulu. Seung Ri marah melihat perilaku Eun Hyuk kepada Hyun Ri. Ia langsung menarik kerah baju Eun Hyuk dan memukul Eun Hyuk tanpa ampun. Eun Hyuk yang tidak terima diperlakukan seperti itu memukul Seung Ri balik. Mereka saling berkelut, menghajar satu sama lain, dan berusaha membinasakan lawannya.

“Berhenti!!!” teriak Hyun Ri histeris. Tapi kedua namja itu tidak menggubrisnya. Mereka terlalu asik dalam pergulatan yang sedang mereka lakukan *hiperbola banget ye? Wkwk*

Hyun Ri yang sudah habis kesabarannya ikut masuk dalam pergulatan itu. Ia berusaha untuk melerai kedua namja yang sedang berkelahi. Tanpa disengaja, pukulah Eun Hyuk salah sasaran dan mengenai Hyun Ri. Cipratan darah keluar dari mulut Hyun Ri. Hyun Ri langsung berlutut menahan sakit dari pukulan Eun Hyuk.

Eun Hyuk dan Seung Ri langsung menghentikan perkelahian mereka. Tubuh mereka serasa terpaku ditempat melihat Hyun Ri dalam keadaan yang sangat kesakitan.

“Hyun Ri-ya! Jeongmal mianhae!” teriak Eun Hyuk. Ia segera menghampiri Hyun Ri dan memeluk Hyun Ri.

Seung Ri semakin emosi melihat Eun Hyuk memeluk Hyun Ri. Dengan rasa marah yang luar biasa, ia mendorong tubuh Eun Hyuk hingga ia terjatuh. Lalu ia membopong Hyun Ri dan membawanya pergi dari tempat itu.

Kaki Eun Hyuk terasa sangat lemas. Ia terjatuh diantara nisan Seung Ri dan Hyun Ri. Ia menangis dan berteriak. Hatinya terasa dihantam bola api yang sangat panas saat memori akan kejadian itu dengan senang hati menghampirinya.

“Kalian semua brengsek!” teriak Eun Hyuk. Ia masih terus menangis.

Langit menjadi mendung. Perlahan butiran air hujan turun dari langit yang tidaklah lagi seputih kapas. Eun Hyuk masih disana dan tidak beranjak dari posisinya. Bunga lili dan coklat yang dibawa Eun Hyuk pun mulai basah karena hujan.

“Jeongmal mianhae, Hyunnie. Aku tak bermaksud melukaimu saat itu,” kata Eun Hyuk. Tapi semua sudah terlambat untuk disesali. Kini ia hanya bisa merasakan kesakitan bila memori itu akan dirinya dan Hyun Ri datang menghantuinya lagi.

“Tapi aku harus tetap belajar bersyukur. Setidaknya pukulan itu bisa menjadi pelajaran bagimu agar kau bisa merasakan bagaimana sakitnya aku ketika kau meninggalkan aku.”

Hari semakin larut. Matahari sudah memasuki peraduannya. Hujan turun semakin deras. Dan Eun Hyuk tetap tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya berdiri, berlutut, duduk, lalu berdiri lagi; agar tidak merasa terlalu capek. Masih di tempat yang sama; diantara nisan Seung Ri dan Hyun Ri. Ia bermain-main kecil dengan kelopak bunga lili yang mulai remuk oleh derasnya hujan.

Kepalanya terasa sangat pusing. Badannya sudah kedinginan. Napasnya mulai terasa sesak karena ia tidak tahan dengan cuaca dingin. Tubuhnya sangat lemas. Kedua kakinya terasa tidak kuat untuk menopang berat badannya lagi.

“Yeobosaeyo?”

“Annyeong, Eun Hyuk-ssi. Ini umma nya Hyun Ri.” Eun Hyuk terdiam. Ia merasa ada yang aneh. Untuk apa umma Hyun Ri meneleponnya? Dan suara umma Hyun Ri juga terdengar seperti menahan tangis.

“Mworago, ahjumma?” tanya Eun Hyuk.

“Hyun Ri…dan Seung Ri kecelakaan,” jawab ahjumma.

Eun Hyuk terdiam kembali. Ia berusaha mencerna informasi yang baru diterimanya itu. Sementara ahjumma masih setia menunggu respon Eun Hyuk. Tapi Eun Hyuk hanya diam dan tidak memberikan respon apapun.

“Seung Ri meninggal. Hyun Ri masih koma, tapi kondisinya tak memungkinkan ia mampu bertahan lebih lama,” lanjut ahjumma.

Eun Hyuk masih diam. Tapi ia sudah bisa menangkap maksud dari informasi itu. Artinya, Seung Ri sahabatnya sudah pergi untuk selamanya. Hyun Ri… yeoja yang dicintainya, juga akan pergi untuk selamanya. Ia tak tahu harus merasakan apa. Tapi itu sangat menyakitkan. Hyun Ri….

“Ahjumma harap kau mau menjenguk Hyun Ri. Ahjumma tahu bahwa Hyun Ri masih mencintaimu,” kata ahjumma lalu telepon itu terputus.

Eun Hyuk masih terdiam dan tak merubah posisinya. Tangannya masih tetap menggenggam teleponnya. Ahjumma bilang bahwa Hyun Ri masih mencintainya. Baginya itu hanyalah bullshit. Tapi tetap saja Hyun Ri akan pergi dan tak akan pernah kembali padanya.

Eun Hyuk segera keluar dari rumahnya, dan langsung pergi ke rumah sakit tempat Hyun Ri dirawat. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli berapa banyak klakson yang menyapanya, atau berapa banyak lampu merah yang dilewatinya, dan tak peduli berapa banyak orang yang telah ditabraknya. Baginya yang terpenting saat ini adalah Hyun Ri.

Eun Hyuk segera keluar dari mobilnya dan berlari ke ruang tempat Hyun Ri dirawat. Langkahnya terhenti didepan pintu kamar Hyun Ri. Ia mengintip dari celah kaca pintu itu. Hyun Ri tertidur kaku, tanpa ekspresi, pucat.

Perlahan-lahan, kakinya melangkah memasuki kamar itu. Ia duduk disebelah tempat tidur Hyun Ri sambil menggenggam tangan yeoja itu dan menatapnya penuh kesedihan.

“Ini hukumanmu karena meninggalkan aku,” kata Eun Hyuk lembut. Ia mengelus pipi Hyun Ri yang pucat.

“Luka-luka ditubuhmu adalah luka yang sudah kau ciptakan untukku selama ini.” Tanpa sadar, air mata Eun Hyuk menetes dari kedua pelupuk matanya.

“Aku yakin kau pasti berpikir bahwa aku orang yang jahat. Dan kenyataannya seperti itu. Tapi aku berharap kau tidak akan meninggalkan aku. Saranghae Hyun Ri.”

Kali ini Eun Hyuk benar-benar menangis. Air mata membasahi tempat tidur Hyun Ri. Walaupun ia membenci Hyun Ri, tapi ia tetap mencintainya. Ia tidak rela jika harus kehilangan Hyun Ri lagi.

Eun Hyuk terkejut. Tiba-tiba saja napas Hyun Ri menjadi satu-satu. Tekanan jantungnya tidaklah normal lagi.

“Dokter!!!” teriak Eun Hyuk dalam tangisnya. Tapi tak ada satupun yang menjawab walaupun ia sudah berteriak berulang kali. Mungkin ini memang sudah takdir. Hyun Ri memang harus pergi dan meninggalkan Eun Hyuk.

“Kau tahu sakitnya hatiku saat itu? Saat kau memutuskan untuk meninggalkan aku selamanya?” Tubuh Eun Hyuk sudah sangat lemas. Ia tertidur diantara kedua nisan orang yang membuatnya mengalami kesakitan.

Eun Hyuk POV

Pabo! Aku memang pabo! Untuk apa aku menderita seperti ini demi orang yang sudah meninggal? Lagipula orang itu juga telah menyakitiku. Ini semua tidak adil. Aku benci mereka. Aku benci Hyun Ri. Aku benci Seung Ri. Mereka pembohong besar. Mereka hanya bisa mengucapkan janji palsu. Dasar manusia munafik! Sekarang kalian berdua sudah bersenang-senang, kan? Kini hanya ada aku sendiri, menjalankan sisa-sisa penderitaanku sendiri. Kalian sangat jahat. Kalian pasti menertawakan aku dari tempat yang tidak kuketahui bukan? Aku benci kalian seumur hidupku.

Eun Hyuk POV end

RCL ya ^^

%d blogger menyukai ini: