Arsip

Archive for Januari, 2011

Januari 29, 2011 Tinggalkan komentar

yoochun

Iklan
Kategori:DBSK Tag:

SF/KEEP YOUR HEAD DOWN/PG13

Januari 28, 2011 Tinggalkan komentar

Title: Keep Your Head Down
Song: DBSK – Keep Your Head Down
Genre: Sad Romance
Rating: +13
Cast:
-Park Jung Min SS501
-Shim Sekyong

***
Park Jung Min POV

I didn’t even start yet
(We broke up) I haven’t even heard the reason yet
Everyone keep asking me I’m like this
Why are you like that, why are you like this
I’m already a bad guy

Aku terlalu frustasi untuk mempertahankan hubunganku dengan Shim Sekyong. Setiap kali kami bertemu selalu diakhiri pertengkaran. Mungkin kami memang bukan jodoh.
Awalnya semua terasa begitu menyenangkan. Aku rasa kalian mengerti bagaimana perasaan seseorang yang baru berpacaran, kan? Semua jadi begitu indah. Kami selalu mengucapkan satu sama lain untuk selalu bersama. Sekyong selalu mengatakan bahwa ia akan selalu bersamku. Apapun keadaanya.
Itu semua ‘awalnya’. Tujuh tahun berlalu, semua tidak seindah dulu. Seperti yang kukatakan tadi, tiap kali kami bertemu selalu diisi pertengkaran-pertengkaran yang tidak mempunyai alasan yang cukup jelas. Menurutku, saat ini baik aku maupun Sekyong sama-sama menjadi egois. Mungkin saja ia sudah bosan denganku. Tapi aku tak pernah bosan dengannya. Aku hanya muak dengan sikapnya yang selalu bermanja-manja ria.
Well, hari ini aku akan bertemu dengannya lagi. Hanya berkencan biasa (yang mungkin diakhiri pertengkaran). Aku sudah mengusahakan penampilanku sesempurna mungkin agar ia tidak memarahiku lagi. Tapi jika hal itu terjadi, aku tidak segan-segan untuk mengakhiri hubunganku dengan Sekyong. Aku tidak butuh yeoja yang hanya bisa bermanja-manja.

(If it’s a sin) If loving you was a sin
(If that was a sin) If being genuine is a sin
(I’ll keep it low, I’ll keep it low)
I hold it in and stand my ground

Aha! Seharusnya aku tahu ini akan terjadi. Aku memang harus mengakhiri hubunganku. Itu yang terbaik untuk saat ini.
Ketika aku datang, Sekyong langsung memarahiku. Alasannya karena aku telat lima menit. Bunga yang aku berikan padanya dibuang begitu saja dihadapan orang banyak. Aku sudah dipermalukan! Dan saat itu juga aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Aku meninggalkan Sekyong sendiri dan tak peduli ia memohon-mohon supaya aku tidak meninggalkannya. Aku terlalu muak mendengar semua alibinya. Lebih baik jika aku melupakannya, bukan? Tentu saja.

I was always satisfied with having you
I was happy to dream, the same as you
No matter what they said, I had to let you go
But I’m just walking my path anyway
Now I’m just chillin’, feel like I’m healing

Aku selalu bahagia memiliki Sekyong sebagai bagian dari hidupku. Aku senang jika bermimpi menjadi dirinya. Menghayal bagaimana ia menghayalkan aku setiap harinya. Menghayalkan dirinya merindukan aku. Tapi semua itu sudah berakhir. Orang bilang sangat disayangkan aku mengakhiri hubunganku yang sudah berjalan cukup lama. Aku tidak peduli. Aku punya hak untuk membiarkannya pergi dan menghilang. Aku bisa menjalani hidupku sendiri. Aku berusaha untuk terbiasa, dan aku tahu itu akan baik-baik saja.

It’s too late
You said you can’t come back
You’ve always believed that I’d
crumble without you
That’s a misunderstanding
Why would I do that? Why, why
I told you I wouldn’t

Semua sudah terlambat untuk kembali. Aku akan baik-baik saja walaupun Sekyong menyumpahi bahwa aku tidak bisa hidup tanpa dirinya dan ia tidak bisa hidup tanpa aku. Tapi lihat sekarang. Aku baik-baik saja. Ia juga baik-baik saja, mungkin ia sudah mendapat namjachingu yang baru. Ia juga tidak pernah berpikir untuk bunuh diri karena aku meninggalkannya.
Kalaupun ia memintaku untuk kembali padanya, aku dengan senyum lebar akan dengan senang hati menolaknya. Aku senang dengan hidupku yang sekarang.

Ha! Don’t play with people like that
In front of me, all you do’s speak of lies
You’re such a two-faced person

Jangan pernah sekalipun kalian bermain-main dengan orang sejenis Sekyong. Semua yang ia katakan padaku tidak lebih dari sebuah kebohongan. Tak ada gunanya ia berjanji akan menjadi yeoja yang baik untukku. Lihat saja sekarang! Aku tidak mungkin meninggalkannya jika ia tidak bersikap menjijikkan seperti itu. Ia tahu aku tidak suka yeoja yang hanya bermanja-manja ria, yeoja yang akan marah-marah jika namjachingu nya tidak datang tepat waktu. Tapi apa yang dilakukannya? Ia malah bersikap seperti itu. Mungkin ia memang ingin mengakhirinya juga dengan cara seperti ini. Orang munafik.

Since when did our crystal-like feelings because so opaque?
Our love has ended
I’ve let you go
And now my heart is empty

Aku sadar semua sudah berakhir. Aku sudah rela ia pergi dan tak memunculkan mukanya dihadapanku lagi. Apapun yang akan dilakukannya, aku tidak akan peduli. Dan sekarang hatiku menjadi kosong. I know it will be better after a while. I recognize it well.

But my future is gesturing towards me
to get up and smile
I’m letting you go, live happily
One day far from now, far from now,
I want to just smile comfortable

Tapi masa depanku sudah terbentang dihadapanku dimana aku bisa melihat diriku terbangun dari semua omong kosong ini dan tersenyum. Aku membiarkan Sekyong pergi dan membiarkannya untuk hidup bahagia tanpa aku. Aku bukan namja yang baik untuknya. Ini seperti dongeng saja, hanya berbeda akhirnya. Mungkin dihatiku yang terdalam masih tersisa sedikit sakit. Tapi suatu hari yang jauh dari sekarang, aku dapat tersenyum dengan nyaman tanpa satupun masalah soal percintaan.

Park Jung Min POV end

Shim Sekyong POV

Why~
You let go our love so easly
Did you ever think that someone would get worried?
I don’t think you know yet
Exactly just what you let go of
Just remain there and watch me grow

Siapa pernah menyangka Jungmin akan meninggalkan aku seperti ini? Ini sungguh diluar akal sehatku. Bagaimana ia bisa melakukan hal itu? Apa aku berbuat sesuatu yang salah? Apa ia sudah tidak mencintaiku lagi? Tapi mengapa? Aku masih mencintainya.
Tapi bagaimanapun juga semua sudah berakhir. Mungkin ini memang yang terbaik. Mungkin aku tidak ditakdirnya bersamanya. Tapi tetap saja hati ini sakit. Kalau ia bisa meninggalkan aku begitu tragisnya, aku juga harus bisa. Tentu saja aku bisa. Suatu saat nanti, ia akan melihat aku baik-baik saja walaupun ia tidak peduli denganku. Dan aku tak pernah berharap untuk kembali kepada namja yang dengan mudahnya mencampakkan aku.

Keep your head down
Erased, disappeared, you’ve burned to death in my heart
Keep your head down
Erased, disappeared, you’ve died in my heart
And you no longer exist

Aku harus bisa melupakan Jungmin, menghapus semua kenangan yang ada. Aku tidak boleh stres atau apapun. Aku tahu aku harus bisa menjalani hidupku sebelum Jungmin hadir. Ia sudah terbakar dalam kematian jauh didalam hatiku. Jungmin sudah mati dihatiku. Dan ia tak akan pernah lagi muncul dihidupku.

THE END

Dark Story from South Korea: The Beginning

Januari 28, 2011 Tinggalkan komentar

 

Title: Dark Story from South Korea: The Beginning
Rate: All ages
Genre: Action Romance
Length: One Shot
Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri
Cast:
-Eun Hyuk Super Junior
-Park Yoochun JYJ
-Shim Changmin TVXQ
-Choi Sun Li
-Park Seung Hee
-Song Hyun Ri
***

“Aku tak mengerti,” kata Eun Hyuk saat dirinya dan Hyun Ri sedang makan siang disebuah restoran kecil. “Mengapa kau lebih memilih bersamaku dibanding Yoochun? Yoochun sosok yang sempurna untukmu. Dia tampan, kaya, dan semua yang kau inginkan pasti akan dipenuhinya,” kata Eun Hyuk sambil menyeruput sisa asparagusnya.
“Aku lebih nyaman bersamamu. Lagipula aku berhubungan dengan Yoochun karena itu wasiat yang ditinggalkan umma. Kau tahu keluargaku punya utang yang banyak terhadap keluarga Park. Hanya ini yang bisa kulakukan agar umma senang,” jelas Hyun Ri.
“Entahlah. Aku tetap sulit mengerti,” kata Eun Hyuk dengan suara rendah.
“Apa yang tidak kau mengerti?”
“Mengapa kau merasa nyaman denganku?” tanya Eun Hyuk. Hyun Ri menyunggingkan senyum lembut.
“Pertama, aku terlanjur mencintaimu. Kau lebih dulu merebut hatiku. Kedua, aku mendapatkan sesuatu yang sangat berharga darimu dan Yoochun tidak bisa memberikan itu untukku,” kata Hyun Ri penuh keyakinan.
“Mollayo. Tapi aku merasa Yoochun sangat mencintaimu. Aku merasa bersalah jika seperti ini caranya,” kata Eun Hyuk dengan suara rendah.
Hyun Ri menghela napasnya. Ia mengatupkan sendok dan garpunya. Ia tidak berselera untuk menghabiskan makanannya. Itulah yang menjadi dasar rasa bersalah pada diri Min Ji. Yoochun sangat mencintainya, tapi ia tidak pernah mampu membalas perasaan itu. Dan yang lebih parah, ia tetap menjalin hubungan dengan Eun Hyuk ketika ia memutuskan untuk menjadi yeojachingu Yoochun.
“Ne, aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak mempunyai rasa apapun terhadapnya,” kata Hyun Ri lesu.
“Sudahlah. Kita lupakan saja,” kata Eun Hyuk sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Ia menggenggam lembut kedua tangan Hyun Ri sebagai tanda empatinya.
“Itu lebih baik,” kata Hyun Ri. “Kurasa kita harus pulang sekarang. Aku takut Yoochun mendapatiku tidak dirumah.”
Lalu kedua pasangan itu keluar dari restoran tersebut. Eun Hyuk memutuskan untuk mengantar Hyun Ri dengan mobil sedan tuanya agar Hyun Ri lebih cepat tiba dirumahnya.

***

Yoochun menatap penasaran. Siapa namja yang bersama Hyun Ri? Dan, mereka mau kemana? Hati Yoochun resah melihat Hyun Ri bersama namja asing itu.
Saat itu, Yoochun memang ingin makan siang. Kebetulan restoran yang dipilih Yoochun adalah restoran yang sama dengan restoran yang dipilih Eun Hyuk dan Hyun Ri. Ketika Yoochun ingin turun dari limosinnya, ia melihat Hyun Ri keluar dari restoran itu bersama seorang namja yang tidak dikenalnya.
“Aniyo. Aku tidak boleh berpikiran negative dulu. Akan kutanyakan nanti pada Hyun Ri,” kata Yoochun yang berusaha menenangkan pikirannya.
Setelah Eun Hyuk dan Hyun Ri menjauh, barulah Yoochun turun dari limosinnya. Ia masuk ke restoran itu dan langsung memesan makan siangnya.
Ia melahap makan siangnya dengan terburu-buru. Setelah itu ia langsung meletakkan uang dan keluar dari restoran itu.
“Kerumah Hyun Ri sekarang,” kata Yoochun kepada supirnya. Segera saja limosin hitam itu meluncur dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Beberapa saat kemudian, limosin itu berhenti didepan sebuah rumah yang bisa dikatakan sederhana. Bangunan luarnya berlapis cat putih yang sudah terlihat kusam. Beberapa tanaman liar menghiasi halaman rumah itu.
Yoochun menghela napas. Hatinya merasa tidak enak terhadap Hyun Ri tapi ia harus mendapatkan penjelasan dari Hyun Ri tentang namja yang bersamanya. “Jeongmal mianhae, Song Hyun Ri. Aku tidak bermaksud mencurigaimu,” kata Yoochun lesu.
Ia melangkahkan kakinya menuju rumah itu. Mengetuk pintunya beberapa kali. Tak lama setelah itu, seorang yeoja dengan pakaian rumah santai keluar menyambutnya.
“Annyeong, Hyunie. Mian aku baru mengunjungimu sekarang,” sapa Yoochun sambil mengecup sekilas pipi Hyun Ri.
“Gwenchanhayo. Kau mau berkunjung saja sudah membuatku senang,” kata Hyun Ri sambil tersenyum.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yoochun basa basi.
“Membuat beberapa cemilan kecil. Masuklah dulu,” ajak Hyun Ri. Mereka pun masuk dan langsung menuju dapur karena Hyun Ri harus menyelesaikan pekerjaannya.
“Kau sudah makan siang?” tanya Yoochun.
“Ne, tadi aku makan diluar,” jawab Hyun Ri.
“Sendirian?” Yoochun berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar seperti polisi yang sedang menginterogasi tahanannya.
Raut wajah Hyun Ri hampir berubah panik. Ia mendapat feeling bahwa Yoochun melihatnya bersama Eun Hyuk saat direstoran. Dan rasanya akan lebih baik jika ia mengatakan sedikit kebenaran kepada Yoochun. Ia sadar bahwa ia tidak bisa berbohong pada Yoochun.
“Aku…aku..bersama Eun Hyuk,” kata Hyun Ri gugup. “Ia teman lamaku sewaktu SMA dulu,” Tentu saja yang terakhir tadi kebohongan kecilnya. Ia tidak terlalu bodoh untuk mengatakan yang sejujurnya.
“Tadi aku melihatmu bersama seorang namja keluar dari restoran,” jelas Yoochun, lega. Ia berpikir bahwa Hyun Ri telah mengatakan yang sebenarnya.
“Mian aku tidak memberitahumu,” kata Hyun Ri.
“Gwechanayo.”
Keduanya sama-sama merasa lega. Yoochun lega karena telah mengetahui namja yang bersama Hyun Ri. Dan Hyun Ri lega bisa mengelabui Yoochun walaupun ia tahu ia sudah dalam masalah besar karena memberitahu soal Eun Hyuk.

A few days later….
“Aku rasa ada yang salah dengan Yoochun,” kata Hyun Ri ketika Eun Hyuk menjemputnya.
“Dia sudah tidak peduli denganmu?” tanya Eun Hyuk asal.
“Ya kira-kira seperti itu.”
“Bukannya itu bagus? Bisa saja ia jatuh cinta kepada yeoja lain.”
“Ani. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku takut kalau Yoochun mengawasi kita.”
“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?”
“Ia melihat ketika berdua ketika direstoran.”
Air muka Eun Hyuk berubah kaku. Saat itu juga Eun Hyuk kalau mereka sedang dalam masalah besar.
“Lalu?” tanya Eun Hyuk khawatir.
“Aku bilang kau temanku sewaktu SMA dulu. Saat itu kurasa ia tidak mencurigaiku. Beberapa hari setelah itu barulah sikapnya berubah,” jelas Hyun Ri.
“Hyun Ri -ya, perasaanku tidak enak. Yoochun bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh kita jika ia tahu hubungan kita.”
“Apa yang harus kita lakukan?” Rasa takut itu menyelinap secepat kilat kedalam otak Hyun Ri. Yoochun bisa saja dengan mudah mengetahui hubungannya dengan Eun Hyuk. Ia bisa menyewa sepasukan mata-mata untuk mengawasi mereka. Dan jikapun mereka kabur, Yoochun bisa dengan mudah menemukan mereka.
“Kita kembali kerumahmu lagi. Kita akan kabur jadi kau perlu menyiapkan barang-barang yang kau perlukan,” kata Eun Hyuk tegas. Walaupun suranya tegas, tapi hatinya takut luar biasa. Sejak pertama kali mendengan nama Yoochun, ia tahu bahwa namja tajir itu psikopat.

***

Ruangan itu gelap. Hanya disinari cahaya dari monitor-monitor yang luar biasa lebarnya sampai monitor berukuran super kecil. Tombol dalam berbagai bentuk berkelap-kelip dalam irama yang tidak teratur. Beberapa tuas aneh juga menghiasi ruangan tersebut.
Seorang pria separuh baya sibuk menekan tombol-tombol itu. Jas putih, tubuh yang setengah bungkuk, kacamata tebal. Jelas pria separuh baya itu adalah orang jenius. Diruangan itu ada namja lain. Tapi namja ini terlihat jauh lebih muda dan berwibawa. Ia mengenakan jas hitam, sepatu mengkilat, rambut hitam yang tertata rapi, kulit putih yang terlihat agak pucat, bibir merah. Umurnya mungkin baru sekitar 24 tahun. Yeoja manapun tak akan bisa melepaskan pandangannya jika telah melihat namja yang satu ini.
Perhatian namja itu terfokus pada LCD yang sangat besar. Kedua tangannya terkepal erat menahan emosi. Monitor yang dilihatnya sedari tadi hanya menampilkan percakapan seorang namja dan seorang yeoja dalam perjalanan entah kemana. Raut muka kedua orang dalam layar tersebut menyiratkan ketakutan, seakan nyawa mereka dalam bahaya.
“Apa yang harus kulakuan?” tanya yeoja itu.
“Kita kembali kerumahmu….”
Namja yang berada dalam ruangan itu menghela napasnya. Hatinya panas. Tentu saja! Yeoja yang selama ini ia cintai ternyata…..
“Terus awasi kemanapun mereka pergi. Jangan sampai kehilangan jejak mereka,” kata namja itu kepada namja separuh baya berperawakan jenius.
“Ne,” jawab namja paruh baya itu.

Yoochun langsung naik kemobilnya. Ia tidak tahu lagi apakah Hyun Ri akan benar-benar meninggalkannya. Ia hanya menginginkan Hyun Ri, bahkan ia mungkin akan membunuh Eun Hyuk jika itu benar-benar diperlukan.
“Kita mau kemana, Tuan?” tanya supir Yoochun.
“Pulang saja,” jawab Yoochun lesu.
Mobil Yoochun langsung bergerak dengan kecepatan tinggi. Supirnya tahu bahwa tuannya sedang terburu-buru, ada hal penting yang harus dilakukannya. Setiap kali Yoochun berkunjung ke rumah profesor itu, pasti ada suatu hal yang penting yang harus dilakukannya.
Begitu sampai dirumah, Yoochun langsung mengumpulkan seluruh anak buahnya. Yoochun menyuruh mereka semua untuk mengikuti kemanapun Hyun Ri dan Eun Hyuk pergi.
“….tetap melapor apapun keadaannya. Jika mereka sudah menetap disuatu tempat, langsung beritahu aku,” perintah Yoochun. “Jangan sampai kalian dicurigai!” tambahnya. Setelah itu, anak buah Yoochun mulai berpencar menyiapkan segala sesuatu yang mereka perlukan. Yoochun yakin saat ini Hyun Ri pastilah belum keluar dari Seoul.
Setelah ruangan itu benar-benar kosong, ia berjalan menuju ruang kerjanya. Ia benar-benar frustasi. Tak disangkanya bahwa Hyun Ri tak pernah mencintainya. Ia terpaksa melakukan semua ini. Ia tak bisa melihat Hyun Ri bersama namja lain.
“Jeongmal mianhae, Hyun Ri -ya.”

***
“Kita akan kemana?” tanya Hyun Ri sambil memasukkan barang-barangnya kedalam ransel.
“Kemana saja. Yang jelas kita harus jauh dari Yoochun sesegera mungkin. Kkaja!” kata Eun Hyuk sambil menarik tangan Hyun Ri. Tapi Hyun Ri tidak bergerak. Ia tetap berdiri ditempatnya dan memandang Eun Hyuk dengan tatapan penuh tanya.
“Waeyo?” tanya Eun Hyuk heran.
“Yang diinginkan Yoochun adalah aku. Jika aku terus bersamamu, maka hidupmu terancam. Lebih baik aku kembali kepada Yoochun dan kau larilah ke tempat yang jauh agar Yoochun tidak bisa menemukanmu,” kata Hyun Ri tanpa ekspresi apapun.
Eun Hyuk kaget mendengar apa yang barusan dikatakan Hyun Ri. “Aniyo. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri.”
“Tapi kau akan mendapat bahaya besar jika kau terus bersamaku,” kata Hyun Ri. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia sadar bahwa ia akan membawa Eun Hyuk kedalam masalah besar jika terus bersamanya.
“Aku tidak mau hidup tanpamu. Kita harus menghadapi semua ini bersama. Araseo?” kata Eun Hyuk. Lalu ia menarik Hyun Ri dalam pelukannya.
Ketika ia meraba leher Hyun Ri, ia menemukan benda kecil aneh pada pengait kalung yang dikenakan Hyun Ri. Ia segera melepaskan benda aneh yang kecilnya seperti semut.
“Lihat!” kata Eun Hyuk sambil menunjukkan benda itu pada Hyun Ri.
“Apa ini?” tanya Hyun Ri sambil mengamati benda aneh itu.
“GPS atau mungkin kamera pengawas atau apalah, menurutku. Dan aku yakin Yoochun lah yang memasangnya,” kata Eun Hyuk. Perut Hyun Ri serasa melilit. Ini berarti Yoochun telah mengetahui rencana mereka untuk kabur.
“Kkaja! Kita sudah ketahuan,” kata Hyun Ri yang langsung berlari keluar rumah. Eun Hyuk mengikutinya dari belakang.
Benda aneh kecil itu ditinggalkannya ditempat tidur Hyun Ri. Mereka kabur menggunakan mobil milik Jun Hyung. Mereka sangat berharap Yoochun tidak tahu kemana mereka pergi.

***

“Mereka telah meninggalkan rumah, Tuan,” kata seseorang melalui ponselnya.
“Terus ikuti mereka. Jangan sampai kehilanganjejak,” perintah suara yang diseberang ponsel itu.
Sekelompok orang yang sedari tadi mengamati rumah Hyun Ri mulai bergerak dan siap membuntuti kemanapun Eun Hyuk dan Hyun Ri pergi.

***

Mobil Eun Hyuk melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Seoul. Suasana hening menyelimuti mobil itu. Baik Eun Hyuk maupun Hyun Ri sibuk memikirkan masalah masing-masing. Mereka tidak menyangka kalau masalah mereka mampu serumit ini. Dan mereka tak pernah tahu bagaimana akhir dari semua ini.
Beberapa kali Eun Hyuk menatap kaca spionnya. Ia takut jika anak buah Yoochung mengikuti mereka. Sayangnya, terlalu banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Eun Hyuk tidak dapat memastikan bahwa diantara sekian banyak mobil, salah satunya ada yang mengikuti mereka.
“Kita mau kemana?” tanya Hyun Ri tiba-tiba.
“Mollasaeyo. Aku belum tahu tempat yang cukup aman,” jawab Eun Hyuk tanpa sekalipun menatap Hyun Ri.
“Kalaupun kita belum sampai, kita tetap harus beristirahat,” saran Hyun Ri.
“Ne, naneun aldayo,” kata Eun Hyuk sambil menghela napasnya, sedikit merasa putus asa.
Hari semakin malam. Eun Hyuk memutuskan menginap semalam disebuah wisma di daerah yang entah apa namanya. Setelah memesan kamar mereka langsung menuju kamar mereka. Untuk menghemat, Eun Hyuk memutuskan untuk memesan satu kamar.
“Lebih baik kau mandi sekarang. Aku yakin kau sangat lelah,” kata Eun Hyuk ketika tiba dikamar mereka. Hyun Ri menurutinya.
Sementara menunggu Hyun Ri mandi, Eun Hyuk memikirkan tempat yang aman untuk mereka. Haruskah ia keluar dari Korea? Tapi kemana? Lagipula ia kasihan terhadap Hyun Ri jika harus terus melarikan diri seperti ini.
Tidak lama kemudian Hyun Ri keluar dari kamar mandi. “Eun Hyuk -ah, lebih baik kau juga mandi,” kata Hyun Ri.
“Ne,” jawab Eun Hyuk sambil mengambil pakaian gantinya dan bergegas mandi.

***

Dua orang dari beberapa orang yang mengikuti Eun Hyuk dan Hyun Ri mengawasi tidak jauh dari kamar mereka. Kedua orang itu terus berbicara melalui walkie talkie, memberi laporan kepada temannya yang lain, lalu menyampaikan laporan itu kepada bos mereka, Yoochun.
“Aniyo. Aku tahu mereka tidak akan menetap disana. Lebih baik kalian terus ikuti mereka. Jangan sampai kehilangan jejak,” kata Yoochun begitu menerima laporan dari anak buahnya.
Yoochun harusnya beruntung mempunyai anak buah yang menurut padanya. Mereka langsung melaksanakan apa yang Yoochun perintahkan kepada mereka.
Malam itu juga tidak ada satupun anak buah Yoochun yang tidur. Mereka khawati bahwa Eun Hyuk dan Hyun Ri dapat pergi kapanpun. Tentu saja nyawa mereka taruhannya jika mereka kehilangan Eun Hyuk dan Hyun Ri.
Ternyata apa yang mereka khawatirkan benar terjadi. Pukul 3 pagi, Eun Hyuk dan Hyun Ri check out dari wisma itu. Segera anak buah Yoochun memberi laporannya kepada Yoochun lalu mengikuti Eun Hyuk dan Hyun Ri.

***

“Mianhae mengganggumu tidur. Tapi lebih baik jika kita berangkat cepat sebelum tertangkap anak buah Yoochun,” kata Eun Hyuk sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Gwenchanhayo. Aku setuju-setuju saja jika itu berarti kita selamat,” kata Hyun Ri sambil menguap. Sebenarnya ia masih mengantuk karena kemarin ia mengalami hal yang sangat melelahkan.
“Tidur lagi saja kalau masih mengantuk,” kata Eun Hyuk sambil menyunggingkan senyumnya. Hyun Ri menurut. Ia memejamkan matanya dan kembali terlelap.
Sementara itu Jun Hyung kembali memikirkan kemana mereka harus pergi. Begitu banya tempat yang singgah di otaknya sehingga ia sulit berkonsentrasi pada satu tempat.
“Aku tak tahu kemana kita harus bersembunyi,” kata Eun Hyuk pelan. Ia menatap sekilas kearah Hyun Ri yang sedang tidur.
Tak peduli arah, ia terus mengendarai mobilnya kemanapun otaknya menyuruh. Melewati desa-desa kecil, hutan, ladang, sawah, dan ke kota lagi. Hingga matahari terbit sempurna pun ia tidak memberhentikan mobilnya.
“Kita belum sampaikah?” tanya Hyun Ri begitu ia terbangun. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
“Bersabarlah,” kata Eun Hyuk sambil tersenyum lembut. “Kau lapar?”
Hyun Ri menggelengkan kepalanya. “Lebih baik kita gantian menyetir saja. Kau terlihat sangat lelah,” kata Hyun Ri prihatin. Memang sekarang wajah Eun Hyuk terlihat lebih lusuh. Kantung dikedua matanya pun semakin tebal. Bibirnya juga terlihat pucat. Persis orang yang tidak tidur berhari-hari.
“Aniyo. Naneun gwenchanhayo. Lagipula kau tidak tahu kemana kita akan pergi, kan?” kata Eun Hyuk.
“Kau juga tidak tahu kemana kita pergi, kan?” tanya Hyun Ri dengan ketus.
Eun Hyuk hanya tersenyum kecil. Seharusnya ia tahu Hyun Ri akan mengeluarkan asumsi seperti itu. Lagipula ia memang sangat lelah. Ia ingin sekali istirahat.
“Ne, aku memang tidak tahu,” jawab Eun Hyuk sambil tersenyum.
“Kenapa aku harus punya namjachingu sepertimu,” kata Hyun Ri sambil menggeleng-geleng kepalanya. Eun Hyuk tetap tersenyum.
“Jebal, kau sudah sangat lelah. Aku tidak ingin kau sakit,” bujuk Hyun Ri.
“Aniyo. Kemungkinan kita tersesat lebih besar jika kau yang mengemudikannya,” kata Eun Hyuk sambil menahan tawa atas asumsinya sendiri.
“Tak perlu aku yang mengemudikan pun kita sudah tersesat,” Hyun Ri mengerucutkan bibirnya.
“Gwenchanhayo kalau kita tersesat. Kita tidak akan kembali sebelum Yoochun mati. Dan kau tahu sendiri membunuh Yoochun merupakan hal yang sangat sulit dilakukan,” kata Eun Hyuk.
“Aniyo. Kita tidak bisa terus kabur. Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Hyun Ri yang merasa bersalah.
“Mereka akan baik-baik saja. Ada atau tidaknya aku tidak akan berdampak apapun,” jawab Eun Hyuk dengan suara pelan. Hyun Ri terdiam. Eun Hyuk memang tidak dekat dengan keluarganya. Bahkan bisa dikatakan dia tidak dianggap.
“Ya sudahlah. Aku yakin kau pasti lelah. Biar aku saja yang mengemudi,” bujuk Hyun Ri lagi. Kali ini Eun Hyuk menurut. Kemudian ia bertukar posisi dengan Hyun Ri.
“Kuharap kita tidak semakin tersesat,” kata Eun Hyuk yang menyunggingkan senyum jahilnya Hyun Ri mengerucutkan bibirnya. Ia mulai mengemudikan mobil Eun Hyuk tanpa sekalipun menggubris kata-kata Eun Hyuk. Beberapa saat kemudian Eun Hyuk tertidur. Dia sadar bahwa dirinya sangatlah kelelahan.

***

Yoochun duduk diam dibelakang meja kerjanya. Hanya satu masalah yang terus mengganggu pikirannya. Song Hyun Ri. Mengapa yeoja itu tega meninggalkannya demi namja gembel seperti Eun Hyuk? Tidak tahukah Hyun Ri hidupnya jauh lebih terjamin jika bersama dirinya? Apa kelebihan Eun Hyuk hingga Hyun Ri bisa berpaling darinya.
“Aku tidak bisa membiarkan Hyun Ri bersama namja lain,” kata Yoochun. Ia bergeser sedikit untuk mengubah posisi duduknya.
Seharusnya ia tahu Hyun Ri mengkhianatinya! Sejak awal Hyun Ri tidak pernah memperhatikannya dengan baik. Ia selalu bersikap biasa saja setiap kali mereka bertemu.
“Apa kelebihan Eun Hyuk yang tidak kumiliki?” tanya Yoochun dalam kegalauannya. Ia mengepalkan kedua tangannya diatas meja.
“Jeongmal mianhae,Song Hyun Ri. Aku memang harus membunuh Eun Hyuk jika caramu memperlakukan aku seperti ini terus. Kau tidak bisa selamanya kabur dariku,” kata Yoochun lembut.

***

Eun Hyuk menguap dan menggeliatkan tubuhnya untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Matanya perlahan terbuka. Sinar matahari senja langsung menusuk matanya ketika selaput matanya terbuka sedikit.
“Sudah bangun, Eun Hyuk -ah?” tanya Hyun Ri sambil tersenyum kecil.
“Berapa lama aku tidur?” tanya Eun Hyuk yang menguap.
“Seharian, mungkin.”
“Mian aku merepotkanmu.”
“Gwenchanhayo memang seharusnya seperti ini, kan?”
“Ne. Kita sudah dimana?” Kali ini Hyun Ri hanya diam. Dia sendiri tidak tahu dimana ia sekarang. Kiri kanannya hanya ada pohon. Ia tersadar bahwa ia tidak melihat satupun rumah penduduk didaerah itu.
“Molla. Aku hanya sembarang memilih arah,” jawab Hyun Ri.
“Kan kubilang tadi juga apa,” kata Eun Hyuk.
“Neomu mianhae, Eun Hyuk -ah,” kata Hyun Ri penuh penyesalan.
“Sudahlah. Tapi kupikir kita sudah cukup aman dari Yoochun. Tidak ada tanda-tanda kehadiran anak buahnya,” kata Eun Hyuk.
“Aku pikir juga begitu.”
“Lebih baik aku mengemudi lagi. Kita harus segera menemukan tempat untuk beristirahat.”
Hyun Ri menepikan mobilnya dan bergantian posisi dengan Eun Hyuk. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

***

Eun Hyuk salah jika berpikir anak buah Yoochun tidak mengikuti mereka; bahwa mereka sudah aman dari Yoochun. Anak buah Yoochun masih terus mengikuti mereka tanpa Eun Hyuk dan Hyun Ri mencurigai.
“Kurasa mereka akan menetap di daerah sekitar sini,” kata salah satu dari anak buah Yoochun.
“Mungkin saja. Daerah ini sudah sangat jauh dari kota,” kata seseorang yang lain.
“Tapi kita harus tetap menunggu. Kita harus memastikan mereka benar-benar menetap,” kata salah seorang yang lain.
“Ne. Tapi kurasa lebih baik jika kita tetap melapor.”
“Maka salah satu dari merekapun menghubungi Yoochun dan memberitahu tentang keberadaan Eun Hyuk dan Hyun Ri saat ini. Yoochun memberikan tugas yang sama, tetap ikuti mereka.

***

Hari sudah menjelang senja. Eun Hyuk memberhentikan mobilnya didepan sebuah kastil tua. Warna kastil itu hitam kusam dan banyak ditumbuhi lumut. Walaupun terlihat tua, kastil itu terlihat megah dan kokoh dengan aksen Eropa yang sangat mendominasi.
“Kurasa ini bisa jadi tempat tinggal kita sementara,” saran Eun Hyuk.
“Mollasaeyo. Tempat ini menyeramkan,” kata Hyun Ri.
“Gwechanayo. Aku rasa tempat ini tidak ada penghuninya,” kata Eun Hyuk sambil memerhatikan sekeliling kastil itu.
“Aku tidak begitu yakin,” kata Hyun Ri ragu.
“Lebih baik kita memeriksanya dulu,” usul Eun Hyuk sambil keluar dari mobilnya. Hyun Ri mau tidak maupun harus mengikuti Eun Hyuk masuk ke kastil tua itu.
Ruangan dalam kastil itu sangat luas. Terdiri dari dua lantai, satu menara, dan beberapa lorong-lorong aneh. Lukisan-lukisan aneh digantung sepanjang dinding menuju lantai dua. Peralatan-peralatan diruangan itupun tua-tua, mungkin sama tua dengan kastil ini. Tapi barang-barangnya tertata rapi dan bersih. Seperti ada orang yang selalu membereskannya.
“Aku rasa kastil ini baru saja ditinggalkan pemiliknya,” kata Eun Hyuk sambil memandang piano tua yang masih mengkilat disudut ruang tamu.
“Mungkin. Tidak seharusnya kita masuk kerumah orang tanpa ijin, Eun Hyuk -ah,” kata Hyun Ri yang masih memandang sekeliling ruangan. Takut jika pemilik kastil ini muncul dan mengira mereka pencuri.
“Kau tunggu disini. Aku akan memeriksa ruangan yang lain,” kata Eun Hyuk. Hyun Ri mengangguk satu kali lalu duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu.
Eun Hyukmelangkahkan kakunya keruangan terdekat. Ruangan itu mungkin ruang keluarga; dan ruangan itu kosong. Tak ada satupun benda diruangan itu. Kemudian ia memeriksa dapur, beberapa kamar dan kamar mandi yang bisa mereka gunakan, dan beberapa ruangan lain yang tidak diketahui fungsinya; dan semuanya kosong. Beberapa kamar lainnya terkunci. Kemudian ia memeriksa lantai dua. Disini jumlah kamarnya lebih sedikit. Beberapa kamar juga terkunci. Dan beberapa kamar yang lain sepertinya bisa mereka gunakan untuk tidur malam ini.
“Gomapta,kastil ini memang tidak berpenghuni,” kata Eun Hyuk pelan lalu kembali menemui Hyun Ri.
“Eottokhae?” tanya Hyun Ri begitu melihat Eun Hyuk.
“Kastil ini memang kosong. Tapi beberapa kamar terkunci,” kata Eun Hyuk.
“Bagaimana jika pemilik kastil ini ternyata sedang pergi lalu tiba-tiba saja mereka datang?” tanya Hyun Ri yang masih ragu.
“Kita akan mengatakan yang sejujurnya. Setidaknya kita akan tinggal disini untuk sementara waktu,” kata Eun Hyuk.
“Terserah. Aku nurut saja,”

***

“Tuan, Eun Hyuk dan Hyun Ri sepertinya akan menetap dalam waktu yang lama,” lapor anak buah Yoochun.
“Terus awasi mereka. Kita akan ‘menyerang’ mereka saat tengah malam,” kata Yoochun.
Segera setelah itu, anak buah yang menelepon Yoochun memberi tahu teman-temannya yang lain tentang rencana Yoochun. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yoochun, mereka semakin ketat mengawasi gerak-gerik Eun Hyuk dan Hyun Ri.
Sementara itu Yoochun langsung pergi menuju tempat yang telah diberitahukan anak buahnya. Hatinya seakan mati rasa. Ia hanya bisa merasakan perasaan menggebu-gebu untuk sampai ditempat Eun Hyuk dan Hyun Ri. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bayangan mengerikan tentang Eun Hyuk dan Hyun Ri membayangi otaknya. Ia membayangkan Eun Hyuk dan Hyun Ri sedang berciuman ketika ia datang; atau bayangan yang lebih mengerikan daripada sekedar berciuman.
Membayangkan hal itu membuatnya semakin menambah kelajuan mobilnya. Ia ingin sekali bertemu Eun Hyuk dan menghajar namja itu habis-habisan karena berani membawa lari yeoja kesayangannya.

***

“Kau yakin akan tinggal disini? Tempat ini menyeramkan?” kata Hyun Ri. Ia masih meragukan keputusan Eun Hyuk untuk tinggal dikastil ini. Sejak Eun Hyuk memutuskan untuk berhenti melarikan diri, perasaannya menjadi tidak beres. Seolah-olah bukan ini tempat yang tempat untuk akhir dari pelarian mereka.
“Gwechanayo, Hyun Ri -ah. Kalau kau masih takut, kita akan tidur bersama malam ini. Eottokhae?” usul Eun Hyuk .
“Bagaimana kalau kita tidur disofa saja?” pinta Hyun Ri tanpa alasan yang jelas.
“Ne, terserah kau saja.”
Hari semakin gelap. Mereka hanya merapikan sedikit kastil itu. Masuk ke kamar-kamar yang tidak terkunci untuk mengambil selimut. Beruntung di kastil itu masih ada beberapa makanan kaleng yang belum kadaluarsa. Mereka hanya memakan itu sebagai makan malam mereka karena mereka tidak membawa bekal apapun.
Pukul sepuluh lewat beberapa menit. Eun Hyuk memutuskan untuk tidur duluan. Mungkin ia merasa sangat lelah. Hyun Ri masih tidak bisa tidur. Ia hanya membolak-bolik badannya diatas sofa panjang. Perasaannya semakin tidak enak saja. Ia merasa sesuatu yang buruk akan menimpa mereka, terutama Eun Hyuk . Apa ini ada hubungannya dengan Yoochun? Apa ia telah mengikuti mereka sejak awal mereka memutuskan untuk kabur? Apa ia tahu tentang kastil ini? Hal-hal itu terus mengganggu pikirannya. Sulit bagi Hyun Ri untuk memusatkan perhatiannya pada hal lain. Hingga akhirnya ia pun terjaga dengan sendirinya.

Pukul 12.10, mobil Yoochun tiba tidak jauh dari kastil tempat Eun Hyuk dan Hyun Ri menginap. Anak buahnya telah siap menyambut kedatangannya. Anak buahnya berbaris secara horizontal membentuk line yang terlihat rapi. Dan pikiran mereka semua teralihkan ketika hummer hitam mengkilau berhenti tepat satu meter didepan mereka.
“Dimana tempatnya?” tanya Yoochun begitu turun dari hummernya.
“Tidak jauh dari sini,” jawab salah seorang dari anak buahnya.
“Kita berangkat sekarang,” perintah Yoochun.
Salah satu anak buahnya menunjukkan arah ke kastil tempat Eun Hyuk dan Hyun Ri berada. Yoochun dan anak buahnya yang lain mengikutinya. Tangan kanan Yoochun sudah siap dengan pistol. Ia sudah sangat siap membunuh Eun Hyuk dan Hyun Ri jika ia menemukan mereka dalam keadaan yang tidak seharusnya. Ia berpikir untuk apa mempertahankan orang yang telah mengkhianatinya.
Yoochun berdiri tepat didepan pintu masuk kastil itu. Ia berhenti sejenak dan berpikir apa yang harus dilakukannya. Setelah itu, ia melangkah masuk kedalam kastil dan anak buahnya disuruhnya untuk menunggu diluar saja. Begitu masuk, ia melihat Hyun Ri tidur dipangkuan Eun Hyuk, mesra. Tangan kanannya yang memegang pistol mengacung tepat ke jantung Eun Hyuk.
DOR!! Suara letusan itu membangunkan Hyun Ri. Yoochun menembak Eun Hyuk tepat dimana jantungnya berdetak, ia tersenyum puas.
“PARK YOOCHUN!!” teriak Hyun Ri histeris begitu melihat Yoochun diambang pintu dengan pistol masih teracung ke arah Eun Hyuk.
“Ia harus menerima hukumannya, Song Hyun Ri. Ia telah menculikmu dariku,” kata Yoochun sambil menyunggingkan senyum liciknya.
“Tapi tidak harus seperti itu!” teriak Hyun Ri sambil menangis histeris dan memeluk tubuh Eun Hyuk yang bersimbah darah.
“Kau mencoba membela namja itu?” tanya Yoochun yang masih tersenyum dan berjalan beberapa langkah kedepan.
“Tentu saja…”
DOR!! Satu peluru lagi lepas dari pistol Yoochun dan kali ini mengenai dada Hyun Ri. Seketika itu juga Hyun Ri tak sadarkan diri dan jatuh diatas tubuh Eun Hyuk .
“Mian, Song Hyun Ri,” kata Yoochun lalu keluar dari kastil itu dengan rasa puas. Setelah itu, ia menyuruh anak buahnya pulang. Ia memerintahkan mereka agar tak mengungkit-ungkit kejadian ini lagi.

***
Hari hampir pagi. Tapi Eun Hyuk maupun Hyun Ri masih bertahan dengan rasa sakit mereka. Tak ada yang tahu bagaimana mereka bisa bertahan selama itu. Mungkinkah mereka menunggu sesuatu yang bisa dilakukan untuk membalas dendam?
Ditengah keheningan subuh, pintu kastil itu mendadak terbuka. Tiga orang berjubah panjang kaget melihat dua sosok manusia yang bersimbah darah tidur disofa mereka.
“Aku rasa telah terjadi sesuatu selama kita berburu,” kata seorang wanita yang terlihat paling berwibawa. Ia menurunkan tudung jubahnya sehingga paras wajahnya yang sempurna terlihat jelas. Rambut pendek seleher dipangkas dengan gaya emo yang khas. Bola matanya berwarna coklat cerah. Tak ada satupun bercak hitam disekitar wajahnya. Kulitnya putih, seputih mayat. Umurnya mungkin sekitar 19 tahun.
Kedua orang temannya juga menurunkan tudung mereka. Salah satu dari mereka laki-laki berperawakan lembut. Umurnya sekitar 22 tahun. Tubuhnya tinggi tegap. Yang satu lagi adalah seorang yeoja dan dapat dipastikan ia adalah yang paling muda. Umurnya sekitar 16 tahun. Mereka semua memiliki ciri-ciri yang sama dengan wanita berambut emo itu. Kulit pucat, keindahan,kesempurnaan, dan mata coklat mereka yang bersinar; kecuali yeoja yang terlihat paling muda, matanya berwarna merah cerah.
“Kau benar, Sun Li-ya. Lebih baik kita memeriksa dua orang asing itu dulu,” usul namja itu.
“Ne. Siapa tahu mereka masih hidup. Onnie bisa mengubah mereka untuk menjadi temanku,” kata yeoja yang paling muda dengan gaya manjanya yang unik.
“Tidak semudah itu mengubah mereka, Seung Hee-ya,” kata yeoja berambut emo itu.
Mereka pun memeriksa keadaan Eun Hyuk dan Hyun Ri. Mereka masih hidup. Segera ketiga orang asing itu membersihkan peluru yang bersarang pada Eun Hyuk dan Hyun Ri. Kemudian mereka mengobati lukanya dan mengganti pakaian mereka karena pakaian mereka berlumuran darah, dan orang asing itu tidak bisa berkonsentrasi jika bau darah mereka terus mengganggu otak mereka. Lalu Eun Hyuk dan Hyun Ri dipindahkan disalah satu kamar yang ada dilantai dasar.
“Menurutmu apa yang harus kita lakukan, Changmin-ah?” tanya Sun Li, yeoja berambut emo itu.
“Mollasaeyo, Sun Li-ya. Mereka sekarat dan mungkin akan meninggal,” jawab Changmin.
“Andwae! Jangan biarkan mereka mati. Ubah saja mereka untuk jadi temanku,” rengek Seung Hee, yeoja yang paling muda.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Sun Li kepada Changmin.
“Terserah. Tapi aku tidak mau merubah mereka,” jawab Changmin.
“Mwo? Aku juga tidak mau. Aku telah merubahmu menjadi vampir dan aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Sun Li.
“Nado! Aku juga tidak mau. Aku kan sudah merubah Seung Hee,” kata Changmin.
Seung Hee mendengus kesal. “Chungbunhaeyo. Biar aku sja kalau kalian tidak mau,” kata Seung Hee. Ia kesal melihat kedua kakaknya yang tidak mau mengubah Eun Hyuk maupun Hyun Ri.
“Kau tahu kan kalau menciptakan vampir baru resikonya besar?” tanya Changmin ragu.
“Ne. Aku tahu,” kata Seung Hee dengan pasti dan tanpa keraguan sedikitpun. Sun Li dan Changmin pasrah. Seung Hee merasa senang bukan main. Ia langsung memeluk Sun Li dan Changmin.
“Jeongmal gomawo. Saranghae,” kata Seung Hee.
“Cheongmanaeyo, saengie,” kata Sun Li.
Seung Hee menggigit pergelangan tangan Min Ji dan memasukkan bisa dari kedua taringnya kedalam pembuluh darah Hyun Ri, begitu pula dengan Eun Hyuk. Setelah itu ia tersenyum puas. Akhirnya apa yang selama ini ia inginkan, mengubah manusia menjadi vampir, dapat tercapai.
“Apakah bisa mereka menjadi vampir yang baik?” kata Seung Hee sambil tersenyum. Sun Li dan Changmin tersentak mendengar pertanyaan selugu itu.

Three days later…

“Oppa, kau yakin mereka akan sadar?” tanya Seung Hee. Ini sudah hari ketiga. Baik Eun Hyuk maupun Min Ji belum juga sadar. Tentu saja Seung Hee khawatir karena dialah yang merubah mereka.
“Tentu saja. Bersabarlah sedikit lagi,” kata Changmin. Seung Hee hanya menurut. Ia selalu percaya pada kata-kata Changmin karena apa yang dikatakan Changmin tentu akan terjadi.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Sepuluh jam. Empat belas jam. BaikEun Hyuk dan Hyun Ri juga belum bangun. Seung Hee pun semakin panik. Dia takut jika Eun Hyuk dan Hyun Ri malah mati. Ia takut dicap sebagai vampir pembunuh.
“Sudahlah. Mereka pasti bangun. Tunggu beberapa menit lagi,” kata Changmin. Seung Hee pun menurut lagi.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit.
“Oppa! Mereka bangun!” kata Seung Hee yang melompat-lompat kegirangan.
“Kan sudah kubilang,” kata Changmin yang juga tersenyum.
Eun Hyuk dan Hyun Ri mulai menggerakkan tubuh mereka. Perlahan mereka membuka mata lalu mencoba duduk. Keduanya saling berpandangan, bingung. Apa yang mereka lihat, sentuh, dengar, seakan begitu jelas. Bahkan mereka bisa mendengar suara desiran angin diruangan itu, walaupun tidak benar-benar yakin itu adalah suara angin.
“Hyun Ri-ya, kau tidak apa-apa?” tanya Eun Hyuk khawatir begitu melihat Hyun Ri disebelahnya.
“Gwenchanhayo,” jawab Hyun Ri yang masih terlihat bingung.
“Aku rasa mereka sepasang kekasih,” kata Seung Hee yang berbisik kepada Changmin. Changmin hanya mengangkat bahunya.
“Ehem.” Seung Hee berdeham supaya Eun Hyuk dan Hyun Ri menyadari kehadirannya.
“Kenapa kalian bisa sampai dirumah kami?” tanya Changmin.
“Terlalu panjang ceritanya,” jawab Hyun Ri lesu mengingat kejadian bersama Yoochun.
“Kalian lapar?” tanya Seung Hee.
Eun Hyuk dan Hyun Ri saling berpandangan. Mereka tidak merasa lapar. Mereka sadar bahwa mereka sangat haus. Kerongkongan mereka terasa sangat kering dan panas.
“Haus,” jawab Eun Hyuk singkat.
“Ah ya itu yang aku maksud,” kata Seung Hee sambil tertawa kecil.
“Sebentar lagi Sun Li pulang. Dia akan membawa ‘makanan’ untuk kalian,” kata Changmin.
“Bisa kah kami bicara berdua dulu?” tanya Hyun Ri sesopan mungkin.
“Ne. Akan kutinggalkan kalian berdua,” jawab Changmin.
Setelah Changmin dan Seung Hee pergi, Hyun Ri menatap Eun Hyuk dalam-dalam. Ia merasakan ada yang aneh pada dirinya.
“Eun Hyuk-ah, matamu merah,” kata Hyun Ri.
“Matamu juga,” kata Eun Hyuk.
“Apa yang telah mereka lakukan pada kita?” kata Hyun Ri. Ia merasa berbeda dengan keadaannya yang sekarang. Ia terasa begitu kaku. Seperti mati.
“Apapun yang telah mereka lakukan kita tetap harus berterima kasih,” kata Eun Hyuk. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama. Saling mengagumi kesempurnaan masing-masing.
“Masih lamakah kalian ingin bicara?” teriak Seung Hee dari luar.
“Aniyo. Kami sudah selesai,” balas Eun Hyuk. Changmin dan Seung Hee pun masuk lagi kekamar itu.
“Boleh aku tahu nama kalian?” tanya Seung Hee.
“Aku Lee Hyuk Jae, kalian bisa memanggilku Eun Hyuk. Ini Song Hyun Ri.” Eun Hyuk menunjuk ke Hyun Ri.
“Kami dari Seoul, melarikan diri. Dan kami hampir saja mati,” kata Hyun Ri.
“Ne. Aku yang menyelamatkan kalian,” kata Seung Hee dengan senyum kebanggaannya.
“Ini pertama kalinya ia merubah seorang manusia. Jadi maklumi saja jika ia sedikit berbangga diri,” kata Changmin sambil tersenyum jahil. Seung Hee langsung menjambak rambut Changmin.
“Mengubah? Maksud kalian?” tanya Eun Hyuk.
“Kalian belum sadar? Kalian vampir!” kata Seung Hee tidak percaya.
“Mwo?”
“Sudahlah kalian terima saja. Aku juga vampir baru. Kita setidaknya bisa belajar bersama,” kata Seung Hee.
Eun Hyuk maupun Hyun Ri tidak tahu apa yang harus dikatakan. Mereka bukan lagi manusia? Bagaimana bisa? Haruskah mereka menghisap darah orang-orang yang tidak bersalah untuk tetap hidup? Tapi itu adalah apa yang dipikirkan Eun Hyuk. Hyun Ri justru bersyukur dengan hidup barunya. Ia punya kekuatan yang lebih dari cukup untuk melampiaskan dendamnya kepada Park Yoochun, orang yang hampir membunuhnya.
“Ne. Aku rasa tidak masalah apapun aku sekarang,” kata Hyun Ri sambil tersenyum. Eun Hyuk memandangnya dengan heran.
“Annyeong. Mian membuat kalian menunggu lama,” kata Sun Li yang tiba dikamar itu. Ia membawa dua buah tubuh manusia yang kelihatannya sedang pingsan. “Cukup sulit untuk mendapatkan yang benar-benar murni. Beruntung kedua manusia ini korban bunuh diri gagal. Darah mereka juga bersih. Sepertinya mereka tidak mengkonsumsi obat-obatan.”
“Itu untuk kalian. Aku yakin tenggorokan kalian sudah sangat panas kan?” kata Changmin.
Memang benar yang dikatakan Changmin. Tenggorokan Eun Hyuk dan Hyun Ri sudah tidak dapat bertoleransi melihat dua onggok tubuh yang tidak sadarkan diri. Mereka dapat merasakan aliran darah yang hangat yang mengalir dari pembuluh darah dua orang itu. Tanpa pikir panjang pun mereka langsung menyantap hidangan pertama mereka sebagai vampir baru.

===THE END===

Please Be Mine

Januari 10, 2011 3 komentar

Title: Please Be Mine
Rate: +13
Genre: AU, Fluff, Family
Author: Fransiska a.k.a Song Hyun Ri
Cast:
-Dong Young Bae a.k.a Taeyang Big Bang
-Choi Sun Li a.k.a Sasha
-Choi Seung Hyun a.k.a TOP Big Bang
-Choi Seung Hee a.k.a Lanita
-Other cast

***

Jaman dahulu kala, di dataran tinggi Korea terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Choi Seung Hyun, dan istrinya bernama Park Seung Hee. Mereke mempunyai dua orang anak bernama Choi Seung Ri dan Choi Sun Li. Seung Ri sudah mempunyai istri bernama Song Hyun Ri sementara Sun Li masih berumur 17 tahun. Menurut aturan kerajaan, Sun Li sudah diharuskan menikah ketika ia berumur 17 tahun dengan seorang pangeran. Sun Li memang telah siap untuk menikah, tapi namja yang dicintainya bukanlah seorang pangeran, melainkan panglima angkatan perang dikerajaan tersebut. Namja itu bernama Dong Young Bae. Mungkin saja Seung Hyun tidak menyetujui namja pilihan Sun Li.
Young Bae mengenal Sun Li ketika Sun Li berumur 14 tahun. Saat itu kerajaan mereka masih porak-poranda akibat perang. Sun Li yang saat itu sedang mengeksplorasi daerah perang menemukan tubuh Young Bae yang penuh luka dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kemudian ia menggotong tubuh Young Bae menuju rumah sakit kerajaan dan jarak yang ditempuhnya bukanlah dekat. Ia membersihkan dan mengobati luka-luka Young Bae hingga pulih kembali. Mulai saat itulah hubungan mereka menjadi dekat hingga perasaan cinta diantara mereka tumbuh. Tapi cinta mereka sangatlah sulit untuk dipersatukan karena status mereka yang berbeda.

“Bagaimana kelanjutan hubungan kita, Jagi?” tanya Young Bae ketika mereka sedang istirahat saat latihan berkuda.
“Mollasaeyo. Aku tidak tahu bagaimana cara menyakinkan appa,” kata Sun Li sambil menatap kosong langit biru diatasnya.
“Harusnya hubungan kita tidak terjadi. Ini semua salah,” kata Young Bae putus asa.
“Jangan katakan itu lagi! Kenapa kau mudah sekali putus asa? Kau harus mencoba bicara pada appa ku sekali lagi,” kata Sun Li. Young Bae memang mudah putus asa jika memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Sun Li.

Young Bae menuruti saran yang diajukan Sun Li. Setidaknya ia harus berusaha dulu, hasilnya kan bisa menyusul.
Young Bae melangkah kearah ruang keluarga Choi. Disana Seung Hyun dan istrinya serta putra mereka, Seung Ri beserta istrinya sedang minum teh bersama. Young Bae Young Bae merasa sangat gugup. Ia pernah mengajukan lamaran itu sekali sebelumnya, tapi ditolak oleh Seung Hyun. Alasannya karena umur Sun Li belum mencukupi, tapi menurut Young Bae alasan sebenarnya bukanlah itu. Ia berpikir Seung Hyun menolaknya karena statusnya hanyalah seorang panglima angkatan perang sedangkan Sun Li adalah seorang putri raja. Sebenarnya, jika bukan Sun Li yang meminta, ia tidak akan mengajukan lamaran ini lagi. Bukan ia tidak mencintai Sun Li, tapi ia tahu siapa dirinya.

“Annyeong hasseyo,” sapa Young Bae sambil membungkukkan badannya kepada keluarga Choi.
“Oh.. Young Bae-ssi. Ada perlu apa?” tanya Seung Hee.
“Ah umma. Biarkan Young Bae duduk dulu,” kata Seung Ri.
Young Bae tersenyum kepada Seung Ri lalu ia duduk disebelah Hyun Ri. Keluarga Choi sangatlah baik kepada Young Bae karena kesetiaannya kepada kerajaan. Bahkan Seung Ri sudah menganggapnya sebagai hyung nya. Tapi Young Bae tetap merasa enggan. Ia selalu memikirkan statusnya dikerajaan itu.
“Apa yang ingin kau bicarakan, Young Bae-ssi?” tanya Seung Hyun.
“Saya…ingin melamar Sun Li,” kata Young Bae. Rasanya ingin sekali ia segera lari dari tempat itu.
Air muka Seung Hyun langsung berubah kaku. Ia meletakkan cangkir tehnya dan menghela napas. “Aku berpikir kau sudah memahami aturannya?” kata Seung Hyun dengan nada kecewa.
“Ne. aku tahu. Iya mianhaeyo, aku mencintai Sun Li, Tuan,” kata Young Bae dengan rasa bersalah.
“Aku tak tahu harus berbuat apa,” kata Seung Hyun.
“Jebal, beri aku satu kesempatan. Aku akan melakukan apapun untuk Sun Li,” kata Young Bae. Seung Hee menatap Young Bae dengan wajah memelas. Ia mengerti apa yang Young Bae rasakan. Ia teringat bagaimana Seung Hyun rela mempertaruhkan nyawanya agar bisa menikahi Seung Hee.
“Berilah kami sedikit waktu dulu,” kata Seung Hee.
“Aku harus memikirkannya dulu. Tapi aku akan memberitahumu secepat mungkin,” kata Seung Hyun.
“Gamsahamnida, Tuan. Aku sangat berharap hasilnya tidak mengecewakan siapapun,” kata Young Bae lalu pamit dari tempat itu. Perasaannya sedikit lega karena apa yang selama ini dirisaukannya sudah ia ungkapkan walaupun hasilnya belum diketahui.

@Park

“Aku sudah memberitahu appamu,” kata Young Bae sambil menemani Sun Li jalan-jalan.
“Eottokahaeyo?” tanya Sun Li.
“Molla. Appa mu belum menjawabnya. Ia mengatakan bahwa ia akan memikirkan hal itu,” jawab Young Bae.
“Aku takut, Chagi,” kata Sun Li.
“Kau tak perlu takut. Kau harus yakin bahwa kita akan bersama selamanya. Neoui saranghae, Sun Li-ya,” kata Young Bae sambil memeluk Sun Li.
“Nado saranghae, Young Bae-ya,” kata Sun Li yang membalas pelukan Young Bae. Ia tak tahu apa yang akan terjadi pada Young Bae. Mungkin saja appanya akan memecat Young Bae, atau ia akan memenjarakan Young Bae, bahkan bisa saja Young Bae dihukum mati. Tapi Sun LI tahu appanya bukanlah orang yang seperti itu.

At the same time….

Seung Hyun berkutat dengan pikirannya. Ia bingung harus melakukan apa. Sebenarnya, jika bukan karena atura kerajaan, tentu saja Seung Hyun sudah merestui anaknya dan Young Bae. Lagipula Young Bae adalah orang yang pantas untuk Sun Li, dan mereka juga saling mencintai.
“Yeobo, bisakah kau berhenti mondar-mandir seperti itu?” kata Seung Hee yang kesal melihat Seung Hyun yang daritadi hanya mondar-mandir.
“Nareul mollasaeyo, yeobo. Kalau bukan karena aturan itu, tentu Sun Li sudah aku nikahkan dengan Young Bae,” kata Seung Hyun frustasi. Seung Hee merangkul Seung Hyun dan mengajaknya duduk. Seung Hyun menatap wajah Seung Hee seakan meminta belas kasihan.
“Kau ingat saat kau ingin menikahiku dulu?” tanya Seung Hee.
“Tentu saja aku ingat. Mustahil aku dapat melupakannya, yeobo,” kata Seung Hyun.
“Kalau begitu kau tinggal melakukan hal yang sama,” kata Seung Hee sambil tersenyum lembut.
“Tapi itu tidak mungkin. Akibatnya akan sangat fatal jika Young Bae melakukannya,” kata Seung Hyun.
“Buktinya kau berhasil, kan? Kenapa Young Bae tidak berhasil jika kau saja berhasil?” tanya Seung Hee yang masih tersenyum.
“Aku berhasil karena aku mencintaimu, Seung Hee-ya,” kata Seung Hyun.
“Dan kau berpikir bahwa Young Bae tidak mencintai putri kita?” tanya Seung Hee lagi.
“Kau benar, yeobo. Kalau Young Bae memang mencintai Sun Li, ia pasti bisa melakukannya,” kata Seung Hyun. Ia merasa sangat lega karena telah menemukan jalan keluarnya, tetapi tetap saja ia merasa khawatir.

@Dinner’s Room CBF

Suasana sangat hening. Malam itu keluarga Choi saling berdiam diri. Entah mengapa sejak Young Bae mengajukan lamaran itu, keluarga Choi jadi sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hal itu terlihat sangat jelas saat ini. Biasanya Seung Hyun selalu menanyakan kepada keluarganya tentang hari-hari mereka, tapi saat ini ia hanya diam. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain.
Setelah selesai makan, Seung Hyun memutuskan bahwa inilah saat yang tepat untuk memberitahu Sun Li tentang keputusannya terhadap lamaran Young Bae. Ia berpikir lebih baik Sun Li yang memberitahu Young Bae apa yang harus dilakukannya.
“Sunnie, appa dan umma sudah membicarakan tentang hubunganmu dengan Young Bae,” kata Seung Hyun. Sun Li merasa sangat gugup, apa yang akan dilakukan appanya terhadap Young Bae?
“Kalau appa dan umma tidak menyetujuinya, aku bisa mengerti,” kata Sun Li.
“Aku tahu kau tidak akan mengecewakan keluarga kita,” kata Seung Hyun sambil tersenyum lembut. Tubuh Sun Li menjadi lemas. Ia berpikir bahwa appanya benar-benar tidak menyetujui hubungannya dengan Young Bae.
“Sunnie, kami inginkau bahagia,” kata Seung Hee lembut.
“Maksud umma?” tanya Sun Li.
“Kami akan merestui hubunganmu dengan Young Bae. Tapi ia harus melakukan sesuatu,” kata Seung Hee. Untuk sesaat Sun Li merasa sangat senang, tapi perasaan khawatir mulai menghantuinya.
“Apa yang harus Young Bae lakukan?” tanya Sun Li cemas. Seung Hyun dan Seung Hee salingn bertatapan. Mereka bingung bagaimana cara memberitahu Sun Li karena apa yang akan Young Bae hadapi nanti sangat membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, tak terkecuali nyawa.
Seung Hyun menghele napasnya. “Saat appa ingin menikahi umma-mu, kakekmu menyuruh appa untuk meletakkan sebuah Kristal yang merupakan lambang dari keluarga Choi di atas puncak Tebing Naga. Young Bae akan melakukan hal yang sama. Bedanya, ia harus mengambil kembali Kristal itu karena itu akan menjadi modal kalian setelah menikah,” jelas Seung Hyun.
“Tapi tebing Naga sangat berbahaya, appa! Apa lagi disana ada naga yang sangat jahat. Bagaimana kalau Young Bae tidak selamat?” protes Sun Li. Di Tebing Naga memang ada seekor naga yang menghuninya. Namanya Ji Yong *d gantung vips**bows*. Menurut mitos penduduk sekitar, Ji Yong sangat membenci jika ada manusia yang mendaki tebingnya. Tidak ada yang berani memanjat itu kecuali ksatria hebat yang sudah berpengalaman dan tidak mempunyai niat yang jahat untuk memanjat tebing itu. Banyak cerita juga bahwa mereka yang berhasil keluar dari tebing itu sebagian besar menjadi cacat fisik maupun mental dan dalam waktu yang tidak lama mereka akan kehilangan nyawa. Tentu saja Sun Li tidak ingin hal itu terjadi pada Young Bae.
“Kau tak perlu khawatir, Sun Li-ah. Appa mu saja selamat dan tak bercacat saat keluar dari tebing itu, kan? Kau harus yakin kalau Young Bae juga akan berhasil,” kata Seung Hee lembut. Tapi kata-kata Seung Hee tidak membuat keadaan Sun Li membaik. Baginya, Young Bae tidaklah sama dengan appa nya.
“Saengie, jika Young Bae benar-benar mencintaimu, ia pasti akan berhasil melakukannya. Aku sudah mengenal Young Bae lebih lama, dan ia orang yang cerdas. Ia pasti akan menemukan jalan keluar untuk menghadapi Young Bae,” kata Seung Ri.
Sun Li berpikir apa yang dikatakan oppa nya itu ada benarnya juga. Ia harus yakin bahwa Young Bae akan berhasil. Tapi tak dapat dipungkiri kalau Sun Li tetap merasa khawatir.
“Apa Young Bae sudah mengetahui tentang hal ini?” tanya Sun Li.
“Ani. Kau lah yang harus memberitahunya. Katakan juga pada Young Bae, appa ingin menemuinya malam ini,” kata Seung Hyun. Sun Li mengangguk pelan.

Sepanjang malam itu Sun Li tidak bisa tidur. Ia masih terus memikirkan tentang Young Bae, Tebing Naga, dan Ji Yong. Bagaiamana cara Young Bae akan menghadapai Ji Yong? Bagaimana appa nya dulu bisa berhasil? Apa yang dilakukan appa nya terhadap Ji Yong? Bagaimana jika Young Bae gagal dan tidak pernah kembali lagi? Sun Li sangat mencintai Young Bae. Tentu saja ia bisa gila jika Young Bae gagal dan tidak akan pernah kembali padanya lagi. Ia ingin sekali memprotes tantangan yang diajukan appa nya, tapi ia tidak berani. Ia sangat menghargai setiap keputusan yang diucapkan appa nya walaupun itu menyakitkan. Ia tahu appa nya selalu memberi yang terbaik bagi keluarganya.

Matahari bersinar dari ufuk timur. Berkas-berkas sinarnya masuk melalui ventilasi kamar Sun Li. Sejak malam, Sun Li tidak bisa memejamkan matanya. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Young Bae yang penuh luka dan darah memenuhi benak Sun Li. Ia sangat takut jika apa yang dibayangkannya benar-benar terjadi.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan lesu. Ia membasuh mukanya dengan air segar agar tidak terlihat lelah. Ia memandangi dirinya didepan cermin. Selama ini ia hidup bergelimangan harta yang tidak akan pernah habis. Semua kebutuhannya tercukupi dan apa yang ia inginkan selalu terpenuhi. Tapi ia tidak pernah merasa puas. Lalu Young Bae hadir dikehidupannya dengan memberikan rasa puas yang selama ini dicarinya. Dan karena itu, ia tidak akan pernah rela untuk kehilangan Young Bae.
“Berpikirlah positif, Sunnie,” kata Sun Li pada dirinya sendiri. Ia selalu berusaha untuk menyingkarkan hal-hal negative dari otaknya.
Sun Li berjalan-jalan disekitar taman istana sambil menikmati udara pagi. Perasaannya masih kalut. Ia tidak memperhatikan arah yang dilaluinya. Ia hanya ingin melihat Young Bae dan memastikan namjachingunya itu masih baik-baik saja.
Ia berjalan kearah timur istana. Disana ada Young Bae yang sedang berlatih pedang. Sun Li merasa teriris melihat Young Bae. Sekarang lawan Young Bae hanyalah seorang manusia dan ini hanyalah sebuah latihan. Bagaimana jika ia berhadapan dengan Ji Yong?
“Bagaimana mungkin aku bisa kehilangan orang yang sempurana seperti Young Bae?” kata Sun Li. Ia memutuskan duduk dibawah pohon sambil menunggu Young Bae selesai latihan.

“Annyeong,Chagi,” sapa Young Bae setelah menyelesaikan latihannya. Lalu ia duduk disamping Hyun Ri.
“Annyeong. Bagaimana keadaanmu?” tanya Sun Li.
“Gwechana. Mworago? Kau terlihat tidak sehat,” kata Young Bae gelisah.
“Nado gwechana. Hanya saja, semalam appa membicarakan soal hubungan kita,” kata Sun Li.
“Lalu?” tanya Young Bae cemas. Ia berpikir keputusan Seung Hyun pastilah buruk hingga bisa membuat Sun Li seperti ini.
“Appa meminta agar kau menemuinya malam ini,”
“Apakah Seung Hyun tidak menyetujui hubungan kita?”
“Ani. Appa menyetujuinya, tapi sebelumnya kau harus melakukan sesuatu,”
Young Bae kini menyadari apa yang telah membuat Sun Li terlihat kacau. Apapun yang akan disuruh Seung Hyun nantinya, pastilah menyangkut dengan nyawanya dan hanya itulah yang bisa membuat Sun Li seperti ini.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Mollasaeyo. Hanya appa yang tahu,”
Sun Li berbohong. Ia harusnya memberitahu Young Bae apa yang harus dilakukannya. Tapi ia tidak kuat. Ia sangat mencintai Young Bae dan tidak siap jika harus kehilangan dirinya hanya karena syarat untuk menikah yang sangat berbahaya. Bagi Young Bae, apapun yang dihadapinya nanti, ia akan berhasil. Ia akan melakukan apapun agar bisa memiliki Sun Li selamanya dan itu atas persetujuan orang tua Sun Li. Young Bae berpikir bahwa apa yang akan dihadapinya inilah sangat penting. Karena ia dapat membuktikan bahwa cintanya terhadap Sun Li sangatlah dalam.

Setelah pertemuan yang singkat dengan Young Bae, Sun Li menghabiskan sisa harinya mengurung diri didalam kamar. Ia ingin waktu berjalan dengan lambat, tapi semakin lama pula ia bisa bersama Young Bae. Tapi jika waktu terassa cepat, ia takut Young Bae pergi ke tebing Naga dan mungkin tak kembali. Semua menjadi serba salah bagi Sun Li.
Hari semakin malam. Hati Sun Li semakin tidak tenang, walaupun malam ini hanyalah pemberitahuan tentang syarat yang diajukan Seung Hyun agar Young Bae bisa menikahi Sun Li. Rasanya Sun Li tidak ingin ikut makan malam bersama keluarganya walaupun Young Bae ada.
“Sun Li-ya!” panggil Seung Hee dari depan kamar Sun Li.
“Ne, umma. Masuk saja,” kata Sun Li. Seung Hee membuka pintu kamar Sun Li. Dilihatnya Sun Li masih belum mengganti pakaiannya.
“Kenapa belum ganti baju, Sun Li-ya?” tanya Seung Hee.
“Umma, aku tidak usah ikut makan malam ya?” pinta Sun Li. Seung Hee merasa bingung. Tidak biasanya Sun Li tidak ingin makan malam bersama, apalagi saat ini Young Bae hadir.
“Waeyo?” tanya Seung Hee sambil mengelus lembut rambut Sun Li.
“Aku hanya takut, umma . Menurutku keputusan appa masihlah sangat berat,” kata Sun Li dengan perasaan kecewa.
Seung Hee tersenyum lembut. “Nak, tidak ada yang perlu kau takutkan. Dulu appa mu juga melakukan hal yang sama, dan appa mu berhasil. Young Bae pasti bisa. Appa mu dan Young Bae adalah orang yang kuat dan cerdas *jelas !*. kau harus bisa mempercayai Young Bae, Sun Li-ah,” kata Seung Hee.
“Tapi tetap saja aku takut, umma,” kata Sun Li yang terus-terusan ngeyel. Tapi kali ini disertai dengan air matanya. Seung Hee menghapus air mata Sun Li. Ia hanya bisa tersenyum dan bersabar menghadapi kelakuan anaknya.
“Kau percaya pada umma?” Sun Li mengangguk pelan. “Umma percaya Young Bae pasti berhasil. Kau percaya?” Sun Li hanya diam.
Seung Hee memeluk putri kesayangannya itu. Ia sangat memahami dilema yang sedang dihadapi putrinya.
“Kalau kau percaya pada umma, berarti kau juga harus percaya bahwa Young Bae bisa dan ia pasti berhasil,” kata Seung Hee lembut.
“Ne, umma. Aku percaya pada umma,” kata Sun Li walaupun sebenarnya hatinya masih ragu.
“Ya sudah. Sekarang ganti bajumu,” kata Seung Hee lalu keluar dari kamar Sun Li.
Sebenarnya, kalau bukan karena disuruh umma nya, ia tetap tidak akan ikut makan malam itu. Tapi karena bujukan Seung Hee dan adanya Young Bae, mau tidak mau ia harus menurutinya.

Sun Li mengganti gaunnya dan berias sesederhana yang ia bisa. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan mengelilingi istana hanya untuk memperlambat waktu. Lama kelamaan pun ia merasa letih. Dengan pasrah, ia berjalan menuju ruang makan.
“Ya! Kenapa kau lama sekali?” kata Seung Ri ketika Sun Li memasuki ruang makan.
Sun Li tidak menghiraukan ucapan oppa nya. Ia berjalan lesu dan duduk disebelah Young Bae.
“Mworago, Sun Li-ah?” tanya Seung Hyun.
“Gwecaha, appa,” jawab Sun Li. Tapi Young Bae merasakan ada sesuatu yang sedang mengganggu Sun Li saat itu.
“Ya sudahlan. Lebih baik kita makan dulu,” kata Seung Hyun.
Lalu mereka mulai menghabiskan makanan masing-masing, kecuali Sun Li yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Wajahnya dengan raut yang masam menatap makanan lezat dihadapannya.
“Chagi, kenapa tidak makan?” tanya Young Bae.
“ Ne. daritadi kau hanya mengaduk-aduk makananmu. Mworago?” tanya Hyun Ri.
“Gwechana. Aku hanya tidak napsu makan,” jawab Sun Li.
“Gurae? Atau kau mencoba diet?” kata Seung Ri yang mencoba melucu. Sayangnya, lelucon itu malah dibalas Sun Li dengan tatapan ganas terhadap Seung Ri.
“Tak usah kau hiraukan oppa mu, Sun Li-ah. Lebih baik kau menghabiskan makananmu,” kata Hyun Ri yang juga menatap Seung Ri dengan ganas.
“Aniyo. Aku sudah kenyang, Hyun Ri-ya. Lebih baik kau saja yang makan banyak buat kesehatan anak kau,” kata Sun Li.
“Tapi anakku nanti juga tidak mau mempunyai ahjumma yang kurus kering karena tidak makan malam. Haha,” kata Seung Ri sambil tertawa. Kali ini Sun Li sudah siap ingin melemparkan sendoknya ke Seung Ri. Tapi Young Bae segera menenangkan Sun Li.
“Sudahlah, Sun Li-ah. Kau kayak tidak tahu sifat Seung Ri saja,” kata Young Bae sambil mengambil sendok yang sudah siap untuk dilemparkan Sun Li.
“Untung kau oppa kandungku. Kalau bukan, sudah aku iris-iris kau kayak daging ini,” kata Sun Li sambil menunjuk daging steak dihadapannya.
Seluruh penghuni meja makan itu tertawa melihat kelakuan Sun Li. Memang inilah kelebihan yang dimiliki Seung Ri. Ia bisa mengubah suasana yang tadinya tegang menjadi cair seperti ini. *ehh kek Jasper yang di twilight dong :p*
Setelah makan malam itu selesai, para pelayan segera menyingkarkan piring-piring kotor dari meja makan dan membersihkan meja itu hingga bersih. Mereka semua diam. Seung Ri sendiri telah kehabisan lelucon untuk mencairkan suasana. Hati Sun Li yang tadinya sudah lebih baik, kini kembali penuh ketakutan. Tentu saja, waktunya untuk memberitahu Young Bae tentang tantangannya semakin dekat.
“Young Bae-ssi,” kata Seung Hyun yang memulai pembicaraan. “Aku mengundangmu malam ini karena ada hal yang harus dibicarakan.”
“Ne, aku tahu,” kata Young Bae dengan hormat.
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya Seung Hyun.
“Aniyo. Aku belum mengetahui apa-apa,” jawab Young Bae.
“Sun Li belum memberitahumu?” tanya Seung Hyun lagi.
Young Bae menatap Sun Li dengan pandangan bertanya. Tapi Sun Li malah menundukkan kepalanya, seolah-olah ia tidak ingin dirinya diikutsertakan dalam pembicaraan itu.
“Ani. Sun Li tidak memberitahu apapun,” jawab Young Bae.
“Hah.. aku pikir Sun Li telah memberitahumu,” kata Seung Hyun.
“Apa yang harus aku lakukan agar bisa menikahi Sun Li yang mulia?” tanya Young Bae dengan menggunakan keberaniannya yang masih tersisa.
“Kau tahu kalau keluarga kerajaan mempunyai sebuah liontin yang sangat berharga dan itu diwariskan secara turun temurun kepada anak perempuan pertama dalam silsilah kerajaan. Dulu liontin itu akan diwariskan kepada Seung Hee, tapi appa nya Seung Hee lebih menginginkan kalau liontin disimpan ditempat yang tidak bisa diambil orang lain selain keluarga kerajaan. Saat itu, aku ingin menikahi Seung Hee. Appa nya Seung Hee langsung mengambil kesempatan itu dengan menyuruhku untuk mencarikan tempat yang cocok untuk menyimpan liontin tersebut.
“Aku berpikir cukup lama untuk menemukan tempat yang tepat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya di Tebing Naga, dimana di tebing itu hidup seekor naga. Aku menghabiskan banyak tenaga, waktu, pikiran, untuk menaklukan naga itu agar ia mau menjaga liontin itu. Dan aku berhasil. Aku berpesan pada naga itu bahwa hanyalah orang yang mempunyai hati yang lembut seperti kapas, pikiran setajam pedang, fisik sekuat baja, dan otak setinggi langitlah yang bisa mengambil liontin itu. Saat itu juga aku langsung pulang dan appa nya Seung Hee sangat puas dengan hasil kerjaku. Tidak lama setelah itu, aku menikah dengan Seung Hee dan masih hidup hingga sekarang.
“Aku hanya ingin kau mengambil lagi liontin itu. Karena liontin itu harus kuwariskan kepada Sun Li. Itu juga sebagai jaminan untuk pernikahan kalian. Aku percaya Sun Li dapat memanfaatkan kekuatan yang ada pada liontin itu dengan baik,” kata Seung Hyun yang mengakhiri cerita tentang pengalamannya.
Raut wajah Young Bae tanpa ekspresi, begitu juga Sun Li. Ia tidak terlalu kaget dengan tantangan yang harus dihadapinya. Ia tahu ia akan menghadapai tantangan seberat ini. Tapi ia akan melakukan apapun demi Sun Li.
“Kapan aku harus melakukannya?” tanya Young Bae.
“Saat kau siap,” jawab Seung Hyun penuh keyakinan. Ia sangat yakin bahwa Young Bae akan berhasil bagaimanapun cara yang akan dipakai Young Bae nantinya.
“Beri aku waktu 2 hari,” pinta Young Bae.
Seung Hyun menyetujuinya. Ia bahkan akan memberikan waktu lebih kepada Young Bae jika perlu. Ia sadar bahwa Young Bae adalah bagian dari kebahagiaan Sun Li, dan ia akan melakukan apapun demi membahagiakan putri kesayangannya.

Setelah selesai makan malam, Young Bae mengajak Sun Li jalan-jalan untuk menghirup udara malam. Ia ingin tahu apa yang dirasakan Sun Li tentang apa yang harus dijalaninya.
“Chagiya, kau ikhlas aku melakukannya?” tanya Young Bae.
“Ani. Aku terlalu takut untuk kehilangan mu,” jawab Sun Li. Young Bae kaget dan menghentikan langkahnya.
“Kau tak akan pernah kehilangan aku,” kata Young Bae sambil menggenggam erat tangan Sun Li.
“Tapi aku takut. Bagaimana jika…” Sun Li sudah tidak mampu membendung air matanya lagi. Ia terlalu membayangkan bahwa Young Bae tidak akan kembali.
Young Bae memeluk Sun Li dengan lembut. “Itu tidak akan terjadi. Kau harus yakin aku akan berhasil. Aku sangat membutuhkan dukunganmu, Chagi,” kata Young Bae.
“Aku selalu mendukungmu. Aku hanya takut,” kata Sun Li yang mulai menangis.
“Kau harus percaya. Kalau kau takut bagaimana mungkin aku bisa menghadapi semua tantanganku?”
“Aku tahu. Aku akan berusaha apapun untukmu,”
“Gomawo, Chagi. Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Saranghae.”
Young Bae memeluk Sun Li semakin erat. Ia tahu bahwa Sun Li masih tidak yakin dengan perasaanya. Tapi sebagai namjachingu yang baik, ia harus bisa meyakinkan Sun Li bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Dua hari telah berlalu. Young Bae telah siap untuk melakukan tantangannya. Ia sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukannya. Dalam perjalanannya nanti, ia hanyalah berbekal cinta yang masih dengan setia diberikan Sun Li untuknya, dan sebuah pedang yang diberikan Seung Hyun ketika ia dilantik sebagai panglima kerajaan. Ia yakin ia bisa pulang tanpa cacat sedikitpun. Dan ia yakin pula bahwa pada akhirnya ia akan menikah dengan Sun Li dan hidup bahagia selamanya.
Keluarga Choi memutuskan untuk menginap di penginapan dilereng tebing Naga. Sayangnya, Seung Ri dan Hyun Ri tidak dapat ikut karena Hyun Ri yang sedang dalam kondisi hamil tua. Hati Sun Li tidak tenang. Ia masih belum bisa untuk merelakan Young Bae. Seung Hyun sudah berusaha untuk meyakinkan Sun Li tapi Sun Li adalah orang yang keras kepala.

Pagi hari itu seluruh keluarga Choi berkumpul di lereng Tebing Naga. Young Bae sudah siap untuk memulai perjalanannya, walaupun saat itu matahari belum sepenuhnya terbit dan udaranya masihlah sangat dingin.
“Kau yakin siap melakukannya?” tanya Seun Hyun dengan nada ragu yang dibuat-buat.
“Aku yakin,” jawab Young Bae dengan mantap.
Sun Li berjalan menghampiri Young Bae. Matanya yang sudahberkaca-kaca, menatap mata Young Bae penuh harap. “Berjanjilah kau akan segara pulang, Chagi. Aku selalu setia menunggumu,” kata Sun Li. Suaranya bergetar berusaha untuk menahan tangisnya.
Young Bae memeluk tubuh Sun Li. “Jangan menangis, Chagi. Aku pasti akan pulang. Aku tak akan membiarkanmu pulang keistana tanpa aku,” kata Young Bae sungguh-sungguh. Ia mengerti apa yang dirasakan Sun Li. Tapi setidaknya ia sudah berusaha untuk meyakinkan Sun Li.
“Aku tak akan pulang tanpa dirimu,” kata Sun Li. Ia menangis dalam pelukan Young Bae. Ia semakin memperat pelukan itu, seolah-olah masih ada harapan bahwa Young Bae tidaklah harus pergi.
“Aku harus pergi, Chagi. Aku pasti merindukanmu,” kata Young Bae lalu memberi kecupan manis di dahi Sun Li dan melepas pelukannya.
“Aku berangkat,” kata Young Bae sambil membungkukkan badannya dihadapan keluarga Choi.
“Pulanglah kapanpun kau siap. Aku tidak akan memberikan batasan waktu. Tapi aku harap hasil yang aku dapatkan pun memuaskan,” kata Seung Hyun sambil menempelkan telapak tangannya diatas bahu Young Bae.
“Gamsahamnida, Yang Mulia,” kata Young Bae.
Dan perjalanan Young Bae untuk mendapatkan cinta abadinya pun dimulai. Disinilah semua kebijakan, kebaikan, kesetiaan, pengorabanan Young Bae diuji.

Young Bae terus berjalan kearah hutan menjauhi keluarga Choi. Ia memasuki rimbunan pohon-pohon pinus. Ia terus bertanya-tanya dalam hati dimana sebenarnya liontin itu. Young Bae sama sekali tidak mempunyai gambaran seperti apa liontin itu dan tempat seperti apa yang dipilih Seung Hyun sebagai tempat yang paling aman.
“Ahh pabo nya aku! Kenapa aku tidak bertanya dulu pada Seung Hyun,” kata Young Bae yang kesal pada dirinya sendiri. Ia hanya memikirkan bahwa ia harus berhasil, dan ia tidak memikirkan bagaimana ia harus menghadapinya. Ia terlalu banyak memikirkan Sun Li karena cintanya terhadap yeoja itu terlalu besar.
Ia terus menyusuri hutan itu hingga matahari tepat diatas kepalanya. Ia sudah merasa letih terus berjalan sepanjang hari. Ia terus berkeliling hutan mencari mata air. Dan blazz! Seperti sebuah fatamorgana, ternyata mata air itu hanyalah 15 meter jaraknya. Langsung saja ia menghampiri mata air itu dan meminum airnya. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon.

***

Tiba-tiba saja ia berada disebuah ruangan yang sangat aneh. Ruangan itu dipenuhi lender. Dinding dan lantainya sangatlah lembek, seperti berada didalam tumpukan daging yang membentuk suatu ruangan. Di ujung ruangan itu terdapat sebuah kotak kaca dan didalamnya berisi sebuah liontin yang bertahtahkan banyak berlian. Mungkin itu adalah liontin milik keluarga Choi, pikir Young Bae.
Young Bae segera berlari untuk mengambil liontin itu, tapi ia tak kunjung sampai. Secepat apapun ia berlari, liontin itu terasa semakin menjauh. Young Bae tidak menyerah. Ia terus berlari menuju liontin itu. Sayangnya, semakin cepat ia berlari, liontin itu malah semakin jauh.
Akhirnya, ia pun merasa kelelahan. Ia memutuskan untuk beristirahat sekaligus memikirkan cara untuk mendapatkan liontin itu. Ketika ia sedang beristirahat, ada suara gemuruh yang datang dari ujung lain ruangan itu dan disusul gempa yang besar. Young Bae mencoba untuk berlari menjauh, tapi guncangan diruangan itu sangat kuat. Lalu gulungan ombak besar datang dari ujung ruangan. Ombak itu dengan mudah menenggelamkan liontinnya, tapi liontin itu tidak lah hanyut dan tetap dalam posisi diam. Young Bae berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya. Tapi kecepatan ombak itu lebih besar. Byarrrr!! Tubuhnya hanyut dibawa ombak besar itu. Dan ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya setelah itu.

***

Young Bae langsung terbangun dari tidurnya. Ternyata itu hanyalah mimpi. Tapi ia yakin bahwa mimpinya itu adalah petunjuk untuk mendapatkan liontin. Satu hal yang membuat Young Bae heran adalah ruangannya. Apa ada tempat seperti itu dipuncak tebing ini? Lagipula, kenapa ia tidak bisa mendapatkan liontin itu meskipun sudah berlari secepat mungkin?
Young Bae menegakkan tubuhnya dan melanjutkan perjalanannya. Ia terus berjalan kearah utara dan tidak berniat untuk beristirahat lagi. Dalam perjalanannya, ia masih memikirkan tentang tempat itu. Bagaimana cara agar ia bisa sampai kesana? Tiba-tiba ia teringat akan ombak besar dimimpinya. Apa mungkin diatas tebing itu ada laut? Dimana tempat itu sebenarnya?
Saat hari sudah gelap, Young Bae telah sampai tepat dibawa Tebing Naga. Ia memutuskan untuk bermalam disitu. Ia memutuskan untuk berburu dahulu karena perutnya sudah tidak bisa diajak untuk kompromi lagi. Dengan keuletannya dalam berburu, ia berhasil mendapatkan seekor rusa yang sangat gemuk. Ia langsung mencari kayu bakar dan menyalakan api untuk membakar buruannya. Setelah selesai makan, Young Bae segera tidur.

Keesokan paginya, Young Bae mulai mendaki tebing itu. Ternyata memanjat tebing itu tidaklah sesulit yang dibayangkannya. Selain itu, jika ia teringat Sun Li, ia akan semakin bersemangat. Walaupun teriknya matahari menyengat kulitnya, tapi Young Bae tidak merasa letih. Sun Li lah yang menjadi kekuatannya selama ini.
Saking bersemangatnya, ia tidak berpikir untuk beristirahat sejenak. Ia terus memanjat tebing itu. Ia tidak peduli dengan rintangan yang ada. Saat menjelang sore, langit menjadi mendung tanda akan hujan. Sempat terbersit di benak Young Bae untuk berteduh, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia ingin segera smapai dipuncak. Tapi itu sangatlah tidak mungkin dengan cuaca yang seperti ini. Orang yang sudah ahli sekalipun akan segera mencari tempat berteduh dengan cuaca seperti itu.
Ketika hujan mulai turun, Young Bae bingung untuk mencari tempat berteduh. Di kiri dan kanannya hanya ada batu yang hanya muat untuk diduduki. Ia memutuskan untuk terus memanjat tebing itu walaupun dinginnya hujan mampu menembus tulangnya.

At the same time…

Sun Li termenung sambil menatap keluar jendela. Di luar hujan turun sangat deras. Suhu pun menurun drastic. Bagaimana keadaan Young Bae disana? Sun Li hanya memikirkan Young Bae. Hatinya gelisah semenjak kepergian Young Bae.
Seung Hee merasa iba melihat kondisi putrinya. Ia tahu apa yang dirasakan Sun Li. Bahkan situasi yang dihadapi Sun Li saat ini lebih berat daripada yang ia hadapi dulu. Sun Li sampai ia napsu untuk makan saking khawatirnya terhadap keadaan Young Bae.
“Sunnie, kau belum makan dari tadi pagi. Sekarang makan dulu, ya?” bujuk Seung Hee. Tapi Sun Li tidak memberikan respon apapun.
Seung Hee menghela napasnya. “Sun Li-ya, dengarkan umma,” kata Seung Hee lembut.
“Mworago, umma?” kata Sun Li akhirnya.
“Apakah kau mau Young Bae pulang dengan melihat kondisimu dalam keadaan sakit?” tanya Seung Hee. Sun Li menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kau harus makan. Baru sehari kau ditiinggal Young Bae, tpi kau sudah terlihat kacau. Bagaimana kalau sebulan lagi Young Bae baru pulang?” kata Seung Hee, seakan-akan memarahi Sun Li.
“Tapi sekarang lagi hujan umma. Di luar sana jugan sangat dingin. Aku sangat mengkhawatirkan Young Bae. Aku ingin sekali menemaninya melewati semua ini,” kata Sun Li putus asa.
“Dengan cara tidak makan seharian? Atau merenung seperti ini? Kau tahu itu salah. Young Bae tidak sama denganmu. Ia mungkin bisa tidak makan berhari-hari, tapi kau tidak. Young Bae adalah namja yang kuat. Kau mau Young Bae pulang dan melihatmu dalam kondisi kacau? Lalu rasa cintanya terhadapmu hilang begitu saja,” kata Seung Hee. Ia berusaha untuk menyadarkan Sun Li walaupun kata-kata yang diucapkannya terdengar meyakitkan.
“Sirheo, umma! Aku yakin Young Bae tidak akan seperti itu,” kata Sun Li kesal. Ia menganggap apa yang dikatakan Seung Hee keterlaluan.
“Makanya, kau harus merawat dirimu sendiri, Sunnie. Kasihan Young Bae nya kalau kau terus seperti ini,” kata Seung Hee.
Sun Li terdiam. Ia kembali menatap keluar jendela. Seung Hee menyerah menghadapi sifat keras kepala anaknya itu.
Sun Li kembali memikirkan keadaan Young Bae. Benarkah Young Bae akan baik-baik saja? Ia berkutat dengan pikirannya sendiri. Berusaha menghilangkan prasangka-prasangka buruk dan mencoba untuk tetap berpikir positif.
Sun Li dikagetkan oleh suara gemuruh pelan. Ternyata itu adalah suara perutnya. Ia merasa lapar karena tidak makan seharian. Mungkin apa yang dikatakan ummanya memang benar. Ia memang tidak sekuat yang dipikirkannya. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk makan.

>>back to Young Bae<<

Satu jam penuh Young Bae memanjat. Akhirnya ia menemukan sebuah gua dan memutuskan untuk berteduh didalam gua itu. Sayangnya, tidak ada apapun didalam gua itu. Tidak ada ranting yang bisa dibuat api, atau sesuatu yang bisa membuatnya merasa hangat. Akhirnya ia memeluk tubuhnya sendiri walaupun itu tidak berguna.
Hari semakin gelap, tapi hujan tak kunjung reda. Young Bae khawatir ia akan semakin lama untuk pulang. Lagipula, mungkin saja setelah hujan jalannya akan menjadi sangat licin. Ia menyesal tidak membawa perlengkapan mendaki. Tapi apapun yang terjadi, ia harus tetap bertahan.
Keesokan paginya, Young Bae melanjutkan perjalanannya. Walaupun badannya terasa sakit, tapi ia tetap berusaha. Ia bertekad untuk sampai dipuncak Tebing Naga secepat mungkin. Ia tidak ingin Sun Li bosan menunggunya lalu memutuskan untuk pergi dan meninggalkannya. *keknya ga mungkin banget ya? :3*

2 days later…

“Sedikit lagi,” kata Young Bae. Tangannya meraih pinggiran tepi tebing itu, lalu dengan sekali lonjakan ia berhasil sampai dipuncak itu dengan mulus.
Ia kagum dan kaget dengan pandangan dihadapannya. “Ini tidak terlihat seperti sebuah tebing. Ini….lebih seperti taman bermain untuk anak balita. Bunga mekar dimana-mana. Masa Ji Young tinggal ditempat seperti ini?” kata Young Bae dengan perasaan yang sulit untuk dipercayai. Young Bae mulai berpikir keras. Dimana Ji Yong berada? Apa mungkin seekor naga yang kejam tinggal ditempat seindah ini? Baginya semua itu masihlah terlalu mustahil. Ia berpikir bahwa tempat tinggal Ji Yong adalah sebuag tempat yang mengerikan, gelap, bahkan mungkin saja angker.
Young Bae menghentikan langkahnya. “Kenapa aku harus memikirkan Ji Yong? Aku seharusnya memikirkan tentang liontin itu,” kata Young Bae pada dirinya sendiri.
Dalam perjalanan, ia semakin bingung pada dirinya sendiri. Lagipula, ia tidak pernah ingat tempat seperti ini dimimpinya yang dulu.
Setelah sekian lama ia mengeksplorasi tempat itu, ia menemukan Ji Yong. Ji Yong adalah seekor naga putih! *yaiyalah.. made in korea gitu :p* Kulitnya sangat bersih. Sisik ditubuhnya berkilau seperti berlian, tubuhnya sangat besar, panjangnya mungkin sekitar 8 meter *whoaaaa O.O*. Menurut Young Bae, Ji Yong tidaklah terlihat seperti naga yang jahat. Entah kenapa ia menjadi ragu tentang apa yang dikatakan penduduk tentang Ji Yong.

TINGG !! sebuah alasan gila keluar dari otak Young Bae. Mungkin saja liontin itu ada didalam tubuh Ji Yong. Tempat mana lagi yang sesuai seperti dimimpinya selain didalam tubuh. Ia menjadi bingung bagaimana cara mengambil liontin itu. Ia tidak mungkin membunuh Ji Yong karena ia hanyalah berbekal sebuah pedang. Masa ia harus meminta liontin secara langsung kepada Ji Yong?

Meanwhile with Sun Li…

“Umma, ini sudah hari ketiga. Aku khawatir sama Young Bae,” kata Sun Li lesu. Seung Hee hanya bisa tersenyum melihat ketidaksabaran putrinya.
“Ini baru 3 hari, Sun Li-ya. Kau pikir memanjat Tebing naga itu mudah? Belum lagi jika Young Bae harus berhadapan dengan Ji Yong,” kata Seung Hee lembut.
“Seandainya saja appa tidak menyuruh Young Bae melakukan hal ini,’’ kata Sun Li.
“Appa mu punya tujuan yang baik dibalik semua ini,” kata Seung Hee lembut.
Sun Li hanya bisa menghela napasnya. Percuma saja kalau ada orang yang berusaha menghiburnya, ia tidak akan merasa terhibur. Hanya Young Bae lah yang bsia menghiburnya saat ini.
Tak lama setelah itu, Seung Hyun memasuki kamar Sun Li. Ia tidak heran melihat keadaan Sun Li yang begitu kacau. Sehari setelah keberangkatan Young Bae, Seung Hyun langsung kembali kekerajaannya karena ada yang harus diselesaikannya.
“Sunnie, yeojum eottosaeyo?” tanya Seung Hyun.
“Mollayo, appa,” jawab Sun Li lesu.
Seung Hyun menatap istrinya untuk meminta penjelasan. Tapi Seung Hee hanya bisa menghela napasnya. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa.
“Wae? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Seung Hyun lembut.
“Aku sedang memikirkan Young Bae , appa. Ini sudah hari ketiga tapi ia belum juga kembali,” kata Sun Li.
Sama seperti Seung Hee, Seung Hyun hanya bisa tersenyum pasrah melihat sikap putrinya itu.
“Ini baru 3 hari, Sunnie. Mungkin saja ia baru sampai dipuncak atau bisa saja ia belum sampai, kan?” kata Seung Hyun lembut.
“Ne appa. Aku hanya rindu padanya,” kata Sun Li.

Back to Young Bae…

Saat itu Ji Yong sedang tidur. Young Bae tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Haruskah ia membangunkan Ji Yong? Dan tentu saja setelah itu ia akan menjadi makan malam yang terlezat untuk Ji Yong. Maka dari itu, ia memutuskan bahwa menunggu Ji Yong jauh lebih baik daripada harus membangunkannya dan memberitahu bahwa makan malamnya telah didepan mata.
Menjelang malam, Ji Yong baru menunjukkan tanda-tanda bangun tidur. Ia menguap selebar-lebarnya, membuat pohon-pohon dan beberapa tanaman disekitarnya bergoyang seakan terkena badai.
“Uhhh.. bau sekali napas naga itu,” kata Young Bae dengan suara rendah. Ia mngernyitkan dahinya dan menutup hidungnya. Ia mengutuki dirinya karena telah mengambil tempat terlalu dekat dengan naga itu.
“Aku bertaruh ia tidak pernah sikat gigi seumur hidupnya,” kata Young Bae lai dengan nada kesal. Lalu ia mulai mendekati Ji Yong dengan langkah pasti dan berhati-hati. Rasa takutnya begitu saja lenyap ketika napas Ji Yong yang seperti bangkai tikus itu menyergap indra penciumannya. (mian istri” bang gd -____- ini kan cuma fiksi ^3^)
“Annyeong hassaeyo,” kata Young Bae dengan nada seorang ksatria. Tiba-tiba ia menyadari fakta aneh yang terjadi sekali seumur hidupnya; mengapa ia perlu memberi salam kepada seekor naga yang bau mulutnya mampu membunuh segerombol gajah? (mian lagi istri” bang gd -_____-)
Ji Yong langsung merubah air mukanya menjadi was-was. “Nugusaeyo?” tanya Ji Yong dingin.
“Joreul Young Bae imnida,” jawab Young Bae.
“Wae neoreul docwahaeyo?” tanya Ji Yong.
“Aku ingin men…”
“Aku tahu apa yang kau inginkan,” kata Ji Yong, memotong kata-kata Young Bae. Dasar naga yang tak tahu sopan santun, gerutu Young Bae dalam hati. “Kau kemari ingin mencari liontin, kan” tanya Ji Yong dengan tampang memaksa.
“Ne,” jawab Young Bae tanpa pikir panjang. Ia tahu tidak ada gunanya jika harus mencari alas an lain.
“Aha! Kau sama saja seperti ksatria brengsek lainnya!” kata Ji Yong dengan penuh kebencian.
“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Young Bae yang tidak terima dibilang brengsek padahal ia adalah ksatria terhormat di kerajaan tempatnya mengabdi untuk seumur hidup.
“Sejak liontin keluarga Choi berpindah ke tebing ini, banyak sekali ksatria-ksatria gila yang berusaha mencurinya. Dan satupun dari mereka selamat. Kupikir setelah kejadian terakhir, kurasa kau tahu kejadiannya,”
“Ya, seorang perwira panglima perang pulang dari tebingmu dengan hanya memiliki satu kaki dan satu tangan,” jawab Young Bae cepat.
“Joeun jika kau sudah tahu. Mereka hanya ingin mencuri liontin itu untuk memperkaya diri sendiri. Benar-benar ksatria brengsek. Mereka tidak pernah berpikir bahwa lontin itu sangatlah penting untuk masa depan kerajaan dan keluarga Choi,” kata Ji Yong dengan amarah yang meluap-luap.
“Ji Yong baboya,” kata Young Bae dengan nada rendah.
“Mian, kau mengatakan aku apa?” tanya Ji Yong sambil mengernyitkan dahinya.
“Neomu ji yongie baboyo,” kata Young Bae tanpa rasa takut.
“Dasar kau!” teriak Ji Yong. Ia mengibaskan ekornya yang sangat besar kearah Young Bae. Young Bae dengan sigap melompat menjauhi hantaman ekor Ji Yong.
“Jangan asal menuduh jika kau tidak tahu alasanku menginginkan liontin itu!” teriak Young Bae yang amarahnya mulai mencapai permukaan.
“Kau pikir aku peduli dengan semua alasan bodohmu?” tanya Ji Yong dengan nada amengejek sambil terus berusaha mencelakai Young Bae. Young Bae sangat kewalahan menghadapi Ji Yong. Ia juga tidak mempunya cukup tenaga untuk melawan Ji Yong.
“Aku diperintahkan Seung Hyun untuk mengambilnya!” teriak Young Bae saking lelah dirinya.
Ji Yong langsung berhenti menyerang ketika Young Bae menyebut nama Seung Hyun. “Apa maksudmu?” tanya Ji Yong dengan pandangan heran. Segera saja ia berhenti menyerang Young Bae.
“Aku mencintai Sun Li dan aku ingin menikahinya. Lalu Seung Hyun menyuruhku untuk mengambil liontin itu sebagai syarat agar aku bisa menikahi Sun Li,” jelas Young Bae dengan napas terengah-engah. Ji Yong terdiam. Selama beberapa saat, naga galak itu tidak memberikan reaksi apapun. Tak ada yang tahu apakah ia sedang berpikir atau tertidur lagi mendengar alasan Young Bae. Kenapa tidak langsung berikan aku liontin itu. Jadi aku bisa pulang segera, gerutu young bae dalam hati.
BRAAKK!!! Ji Yong mengayunkan ekornya lagi kearah Young Bae. “Huaahahahah… Alibi yang sangat mengagumkan, ksatria penipu. Menggunakan putri Sun Li sebagai dasar alibimu,” kata Ji yong sambil tertawa mengejek. Ji Yong terus memecahkan segela bebatuan dan merobohkan semua pohon besar yang berada disekitar Young Bae sementara Young Bae sendiri hanya bisa menghindar. Ia terlalu bingung bagaimana cara meyakinkan naga tua itu bahwa apa yang dikatakannya benar.
“Berhenti menyerangku, naga tua!’ teriak Young Bae yang sudah tidak mampu lagi menghindar napasnya sudah sangat sesak karena terus beralri dan meloncat untuk menghindari serangan Ji Yong.
“Mengapa aku harus berhenti untuk ksatria licik sepertimu,” kata Ji Yong yang masih melancarkan serangannya.
“Chongbunhae,” kata Young Bae dengan nada yang benar-benar telah pasrah.
Ji Yong berhenti menyerang. Ia tidak mengerti mengapa Young Bae tidak juga beranjak kabur seperti ksatria lainnya yang akhirnya pun mereka mati atau selamat dengan keadaan mengenaskan. Tapi Young Bae berbeda. Ia tetap berjuang meskipun keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk menyerang. Mungkinkah apa yang dikatakan Young Bae benar?tanya Ji Yong dalam hati.
“Bagaimana lagi aku meyakinkanmu?” tanya Young Bae dengan napasnya yang hanya tinggal satu-satu.
Ji Yong memicingkan kedua matanya, masih menatap curiga Young Bae walaupun telah berhenti untuk menyerang namja yang hampir sekarat kehabisan napas itu.
“Bagaimana kau bisa mengenal Sun Li?” tanya Ji Yong dingin.
“Aku panglima perang dikerajaan. Sejak kecil aku tinggal di istana itu. Aku dibesarkan bersama Sun Li hingga berumur 17 tahun saat itu Sun Li berumur 13 tahun. Aku harus mengikuti latihan militer dan lain-lain. Kenyataannya aku dan Sun Li mempunyai perasaan yang sama. Kami saling mencintai. Beberapa kali aku melamar Sun Li tetapi Seung Hyun selalu menolak dengan alasan umur Sun Li yang masih terlalu muda.
“Beberapa hari yang lalu aku mencoba melamarnya kembali. Dan ternyata Seung Hyun memberiku tantangan ini. Lagipula liontin itu harus diturunkan kepada anak perempuan sulung, bukan?” jelas Young Bae.
Ji Yong kaget mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Young Bae. Hanya orang tertentu di kerajaan yang mengetahui aturan tersebut. Ia tidak menyangka Young Bae juga mengetahuinya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Ji Yong yang penasaran.
“Aku sudah dibekali semua hal yang perlu kuketahui untuk mendapatkan liontin itu. Sekarang aku hanya minta liontin itu dan aku akan segera pergi,”
“Aniyo. Kau masih harus menjelaskan beberaa hal kepadku,” kata Ji Yong.
“Apa lagi yang ingin kau ketahui?” tanya Young Bae.
“Apa Seung Hyun menjelaskan kepadamu mengapa ia menyuruhmu mengambil liontin itu?” tanya Ji Yong yang masih tidak yakin.
“Mollasaeyo. Aku hanya ingin liontin itu agar bisa menikahi Sun Li. Aku tidak peduli berapa jumlah kekayaan yang bisa kudapatkan dari liontin itu,” jawab Young Bae singkat.
Mau tak mau perasaan Ji Yong pun terenyuh mendengar kata-kata Young Bae. Ia mulai merasa yakin dengan apa yang dikatakan Young Bae. Bahwa ia menginginkan liontin itu bukan sebagai alasan material. Lagipula, Young Bae tidak pernah sekalipun berniat untuk mencelakainya semenjak pertama kali ia menginjakkan kaki diatas tebing ini.
“Aku masih meragukanmu. Bagaimana mungkin Sun Li bisa mencintaimu?” kata Ji Yong dengan nada yang sengaja dibuat ragu-ragu. Ia masih ingin mengetahui niat Young Bae lebih lanjut.
“Aku tak pernah tau. Kenapa tidak kau saja yang menanyakannya?” kata Young Bae yang mulai kesal ditanya-tanya terus.
“Karena aku akan dibunuh warga kerajaanmu jika aku datang kesana untuk menanyakan hal tidak penting seperti itu,”
“Kalau itu tidak penting, mengapa kau menanyakan hal itu padaku?”
“Itu hakku untuk menanyakan apapun yang kumau,”
“Dan hakku juga untuk menjawab pertanyaanmu sesuka hatiku,”
Ji Yong merasa sedikit terkesan dengan pemuda didepannya itu. Entah apa makanan apa yang diberikan ibunya sehingga mempunyai anak yang seperti ini.

BLAARRR!!! Kilatan cahaya merah menghantam kedua makhluk yang sedang asik berdebat itu. Ji Yong hanya sedikit memiring tubuhnya tetapi Young Bae langsung terlempar kebelakang. Mereka melihat kearah sumber kilatan cahaya tersebut. Seorang laki-laki berjubah ‘terbang’ tanpa menggunakan alat bantu apapun. Young Bae terbelalak. Baru kali ini ia melihat manusia yang bisa terbang tanpa menggunakan apapun.
“Young Bae-ya! Gwechana?” tanya Ji Yong panic.
“Gwechanayo,” jawab Young Bae dengan napas tersengal-sengal, “Itu siapa?” Belum sempat Ji Yong menjawabnya, lelaki berjubah itu memotong pembicaraannya.
“Aku kemari ingin mengambil liontin itu,” jawab lelaki berjubah itu dengan nada garang.
“Tidak kapok kah kau dengan yang kemarin?” tanya Ji Yong sama garangnya.
“Tentu saja tidak! Penyihir seperti aku tidak akan pernah kapok dengan perlakuan seperti itu,” jawab lelaki berjubah itu, mengejek. “Kau punya anak buah rupanya,” kata lelaki berjubah itu sambil menatap kearah Young Bae.
“Aku bukan anak buahnya!” kata Young Bae lantang. Baginya, selama lawan bicaranya manusia, ia tidak akan takut. “Aku panglima raja Seung Hyun,” kata Young Bae.
“Ahh aku tidak peduli siapapun dirimu,” jawab laki-laki berjubah itu dengan nada sombong.
“Aku menginginkan liontin itu,”
“Aku tak akan pernah menyerahkan liontin itu padamau. Lagipula sudah ada orang yang lebih pantas untuk mendapatkan liontin itu,” kata Ji Yong dingin.
“Gurae? Siapa orang itu? Budak baru inikah?” tanya lelaki berjubah itu dengan senyum jail diwajahnya.
“Aku bukan budaknya!” teriak Young Bae. Pedang miliknya sudah dicabutnya dari sarung dan siap untuk membunuh lelaki berjubah yang ingin mendapatkan liontin itu. “Dan aku tak akan membiarkanmu mengambil liontin itu karena aku lah yang akan mengambil liontin itu,”
“Hahaha… Manusia lemah sepertimu tak akan sanggup melawanku,” kata lelaki berjubah itu. Ia turun ke permukaan daratan dan menurunkan tudung jubahnya dari kepala. “Kau ingin melawanku? Coba saja kalau bisa,” kata lelaki berjubah itu.
Young Bae langsung berlari kearah lelaki berjubah itu dengan posisi pedang siap menghunus jantung lelaki itu kapanpun. Tapi lelaki berjubah itu berhasil menghindar dengan gesit. Dan begitu seterusnya.
“Kau hanya menghabiskan tenagamu,” kata lelaki itu sambil tersenyum. Ia terus menghindar, melompat-lompat kecil untuk menghindari hunusan pedang Young Bae. “Namaku Kurei, penyihir dari Jepang,” kata lelaki berjubah itu sambil terus menghindar tanpa merasa lelah.
“Aku tak perlu tahu siapapun dirimu,” kata Young Bae dengan napas tersengal-sengal.
“Aku membutuhkan liontin itu untuk ramuanku. Jika ramuan itu berhasil, kau bisa langsung menjadi raja dikerajaanmu,” kata Kurei yang masih tetap tersenyum.
Young Bae menghiraukannya. Ia tetap focus untuk tetap membunuh Kurei. Ia tidak bisa membiarkan siapapun menghalangi niatnya untuk menikahi Sun Li.
Tiba-tiba saja Young Bae jatuh tanpa sebab. Napasnya hanya tinggal satu-satu. Ia tahu tidak ada gunanya menyerang Kurei dengan cara yang sama. Ia harus memikirkan cara baru untuk mengalahkannya.
“Sudah lelah rupanya,” kata Kurei sambil tersenyum. “Sekarang waktunya aku yang membunuhmu.” Kurei melayangkan tangannya keatas, saat itu juga tubuh Young Bae terangkat begitu tinggi, lemas.
“Aku tak pernah pilih-pilih untuk membunuh orang,” kata Kurei. Young Bae berteriak sangat keras. Ia merasa sakit seakan tubuhnya diremas oleh tangan seorang raksasa. Tapi ia tidak bisa melawan.
“Dan belum ada yang berhasil melawanku saat ini. Bahkan penyihir-penyihir terhebat pun sudah kumusnahkan,” kata Kurei yang masih tersenyum. Tubuh Young Bae terhempas ke pohon terdekat. Terdengar bunyi dentum yang sangat keras, menandakan betapa kuatnya ia menghantam pohon itu.
“Apalagi manusia tidak berguna sepertimu. Yang hanya bermodalkan pedang butut tua,” kata Kurei. Kali ini perut Young Bae terasa seperti dipelintir. Sakit bukan main. Darah keluar dari mulut dan hidungnya. Tubuhnya memar dimana-mana.
“Menyerah?” tanya Kurei lembut.
“Aniyo. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan liontin itu,” jawab Young Bae. Ia tidak ingin mengecewakan Sun Li. Ia tahu Sun Li masih menunggunya. Ia akan terus bertahan dan semampu mungkin menjaga tubuhnya agar terjadi luka yang parah. Ia harus pulang tanpa cacat.
“Aku salut padamu,” kata Kurei. “Apa yang membuatmu bertahan demi liontin ini?” Kurei bertanya dengan gaya ingin tahu yang dibuat-buat.
“Aku bertahan…karena…aku mencintai seseorang…dan aku…akan melakukan apapun untuknya…” jawab Young Bae dengan sisa napasnya.
“Bahkan jika kau mati?”
“Aku…tidak akan mati ditangan orang sepertimu,”
Kurei yang mendengar hal itu merasa terhina. Ia ‘menarik’ Young Bae lebih dekat padanya dan memandang Young Bae dengan tatapan penuh kebencian.
“Sombong sekali kau,” kata Kurei. Young Bae hanya tersenyum. “Kau hanyalah manusia murahan yang besar mulut. Kau tahu? Kau akan mati ditanganku, bersama naga yang tidak berguna itu,” kata Kurei. Ia melayangkan tangannya kearah Ji Yong yang daritadi hanya diam, shok. Kilatan cahaya merah itu kembali muncul dan kali ini tepat mengenai Ji Yong. Ji Yong langsung terjatuh. Tubuhnya langsung lemas, sekarat.
Young Bae marah melihat hal itu, tapi ia tak tahu harus melakukan apa. Ia membutuhkan Ji Yong, dan ia pun juga tidak tega jika Ji Yong harus mati ditangan penyihir gila seperti Kurei.
“Kau ingin bernasib sama dengan naga itu?” tanya Kurei lembut.
“Nasibku sudah sama seperti Ji Yong. Tapi kau akan bernasib lebih buruk,” jawab Young Bae.
Kurei tiba-tiba saja terbelalak. Ia jatuh, begitu pula Young Bae. Cairan berwarna merah pekat keluar dari mulutnya. Dan sebilah pedang menancap sempurna dijantungnya. Dan seketika itu juga Kurei mati.
“Sudah kubilang, aku tidak akan mati ditangan orang sepertimu,” kata Young Bae sambil mengambil pedangnya yang menancap dijantung Kurei.

Young Bae langsung berlari kearah Ji Yong. Dielusnya Ji Yong dengan lembut. Entak kenapa ia sedih melihat nasib naga yang hampir mencelakainya.
“Itu liontinnya,” kata Ji Yong dengan suara pelan. Young Bae melihat sebuah liontin disebelah kepala Ji Yong dan langsung memungutnya.
“Jeongmal gomawo, Ji Yong,” kata Young Bae.
“Ani. Gomawo. Aku sudah terlalu bosan menghindar dari serangan Kurei. Dia tidak bisa membunuhku karena ia tidak tahu dimana liontin itu. Hanya aku yang tahu. Kau pantas menerimanya,” kata Ji Yong. Lalu ia memejamkan matanya dan tidur untuk selamanya.
Tanpa sadar air mata Young Bae menetes. Ia memeluk naga yang baru dikenalnya. Walaupun Ji Yong sudah hampir membunuhnya, tetapi ia tetap menghargai Ji Yong karena terus melindungi liontin itu dan mau memberikan liontin itu kepadanya.
“Kau naga yang hebat, Ji Yong-ah,” kata Young Bae disela tangisnya.

***
“Ini liontinnya, Tuan,” kata Young Bae ketika ia telah kembali ke kerajaannya.
“Gomapta. Aku tahu kau akan berhasil,” kata Seung Hyun dengan nada puas.
“Gomawo, Tuan. Tapi Ji Yong tewas dibunuh oleh seorang penyihir dari Jepang,” kata Young Bae.
“Aku turut berduka. Dia naga yang baik,” kata Seung Hyun empati.
“Appa, kapan aku menikah?” kata Sun Li dengan kemunculan yang tiba-tiba.
“Kapanpun kau mau,” jawab Seung Hyun tertawa sekaligus kaget melihat kehadiran Sun Li yang begitu tiba-tiba.
Young Bae langsung berlari memeluk Sun Li ketika melihat yeoja itu. Ia tidak menyangka rasa rindunya lebih besar daripada semua rasa sakit yang telah dialaminya.
“Jeongmal bogoshippo, Sunnie,” kata Young Bae.
“Nado bogoshippo,” kata Sun Li. “Aku senang kau kembali dengan selamat,”
“Aku sudah berjanji akan kembali dan janji itu telah aku tepati,”
Tak lama kemudian Seung Hee dan Seung Ri beserta istrinya pun tiba. Mereka begitu senang melihat Young Bae kembali dengan selamat. Seung Ri langsung memeluk sahabatnya itu.

5 years later….
“Bagaimana bentuknya?” tanya Young Bae penasaran.
“Entahlah. Yang jelas ia harus jadi anak yang baik,” kata Sun Li sambil menatap bayi kecil yang digendongnya.
“Aku harap juga begitu,” kata Young Bae sambil tersenyum. “Kurasa ia lebih mirip denganku,” kata Young Bae sambil mengelus pipi anaknya. Sun Li tersenyum lembut.
“Aku sudah memilihkan nama untuk anak kita,” kata Sun Li.
“Mwo?”
“Sun Bae, Dong Sun Bae. Sun dari namaku dan Bae dari namamu. Ara?” tanya Sun Li.
“Arasseo,” jawab Young Bae tersenyum melihat keluarga kecilnya

Inilah akhir perjuangan cinta Young Bae. A happy ending. Setelah itu masalah jarang datang kekeluarga kecil Young Bae. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar. Mereka sangat menikmati sisa-sisa hidup mereka dengan bahagia dan tanpa masalah yang berarti.

====FIN====

Kategori:Big Bang, CBF Tag:
%d blogger menyukai ini: